
Begitu tiba di rumah sakit, Alby langsung mencari keberadaan Devi dan juga Renata. Pagi tadi ia mendapat kabar dari Devi jika Sean sedang kritis.
Setelah mendapat ijin dari direktur rumah sakit, Alby pun langsung berangkat ke Singapura.
Alby tiba dengan tergopoh-gopoh sembari berjalan menuju Devi yang tengah duduk menunduk di kursi ruang tunggu.
Belum sampai Alby tiba menghampiri Devi, Alby melihat Renata yang baru saja tiba dengan kedua mata sembabnya tengah berjalan ke arah Devi seperti orang linglung.
"Ta," panggil Alby.
"Kau sudah datang?" ujar Renata lemah.
"Di mana Sean? Bagaimana keadaannya?" tanya Alby.
Renata menoleh ke arah Devi sebentar sebelum akhirnya ia menatap Alby dengan nanar.
"Sean berada di ruang perawatan kritis, ayo kuantar untuk melihat Sean," ajak Renata pada Alby agar Alby mengikutinya.
Renata tidak ingin menjelaskan bagaimana kondisi Sean sekarang dan apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Sean sekarang di hadapan Devi karena Renata tidak tega melihat keadaan Devi. Gadis itu hanya duduk berdiam diri dengan pandangan mata kosong dan sesekali terisak pelan membuat Renata tidak kuasa untuk sekedar membuka mulutnya.
Begitu tiba, Alby dapat melihat Sean yang tengah terbujur lemah di atas brankar dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Sean mengalami perdarahan intra-abdomen akut berulang. CT-scan menunjukkan kumpulan cairan intra-abdomen bebas. Sean menunjukkan tanda-tanda syok hemoragik¹ dan menerima empat konsentrat eritrosit² dan enam unit plasma beku segar. Duplex-sonografi³ menunjukkan penurunan perfusi hati. Transaminase hati⁴ meningkat dan Sean menderita infark miokard non-STEMI tanpa indikasi untuk intervensi kateter akut secara bersamaan," jelas Renata.
"Apa perut Sean membuncit?" tanya Alby.
"Iya. Itu karena jumlah cairan intra-abdomen bebas yang banyak dalam perutnya. Setelah ini dokter akan melakukan laparotomi eksplorasi⁵," jelas Renata.
Alby menghela nafasnya berat. Kondisi Sean benar-benar berada di ambang batas namun Alby mencoba berpikir positif.
"Aku temani Devi dulu. Dia pasti sangat sedih dengan kondisi Sean," pamit Renata.
Alby hanya diam menatap lurus ke arah Sean tanpa membalas perkataan Renata. Kedua matanya mulai berkaca-kaca melihat kondisi sahabatnya yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Alby menatap Sean lama sebelum akhirnya ia meneteskan kedua air matanya membasahi pipinya. Alby menundukkan kepalanya dalam-dalam menahan isak tangisnya.
*****
Setelah selesai melihat kondisi Sean, Alby pun bergegas menemui Devi. Gadis itu pasti sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang semakin memburuk.
Alby melihat Devi yang tengah duduk berdiam diri sendirian di ruang tunggu. Alby pun berjalan menghampiri Devi dan duduk berjongkok tepat di hadapan Devi sembari menggenggam kedua tangan Devi.
Devi yang merasakan seseorang menggenggam tangannya pun mendongakkan kepalanya dan menatap Alby dengan pandangan yang tidak bisa terbaca.
"Kak Renata sedang mengurus administrasi kak Sean," ujar Devi memberitahu Alby. Alby hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sudah siang, kau sudah makan belum?" tanya Alby lembut sembari menghapus jejak air mata di pipi Devi.
"Aku tidak lapar," jawab Devi lirih.
"Tapi kau harus tetap makan. Perutmu akan sakit jika kau tidak makan. Ayo kuantar beli makanan," ajak Alby menarik pelan tangan Devi namun Devi menahannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau meninggalkan kak Sean sendirian. Bagaimana jika nanti kakak bangun dan mencariku tapi aku tidak ada di sini? Aku tidak mau om, aku tidak mau pergi dari sini," ujar Devi sembari menangis.
