Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Ayo Kita Menikah!


__ADS_3

"Hari ini aku ingin pergi jalan-jalan dengan Arin ya om?" pamit Devi begitu Alby mengantarnya tiba di kampus.


"Hm. Tapi jangan pergi ke klub malam lagi dan sampai mabuk seperti kemarin," pesan Alby yang dibalas anggukan oleh Devi. "Ini peringatan terakhir!"


Alby pun mencium dahi Devi lama sebelum akhirnya ia membiarkan Devi keluar dari mobilnya.


Setelahnya, Devi pun segera masuk ke dalam kampus dan Alby mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kampus Devi untuk bekerja.


Devi berjalan dengan bersenandung kecil. Hatinya lega bukan main, ternyata ia tidak menjadi selingkuhan Alby. Ia adalah wanita satu-satunya Alby.


Untuk Icha, jujur saja Devi merasa sedikit cemburu karena Alby masih menyimpan kenangan tentangnya. Namun Devi mencoba membuang rasa itu jauh-jauh dan percaya sepenuhnya pada Alby. Alby hanya mencintai dirinya dan Icha hanya masa lalunya saja.


"Dev!"


Devi berbalik dan ia sedikit terkejut begitu melihat Shiela yang tengah memanggil namanya.


"Hai, kita bertemu lagi," sapa Shiela ramah begitu ia berdiri di hadapan Devi.


"Shiela?"


"Kau masih mengingatku?" tanya Shiela senang sedangkan Devi menjawabnya hanya dengan anggukan bingung.


"Kau sedang apa disini?" tanya Devi bingung.


"Mencarimu. Aku sengaja kembali ke Indonesia hanya untuk mencarimu," ujar Shiela.


"Aku? Kenapa mencariku?"


"Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu. Tapi sepertinya kau ada kelas. Aku tunggu sampai kau selesai ya? Kau bisa menghubungiku, ini nomorku."


Devi diam bergeming. Shiela sangat ramah padanya namun kenapa Devi malah merasa tidak nyaman? Apa karena Shiela pernah menyukai Alby? Atau malah karena Shiela adik kandung Icha?


"Dev!"


Devi membalikkan tubuhnya dan disana ia melihat Lino yang tengah melambaikan tangan ke arahnya dan meminta Devi agar segera masuk ke kelas.


"Aku pergi dulu, nanti kuhubungi jika kelasku sudah selesai."


Devi pun bergegas masuk ke dalam kelas. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya Shiela ingin berikan kepadanya.


"Dev," panggil Lino yang membuat Devi tersadar dari lamunannya.


"Kemarin kau kemana saja? Kenapa tidak masuk?" tanya Lino perhatian.


"Ehm aku sakit," dusta Devi.


Tiba-tiba saja tangan Lino sudah menempel pada dahi Devi dan membuat Devi sedikit terkejut.


"Tidak demam," ujar Lino.


"Aku sudah sembuh," ujar Devi sembari menyingkirkan tangan Lino dari dahinya.


Lino menanggapi Devi dengan anggukan dan kemudian memfokuskan dirinya ke depan dimana ada seorang dosen yang baru saja masuk ke dalam kelas.


Mata Devi tidak sengaja mengarah ke arah bangku Rea dan disana Devi tidak melihat adanya Rea.


Apa Rea tidak masuk kelas?


"Selamat pagi," ujar seorang dosen yang bernama Ayu memulai kelasnya. Devi pun kembali mempusatkan perhatiannya pada dosen tersebut.

__ADS_1


"Pagi bu."


"Hari ini ibu dari teman kita Rea meninggal dunia oleh karena itu mari kita berdoa sejenak untuk mendoakan ibunda Rea."


Devi terkejut mendengarnya. Ia pun menoleh ke arah Jessica yang kini tampak menatap lurus ke depan.


"Jes," panggil Devi sembari menepuk pelan bahu Jessica. "Mau ke tempat Rea tidak? Kalau mau ayo kita pergi bersama."


"Kami tidak cukup dekat untuk saling berkunjung," jawab Jessica yang saat itu juga ingin Devi pukul kepalanya.


"Tentu saja, kau kan tukang bully. Mana mau Rea berteman dengan tukang bully sepertimu!!" balas Devi kesal.


"Kau ini kenapa? Bu Ayu menyuruh kita mendoakan ibunya Rea, kau malah sibuk bertengkar dengan Jessica," tegur Lino.


"Tukang bully ini tidak mau diajak melayat ke rumahnya Rea," jawab Devi sembari menatap kesal ke arah Jessica.


"Sudah jangan kesal lagi, nanti kau pergi bersamaku saja."


Devi menoleh ke arah Lino yang kini tengah berdoa dengan kusyu'. Devi yang melihatnya pun segera mengikuti Lino untuk mendoakan ibunya Rea.


*****


Devi menggenggam ponselnya erat. Ia bingung haruskah ia menghubungi Shiela dan memberitahunya jika kelasnya sudah selesai atau memberitahunya jika ia tidak bisa menemuinya hari ini karena hendak pergi melayat bersama Lino.


