
Devi berlari tanpa arah. Yang terpenting sekarang hanyalah ia pergi menghindar dari Alby. Devi sangat marah pada Alby dan ia tidak ingin bertemu dengan Alby untuk sementara waktu.
Sembari terus menangis, Devi yang kelelahan pun mulai memelankan langkahnya dan menatap ke sekelilingnya.
Kini ia berdiri di persimpangan jalan raya. Banyak lalu lalang kendaraan entah itu mobil pribadi maupun mobil berat. Devi tahu ia berada di mana sekarang. Ini adalah jalan persimpangan dekat rumah sakit tempat Alby bekerja. Devi terkejut untuk sesaat, ia tidak percaya mampu berlari sejauh itu.
Devi yang sadar akan hal itu pun menghela nafasnya kasar dan mendengus kesal. Ia pikir ia sudah berlari menjauh dari Alby tapi nyatanya ia malah berlari mendekat ke arah rumah sakit Alby. Bukankah itu artinya ia malah pergi mendekati Alby?
Devi yang kesal pun membalikkan badannya berniat putar balik. Dengan bermodalkan kartu kredit milik kakaknya yang ia simpan, Devi memutuskan untuk pergi berbelanja saja di mall untuk memperbaiki suasana hatinya.
Devi memesan sebuah taksi dan menyebutkan tujuannya pada sopir taksi tersebut. Tidak berapa lama, Devi pun tiba di pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.
Tujuan pertama Devi adalah toko pakaian. Tidak mungkin kan ia berkeliling mall menggunakan seragam sekolahnya? Devi tidak ingin diamankan petugas keamanan lalu dilaporkan ke pihak sekolah karena dianggap bolos sekolah.
Setelah selesai membeli beberapa pakaian dan satu diantaranya langsung ia pakai, Devi pun melanjutkan langkahnya berkeliling mall dan berbelanja sepuasnya.
Kini di tangannya sudah ada banyak tas besar berisi barang belanjaannya. Karena sudah lelah, Devi pun memutuskan untuk pulang. Jika kalian berpikir Devi tidak ingin pulang, kalian salah. Devi tidak akan senekat dan seberani itu untuk kabur dari rumah.
Begitu ia berjalan sendirian, pandangan Devi tidak sengaja tertuju pada sebuah keluarga yang sedang tertawa bahagia. Tampak kedua orang tua tersebut sedang mengambil foto bersama anaknya dan hal itu sukses membuat Devi merasa iri.
Devi menghentikan langkahnya sejenak dan terus melihat ke arah keluarga kecil tersebut. Tiba-tiba saja ia merindukan kedua orang tuanya. Kenangan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya kembali terputar di kepalanya. Andai waktu dapat terputar kembali, Devi ingin sekali kembali ke waktu dulu. Waktu di mana ia masih balita yang mendapatkan semua kasih sayang dari kedua orang tuanya dan kakaknya, waktu di mana ia bisa bermanja dan menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya.
Drt...drt...
Getaran ponselnya membuat Devi mengalihkan perhatiannya sejenak untuk melihat siapa yang meneleponnya. Tanpa menunggu lama, Devi pun menjawab panggilan ponselnya yang ternyata dari Arin.
"Halo."
"......."
"Apa?! Baiklah aku akan ke sana sekarang," ujar Devi lalu buru-buru pergi ke rumah sakit tempat Alby bekerja.
Arin memberitahunya untuk segera pergi ke rumah sakit dan bertemu di kantin rumah sakit bersama Raden dan juga Fitra karena ada suatu hal penting yang terjadi pada Alby. Devi yang panik pun segera berlari dan memesan sebuah taksi untuk mengantarnya pergi.
*****
Begitu tiba di kantin rumah sakit, mata Devi langsung awas mencari keberadaan Arin. Arin yang melihat kedatangan Devi pun langsung melambaikan tangannya ke arah Devi agar Devi segera menuju ke arahnya.
Devi yang melihat lambaian tangan Arin pun segera bergegas menghampiri Arin.
"Kupikir kau baru saja bertengkar dengan om Alby, tapi ternyata kau baru saja pergi berbelanja," ujar Arin begitu melihat banyaknya barang belanjaan Devi.
"Hanya untuk memperbaiki suasana hati saja," ujar Devi sembari duduk di sebelah Raden yang kini menatap Devi dengan tatapan bingung.
Devi yang peka terhadap tatapan Raden pun menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
Apa kak Raden tahu jika siput pemberiannya mati?
"Ada apa?" tanya Devi menghindari tatapan dari Raden.
"Kenapa siputnya tidak memberikan efek apa-apa pada Devi?" batin Raden.
