Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kencan


__ADS_3

"Kupikir kau akan berbohong dan lebih membela Jessica daripada mengakatan hal yang sebenarnya," ujar Devi pada Rea begitu mereka keluar dari ruang BK.


"Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mumpung ada guru BK, sekalian saja kuberi tahukan perlakuan Jessica padaku. Aku ingin Jessica jera," ujar Rea.


"Lalu kenapa dulu kau malah mengata-ngataiku?" tanya Devi menghentikan langkahnya dan menatap Rea dengan tatapan ingin tahu.


"Aku tidak mau kau terlibat jauh dengan urusanku dan Jessica. Tapi ternyata sama saja, kau malah jadi korban bully Jessica. Maafkan aku," ujar Rea menyesal.


Devi mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Rea. Ternyata apa yang dikatakan Alby padanya kemarin memang benar.


"Selain itu aku tidak suka dikasihani," lirih Rea.


"Ah aku menolongmu bukan karena aku kasihan padamu. Sungguh!! Aku tidak pernah kasian pada seseorang. Kau tanya saja pada om Alby kalau tidak percaya. Om benarkan kalau aku ini orang kejam dan tidak pernah kasihan pada orang lain?" dusta Devi sembari melambaikan tangannya cepat di hadapan Rea.


"Benar," jawab Alby menuruti kebohongan Devi.


"Tuh kau dengar sendiri kan dari om Alby? Aku menolongmu karena ingin berteman denganmu. Kau mau tidak jadi temanku?" tanya Devi sembari menatap Rea dengan penuh harap.


Rea yang mendengar ucapan Devi pun tersenyum haru. Baru kali ini ada seseorang yang mau mengajaknya berteman.


"Maaf kurasa aku tidak bisa," ujar Rea sebelum akhirnya ia berlari menjauh dari Devi.


Rea hanya tidak ingin jika nanti ia mengiyakan permintaan Devi dan mereka berteman, Devi akan meninggalkannya karena tahu siapa Rea. Rea hanyalah gadis kolong jembatan yang tidak memiliki tempat tinggal dan bersekolah hanya menggunakan dana bantuan pemerintah. Devi dan dirinya benar-benar berada di level berbeda. Padahal tanpa Rea sadari, Devi sudah tahu siapa Rea.


"Wah aku tidak percaya aku ditolak oleh seseorang seperti Rea," ujar Devi sembari mengibas-ngibaskan tangannya menahan kesal.


"Tentu saja. Memangnya siapa yang mau berteman dengan orang kejam dan tidak punya rasa kasihan? Aku pun kalau jadi Rea tentu saja tidak mau," ujar Alby menggoda Devi.


"Om!!"


"Sudahlah, lebih baik kau segera kembali ke kelas. Aku kembali ke rumah sakit dulu," pamit Alby sembari mengacak rambut Devi pelan.


"Baiklah, hati-hati om. Om hentikan! Rambutku jadi berantakan!"


"Oh iya, kau jangan buat masalah lagi, jangan berkelahi lagi karena aku tidak mau datang ke sekolahmu lagi hanya untuk memenuhi panggilan guru BK-mu. Jaga sikapmu baik-baik," pesan Alby.


"Kalau tidak mau datang ya jangan datang om. Kau kan bisa minta tolong kak Raden untuk datang kemari menggantikanmu," ujar Devi sembari tersenyum genit.


"Kau mau memamerkan kenakalanmu pada pacarmu?" tanya Alby sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan pacar om, masih belum tapi kalau om Alby menyebutnya begitu aku sih senang-senang saja."


"Sudahlah sana kembali ke kelas."


"Iya-iya."


Baru saja Devi hendak beranjak dari tempatnya, terdengar suara Laudya memanggil namanya. Devi pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Laudya, begitupun juga Alby.


"Dev!"


"Ada apa tante?"


"Atas nama Jessica aku ingin minta maaf padamu dan Alby. Aku tidak tahu jika Jessica melakukan hal keterlaluan seperti itu pada temannya. Kalian tenang saja, selama masa skorsing Jessica, aku janji akan buat dia menyadari kesalahannya. Sekali lagi aku minta maaf ya Dev," ujar Laudya sungguh-sungguh.