"Sudah?" tanya Lino yang baru saja keluar dari kelas.


Devi pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Devi segera mengirim pesan pada Shiela jika hari ini ia tidak bisa menemuinya karena ada urusan.


Setelahnya mereka pun bergegas pergi ke rumah Rea menggunakan motor milik Lino


"Disini?" tanya Lino begitu tiba di sebuah kolong jembatan.


Mata Devi terbelalak kaget begitu ia mendapati Alby yang baru saja keluar dari dalam rumah Rea.


"Om Alby?"


"Dev. Kau ke sini dengan-" Ucapan Alby terpotong begitu melihat tangan Devi yang tengah menggandeng tangan Lino.


Sadar akan tatapan Alby, Devi pun segera melepaskan gandengan tangannya pada Lino.


"Lho om Alby ada disini juga?" tanya Devi sembari berjalan mendekat ke arah Alby.


"Ibunya Rea pasienku," jawab Alby.


"Siapa? Om-mu?" tanya Lino.


Alby yang mendengar pertanyaan Lino pun menatap ke arah Lino dengan tatapan tidak percayanya. Bocah bau kencur ini menyangka aku om-nya Devi? Benar-benar menyebalkan!!


Dan yang membuat Alby jengkel adalah Devi masuk ke dalam rumah Rea begitu saja tanpa memberikan klarifikasi pada Lino. Dia ini tunangannya! Bukan om-nya!!


Alby menatap Lino yang ikut masuk menyusul Devi dengan sengit.


"Bagaimana?" tanya Raka yang baru saja tiba.


"Pemakamannya sebentar lagi dilaksanakan," jawab Alby dengan raut wajah kesal.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Raka.


Alby tidak menjawab, ia memilih pergi menyusul Devi masuk ke dalam rumah Rea.

__ADS_1


"Lho itu sepatunya Lino. Lino ada disini?" bingung Raka begitu melihat sepatu milik adiknya berada di depan rumah Rea.


*****


Devi diam mematung sembari menatap foto keluarganya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya dengan pandangan kosong. Ia ingat betul apa yang disampaikan oleh Rea mengenai penyakit ibunya.


Ibu Rea mengidap penyakit laju filtrasi glomerulus (GFR) yang menyebabkan gagal jantung, itu adalah penyakit yang sama yang diderita oleh ibunya Raden. Dan yang lebih membuat Devi tambah kepikiran adalah ibu Rea hanya memiliki satu ginjal saja.


Sebetulnya Devi berusaha berpikiran positif namun entah kenapa semua pikiran negatif memenuhi isi kepalanya.


"Belum tidur?" tanya Alby berjalan masuk ke dalam kamar Devi.


"Ada apa?" tanya Alby yang melihat Devi tampak kepikiran sesuatu.


"Tidak ada apa-apa. Om Alby kenapa belum tidur?" tanya Devi.


"Aku hanya ingin melihatmu sebentar sebelum tidur," ujar Alby yang membuat Devi tersenyum simpul.


"Kalau begitu ayo tidur bersama," ujar Devi cekikikan.


"Kita sudah berjanji pada ayah jika kita tidak akan tidur bersama sebelum menikah. Ingat?"


Devi mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Alby lalu detik berikutnya ia bergelayut manja pada pelukan Alby.


"Aku menyesal telah berjanji pada om Abi."


Alby tertawa kecil sebelum akhirnya ia memasang wajah garangnya.


"Kau hutang penjelasan padaku," ujar Alby yang membuat Devi bingung.


"Penjelasan apa?"


"Kenapa kau menggandeng tangannya Lino?"


"Kapan?" lupa Devi.


Alby bersedekap dada sembari menatap nyalang ke arah Devi yang langsung membuat Devi teringat kejadian tadi sore. Rupanya Alby sedang merajuk karena Devi menggandeng laki-laki lain.


"Ah yang itu, itu karena aku em... hanya ingin segera masuk ke dalam rumah Rea saja om. Lagipula bukankah om Alby kenal dengan Lino? Lino adiknya dokter Raka lho om," jawab Devi.


"Adik tiri dan aku baru tahu rupa adik tirinya Raka tadi di rumah Rea," terang Alby dingin.


Melihat Alby yang masih marah pun Devi langsung memeluknya.


"Om aku tidak ada apa-apa dengan Lino. Kami hanya berteman, aku menganggapnya sama seperti Gara. Orang yang aku cintai kan om Alby," bujuk Devi agar Alby berhenti marah padanya.


Alby diam bergeming. Alby belum bisa menerima penjelasan Devi.


"Orang yang menolongmu dan mengantarmu ke tempat Raden itu Lino kan?" tanya Alby.


"Iya. Tapi itu tidak sengaja om. Saat itu kami tidak saling kenal dan kebetulan Lino hendak pergi dari kampus mangkanya aku ikut dengannya," jelas Devi sebelum Alby semakin marah.


"Aku janji aku tidak akan mengulanginya. Aku tidak akan menggandeng tangan Lino lagi."


"Ayo kita menikah," ujar Alby sembari menatap manik mata Devi.


"Eh?"


*****

__ADS_1


__ADS_2