Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Planet Sejajar


__ADS_3

"Dev!!"


Alby langsung berlari sekuat tenaganya dan segera menghentikan Devi yang hendak menaiki pagar rooftop. Begitu Devi hendak menaikinya, Alby langsung menarik lalu memeluk Devi dari belakang dan memutar tubuhnya membelakangi pagar rooftop.


"Dev apa yang kau lakukan?!!!" marah Alby dengan dada naik turun penuh amarah. Kedua matanya menatap Devi dengan nyalang dan kedua tangannya mencengkeram bahu Devi dengan kuat.  "Sadarlah!!! Apa kau sudah gila ingin menjatuhkan dirimu dari gedung setinggi ini?!!" lanjut Alby penuh emosi.


"Aku tahu ini semua sangat menyakitkan untukmu tapi kau jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu!!! Kau tahu tidak berapa banyak pasien diluar sana yang ingin terus tetap hidup?!!"


Devi mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang dikatakan Alby padanya. Apa maksud perkataan Alby sebenarnya?


"Siapa yang ingin menjatuhkan diri dari gedung om?" tanya Devi bingung.


Alby mencoba mengatur nafas dan denyut jantungnya yang berdetak lebih cepat karena rasa paniknya begitu melihat Devi yang memanjat pagar rooftop.


"Kau," jawab Alby singkat tanpa melunakkan tatapannya pada Devi.


"Aku? Aku tidak berniat bunuh diri om," ujar Devi.


Alby melepaskan cengkeramannya di bahu Devi dan menatap Devi meminta penjelasan dari perkataannya.


"Lalu kenapa kau menaiki pagar rooftop itu? Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang sakit, kenapa malah keluyuran pagi-pagi buta seperti ini? Kau tahu tidak bahayanya angin di waktu seperti ini?!" cecar Alby.


"Aku minta maaf om. Aku keluar hanya karena ingin melihat fenomena alam sejajar. Lihatlah om, mereka sangat cantik kan?" tunjuk Devi ke arah langit yang menampilkan beberapa planet yang terlihat sejajar.


Alby menghela nafasnya pelan sembari menatap ke arah langit. Benar saja di sana ada fenomena alam yang sangat langka Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus berada dalam satu garis sejajar.



"Kak Sean bilang ini momen langka yang terjadi 18 atau 19 tahun sekali. Aku tidak sengaja melihat berita dan katanya momen langka itu terjadi hari ini, mangkanya aku pergi ke sini malam-malam," ujar Devi sembari tersenyum kagum.


"Lalu kenapa kau tidak berpamitan padaku?"


"Aku ingin, tapi kulihat om Alby sedang sibuk. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan om Alby," jawab Devi.


"Aku meneleponmu tapi kenapa kau tidak menjawabnya padahal kau membawa ponselmu," tanya Alby sembari menunjuk ponsel yang berada di genggaman tangan Devi.


"Aku sedang merekam vidio planet sejajar itu om mangkanya aku tidak menjawab panggilanmu," jawab Devi jujur yang membuat Alby menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Alasan macam apa itu?!


"Seharusnya kau menjawab panggilanku! Kau tahu tidak betapa khawatirnya aku begitu mendapati kau tidak ada di dalam kamar?!!!  Apalagi keadaanmu yang masih sakit ditambah lagi kenapa kau naik ke atas pagar pembatas itu?!!" marah Alby yang membuat Devi menundukkan kepalanya menyesal.


"Topiku terbang tertiup angin dan kurasa itu tersangkut di pagar rooftop bagian bawah mangkanya aku menaiki pagar tersebut untuk mengambil topiku," jelas Devi sembari menundukkan kepalanya.


Alby berjalan mendekat ke arah pagar pembatas dan ia memang melihat topi Devi yang tersangkut. Alby dapat mengambilnya dengan mudah lalu ia memakaikan topi tersebut ke kepala Devi.


"Lain kali jangan naik ke atas pagar, itu berbahaya. Bagaimana jika kau terjatuh dan terluka?"


"Kan ada om Alby, om Alby kan dokter," jawab Devi lirih namun masih dapat didengar Alby.


"Iya tapi dokter bukan Tuhan! Pikirmu kau hanya akan terluka saja jika jatuh dari ketinggian ini? Tubuhmu akan hancur seketika dan kau akan mati! Saat itu terjadi itu bukan tugas dokter lagi untuk menyelamatkanmu, tapi malaikat maut!"


Devi bergidik ngeri begitu mendengar perkataan Alby.

__ADS_1


"Aku minta maaf om," cicit Devi.


Alby menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia meminta Devi agar lebih mendekat ke arahnya. Dengan patuh, Devi pun berjalan mendekat ke arah Alby dan Alby memeluk Devi dari belakang menggunakan jaket tebalnya.


"Di sini dingin dan kau tidak memakai jaket," tutur Alby seraya mendekap Devi.


"Aku lupa," cengir Devi yang membuat Alby tersenyum.


Alby lega setidaknya Devi sudah bisa tersenyum lagi sejak kematian Sean. Alby pikir Devi akan terus bersedih dan terpuruk namun nyatanya saat ini ia melihat Devi tersenyum.


"Om itu planet apa?" tunjuk Devi pada salah satu planet.


"Merkurius."


"Yang ada cincinnya?"


"Saturnus."


Devi menganguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Alby.


"Saturnus saja memiliki cincin masa om Alby tidak?" sindir Devi.


"Apa kau bilang?" tanya Alby tersindir.


"Ah apa om? Aku tidak berkata apa-apa," elak Devi.


