Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Berkebun


__ADS_3

Devi yang saat itu sedang berjalan-jalan sendirian pun tidak sengaja melihat Alby yang tengah berada di hamparan tanah lapang yang cukup luas sendirian.


Devi pun berlari mendekat ke arah Alby dan mengernyitkan dahinya bingung begitu melihat berbagai macam bunga berada di sekitar Alby.


"Om Alby lagi apa?" tanya Devi berjongkok di samping Alby yang tengah mencangkul tanah.


"Jangan jongkok di situ nanti terkena-"


Belum sampai Alby melanjutkan kalimatnya, Devi sudah terkena cipratan tanah yang dicangkul Alby dan mengenai wajahnya.


"Nahkan."


"Om!! Mataku perih!!" rengek Devi sembari melompat-lompat merasakan perih akibat tanah yang tidak sengaja masuk ke dalam matanya.


"Sini kulihat." Alby menahan bahu Devi agar ia berhenti melompat-lompat. Selain itu Devi juga masih memiliki luka bekas operasinya jadi ia tidak boleh melompat-lompat seperti itu.


"Buka matamu biar aku lihat," perintah Alby.


Devi pun membuka kedua matanya dengan perlahan. Begitu ia membuka kedua matanya, rasa perih kembali dirasakannya.


"Argh perih!" tolak Devi sembari mengucek kedua matanya namun Alby langsung menahannya.


"Jangan dikucek nanti bisa iritasi," cegah Alby.


"Asep!!" panggil Alby pada Asep yang berada tidak jauh dari mereka berdua.


"Iya den?"


"Tolong ambilkan obat tetes mata," perintah Alby yang langsung dilaksanakan oleh Asep.


"Baik den."


Devi tetap menutup kedua matanya sembari melompat-lompat kecil karena rasa perih yang masih belum reda.


"Jangan lompat-lompat, kau masih memiliki luka bekas operasi ingat?"


Devi menghentikan aksinya dengan bibir mengerucut kesal. Alby yang melihat hal tersebut tidak dapat menahan senyumnya. Menurut Alby, Devi terlihat lucu dengan bibir yang mencebik kesal.


"Dev lihat itu di langit ada apa!" tunjuk Alby yang membuat Devi membuka kedua matanya dan menengadahkan kepalanya ke arah langit sembari berkedip-kedip karena sinar matahari.


"Ada apa om?" tanya Devi menajamkan penglihatannya.


"Sudah tidak perih kan?" tanya Alby sembari tersenyum.


Devi menurunkan pandangannya dan menatap ke arah Alby. Untuk beberapa saat mata mereka beradu tatap. Ada gelenyar aneh yang menjalar di tubuh mereka masing-masing. Degup jantung mereka juga bertambah seiring lamanya keduanya saling menatap.


Pandangan Alby jatuh ke arah bibir ranum milik Devi. Bibir yang pernah ia cium untuk menyelamatkan nyawa Devi dari seekor siput mematikan pemberian Raden.


Bibir yang sedikit membuka itu seolah menggoda bibir Alby untuk segera mendekat dan menyesap ke arahnya dan hal itu membuat Alby sedikit hilang kendali.


"Aku ingin menciummu," ujar Alby dengan nafas sedikit memburu.


Mata Devi membola sedikit terkejut namun ia tidak memungkiri jika ia juga ingin merasakan ciuman Alby untuk yang kedua kalinya.


Belum sampai Devi menjawab pertanyaan Alby, Asep tiba dan menginterupsi keduanya membuat keduanya tampak salah tingkah.


"Ini den obat tetes matanya," ujar Asep menginterupsi keduanya.


Alby dan Devi pun langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan langsung salah tingkah.


"Oh te..terima kasih," jawab Alby menerima obat tetes mata yang diberikan Asep padanya.


Setelah Asep pergi, Alby menoleh ke arah Devi yang kini melempar pandangannya ke arah lain. Alby tersenyum kecil melihat Devi yang tampak menggemaskan begitu ia salah tingkah.


"Kemari biar kuobati matamu," ujar Alby.


Perlahan Devi berbalik ke arah Alby dengan wajah bersemu merah.


Alby berjalan mendekat dan membuka sarung tangan yang melekat di kedua tangannya. Setelahnya ia langsung menyemprotkan desinfektan di kedua tangannya lalu membuka tutup botol obat tetes mata tersebut.


"Sekarang lihat ke atas," perintah Alby yang dituruti oleh Alby.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Sudah lebih baik om," jawab Devi sembari terus melihat ke atas dan mengedip-ngedipkan matanya.


