
Devi sudah berada di kafe tempat janjiannya dengan Raden. Ia sudah menunggu lebih dari setengah jam yang lalu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan dari Raden. Devi sudah mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban dari Raden. Bahkan Devi juga mengiriminya pesan namun tidak ada satu pesan pun yang dibalas oleh Raden.
Bahkan selama menunggu kedatangan Raden, Devi sudah menghabiskan tiga porsi es krim coklatnya dan lagi-lagi Raden belum menampakkan batang hidungnya.
Ting!
Devi segera membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Gara : Jangan lupa belajar! Aku tidak mau memberimu contekan besok!
Devi memberenggut kesal begitu membaca pesan dari Gara. Gara sama saja seperti om Alby yang selalu menyuruhnya untuk belajar.
Ting!
Dengan malas, Devi pun kembali membuka ponselnya dan ia sedikit bersemangat begitu nama Raden muncul di layar notifikasinya.
Raden : Maaf aku tidak bisa menemuimu. Ada pasien darurat dan dokter Novi memintaku untuk mengawasinya. Kita bertemu lain kali saja ya;)
Devi menghela nafasnya kecewa dengan isi pesan Raden, namun meskipun demikian ia tetap berusaha memaklumi Raden karena yang terpenting adalah nyawa pasiennya bukan dirinya.
Devi : Tidak masalah kak. Lain kali saja. Fighting!!
Setelah mengirim pesan kepada Raden, Devi pun segera bangkit meninggalkan kafe dan berniat untuk pulang. Dalam hatinya ia menyesali perbuatannya yang tiba-tiba saja kabur dari mobil Alby dan memilih pergi menemui Raden.
Sepanjang perjalanan, Devi tidak henti-hentinya menguatkan mental dan dirinya kalau-kalau begitu ia menginjakkan kakinya di rumah Alby, Alby sudah ancang-ancang memarahinya. Yah setidaknya Devi sudah tahu resikonya jika tidak mengindahkan larangan Alby.
"Mau kemana neng?" tanya sopir taksi yang dipesan Devi begitu Devi masuk ke dalam mobil taksi tersebut.
"Apartemen Xaviero building pak," ujar Devi lesu.
Di sisi lain, Alby menatap buku tebal pemberian Renata yang ada di hadapannya. Alby membukanya dan mencari poin penting yang menjadi permasalahannya kini, karena Alby menganggap jika mengatasi Devi dengan emosi yang meledak-ledak itu bukan suatu penyelesaian. Lihat saja contohnya kemarin dan kemarinnya lagi. Sudah berapa kali Alby memarahinya namun Devi tetap saja keras kepala dan mengulanginya.
Setelah mendapatkan petunjuk yang ia cari, Alby pun segera pergi ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan Devi. Alby tahu Devi mungkin akan pergi lama mengingat ia pergi bersama orang yang disukainya namun entah kenapa feeling Alby mengatakan jika Devi akan cepat pulang. Daripada menunggu saja tanpa melakukan hal apapun, Alby pun memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu Devi di ruang tamu.
Setelah lebih dari satu jam menunggu hingga pekerjaannya selesai, Devi masih juga belum pulang. Alby melirik kearah jam tangannya dan jam menunjukkan pukul sebelas siang.
Ceklek!
Devi berjalan memasuki apartemen dengan takut-takut. Begitu ia masuk, ia sudah dapat melihat Alby yang duduk di sofa dengan tangan bersedekap dada. Alby pasti sangat marah padanya.
Cepat-cepat Devi langsung merendahkan tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangannya yang ia rapatkan ke depan wajahnya sembari meminta maaf sebelum Alby mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Om maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya om, aku minta maaf. Kau jangan memarahiku ya om? Aku benar-benar menyesal," ujar Devi.
"Ayo kita jalan-jalan sebentar," ajak Alby sembari menutup laptopnya.
Devi yang mendengarnya pun sontak langsung menegakkan kembali badannya dan menatap Alby dengan pandangan tidak percaya. Ini jelas bukan Alby!