Keduanya pun memilih diam dan menikmati fenomena langka tersebut. Perlahan tangan kanan Alby terangkat dan menyentuh dahi Devi untuk mengecek suhu badan Devi.


"Iya, kepalaku juga sudah tidak terlalu pusing dan berat. Om Alby memang dokter hebat," ujar Devi sembari mengacungkan kedua jempolnya ke arah Alby.


"Aku tahu."


"Dasar sombong," cibir Devi.


Keduanya pun kembali tenggelam oleh keindahan planet sejajar tersebut.


"Om," panggil Devi tanpa mengalihkan pandangannya.


"Hm?"


"Kak Sean tidak ingin aku sedih kan?"


"Iya tentu saja. Sean ingin kau menjadi gadis ceria seperti sebelumnya. Jika kau sedih, Sean juga akan ikut sedih," jawab Alby.


"Kalau begitu aku tidak akan sedih lagi om. Aku tidak mau kak Sean sedih," ujar Devi.


"Gadis pintar," puji Alby sembari mengacak pelan rambut Devi.


Devi membalikkan badannya dan menatap ke arah Alby. Tingginya yang hanya sebatas dada Alby membuatnya harus mendongakkan kepalanya menatap Alby. Kedua tangannya ia lingkarkan di leher Alby membuat Alby sedikit merendahkan badannya.


Alby mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dilakukan Devi padanya.

__ADS_1


Cup!


Devi mencium pipi kiri Alby dan hal itu membuat Alby terkejut bukan main. Ini memang bukan kali pertama Devi mencium pipinya namun entah kenapa Alby merasakan sesuatu yang lain setiap Devi menciumnya.


"Terima kasih om sudah mau merawat dan menjagaku seperti adik kandung sendiri. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan om Alby dan aku juga janji akan membanggakan om Alby suatu hari nanti," ucap Devi tulus.


Alby hanya diam tanpa merespon perkataan Devi karena Alby sedang menekan sesuatu di dalam dirinya agar tidak melakukan sesuatu pada Devi. Namun begitu ia melihat bibir merah muda alami milik Devi yang sedikit terbuka membuat Alby ingin mengecup bibir tersebut sebelum sebuah tepukan pelan di pipinya menyadarkannya dari lamunannya.


"Om Alby kenapa? Om Alby marah karena aku mencium pipi om Alby tanpa ijin? Aku minta maaf om, aku tidak akan mengulanginya. Aku tidak akan menciummu sembarangan," sesal Devi sembari mengigit bibir bawahnya takut sedangkan tangan kirinya mengelap bekas ciumannya di pipi Alby.


Alby yang melihat Devi meminta maaf padanya dan menatapnya dengan takut-takut pun mulai terpikirkan sebuah ide untuk menjahili Devi.


"Kau menyebut itu ciuman?" tanya Alby yang diangguki polos oleh Devi.


"Itu bukan ciuman," koreksi Alby yang membuat Devi mengernyitkan dahinya bingung. Bukankah itu sudah jelas sebagai ciuman?


"Itu ciuman om. Memangnya apa namanya kalau bukan ciuman?" bingung Devi.


"Kecupan," jawab Alby sembari menyunggingkan smirknya. "Kuberitahu bagaimana cara mencium seseorang," ujar Alby mendekatkan wajahnya mendekat ke arah wajah Devi.


Devi berniat memundurkan langkahnya namun Alby menahannya dengan lengan kekarnya membuat Devi tidak dapat berkutik.


"O..om. apa yang kau lakukan?" panik Devi sembari menahan dada Alby yang terus saja mendekat padanya.


"Aku hanya ingin mengajarimu cara mencium dengan benar," ujar Alby menyentuh pelan bibir Devi.


Devi yang belum siap dengan serangan mendadak dari Alby pun berusaha melarikan diri namun lagi-lagi Alby menghalanginya.


"Om Alby jangan macam-macam! Aku ini masih di bawah umur lho om. Om Alby mau kulaporkan pada KPAI?!!"


"Di bawah umur apanya? Kau kan sudah 18 tahun, jadi ini tidak masalah," lirih Alby tepat di depan bibir Devi.


Devi pun memejamkan matanya kuat-kuat dengan kedua tangannya yang meremas kemeja Alby. Namun setelah Devi menutup matanya, ia tidak merasakan apapun yang menyentuhnya.


Devi pun membuka kedua matanya dan  mendapati Alby yang menyunggingkan smirk kebarahnya. Sial! Ia telah dijahili!


"Om Alby menyebalkan!!" kesal Devi sembari melepaskan diri dari Alby.


"Kau marah karena ku jahili atau karena aku tidak menciummu betulan?" goda Alby.


Devi yang mendengarnya pun merasakan pipinya panas dan Devi yakin kini wajahnya pasti memerah seperti tomat.


"Sudahlah aku pergi tidur saja! Om Alby jangan ikut tidur di kamarku!" kesal Devi sembari berjalan meninggalkan Alby.


"Lain kali jangan mencium orang sembarang lagi oke?!" teriak Alby yang dibalas dengusan kesal oleh Devi.


Setelah Devi pergi, Alby menyentuh dadanya dan ia merasakan dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak mungkin ia mulai menyukai Devi kan? Mana mungkin pria dewasa sepertinya menyukai gadis SMA seperti Devi? Itu tidak mungkin! Alby berulang kali menyangkalnya namun jantungnya sepertinya berkata lain.


"Sial! Hampir saja aku benar-benar ingin menciumnya," umpat Alby.


"Lebih baik aku percepat saja kencanku dengan Laudya agar aku bisa mengaburkan perasaan aneh ini," ujar Alby sebelum akhirnya ia berlari menyusul Devi.

__ADS_1


*****


__ADS_2