"Kenapa tante minta maaf? Harusnya yang meminta maaf itu kan Jessica bukan tante. Tante tidak salah apa-apa jadi tidak perlu meminta maaf. Tapi tante, aku tidak akan memaafkan Jessica sebelum Jessica sendiri yang meminta maaf padaku. Aku ini orang kejam dan tidak punya rasa kasihan lho tante, bahkan om Alby membenarkan akan hal itu," ujar Devi sembari menyindir Alby. Setelahnya Devi pun berpamitan untuk segera pergi ke kelas.


"Devi benar. Seharusnya memang Jessica sendiri yang meminta maaf padanya dan juga Rea," lirih Laudya sembari menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, kita sebagai kakak hanya bisa menasehatinya saja."


"Kau benar, tapi Jessica tipe anak yang susah sekali dinasehati. Dia keras kepala dan selalu melakukan apapun yang dia inginkan tanpa memikirkan orang lain. Aku sudah sering menasehatinya tapi rupanya itu tidak ada gunanya. Kau pasti merasa beruntung memiliki adik seperti Devi. Dia pasti mudah sekali diatur dan selalu mendengarkan perkataanmu kan By?"

__ADS_1


Alby tertawa kecil sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Laudya tidak tahu saja bagaimana keras kepalanya dan sulit diaturnya Devi.


"Aku pergi dulu, aku harus kembali ke rumah sakit," pamit Alby.


"Baiklah hati-hati di jalan."


*****


Begitu pulang sekolah, Devi langsung membersihkan diri dan segera bersiap dengan pakaian terbaiknya.


Hari ini Raden mengajaknya untuk makan malam. Mumpung Alby lembur malam, Devi memanfaatkan hal tersebut untuk pergi berkencan bersama Raden secara sembunyi-sembunyi.


Devi menatap pantulan dirinya di cermin besar yang berada di kamarnya. Penampilannya cukup luar biasa. Devi tidak henti-hentinya berdecak kagum begitu melihat kecantikan dirinya sendiri.


"Woah aku tidak menyangka aku memiliki paras secantik ini. Tapi kenapa om Alby tidak pernah manaruh rasa padaku begitu melihat kecantikanku setiap hari ya?" bingung Devi. Namun begitu ia menyadari apa yang ada di pikirannya, ia pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pemikiran itu.


"Pemikiran macam apa ini!! Kenapa jadi om Alby? Harusnya kan kak Raden!!"


Drtt...drt....


Devi segera mengambil ponselnya yang tersimpan di atas nakas samping ranjangnya dan tertera nama Alby di sana.


Mata Devi membulat sempurna begitu melihat Alby melakukan panggilan vidio padanya. Alby pasti ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Devi, mangkanya ia melakukan panggilan vidio bukannya panggilan biasa.


Devi langsung gelagapan dan kebingungan harus mencari cara agar Alby tidak tahu rencana kencannya bersama Raden. Ia pun menunggu panggilan vidio tersebut sampai diakhiri oleh Alby dan setelahnya Devi pun menelepon Alby namun dengan panggilan biasa.


"Halo om."


"Kenapa tidak menjawab panggilan vidioku? Kau pasti sedang merencanakan sesuatu kan?!!"


"Om jangan menuduhku! Aku sedang di kamar mandi jadi tidak mungkin aku menjawab panggilan vidio om Alby. Memangnya om Alby ingin melihat aku telanjang ya?"


Alby yang mendengar kalimat terakhir Devi pun langsung tersedak ludahnya sendiri. Kenapa Devi begitu mudah mengucapkan kalimat itu pada pria dewasa sepertinya?


"Baiklah-baiklah aku tidak akan membawa ponsel lagi saat mandi," ujar Devi berusaha mengakhiri omelan Alby.


"Kau serius sedang mandi?" tanya Alby curiga.


"Te..tentu saja om. Kalau om Alby tidak percaya kita panggilan vidio saja," tantang Devi.


"Tidak perlu."


"Kenapa? Kau takut tergoda ya om?" goda Devi.


"Anak kecil kurus kering tanpa daging sepertimu tidak membuatku nafsu sama sekali."


