Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Jadi Perseptor Lagi


__ADS_3

Pagi harinya suasana ruang IGD tidak terlalu sesak oleh pasien. Raden dan Fitra menghela nafas lega sejenak, setidaknya mereka dapat sedikit bersantai pagi ini.


Raden dan Fitra yang saat itu sedang berada di ruang jaga IGD pun sedikit bingung begitu melihat Alby yang berjalan ke arahnya. Raden dan juga Fitra belum tahu tentang kabar dokter Novi yang sudah resign dan yang menggantikannya adalah Alby. Alby sengaja meminta direktur untuk merahasiakan hal ini sampai Alby sendirilah yang akan memberitahu Raden dan juga Fitra.


Dengan langkah tegas Alby mulai berjalan memasuki ruang IGD. Banyak perawat dan dokter lain yang menyapanya namun Alby hanya membalasnya dengan anggukan singkat.


"Kenapa dokter Alby berjalan kemari?" bisik Fitra pada Raden.


"Aku tidak tahu, mungkin dokter Alby ada keperluan di sini," bisik Raden.


"Perasaanku tidak enak," ujar Fitra sembari menatap takut ke arah Alby.


"Pasti sangat menyenangkan bergosip tentangku di pagi hari seperti ini," tegur Alby yang membuat Raden maupun Fitra langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung memberi salam pada Alby.


"Ti..tidak dok, saya tidak bergosip tentang anda," dusta Fitra menundukkan kepalanya.


Alby menatap ke arah Raden yang juga tampak menundukkan kepalanya. Untuk sesaat Alby merasa ragu dengan perkataan Sean, apakah mungkin orang seperti Raden memiliki rencana untuk mencelakai Devi? Sudahlah, Alby akan mencari tahu sendiri nanti.


"Terserah, aku juga tidak perduli. Sekarang cepat periksa pasien yang berada di sini satu-satu lalu laporkan hasilnya padaku," perintah Alby tegas.


"Ya?"


"Kau tuli?" sarkas Alby pada Fitra.


"Ah maaf, tidak dok," jawab Fitra cepat.


"Maaf sebelumnya dok, tapi bukankah semua pasien IGD adalah pasiennya dokter Novi? Sedangkan dokter Alby bukankah seharusnya anda berada di bagian digestif?" tanya Raden sopan.


"Dokter Novi resign dan mulai sekarang aku yang akan menjadi perseptor kalian lagi sekaligus yang akan menjadi kepala bagian gawat darurat," ujar Alby yang membuat Raden dan Fitra terkejut. "Semua orang di sini sudah tahu kecuali kalian berdua. Jadi cepat periksa pasien yang ada di sini dan laporkan hasilnya padaku!!!!"


"Baik dok," jawab Raden dan Fitra bersamaan. Setelahnya Raden dan Fitra segera bergegas melaksanakan perintah Alby sebelum Alby memarahinya lagi.


"Ah sial!! Kenapa dokter Alby lagi?!!" umpat Fitra.


"Kau mengumpatiku?!!" tegur Alby marah.


"Ah ti..tidak dok, saya tidak mengatakan apa-apa. Ayo Den kita segera pergi memeriksa pasien," ujar Fitra takut-takut sembari menarik ujung snelli Raden.


Alby menghela nafasnya pelan, sepertinya emosi dan kesabarannya akan kembali diuji. Satu ada Devi di apartemen dan duanya lagi ada di ruang IGD yang akan bekerja bersamanya. Benar-benar kombinasi yang sempurna untuk membuatnya terserang stroke dini.


Sembari menunggu hasil pemeriksaan Raden dan juga Fitra, Alby berjalan menuju meja perawat untuk meminta beberapa berkas tentang pasien yang akan menjadi pasiennya menggantikan dokter Novi.


"Tolong berikan semua data pasien yang berada di sini beserta dokter yang menanganinya," pinta Alby.


"Baik, tunggu sebentar dok."


Mata Alby berkeliaran memperhatikan Fitra dan juga Raden yang tengah sibuk memeriksa pasien. Sebetulnya tanpa pemeriksaan ulang pada pasien, Alby dapat langsung melihat hasil pemeriksaan melalui data-data dan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan dokter sebelumnya. Hanya saja Alby ingin menguji kemampuan Raden dan juga Fitra dalam mendiagnosis pasien.


"Dokter Alby ini berkas yang anda minta," ujar suster bernama Ratna tersebut dengan sopan.


"Terima kasih."


Alby pun segera membuka berkas tersebut dan membacanya dengan seksama. Semua kebanyakan pasien ditangani oleh dokter Novi dan dua diantara enam pasien tersebut diperbolehkan pulang hari ini dan hanya menjalani rawat jalan saja.


