Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Bertemu Raden


__ADS_3

Alby mengernyitkan dahinya bingung ketika secara tidak sengaja ia melihat luka di kedua tangan Gara yang terlihat seperti bekas gigitan.


Sore ini memang Devi membiarkan mereka menemaninya menunggu kedatangan Alby, karena entah kenapa Devi masih terbayang-banyang tentang ucapan Gara bahwa semua laki-laki adalah serigala.


"Baiklah aku pulang dulu ya," pamit Devi pada kedua sahabatnya.


"Iya, hati-hati ya. Dadah," jawab Arin sedangkan Gara menatap Devi dengan sedikit kesal karena Devi juga ikut menggigitnya dan sekarang luka gigitan itu masih terasa nyeri. Yah anggap saja Gara sedikit sial karena memiliki sahabat seperti Arin dan juga Devi.


Devi dan Alby pun segera masuk ke dalam mobil.


"Ada apa dengan kedua tangan teman laki-lakimu?" tanya Alby sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Aku dan Arin menggigitnya," jawab Devi ringan sembari memasang sabuk pengamannya.


Alby menoleh kearah Devi dengan sedikit terkejut.


"Kau ini vampir atau apa, kenapa kau menggigit tangan temanmu?" tanya Alby sembari mulai menjalankan mobilnya.


"Namanya Gara. Dia bilang semua laki-laki itu serigala dan perempuan adalah domba," jawab Devi jujur.


"Itu memang benar. Lalu apa masalahnya?"


"Dia menyebutku dan Arin sebagai domba gemuk penuh lemak, tentu saja aku marah!" ujar Devi.


"Kalau itu memang benar," ujar Alby membenarkan perkataan Devi yang membuat Devi menjadi kesal.


"Om! Aku tidak seperti itu! Aku memang gemuk tapi aku tidak terlalu banyak lemak!!" kesal Devi sembari membuang wajahnya ke samping dan melihat mobil lain yang juga berhenti di sampingnya karena lampu merah mulai menyala.


Tanpa Devi duga, Alby mendekatkan dirinya kearah Devi yang membuat nafas Devi tercekat. Devi dapat merasakan hembusan nafas hangat Alby di sekitar pipi dan telinganya. Devi pun memejamkan matanya dan mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat. Apa serigala ini berniat memakannya?


"Kau tahu tidak kalau domba yang gemuk lebih disukai oleh serigala? Mereka lebih menggoda untuk dimakan daripada domba yang kurus kering tanpa daging," bisik Alby tepat di telinga Devi yang membuat bulu kuduk Devi meremang.


Melihat Devi yang seperti itu, Alby menyunggingkan smirknya. Ia puas menggoda dan melihat wajah Devi yang seperti kepiting rebus itu.


"Un...untung saja aku domba kurus kering ya om?" tanya Devi gugup sembari mendorong pelan dada Alby agar sedikit menjauh darinya. "Gara salah! Dia tidak dapat membedakan mana gemuk mana yang kurus kering kurang gizi sepertiku," lanjut Devi sembari mengatur nafasnya.


"Heem. Gara memang salah, mana mungkin kau seekor domba gemuk penuh lemak. Lagipula serigala dewasa tidak menyukai domba yang masih anak-anak," timpal Alby pura-pura lupa jika Devi tadi berkata jika ia gemuk.


"Kau benar om! Anak domba memang dagingnya masih sedikit dan rasanya pasti tidak enak! Serigala dewasa tidak akan suka," ujar Devi.


"Lagipula anak domba tidak akan membuat kenyang kan om? Jadi serigala yang pintar harus mencari domba dewasa saja untuk dimakan, benar tidak om?" lanjut Devi.


"Benar," jawab Alby.


"Anak domba harus dilindungi terlebih dahulu agar ia dapat tumbuh dengan baik. Benar tidak om?"


"Benar," jawab Alby lagi.


Alby mengiyakan saja apapun yang dikatakan oleh Devi. Melihat tingkah Devi yang salah tingkah seperti ini membuat Alby geli sendiri. Devi tampak lebih menarik saat wajahnya gugup seperti ini, namun sedetik kemudian Alby mencoba membuang jauh-jauh pikiran tersebut dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Devi adalah anak-anak dan dia sendiri adalah pria dewasa jadi ia tidak boleh berfikiran seperti ini.


*****


Setelah beberapa menit di perjalanan, mobil yang ditumpangi Devi dan Alby pun tiba di rumah sakit. Devi pun segera menyimpan buku pelajarannya ke dalam tas dan segera turun dari mobil mengikuti Alby.