"Om kumohon maafkan aku. Aku tahu aku salah, om jangan begini. Om jangan diam saja, aku tidak masalah kau marah-marah padaku daripada kau bersikap biasa seperti ini malah membuatku semakin takut," ujar Devi lagi sembari menundukkan badannya lagi.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu. Ayo kita pergi sebelum hari semakin panas," ajak Alby.
"Mau kemana om?" cicit Devi begitu tangannya di genggam oleh Alby agar mengikutinya.
Alby hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Devi. Setelah tiba di parkiran, Alby pun membukakan pintu mobil untuk Devi agar gadis itu masuk ke dalamnya lalu di susul ia sendiri yang masuk melalui pintu kemudi.
Dalam diam, Alby mulai menyalakan mobilnya dan mulai melajukannya keluar dari apartemen.
Selama perjalanan, Devi tidak henti-hentinya menatap kearah Alby dengan takut-takut. Takut jika Alby akan melakukan sesuatu untuknya.
"Tidak mau belajar ya?" tanya Alby lembut.
Devi pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Alby.
"Lalu maunya apa?" tanya Alby.
Devi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban. Namun tiba-tiba saja Alby langsung membuka pintu mobil yang berada tepat di samping Devi.
"Kalau begitu kau musnah saja dari dunia ini. Aku tidak mau mengasuh gadis pemalas sepertimu!" ucap Alby sembari menendang keluar Devi dan Devi jatuh tepat di sungai yang penuh dengan buaya.
"Aaaaa!!!!" teriak Devi histeris.
"Dev! Devi!! Kau kenapa?" tanya Alby yang langsung menyadarkan Devi dari lamunannya.
"Om aku minta maaf. Kumohon jangan lempar aku ke sungai penuh buaya om, aku mohon," mohon Devi sembari menangis.
"Kau ini bicara apa? Siapa yang mau melemparmu ke sungai?" tanya Alby menyudahi tawanya.
"Om Alby," jawab Devi pelan.
"Kau pasti sedang berkhayal."
"Jadi om Alby tidak akan melemparkanku ke sungai penuh buaya?" tanya Devi pelan.
"Tidak," ujar Alby tersenyum.
Devi menghela nafasnya lega begitu mendengar jawaban dari Alby.
"Tapi untuk melemparmu ke kandang singa kurasa itu ide yang lebih baik," ujar Alby.
"Om!!!!" teriak Devi sembari mencebikkan bibirnya kesal karena Alby sengaja mempermainkannya.
"Baiklah aku minta maaf, aku bercanda. Lagi pula bukankah kau bilang domba kecil sepertimu perlu dijaga bukannya dimasukkan ke sungai penuh buaya?"
"Itu om Alby tahu!" balas Devi kesal.
Alby menggeleng-gelengkan kepalanya geli melihat kelakuan Devi.
Setelah beberapa menit di perjalanan, mereka pun tiba di sebuah kolong jembatan dan hal itupun membuat Devi semakin yakin dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Om kenapa kita berhenti disini? Om Alby yakin tidak akan melemparkanku ke sungai?" panik Devi.
"Coba kau lihat itu," tunjuk Alby kepada sekelompok remaja seusia Devi yang berada di bawah jembatan tersebut.
"Apa om?" tanya Devi sembari mengikuti arah pandang Alby.
"Apa yang kau lihat?" tanya Alby.
"Sekelompok pemulung bukan?"
"Menurutmu mereka sama sepertimu tidak?" tanya Alby.
"Tidak, aku punya kak Sean dan rumah sebagai tempat tinggal sedangkan mereka tidak," jawab Devi yang dibalas senyuman oleh Alby.
"Ya tentu saja beda denganmu, yang sama hanyalah sama-sama yatim piatu. Kuberi tahu perbedaan lain. Kau lihat apa yang mereka lakukan sekarang?"
"Belajar?" jawab Devi tidak yakin.
