Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Rapuh


__ADS_3

Devi menatap nanar ke arah ruang operasi tempat Alby berjuang antara hidup dan mati. Devi masih ingat jelas bagaimana Bima menembak dua kali pada kaki dan dada Alby, bahkan kejadian saat Raden menembak Bima juga masih melekat kuat di ingatannya.


Devi menundukkan kepalanya dalam sembari menatap kedua tangannya yang masih terdapat noda darah Alby. Devi mengusapnya pelan namun darah Alby yang sudah mengering menjadikannya sangat sulit untuk dibersihkan.


Devi mendesah pelan. Hanya ada dirinya sendiri di ruang tunggu ruang operasi. Raka entah pergi ke mana, mungkin ia harus memberikan keterangan kepada polisi atau malah ikut melakukan operasi Alby. Devi tidak terlalu memperhatikan Raka ketika dokter seusia Alby itu menyelamatkannya. Yang ia tahu hanyalah Raka datang menyelamatkan dirinya dan Alby bersama polisi saja setelah itu mereka berpencar dengan Raka yang menaiki mobil ambulance bersama Alby sedangkan Devi berada di dalam mobil milik Alby yang dikendarai oleh salah seorang polisi.


Devi terdiam cukup lama. Tidak ada ekspresi khusus yang ia tampilkan bahkan air matanya sudah mengering menangisi semua yang terjadi.


Lama berdiam diri, Devi pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan noda darah Alby di tangannya.


Begitu selesai membasuh tangannya, Devi pun berniat kembali. Saat itu ia melihat Abimanyu tengah memeluk Ishwari yang menangis tersedu-sedu. Devi tahu Ishwari pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Alby.


Devi mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruang tunggu operasi, ia memutuskan pergi ke rooftop untuk menenangkan diri sejenak. Selain itu Devi juga belum berani bertemu kedua orang tua Alby secara langsung.


*****


Begitu tiba di rooftop, Devi berjalan pelan ke arah pagar rooftop. Devi menatap matahari yang mulai terbenam dan menampilkan senja di sore hari.


Angin dingin mulai berhembus dan menusuk kulitnya. Seragamnya kotor bercampur dengan lumpur saat ia pingsan dan dibawa ke bangunan tua itu tapi Devi tidak perduli dengan penampilannya yang berantakan.


Devi mendesah pelan. Ia tidak percaya dalam satu hari ini ia berhasil membuat kekacauan yang sangat besar. Tunggu dulu! Sebetulnya kekacauan ini berasal dari mana?


Tes!


Air matanya yang tadi mengering kini mulai mengalir kembali menuruni pipinya.


Bukankah sejak awal ini adalah salah ayahnya? Kenapa ayahnya melakukan hal keji itu pada ibunya Raden? Andai saja hal itu tidak terjadi Devi yakin semuanya akan baik-baik saja dan dendam itu juga tidak akan tercipta.


"Kenapa harus aku yang menanggungnya padahal itu kesalahan ayah?!" teriak Devi sembari menangis.


"Bagaimana? Apa ayah lihat bagaimana menderitanya aku akibat perbuatan ayah di masa lalu?!!" lanjut Devi dengan menengadahkan kepalanya menatap langit seolah ayahnya tengah mengawasinya dari atas sana.


"Keluarga Anggara ingin membunuhku dan sekarang teman-temanku terluka! Om Alby juga! Om Alby hampir meninggal yah!! Apa ayah puas?!!"


"Kalian sangat jahat padaku! Kenapa kalian meninggalkanku sendirian di sini?! Apa aku hidup hanya untuk menanggung kesalahan ayah?!! Ibu dan kakak juga! Kenapa lebih memilih ikut bersama ayah alih-alih menemaniku di sini?!" Tubuh Devi luruh ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu sembari menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya diantara lipatan lengannya. "Aku takut," lirih Devi.


"Aku takut sendirian. Aku takut om Alby, Arin dan Gara meninggalkanku. Aku juga takut om Abi dan tante Ishy membenciku karena menyebabkan putranya terluka, kenapa ayah tidak mengerti aku? Kenapa ayah meninggalkan dendam seperti ini padaku?" isak Devi menumpahkan semua kesedihannya.