"Sepuluh menit lagi waktunya Raden akan istirahat, kau tunggu dia saja di ruang tunggu IGD," perintah Alby.


"Wah kau tau darimana om?" tanya Devi sedikit kagum karena Alby memberitahunya kapan Raden akan beristirahat. Ini bukan om Alby yang biasanya.


"Aku tidak sengaja mendengarnya. Sudahlah aku pergi dulu, kau jangan lama-lama mengobrol dengannya. Ingat sebentar lagi kau akan try out jadi gunakan waktumu baik-baik untuk belajar," pesan Alby.


"Siap bos," jawab Devi sembari mengangkat tangannya memberi hormat pada Alby.


Alby pun segera meninggalkan Devi dan bergegas memasuki rumah sakit.


Selepas kepergian Alby, Devi segera mengeluarkan amunisi rahasianya dari dalam tas. Ia menatap pantulan dirinya dari kaca spion mobil milik Alby dan memoleskan bedak dan juga lipstik tipis-tipis untuk mempercantik dirinya. Bertemu dengan pujaan hati memang harus terlihat cantik bukan?


Drt... drt....

__ADS_1


"Argh!!"


Devi mendengus kesal begitu ponselnya berhasil membuatnya terkejut dan berakibat pada polesan lipstiknya yang berhasil memoles sampai pipinya.


"Siapa sih?" kesal Devi sembari menatap layar ponselnya.


Sedetik kemudian Devi memutar bola matanya malas begitu nama Arin tertera pada layar ponselnya.


Sembari merapikan lipstiknya yang belepotan, Devi pun menjawab panggilan Arin.


"Halo."


"Halo, kau dimana?" tanya Arin.


"Tentu saja di rumah sakit. Kenapa kau menelponku Arin? Kau tahu, gara-gara teleponmu lipstikku menjadi berantakan!" kesal Devi sembari menghentak-hentakkan kakinya.


"Mana kutau kau sedang berdandan. Ah serius kau memakai lipstik?"


"Tentu saja! Aku akan bertemu dengan kak Raden jadi aku harus berpenampilan cantik," ujar Devi.


Tanpa sepengetahuan Devi, ternyata Raden sudah berdiri di belakangnya dengan tubuh yang bersandar pada dinding sembari tersenyum melihat tingkahnya.



"Sudah kututup dulu teleponnya," ujar Devi sembari mematikan telepon Arin.


"Ehem."


Devi langsung tersentak kaget begitu memutar tubuhnya dan mendapati Raden sudah berdiri di sana dan tersenyum manis kearahnya.


"Ha..halo kak. Kak Raden sudah berapa lama berdiri di sini?" tanya Devi kikuk.


"Baru saja tiba. Ayo kita cari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol," dusta Raden sembari menggenggam tangan Devi dan menuntunnya pergi dari parkiran.


"Tunggu dulu!"


"Lipstikmu berantakan," ujar Raden sembari membersihkan lipstik yang menempel di pipi Devi.


Devi yang mendapat perlakuan seperti itu pun menjadi senang bukan kepalang. Ia ingin sekali melompat-lompat atau berlarian kesana-kemari untuk melampiaskan rasa bahagianya, namun ia tidak bisa karena ia harus menjaga perilakunya jika bersama Raden. Devi ingin menampilkan image yang baik untuk Raden.


"Sudah. Ayo pergi," ajak Raden sembari menggandeng tangan Devi dan hal itu membuat selama perjalanan Devi tidak pernah melunturkan senyumnya sedikitpun karena saking bahagianya.


Mereka kini berada di salah satu kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat Raden bekerja. Suasana kafe saat itu tidak terlalu ramai dan tempatnya nyaman untuk sekedar melepas penat dan bersantai.


"Kau ingin makan apa?" tanya Raden pada Devi.


"Aku mau es krim coklat dan es krim vanila," ujar Devi bersemangat.


"Baiklah. Dua es krim coklat dan satu es krim vanila," ujar Raden pada seorang pelayan.


"Kau tidak ingin memesan makanan?" tanya Raden.


"Tidak. Aku takut gemuk penuh lemak," bisik Devi yang membuat Raden tertawa.


"Kau ini ada-ada saja. Tidak semua makanan dapat menyebabkan gemuk. Kau mau aku pesankan makanan yang rendah kalori?" tawar Raden.


"Tidak perlu kak. Aku masih kenyang, sungguh!"


"Baiklah. Jadi ada apa kau mengajakku bertemu?" tanya Raden.