Alby pun memeluk tubuh kecil Devi dan mengelus punggungnya pelan untuk menenangkan Devi.
"Ini belum ada 23 hari tapi kenapa keadaan kak Sean seperti ini? Om Alby tidak berbohong padaku kan?" tanya Devi disela tangisnya.
"Aku minta maaf," lirih Alby.
"Aku bahkan belum selesai menghabiskan waktuku bersama kak Sean dan aku juga belum meminta maaf dengan apa yang kulakukan selama ini. Kesalahanku pada kakak sangat banyak dan aku tidak ingin kakak pergi sebelum aku sempat meminta maaf om. Ayo suruh kakak bangun agar aku bisa meminta maaf padanya," pinta Devi sembari menangis keras.
Alby sudah tidak dapat berkata-kata lagi selain hanya bisa memeluk Devi dan mencoba menenangkannya.
"Kau tenang saja, sebentar lagi kakakmu akan bangun. Dokter akan melakukan laparotomi eksplorasi dan setelahnya kakakmu akan baik-baik saja," hibur Alby.
Devi melepaskan pelukannya pada Alby dan mengusap air matanya.
"Kita tunggu hasil dari dokter ya?" tanya Alby yang dijawab anggukan oleh Devi.
"Sembari menunggu dokter selesai melakukan laparotomi kau harus makan dulu. Ayo kutemani kau pergi ke kantin," ajak Alby. Kali ini Devi tidak menolaknya dan hanya berjalan pasrah mengikuti setiap langkah Alby yang membawanya menuju kantin rumah sakit.
Setelah selesai makan, Alby dan juga Devi pun kembali ke tempatnya semula untuk menunggu kabar dari dokter.
Begitu mereka tiba, Alby dan Devi mendapati Renata yang tengah panik mencari keberadaan mereka.
"Sean sudah sadar," ujar Renata begitu Devi dan Alby tiba.
Devi yang mendengarnya pun sontak langsung menghela nafasnya lega bahkan kedua matanya juga berkaca-kaca saking bahagianya.
"Dokter meminta kita untuk bertemu Sean," ujar Renata pelan.
"Ayo kita masuk ke dalam om!" ajak Devi bersemangat.
Alby pun menganggukkan kepalanya menuruti permintaan Devi dengan Renata yang berjalan menyusul mereka.
Setelah memakai pakaian steril, Devi pun langsung bergegas mendekat kearah Sean.
"Kakak sudah bangun?" tanya Devi.
Sean hanya membalasnya dengan anggukan.
"Mana yang sakit kak? Aku akan meminta om Alby untuk memeriksamu," ujar Devi dan Sean menjawabnya dengan gelengan kepalanya.
Devi menghela nafasnya pelan, lalu detik berikutnya Devi mencium kening Sean lama sembari meneteskan air matanya.
"Aku minta maaf ya kak," tangis Devi pecah sembari memeluk Sean.
"Aku minta maaf belum bisa menjadi adik yang baik untuk kakak. Aku selalu merepotkan kakak, tidak pernah menuruti perintah kakak dan selalu membuat kakak marah. Aku benar-benar minta maaf pada kakak huaa..."
Alby pun mengelus punggung Devi untuk menenangkan Devi yang sedang menangis.
"Tidak, adik kakak tidak pernah salah apapun pada kakak. Justru sekarang kakaklah yang harus meminta maaf padamu. Kakak minta maaf ya?" ujar Sean lirih.
"Aku tidak akan memaafkan kakak jika kakak meninggalkanku sendirian. Kakak harus berjanji padaku, kakak akan terus menemaniku sampai aku tumbuh dewasa, punya pekerjaan keren, suami tampan dan banyak anak. Kakak harus menemaniku sampai saat itu tiba. Kakak tidak boleh pergi sebelum aku yang pergi lebih dulu. Ayo berjanjilah padaku kak!!" ujar Devi sesenggukkan.