Cup!


Devi tersentak kaget begitu Alby mengecup bibirnya sekilas.


"Om! Apa yang kau lakukan?!" pekik Devi menatap ke arah Alby yang kini memakai kembali sarung tangannya.


"Berkebun," jawab Alby santai.


"Bukan itu! Yang...ehm...yang baru saja om Alby lakukan padaku," ujar Devi lirih di bagian akhir kalimatnya.


Alby menghentikan kegiatannya dan menatap Devi dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.


"Kenapa? Kau mau lagi?" Dari pada menjawab pertanyaan Devi, Alby malah lebih suka menggoda Devi. Pipi merah muda yang merona itu membuat Alby gemas ingin menggigit pipinya.


"Mau," jawab Devi langsung.


"Dasar. Jangan minta cium padaku, minta cium Raden sana."


"Tidak mau. Aku sudah tidak menyukai kak Raden om jadi jangan bahas kak Raden lagi. Lagi pula ciuman om Alby adalah yang paling the best," ujar Devi sembari mengacungkan jempolnya ke arah Alby.


Alby tertawa sekilas sebelum pada akhirnya ia kembali melanjutkan kegiatannya.


"Om Alby sedang apa?" tanya Devi.


"Berkebun," jawab Alby.


"Om Alby tidak capek? Om Alby baru saja tiba dari perjalanan jauh lho om," ujar Devi perhatian.


"Capek, tapi aku harus melaksanakan hukuman dari ayah," tutur Alby.


"Hukuman?" ulang Devi.


"Hm. Aku harus menanam semua bunga ini," tunjuk Alby pada bunga-bunga yang harus ia tanam yang bila Devi hitung mungkin jumlahnya ada seratus-an.


"Sebanyak ini?" tanya Devi menganga tidak percaya.


"Tidak mau. Di bunganya pasti banyak ulatnya, aku benci ulat," tolak Devi.


"Tidak ada. Bunga ini sudah terawat dan diberi pestisida jadi tidak mungkin ada ulat."


"Kalau begitu aku mau membantumu om," ujar Devi berubah pikiran.


"Tidak usah. Aku hanya bercanda saja tadi. Lebih baik kau pergi istirahat di kamar. Kau kan baru dari perjalanan jauh pasti capek," tolak Alby lembut.


"Aku tidak capek om. Sini biar ku bantu," kekeuh Devi sembari meminta Alby untuk memberikan sebuah sekrup kecil padanya.


Keduanya pun saling bahu-membahu menanam seratus bunga tersebut. Sesekali Devi mencuri-curi pandang ke arah Alby. Alby menyadarinya namun ia memilih menahan senyumnya dan fokus pada kegiatannya.



Tidak jarang Devi berteriak heboh saat ia menemukan cacing begitu ia menggali tanah. Bukannya membuang cacing tersebut, Alby malah mengambilnya dan melemparkannya ke arah Devi membuat Devi menangis ketakutan.


"Om jika kau menyebalkan lagi seperti itu aku tidak mau membantumu!!!" ancam Devi berlinang air mata.


"Iya-iya aku minta maaf. Berhentilah menangis," ujar Alby menahan senyum.


Setelahnya Alby sudah tidak mengganggu Devi lagi. Mereka berdua segera menyelesaikan hukuman Alby. Beberapa jam kemudian mereka pun selesai.


"Whoaa lelah sekali." Devi menghempaskan dirinya di tanah kosong yang berada di samping bunga yang ia tanam.


"Jangan tidur di situ, kotor," tegur Alby.


"Aku tidak perduli, aku lelah sekali."


Alby tersenyum menatap Devi. Peluh membanjiri kening gadis tersebut ditambah rambut panjangnya yang sedikit berantakan membuat Alby ingin merapikan rambutnya.


"Duduk dulu sini," ujar Alby meminta Devi untuk duduk di sebuah kursi kayu yang terletak tidak jauh dari tempat mereka.

__ADS_1


Dengan gerakan lambat, Devi pun bangun dan berjalan mendekat ke arah Alby yang sudah lebih dulu mencuci kedua tangannya.


"Om Alby mau apa?" tanya Devi bingung begitu Alby menarik tali rambut yang mengikat rambut panjang Devi hingga rambut indah itu tergerai bebas.


"Merapikan rambutmu. Rambutmu yang berantakan membuatmu terlihat seperti singa," jawab Alby yang langsung mendapat pukulan di perutnya.


Alby menanggapinya dengan tertawa lebar sembari terus merapikan rambut Devi dan mengikatnya kembali.