Devi menundukkan wajahnya gugup. Kedua tangannya ia mainkan di bawah meja, kedua kakinya tidak bisa berhenti bergerak gelisah. Oh ayolah bukankah tadi ia bisa bersikap biasa saja? Kenapa sekarang ia merasa gugup sekaligus merasa bersalah?


"Ehm."


"Ehm?"


"Aku minta maaf kak," lirih Devi sembari menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Minta maaf? Soal kemarin?" tanya Raden yang diangguki oleh Devi.


"Oh, Arin sudah menjelaskannya padaku. Arin bilang kau melakukan hal itu karena ingin menemuiku benar?"


Devi mengangguk sebagai jawaban meskipun dalam hatinya ia menyumpahi Arin karena berani-beraninya ia membongkar motif penipuan kemarin. Lihat saja nanti kalau Devi bertemu dengan Arin, Devi akan membuat perhitungan padanya.


"Kalau kau ingin bertemu denganku kau tinggal menghubungiku, tidak perlu berbohong seperti kemarin," ujar Raden sembari tersenyum.


Devi mengangkat kepalanya perlahan menatap Raden.


"Kak Raden tidak marah?" tanya Devi.


"Marah. Tapi tidak ada gunanya juga aku memarahimu apalagi motif utamamu adalah aku. Toh kau pun pasti sudah dimarahi habis-habisan oleh kakakmu kan?"


"Kakak?" bingung Devi.


"Iya. Dokter Alby kan kakakmu. Dia pasti memarahimu tanpa ampun kan?" tanya Raden bersimpati.


"Iya kak Raden benar. Aku memang dimarahi habis-habisan tapi om Alby bukan kakakku," ujar Devi yang membuat Raden tidak terkejut.


"Jadi memang benar seperti itu ya?" tanya Raden sembari tersenyum.


"Hah?"


"Aku memang sudah tahu kalau kalian bukan saudara," terang Raden.


"Kak Raden tahu darimana?" tanya Devi penasaran.


"Bukankah saat pertama kali kita dimarahi dokter Alby di rumah sakit kau tidak mengenalnya dan malah melawannya? Saat dokter Renata menyebutmu sebagai adik dari dokter Alby, aku sangat terkejut tetapi aku tidak percaya," jelas Raden.


"Tapi kak Raden tahu kan kalau aku memiliki seorang kakak laki-laki sungguhan?"


"Tahu. Tapi kuyakin itu bukan dokter Alby," jawab Raden.


"Kak Raden benar. Kakak kandungku memang bukan om Alby. Kakakku bernama Sean dan sekarang ia sedang melanjutkan studynya di Singapura. Kak Sean menitipkanku pada sahabat baiknya yaitu om Alby, padahal sendiri pun aku tidak masalah. Tidak perlu meminta orang lain untuk menjagaku," kesal Devi.


"Apa yang dilakukan kakakmu itu benar. Gadis seusiamu masih membutuhkan perlindungan dari pria dewasa untuk menjagamu."


"Kalau begitu kan seharusnya kak Sean membawaku bersamanya, bukan malah membuangku," kesal Devi sembari mengerucutkan bibirnya.


"you can't say that," ujar Raden.


"Hah?"


"Lihat kau tidak bisa berbahasa Inggris kan? Begitu kau ingin ikut pergi bersama kakakmu," goda Raden sembari tersenyum. "Lagipula jika kau berada di Singapura, bukankah kita tidak dapat bertemu seperti ini?" lanjut Raden serius.


"Kak Raden benar. Oke, mulai sekarang aku tidak akan mengeluh apapun lagi terutama jika itu menyangkut kakakku Sean!" janji Devi yang diangguki oleh Raden.


"Gadis pintar," puji Raden sembari mengelus rambut Devi lembut.


Devi yang mendapat perlakuan seperti itu pun tampak tersipu malu dengan rasa bahagia yang memenuhi dadanya.


"Permisi, ini pesanan yang anda pesan," ujar pelayan sembari menghidangkan pesanan mereka.


"Woah, terimakasih," ujar Devi berbinar begitu melihat es krim pesanannya tiba.


"Lain kali kita pergi ke sini lagi bagaimana?" tanya Raden.


"Lain kali?" tanya Devi memastikan.


"Iya," jawab Raden sembari tersenyum.


"Janji ya kak? Kau janji akan mengajakku kemari lagi nanti!" ujar Devi bersemangat.


"Janji. Ayo cepat habiskan sebelum meleleh."


"Oke!"

__ADS_1


*****


__ADS_2