"By, tolong jaga Devi baik- baik dan tolong lindungi dia," pesan Sean pada Alby.
__ADS_1
"Tidak!! Aku tidak mau om Alby!! Aku mau kakak sendiri yang menjagaku!! Kenapa kakak mengucapkan kata-kata seperti itu?!!"
"Ta, tolong jaga dirimu baik-baik. Kau harus melupakan aku dan bertemu dengan pria lain yang rasa cintanya melebihi rasa cintaku padamu. Aku minta maaf pernah menyakitimu dan aku juga berterima kasih karena kau sudah mau merawatku selama ini," ujar Sean pada Renata dan mengabaikan perkataan Devi.
"Tolong berhenti mengucapkan perkataan seperti itu kak!!" tegur Devi sembari menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
"Dev kau tidak ingin tidur di samping kakak sekarang?" tanya Sean sembari tersenyum.
Devi melepas tangannya yang menutupi telinganya dan mulai menaiki brankar atas bantuan Alby.
Begitu sudah berbaring di samping Sean, Devi pun langsung memeluk tubuh Sean dari samping dengan erat.
"Kakak janji jangan tinggalin aku ya?"
Sean menganggukkan kepalanya pelan.
Devi merapatkan tubuhnya ke arah Sean dan menenggelamkan wajahnya ke leher Sean untuk menyembunyikan tangisnya.
"Kakak harus tetap temani aku sampai aku dewasa dan punya anak. Janji ya kak?"
Sean diam tanpa mengangukkan kepalanya.
Perlahan tangan Devi terulur dan menampatkan tangannya di atas dada Sean. Devi masih dapat merasakan dada Sean yang masih naik-turun tanda Sean masih bernafas.
"Aku ingin saat aku menikah nanti kakaklah yang menjadi waliku bukan om Alby ataupun orang lain," ujar Devi.
Hening! Yang terdengar hanyalah isakan Renata dan suara Alby yang berusaha menenangkan Renata.
"Kakak jangan diam saja. Ayo berjanjilah padaku kak, tautkan jari kelingking kakak padaku," pinta Devi sembari mengangkat salah satu jari kelingkingnya.
Perlahan, tangan Sean mulai terangkat dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Devi.
"Lihat, kakak sudah berjanji padaku," ujar Devi riang meskipun air mata tidak pernah berhenti menuruni kedua pipinya.
Namun beberapa detik kemudian tangan Sean jatuh lemas. Dadanya sudah tidak bergerak naik-turun lagi, suara alat pengukur detak jantung Sean berbunyi panjang tanda kehidupan Sean telah berakhir. Sean dinyatakan meninggal karena perdarahan intra-abdomen persisten dari lesi angiosarcomatosis.
"Ternyata kakak ingkar janji."
*****
FYI
¹Syok Hemoragik adalah suatu kondisi kehilangan volume intravaskular secara cepat dan signifikan yang menyebabkan penurunan perfusi jaringan sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tidak kuat.
²Eritrosit adalah kepingan darah yang berbentuk bulat dengan sedikit ceruk di tengahnya, agak mirip donat. Sel darah ini dibuat di sumsum tulang melalui proses yang disebut erythropoiesis.
³Dupleks sonografi adalah penggunaan gelombang suara frekuensi tinggi untuk melihat kecepatan aliran darah, dan struktur pembuluh darah kaki.
⁴Transaminase Hati adalah salah satu enzim yang terdapat di dalam hati.
⁵Laparotomi Eksplorasi adalah operasi terbuka yang dilakukan agar dapat menjangkau organ dan jaringan internal tubuh untuk keperluan diagnostik. Prosedur ini bertujuan untuk mencari sumber kelainan yang menyerang organ perut, termasuk usus buntu, kandung kemih, usus, kantung empedu, hati, pankreas, ginjal, ureter, limpa, lambung, rahim, tuba fallopi, dan indung telur. Prosedur ini pun dapat dimanfaatkan untuk mengambil sampel jaringan untuk diagnosis lanjutan (biopsi) dan sebagai prosedur terapeutik.
Cr. Google
*****
__ADS_1