Alby belum selesai membaca data dan hasil pemeriksaan pasien. Alby memutuskan untuk meninjaunya di dalam ruang kerjanya saja karena menurut Alby ia akan lebih mudah berkonsentrasi jika dalam keadaan tenang dan nyaman.


"Sus tolong beritahu Raden dan Fitra jika sudah selesai memeriksa pasien suruh menemui saya di ruangan saya," pesan Alby pasa suster Ratna.

__ADS_1


"Baik dok."


*****


Tok! Tok!


"Masuk."


Alby menatap Raden dan Fitra secara bergantian sebelum pada akhirnya Alby memerintahkan mereka untuk menyampaikan hasil laporannya setelah melakukan pemeriksaan ulang.


"Ku akui kemampuan diagnosis kalian memang tepat. Tapi aku tidak yakin itu murni dari otakmu atau bukan. Kalian sudah memeriksa pasien-pasien tersebut bersama dokter Novi jadi bukannya tidak mungkin jika kalian hanya menyalin diagnosis dokter Novi saja," tutur Alby yang membuat Fitra menatap tidak percaya ke arah Alby. Bagaimana bisa Alby tidak menghargai usaha hasil pemikirannya dan berkata sebegitu kejamnya?


"Ada apa dengan matamu? Ingin dicongkel?" tanya Alby begitu melihat Fitra menatap ke arahnya akibat tidak menyetujui perkataan Alby.


"Tidak dok. Saya hanya....ehm....saya hanya-"


"Diamlah, aku tidak butuh alasanmu."


Fitra pun mengunci mulutnya rapat-rapat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dokter Alby benar-benar seorang monster yang kejam.


"Kalian berdua, ada hal yang ingin kutanyakan," ujar Alby sembari menatap ke arah Raden. "Kenapa kalian ingin menjadi seorang dokter?"


Raden dan juga Fitra tampak berpandangan sejenak sebelum pada akhirnya Fitra yang menjawab pertanyaan Alby lebih dulu.


"Tentu saja untuk menyelamatkan banyak nyawa dok. Selain itu menurut saya menjadi seorang dokter adalah pekerjaan yang paling keren, saya bisa dengan mudah mendapatkan pacar jika saya memiliki pekerjaan yang keren dan banyak uang," jawab Fitra langsung begitu mendengar pertanyaan Alby.


"Kau menjawab pertanyaanku dengan begitu percaya diri namun jawabanmu membuatku mual," komentar Alby. "Menjadi dokter bukan hanya karena ingin mendapatkan jodoh, jika kau ingin mencari pacar sana ikut saja biro jodoh jangan menjadi dokter," hardik Alby.


Mendengar perkataan Alby membuat Fitra mengerucutkan bibirnya kesal. Bagaimana bisa Alby berkata kasar dan menyakiti hatinya?


"Kalau saya, tidak ada alasan khusus kenapa saya ingin menjadi seorang dokter. Bukankah semua dokter ingin menyelamatkan nyawa pasien? Termasuk saya sendiri dok. Bagi saya, dapat menyelamatkan banyak nyawa dan memberi mereka kesempatan untuk melanjutkan hidup lebih lama saja sudah membuat saya bahagia. Satu nyawa sangat berharga bagi saya," jawab Raden.


"Memberi kesempatan pasien untuk melanjutkan hidupnya ya?"


"Iya dok," jawab Raden mantap.


"Tapi dokter bukan Tuhan. Yang memberi kesempatan manusia untuk hidup adalah Tuhan. Dokter hanya sebagai perantara saja," ujar Alby.


Raden dan juga Fitra menganggukkan kepalanya mengerti. Memang sepertinya jawaban seperti apapun pasti akan tetap salah di mata Alby.


"Raden," panggil Alby.


"Iya dok."


"Kau tidak akan bisa memberi kesempatan pasien untuk melanjutkan hidupnya lebih lama lagi jika kau teledor dalam menangani pasienmu," ujar Alby yang membuat Raden sedikit tidak mengerti dengan perkataan Alby.


"Maaf dok?"


"Tempo hari aku memintamu membawa Devi ke rumah sakit untuk memeriksanya kan?"


"Iya dok."


"Kau tahu tidak jika kepalanya terluka?" tanya Alby tajam.


Raden tampak berfikir mencoba mengingat-ingat kejadian saat Devi pingsan dan di bawa ke rumah sakit, lalu Raden teringat sesuatu.


"Apa kepala Devi terluka dok?" tanya Raden sedikit panik.