Tanpa Devi sadari, Abimanyu mendengar semua perkataannya. Abimanyu yang niat awalnya mencari Devi karena mengkhawatirkannya pun menghentikan langkahnya begitu ia mendengar suara teriakan frustasi Devi. Ia mengurungkan niatnya menemui Devi dan memilih berdiam diri di balik pintu rooftop yang sengaja ia buka sedikit.


Abimanyu mendesah pelan. Ia tahu apa yang dirasakan Devi. Gadis berumur delapan belas tahun yang sudah berulang kali mengalami kejadian mengerikan seperti ini.


Selain keluarganya dan Alby, Devi tidak punya lagi jalan untuk pulang. Itulah kenapa Devi merasa takut bertemu dengan Abimanyu dan juga Ishwari. Devi takut rumah yang ia tuju tidak mau membukakan pintu untuknya lagi.


Abimanyu pun beranjak pergi, ia ingin memberi ruang untuk Devi menenangkan diri.


Drt...drt...


Devi mengusap air matanya dan membuka ponselnya. Terdapat nomor tidak dikenal tengah menghubunginya.


Awalnya Devi mengabaikannya namun setelahnya ia terus mendapatkan telepon lagi hingga akhirnya Devi pun menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Halo," jawab Devi.


Hening!


"Halo!"


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Devi pun memutus sambungan teleponnya dan berniat untuk turun melihat perkembangan operasi Alby.


Saat Devi berbalik badan, Devi sedikit terkejut begitu di belakangnya berdiri seorang Jessica yang tengah menempelkan ponselnya ke telinganya. Rupanya nomor tidak dikenal yang menghubungi Devi adalah Jessica.


Devi diam bergeming. Devi dapat melihat air mata Jessica yang lolos menuruni kedua pipinya. Perlahan, Jessica pun berjalan mendekat ke arah Devi.


Tepat saat Jessica berada tiga jengkal dari hadapan Devi, Jessica menghentikan langkahnya. Jessica menatap penampilan Devi yang berantakan dengan berlinang air mata.


"Ak..aku ingin bicara," ujar Jessica lirih.


"Aku sedang tidak ingin berkelahi," jawab Devi berniat pergi dari hadapan Jessica namun langkahnya terhenti begitu Jessica mencekal lengannya.


Devi membalikkan badannya dan ia melihat mata sembab Jessica yang tengah memohon padanya agar tinggal sebentar saja untuk mendengarkan perkataannya.


"Lima menit," ujar Devi pada akhirnya.


"Aku tidak tahu jika kakakku melakukan rencana penculikan ini padamu. Aku hanya diminta untuk membawamu ke halaman belakang sekolah saja, selebihnya aku tidak tahu apa-apa," jelas Jessica.


"Jess kau tahu kan hubungan kita seperti apa? Apa menurutmu aku akan mempercayai kata-katamu?"


"Tidak. Aku tidak memintamu untuk mempercayaiku. Aku ke mari hanya ingin meminta maaf padamu. Aku sungguh menyesal dengan apa yang terjadi. Ku akui kita memang sering berkelahi dan bahkan aku sendiri menganggapmu sebagai musuhku, tapi percayalah aku lebih suka menodongkan pistol di hadapanmu secara langsung dari pada menembakmu dari belakang. Aku sungguh tidak tahu rencana penculikan itu apa lagi sampai bekerja sama dengan seseorang yang bernama Bima," jelas Jessica.


"Kenapa kau membenciku? Apa hanya karena aku mengambil mainanmu dengan menolong Rea?"


Jessica terdiam.


"Ibuku meninggal karena dibunuh kakakku dan aku tahu sesakit apa rasanya ditinggal orang yang kita sayangi. Bukankah kedua orang tuamu juga meninggal karena kecelakaan? Aku hanya tidak ingin kau hidup dalam rasa sakit mangkanya aku memintamu untuk mati," lirih Jessica yang membuat Devi sangat terkejut.


Jadi tante Laudya semengerikan itu?


"Kau salah besar memahami rasa sakit itu. Sakit yang kau alami sebetulnya adalah proses menuju kedewasaanmu. Tapi kalau boleh jujur, kau membenciku bukan karena kau perduli padaku juga bukan karena kau tidak ingin aku merasakan sakitnya ditinggal orang yang kusayangi tapi lebih sebagai pelampiasan diri. Kau hanya menjadikanku sebagai pelampiasan rasa sakitmu."