"Kau benar, mereka sedang belajar. Kau tahu, setiap hari mereka bekerja keras untuk bertahan hidup. Mereka sibuk memulung dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka yang sulit. Satu hari penuh mereka hanya habis untuk bekerja namun lihatlah mereka masih menyempatkan waktunya untuk belajar. Sedikit banyak dari mereka ada yang bersekolah karena mereka tidak ingin hidup menderita seperti ini terus dan berusaha meraih cita-citanya setinggi mungkin agar bisa hidup lebih baik. Punya rumah, punya uang dan punya masa depan yang menjanjikan. Mereka ingin meraih itu semua karena mereka tahu betapa sengsaranya hidup tanpa itu semua," ujar Alby panjang lebar yang membuat Devi berkaca-kaca.
"Mereka tidak punya apa-apa, tapi lihatlah bagaimana semangat mereka dalam berjuang untuk hidup karena yang bisa mereka yakini sekarang adalah menjadi pintar dan mendapatkan beasiswa dengan belajar. Dengan begitu mereka dapat meraih cita-citanya untuk memperbaiki kehidupannya. Kau tahu maksudku bukan?"
"Kau berkecukupan. Ada kakakmu yang mampu membiayai semua keperluanmu dan sekolahmu. Kenapa kau tidak memanfaatkan hal itu? Mereka yang tidak punya biaya saja ingin bersekolah dan belajar setiap hari hanya mengandalkan buku yang mereka temukan di tempat sampah. Bukankah seharusnya kau malu melihat mereka? Kakakmu tidak menginginkan apapun selain ingin kau berjuang untuk masa depanmu sendiri," lanjut Alby.
Devi pun menangis sesenggukan menatap mereka. Apa yang Alby katakan benar, tidak seharusnya Devi menyia-nyiakan masa depannya seperti ini. Semua biaya hidupnya dan sekolahnya sudah ditanggung oleh Sean, bukankah hal yang seharusnya dilakukannya adalah hanya belajar saja? Devi tidak perlu bekerja untuk itu tapi kenapa ia masih tetap tidak mau belajar? Itulah yang disesali Devi sekarang. Kehidupan mereka lebih sulit dari Devi namun mereka masih giat belajar sedangkan Devi tidak.
Mulai hari ini Devi berjanji akan lebih rajin belajar dan mulai memikirkan masa depannya. Ia tidak ingin biaya yang dikeluarkan kakaknya menjadi sia-sia.
"Maaf aku tidak pernah mengindahkan kata-katamu untuk belajar om. Aku menyesal, aku akan belajar lebih giat lagi mulai sekarang," ujar Devi.
Alby pun tersenyum dan menghapus air mata di pipi Devi. Alby lega Devi dapat memahami maksudnya. Memang benar ternyata cara mengatasi anak seperti Devi tidak bisa diselesaikan dengan emosi dan memarahinya.
"Syukurlah kau mengerti maksudku," ujar Alby.
Devi pun tersenyum kearah Alby, lalu ia alihkan perhatiannya lagi pada sekelompok remaja tersebut dan pandangannya terpaku pada seorang gadis yang sedang duduk diatas batu sembari membaca buku. Gadis itu tampak menyendiri daripada teman-temannya yang lain.
Tanpa sengaja, tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu. Devi tetap memperhatikannya dari dalam mobil dengan kaca tertutup, Devi juga tahu jika gadis itu tidak dapat melihatnya namun sepertinya gadis itu mulai heran dengan kedatangan mobil mewah milik Alby.
"Om ayo pergi dari sini!" ujar Devi cepat.
"Kenapa?"
"Gadis itu melihat kearah kita dengan curiga. Aku tidak mau nanti mereka berfikir kita adalah penculik anak jalanan yang kemudian dijual untuk diambil organnya," ujar Devi panik yang malah membuat Alby tersenyum geli.
"Om! Jangan tertawa dan ayo cepat pergi dari sini!"
"Baiklah-baiklah kita pergi," ujar Alby sembari mulai melajukan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
*****
__ADS_1