__ADS_1


"Ya!" jawab Alby sinis sembari menatap Raden tajam.


"Saya minta maaf dok saya lupa tidak memeriksa kepalanya. Saya pikir Devi hanya pingsan biasa saja karena semua tanda vitalnya normal," jelas Raden.


"Oh jadi begitu cara kerja dokter? Kau lihat sendiri kan Devi pingsan dan kepalanya membentur aspal. Bagaimana bisa kau berpikir kepalanya tidak terluka dan hanya pingsan biasa?!! Kepala bagian belakangnya berdarah dasar dokter bodoh!! Apa di dalam kepalamu ukuran otakmu itu sama dengan otak udang?!! Bagaimana jika terjadi kelainan serius pada kepalanya ha?!! Kau ini ingin membunuh Devi ya?!!" marah Alby.


Raden sangat terkejut begitu mendengar kalimat terakhir Alby. Entah mengapa begitu mendengarnya, Raden merasa seolah Alby tahu apa tujuan sebenarnya Raden pada Devi. Tapi Raden berusaha menyangkalnya, tidak mungkin dokter Alby tahu niatnya yang sebenarnya dan Raden juga berpikir kemarahan Alby itu adalah hal yang wajar karena sebagai seorang dokter, Raden telah teledor dalam memeriksa pasien. Apalagi Devi adalah 'adik' Alby, tentu Alby akan sangat marah jika hal ini terjadi.


Alby dapat melihat raut keterkejutan dari Raden begitu ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Kini Alby jadi yakin apa yang dikatakan Sean adalah benar, karena Raden tidak akan mungkin terkejut mendengarnya jika ia memang tidak memiliki niat buruk pada Devi.


"Saya benar-benar minta maaf dok. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya," janji Raden sembari menunduk menyesal.


"Jangan minta maaf padaku, minta maaf lah pada Devi. Dia korban keteledoranmu," ujar Alby namun detik berikutnya ia menyadari perkataannya.


"Tidak! Tidak perlu! Kau tidak perlu meminta maaf padanya. Lagipula sebentar lagi Devi akan ujian jadi daripada kau sibuk berkencan dengan Devi lebih baik kau juga belajar menjadi dokter yang dapat diandalkan."


Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan Raden menemui Devi sendirian!


"Baik dok."


Tidak lama kemudian suster Ratna mengetok pintu ruangan Alby dan memberitahu jika telah terjadi keributan di dalam ruang IGD.


Dengan segera Alby, Fitra dan juga Raden langsung berlari menuju ruang IGD yang jaraknya tidak jauh dari ruangan Alby.


Begitu mereka tiba, Raden dan juga Fitra terkejut bukan main begitu melihat keributan yang ada di hadapannya. Terlihat beberapa preman yang tengah beragumen dengan seorang dokter wanita dan keterkejutannya bertambah lagi begitu melihat dokter wanita tersebut tampak terlibat adu pukul dengan mereka.


Alby yang melihat kejadian itu pun hanya menghela nafasnya dan memutar bola matanya lelah.


"Dokter Renata?"


Raden dan Fitra sangat terkejut begitu tahu siapa dokter wanita yang tengah berkelahi tersebut.


"Kenapa dokter Renata berkelahi dok?" tanya Fitra polos pada Alby.


"Biasanya preman seperti mereka tidak ingin bosnya ditangani sembarang dokter. Lihatlah bosnya yang sudah terkapar lemas di kursi itu, kondisinya sudah gawat tapi anak buahnya tetap tidak membiarkan dokter Renata mengobatinya dan anak buahnya mulai main tangan ke Renata mangkanya Renata balik memukulnya," jelas Alby.


Raden dan Fitra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti tanpa mengalihkan pandangannya dari perkelahian Renata.


"Dokter Alby tidak membantu?" tanya Raden.


"Kau memerintahku?"


"Ah tidak dok," jawab Raden sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Renata tidak perlu bantuanku," ujar Alby sembari mengedikkan dagunya ke arah Renata yang telah berhasil mengalahkan preman-preman tersebut.


Alby segera berlari ke arah Renata meninggalkan Raden dan Fitra yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Hoii kenapa kalian malah terpesona seperti itu?!!! Cepat kemari dan obati mereka yang terluka!!" teriak Alby menginterupsi Raden dan Fitra.


"Ah iya dok!" jawab Fitra dan Raden bersamaan.


"Neraka dunia kita dimulai Den," ujar Fitra yang dibalas tepukan pelan di bahu Fitra oleh Raden.


"Kau harus kuat Fit."


*****

__ADS_1


__ADS_2