"Wah ini sih namanya penghinaan. Sudahlah kuakhiri saja panggilannya. Aku mau lanjut mandi." kesal Devi namun begitu ia akan mengakhiri sambungan teleponnya, Devi teringat sesuatu. "Om Alby pulang jam berapa?"


"Belum tahu, tapi sepertinya akan larut malam. Kau tidur dulu saja jangan menungguku," ujar Alby.


"Oke."


Setelah Devi mengakhiri panggilannya, Devi pun langsung bergegas untuk keluar apartemen untuk menemui Raden yang sudah menunggunya di bawah. Devi sangat senang sekali diajak pergi keluar oleh Raden. Tadi siang begitu ia kembali ke kelas, Raden mengiriminya pesan untuk mengajaknya jalan-jalan melihat pasar malam dan makan malam di sebuah restoran mewah yang baru saja dibuka.


Begitu tiba di lantai dasar, Devi dapat melihat Raden yang sedang berdiri sembari memainkan ponselnya. Raden terlihat sangat tampan dengan balutan pakaian hitamnya.



"Kak Raden!!" panggil Devi dengan riang. Bahkan ia sampai berlari kecil kearah Raden.


"Sudah siap?" tanya Raden sembari tersenyum.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita pergi."


*****


Suasana pasar malam saat itu cukup ramai oleh pengunjung. Banyak orang dari usia anak-anak sampai orang tua sudah tumpah ruah di tempat ini. Belum lagi ada pasangan muda-mudi yang tengah di mabuk asmara sedang menghabiskan waktu kencan mereka di sini. Termasuk Devi dan Raden sendiri.


Devi tidak henti-hentinya menatap takjub dengan keramaian yang ada di hadapannya. Seumur-umur ini kali pertamanya ia datang ke pasar malam. Ada begitu banyak permainan yang tersedia dan Devi ingin sekali mencoba semuanya.


"Kak aku ingin naik itu, itu, itu, itu dan itu semua," tunjuk Devi dengan riang.


"Baiklah, terserah kau saja," ujar Raden sembari terkekeh geli.


Setelah puas bermain berbagai macam wahana, Devi yang merasa kelelahan pun langsung terduduk di sebuah bangku kayu yang memang disediakan di sana.


"Aku kelelahan," eluh Devi dengan keringat yang membanjiri keningnya.


"Minum dulu," ujar Raden menyodorkan minuman pada Devi.


Raden mengambil selembar tisu yang dibelinya dan mengelapkannya pada kening Devi.


"Masih mau naik wahana lagi?" tanya Raden.


"Tidak mau. Aku sudah capek," ujar Devi.


Raden pun tersenyum sembari duduk di samping Devi dan mengamati gadis itu yang sedang menghabiskan minumannya. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.


"Kau terlihat cantik hari ini," ujar Raden jujur.


Uhuk!! Uhuk!!


"Pelan-pelan saja, aku tidak akan mengambil minumanmu," ujar Raden sembari tertawa kecil.


"Kak Raden jangan berbicara seperti itu," tegur Devi.


"Memangnya kenapa? Aku kan berbicara jujur, kau kan memang cantik," ujar Raden membela diri.


"Aku malu," cicit Devi yang membuat Raden gemas hingga ia mengacak rambut Devi dengan pelan.


"Mau naik bianglala tidak?"


Devi melihat kearah bianglala yang dimaksud Raden. Sepertinya wahana itu sangat cocok untuk bersantai sembari menikmati pemandangan kota dari atas sana apalagi jika itu bersama Raden. Siapa tahu begitu mereka berada di atas Raden berniat mengungkapkan perasaannya pada Devi. Astaga pemikiran macam apa ini!


"Aku mau," jawab Devi antusias.


Drt...drt...


Devi membulatkan matanya begitu melihat nama Alby tertera di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Raden.


"Om Alby," jawab Devi takut.


"Jawab saja," ujar Raden lembut.


"Tapi aku takut dimarahi," rengek Devi.


"Tidak apa-apa, nanti biar aku yang berbicara."


Devi pun menjawab panggilan Alby.


"Halo om."

__ADS_1


"Kau dimana?!!"


*****


__ADS_2