"Kak Raden?" panggil Devi yang membuat Raden langsung tersadar dari lamunannya.
"Kalian ingin memberitahuku apa? Ada apa dengan om Alby?" tanya Devi lagi.
Raden menghela nafasnya berat sembari menundukkan kepalanya sejenak sebelum ia bercerita pada Devi tentang masalah yang menimpa Alby.
__ADS_1
"Jadi putra dari pasien meninggal itu ingin menuntut om Alby karena om Alby meminta kak Raden yang notabene seorang dokter koas untuk menanganinya?" tanya Devi terkejut.
"Pelankan suaramu, ini rumah sakit. Bagaimana jika ada yang dengar!" tegur Arin meminta Devi untuk mengecilkan suaranya.
"Kenapa harus menuntut om Alby? Bukankah saat itu om Alby sedang ada operasi dan hanya ada kak Raden di sana? Apa salahnya menyerahkan pasien tersebut pada kak Raden jika tidak ada dokter lain di sana? Kenapa tidak menyalahkan dokter residen yang sedang ikut konferensi saja?" kesal Devi tidak terima. "Lagi pula bukankah kak Raden sudah berusaha semampunya untuk menyelamatkan pasien tersebut?"
"Aku tidak berbuat apa-apa. Aku begitu ketakutan begitu melihat darah menyembur keluar dari perutnya," lirih Raden yang membuat Devi tidak dapat berkata-kata lagi.
"Dalam hal ini suster Selvi juga salah. Dia tidak sengaja menyenggol batang penguat itu sampai jatuh. Mungkin jika suster Selvi tidak menyenggolnya, keadaan pasien pasti masih bisa diselamatkan," ujar Fitra ikut kesal. "Dan sekarang pasien itu meninggal dan dokter Alby yang terkena imbasnya," lanjut Fitra.
Devi menghela nafasnya pelan. Kini ia tahu kenapa Alby bersikap kasar dan penuh emosi tadi. Alby sedang ada masalah dan Devi malah menambah masalahnya. Sekarang perasaan bersalah mulai memenuhi dadanya. Namun ada satu hal yang Devi tidak mengerti, kenapa Alby dan Renata pindah departemen ke gawat darurat? Bukankah selama ini mereka melewati berbagai kesulitan hingga sampai bisa menjadi dokter spesialis? Kenapa malah terjun bebas ke gawat darurat dan menjadi perseptor untuk dokter koas?
"Siapa wali pasien meninggal itu?" tanya Devi menatap ke arah Fitra dan Raden bergantian.
"Kau mau apa?" tanya Fitra curiga.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja." ujar Devi mengangkat bahunya acuh.
Setelahnya Fitra pun memberitahu Devi siapa wali pasien tersebut. Bahkan Fitra juga menjelaskan secara detail siapa dia dan di mana ia tinggal.
"Arin bisa kutitipkan barang belanjaanku padamu? Aku harus menemui om Alby sebentar," lanjut Devi yang membuat Arin sedikit curiga.
*****
Setelah berhasil mengorek informasi dari Fitra, Devi pun berhasil mengantongi siapa putra dari pasien yang meninggal karena batang penguat itu. Ah lebih tepatnya orang yang akan menuntut Alby.
Devi menatap sebuah rumah sederhana berwarna hijau muda dengan pintu kayu yang tertutup rapat. Devi mencocokkan alamat yang ia dapat dari Fitra dengan rumah yang ada di hadapannya kini.
Setelah memastikan kecocokan alamat tersebut dengan kertas miliknya, Devi pun memberanikan diri mengetok pintu rumah tersebut.
"Permisi." Lagi-lagi hening tanpa adanya jawaban.
Setelah berulang kali tidak mendapat jawaban, Devi pun berniat untuk pulang. Namun saat ia membalikkan badannya, Devi melihat seorang laki-laki yang sedang mengobrol melalui ponselnya tampak berjalan ke arahnya.
Cepat-cepat Devi segera bersembunyi di balik tembok samping rumah tersebut dan berusaha mendengarkan apa yang pemuda itu bicarakan.
"Kau tenang saja sayang, sebentar lagi aku akan melamarmu."
Terdengar suara pemuda itu yang sepertinya sedang berbicara dengan kekasihnya.
Kupikir ia berbicara tentang tuntutan itu, tapi ternyata malah berpacaran.
Devi pun berniat keluar dari persembunyiannya dan menemui pemuda itu langsung. Namun pada saat ia akan keluar, Devi mendengar sesuatu yang sangat penting.