Setelah mengucapkan hal itu, Devi segera berjalan meninggalkan Jessica sendirian.


"Dan ngomong-ngomong soal Bima, dia yang membunuh kedua orang tuaku. Orang tuaku tidak meninggal kecelakaan," ujar Devi menghentikan langkahya.


Setelah mengucapkan hal tersebut, Devi pun kembali melanjutkan langkahnya.


Jessica terkejut bukan main begitu mendengar penuturan Devi. Kini ia tahu maksud perkataan kakaknya tempo hari. Dirinya dan Devi memang benar-benar berbeda.


*****


Devi mengintip dari balik pilar rumah sakit. Di sana ia melihat Alby yang baru saja dibawa keluar dari ruang operasi dengan Ishwari dan Abimanyu yang berada di belakangnya mengikuti.


Devi ingin sekali berlari ke arah mereka untuk memastikan sendiri bagaimana keadaan Alby, tapi ia tidak cukup punya nyali untuk melakukannya.

__ADS_1


Devi pun mengikuti mereka dari belakang secara sembunyi-sembunyi karena ia ingin tahu di mana ruang rawat Alby.


"Dev," panggil seseorang yang membuat Devi terjengkit kaget.


"Dokter Raka."


"Apa yang kau lakukan di sini? Aku mencarimu ke mana-mana! Astaga lukamu! Maaf aku sibuk menyelamatkan Alby hingga aku belum sempat mengobati lukamu," ujar Raka menyesal begitu melihat kondisi Devi yang tampak berantakan dengan darah yang sudah mengering di kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Aku harus pergi," ujar Devi berniat pergi dari hadapan Raka.


"Tidak. Kau harus ikut denganku," cegah Raka sembari mencekal lengan Devi.


"Tolong lepaskan," lirih Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


Tahu akan kondisi Devi, Raka pun melepaskan cekalannya dan menatap Devi dengan lembut.


"Kita obati lukamu dulu."


"Lukaku sudah sembuh," jawab Devi yang membuat Raka menekan luka di kepala Devi.


Argh!!!


"Sembuh ya? Kalau dia sudah sembuh harusnya tidak terasa sakit saat kutekan. Ayo, kau juga harus ganti pakaian," ujar Raka menggenggam tangan Devi agar mengikutinya namun Devi tetap diam bergeming.


Raka mendesah pelan sembari menatap Devi dengan lembut.


"Setelah ini aku janji akan mengantarmu melihat Alby. Kau tidak ingin Alby khawatir dengan keadaanmu yang seperti ini kan?"


"Aku hanya ingin melihatnya dari jauh," lirih Devi.


"Kenapa? Kau tidak ingin melihatnya dari dekat?"


"Aku takut. Di sana ada tante Ishy dan om Abi, aku takut dimarahi," jujur Devi.


Raka tersenyum lembut. Ia sudah tahu akan hal itu karena Abimanyu memberitahunya dan meminta tolong padanya untuk mengurus Devi selagi Abimanyu menjaga Alby dan menenangkan istrinya yang terus saja menangis.


"Aku punya ide," kata Raka yang membuat Devi mendongakkan kepalanya menatap Raka.


"Aku akan membawamu menemui Alby secara diam-diam saat om Abi dan tante Ishwari pulang. Bagaimana?"


"Mereka pulang? Aku pikir mereka akan tidur di sini menemani om Alby dok."


"Tidak," jawab Raka seraya tersenyum dengan jari jempolnya yang berada di sisi tubuhnya diam-diam terangkat ke arah Abimanyu yang ternyata sedari tadi mengamati mereka. "Malam ini mereka akan pulang jadi kau bisa menjaga Alby. Bagaimana?"


"Baiklah, aku mau," ujar Devi pada akhirnya dengan raut wajah berbinar.


"Aku sudah membawakanmu pakaian dan peralatan mandi. Kau mandi dan ganti pakaian di ruangan Alby saja. Setelah selesai kau panggil aku saja, aku akan menunggu di luar," jelas Raka menggiring Devi menuju ruangan Alby.


"Setelah lukamu selesai kuobati, baru kau boleh bertemu dengan Alby."


*****

__ADS_1


__ADS_2