Devi tidak dapat menahan senyumnya begitu mendapat perlakuan manis dari Alby. Rasa senang langsung menyeruak memenuhi rongga dadanya.



Devi yang selalu mendapat perlakuan hangat dari Alby pun mulai bertanya-tanya. Apa sebetulnya Alby juga memiliki perasaan yang sama sepertinya? Jika iya, kenapa Alby tidak buru-buru mengungkapkannya?


"Sedang berpikir apa?" tegur Alby yang membuat Devi tersadar dari lamunannya.


"Tidak ada," bohong Devi.


"Ayo cuci tanganmu. Kita harus segera mandi agar bisa istirahat," ajak Alby.


Alby menggandeng tangan Devi dan membawanya untuk cuci tangan terlebih dahulu. Dengan sabar, Alby memegang selang air tersebut agar Devi dapat mencuci tangannya.



"Kenapa kamu membantunya Dev?" tegur Abimanyu yang baru saja tiba dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Om Abi," pekik Devi terkejut begitu melihat kedatangan Abimanyu.


"Kau seharusnya membiarkan anak nakal ini menyelesaikan hukumannya sendiri," lanjut Abi.


"Aku tidak meminta bantuannya lho yah. Dia sendiri yang menawarkan bantuannya jadi ayah tidak boleh memarahiku," ujar Alby membela diri.


"Benar Dev?" tanya Abi pada Devi.


Devi menatap Alby dengan senyum misteriusnya.


Sepertinya menyenangkan membuat om Alby merasa kesal.


"Tidak om. Om Alby yang memintaku untuk membantunya. Awalnya aku menolak karena aku takut ulat, tapi om Alby terus memaksaku bahkan tadi om Alby melempar cacing padaku om. Om Alby memang menyebalkan, hukum lagi saja om," ujar Devi mengabaikan pelototan dari Alby.


"Heh kau ini kenapa bicara sembarangan seperti itu!" protes Alby yang malah mendapat juluran lidah dari Devi.


Siapa suruh melempar cacing padaku!


"Kamu ini benar-benar ya. Karena kamu dibantu oleh Devi maka ayah anggap kamu hanya berhasil menanam lima puluh bunga. Sekarang kamu tanam lagi lima puluh bunga sisanya," perintah Abimanyu yang membuat Alby melotot tidak terima.


"Bagaimana bisa lima puluh bunga? Padahal Devi hanya berhasil menanam sepuluh bunga saja!" protes Alby.


"Itu resikomu. Siapa suruh kamu meminta bantuan pada Devi padahal kamu harus menyelesaikannya sendirian," jawab Abi santai.


"Aku tidak meminta bantuannya yah. Dev sini kau!"


Alby hendak mengejar Devi. Devi yang tanggap pun segera berlari sembari menarik tangan Abimanyu agar segera pergi dari kejaran Alby.


"Ayo pergi om!! Gorilla sedang marah!!" teriak Devi tertawa.


"Gorilla?" Alby menatap tidak percaya ke arah Devi. Gorilla? Enak saja dia disamakan dengan Gorilla!!


"Siapa suruh mengataiku mirip singa whlee!!!" ejek Devi menghentikan larinya dan menjulurkan lidahnya pada Alby sedangkan Abimanyu hanya tertawa melihat keduanya yang sibuk saling ejek.


Mata Abimanyu tidak sengaja melihat ke arah jendela rumah. Di sana ada Ishwari yang tengah mengamati mereka dan begitu pandangan mata mereka bertemu, Abimanyu menganggukkan kepalanya seolah memberitahu sang istri jika semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu ia khawatirkan.


Alby menatap Devi dan ayahnya yang sudah menghilang memasuki rumah. Melihat tawa lebar Devi membuat hati Alby merasa lega. Kini Alby yakin membawa Devi ke rumah orang tuanya adalah hal yang benar. Di sini kondisi psikis Devi pasti akan lebih baik dari sebelumnya.


Tiba-tiba saja ia teringat akan tindakannya yang mengecup bibir Devi sekilas tadi. Alby merutuki tindakan bodohnya yang bisa-bisanya ia tidak dapat menahan diri begitu melihat bibir Devi. Ada perasaan aneh yang terus muncul di hatinya. Berulang kali Alby menepisnya namun perasaan itu semakin kuat mendera dirinya.


Ting!


Alby merogoh ponselnya dan tertera nama Laudya yang seketika membuat Alby sadar.


"Kesepakatan sialan!" umpat Alby.

__ADS_1


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)


__ADS_2