"Tentu saja aku punya uang. Ayahku tadi pagi meninggal dan ada seorang pria kaya yang memintaku untuk menuntut rumah sakit tempat ayahku dirawat dengan imbalan aku diberi uang. Tentu saja aku menerimanya, uangnya sangat banyak tahu!"
Devi membekap mulutnya terkejut begitu ia mendengar ucapan Ganendra yang sedang duduk di kursi teras rumah tersebut.
"Aku sih tidak perduli dengan kematian ayah. Lagi pula dia hanya ayah angkat saja tidak lebih. Asal kau tahu-" ujar Ganendra menggantung dan melihat sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang mendengarnya.
Devi yang tanggap pun segera membuka aplikasi perekam suara dari ponselnya dan mencoba merekam perkataan pemuda tersebut.
"Aku yang membunuhnya. Batang itu tidak menancap sendiri, aku yang menancapkannya begitu ia terjatuh dari Bekisting pier head. Sayang sekali ada pekerja lain yang memergokiku berada di samping ayah, mau tidak mau aku pun pura-pura menangis dan pura-pura tidak sengaja menemukan ayah yang sekarat dengan batang penguat menembus perutnya."
Lagi-lagi Devi dibuat syok dengan perkataan Ganendra. Kenapa ia tega membunuh ayahnya sendiri?
"Tidak, untuk apa aku takut? Pembunuhanku ini tertutupi oleh kecelakaan konstruksi itu sendiri jadi selama tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya seperti apa, aku akan aman. Kecuali jika kau yang memberi tahu polisi. Dengar kejadian ini hanya antara kau dan aku, jika sampai polisi mendengarnya.... tamat riwayatmu."
__ADS_1
Devi bergidik ngeri begitu melihat ekspresi menyeramkan yang Ganendra suguhkan begitu ia mengancam kekasihnya.
"Tidak sayang, aku tidak mengancammu. Sudahlah lebih baik kita nikmati saja kebahagiaan kita. Harta warisan ayah akan dipindah tangankan kepadaku ditambah pria kaya itu juga membayarku. Aku akan jadi pria kaya raya. Sudah dulu, aku harus pergi mandi."
Tidak berapa lama, Ganendra pun beranjak dari tempat duduknya berniat untuk masuk ke dalam rumah.
Drt...drt....
Devi membulatkan matanya begitu ia melihat ponselnya bergetar karena Alby meneleponnya. Ganendra yang hendak memutar knop pintu itupun terdiam begitu ia mendengar suara ponsel bergetar.
Sial!! Ada yang mendengar pembicaraanku!!
"Siapa di sana?!!" Ganendra berjalan mendekat ke arah Devi yang bersembunyi di balik tembok samping rumahnya.
Devi yang panik karena tidak ada jalan keluar pun terpaksa mengambil tanah yang berada di dalam pot bunga dan langsung melemparkannya pada Ganendra yang berhasil menemukan keberadaannya.
"Argh!!! Sialan!" Ganendra mengaduh kesakitan begitu tanah yang dilemparkan Devi memasuki matanya.
Devi yang melihat Ganendra sedang mengaduh kesakitan pun segera memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri.
"Hei sialan! Jangan kabur!!" marah Ganendra sembari berlari menyusul Devi.
Devi terus berlari kencang dengan dada berdebar ketakutan. Perasaan ini! Devi seperti mengalami dejavu.
Devi merasa ia pernah mengalami hal serupa seperti ini. Perasaan panik campur takut saat dirinya dikejar oleh seseorang.
Bayangan itu!
Sebuah memori kembali terputar di kepalanya. Memori saat dirinya berusaha melarikan diri dari kejaran seseorang dengan pakaian serba hitam berhasil mengaburkan pandangannya hingga akhirnya ia jatuh terjerembab.
"Argh." Devi merintih pelan sembari berusaha bangkit.
Devi dapat merasakan darah segar mengalir di kedua lututnya namun Devi tidak berani melihatnya. Takut jika ia mengalami dejavu lagi.
"Hei berhenti kau!!!!"
Devi melihat Ganendra yang tengah berlari menyusulnya. Dengan sedikit tertatih Devi kembali berlari. Devi mengumpat dalam hati, kenapa tidak ada satu orang pun yang ia jumpai dan bisa ia mintai pertolongan? Ke mana semua orang?!!
Drtt...drt..
Alby menelepon lagi!!!
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Devi segera menjawab panggilan Alby.
"Om tolong aku!"
*****
Holaa semoga kalian betah nunggu cerita ini sampai tamat ya;)
Menurut kalian alurnya kelambatan nggak sih? Atau biasa saja?
Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya;)
Jangan lupa vote dan komen biar author semangat nulisnya
안냥♡♡
__ADS_1