
Akibat cuaca buruk, hujan disertai angin kencang, Devi dan teman-temannya tidak dapat kembali pulang. Ditambah jalanan yang tertutup akibat tanah longsor pun memaksa mereka untuk menginap di salah satu penginapan yang letaknya tidak jauh dari pantai tempat mereka berlibur.
Tak terkecuali Alby sendiri yang juga terpaksa harus tinggal bersama mereka.
Kini mereka sedang berada di salah satu penginapan untuk memesan kamar untuk beristirahat.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sambut resepsionis dengan ramah.
"Sore, saya ingin pesan kamar-" Alby tampak menghitung berapa kamar yang cocok ia pesan untuk mereka semua.
"Aku bisa satu kamar dengan kak Raden om," ujar Gara.
"Aku juga bisa dengan Devi," sahut Arin.
Alby menganggukkan kepalanya mengerti.
Laudya berpikir jika Alby hanya akan memesan tiga kamar saja dengan kata lain ia akan berada satu kamar dengan Alby, namun ternyata ia salah.
"Saya pesan empat kamar," ujar Alby yang membuat Laudya tampak kecewa.
"Baik, tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian, sang resepsionis pun memberi mereka kunci masing-masing kamar.
"Kalian bersihkan diri dulu lalu kita berkumpul di restoran untuk makan malam," ujar Alby.
"Oke om. Duluan ya om," pamit Gara yang diikuti oleh Raden.
"Saya duluan dok."
"Ayo Dev," ajak Arin menarik tangan Devi pelan.
Alby memperhatikan Devi sejenak. Gadis itu tampak tidak bersemangat dan hanya diam melamun saja membuat Alby sedikit mengkhawatirkannya.
"By ayo," ajak Laudya yang membuat Alby langsung mengalihkan perhatiannya pada Laudya.
*****
Devi tidak dapat fokus dengan makanan yang ada di hadapannya karena perutnya terasa sakit sekali. Sore tadi begitu ia hendak mandi ia merasakan sesuatu tengah keluar dari area sensitifnya ternyata ia mengalami haid hari pertama. Berbeda dengan pertama kali ia haid yang sama sekali tidak merasakan sakit, kini Devi merasakan perutnya terasa sakit.
Devi berusaha menahan rasa sakitnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Alby yang posisi tempat duduknya tepat di hadapan Devi pun mulai menyadari ada yang aneh dengan Devi. Gadis itu tampak sekali-kali meletakkan sendoknya dan tangannya terlihat tampak mengelus perutnya.
Belum sampai Alby ingin menanyakan apakah Devi baik-baik saja, Raden sudah lebih dulu menyadari kondisi Devi.
"Dev kau tidak apa-apa?" tanya Raden yang duduk tepat di sebelah Devi.
"Tidak kak, aku datang bulan dan perutku sakit sekali," bisik Devi menahan sakit.
"Kalau begitu ayo kuantar istirahat di kamar," ucap Raden beranjak dari tempat duduknya.
Alby sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari Devi. Termasuk saat Devi berbisik di telinga Raden membuat Alby sedikit kesal. Melihat Devi yang tampak kesakitan membuat Alby teringat sesuatu. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menampilkan sebuah pesan pengingat. Ia segera merogoh ponselnya dan melihat sebuah catatan yang ia tulis satu bulan yang lalu.
'Devi's Red day'
"Biar aku saja," ujar Alby bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Devi yang masih terduduk.
Devi sebenarnya hendak menolak namun rasa sakit yang ia rasakan membuatnya mengurungkan niatnya begitu Alby langsung menggendongnya dengan bridal style. Di sisi lain Devi juga masih sedikit takut jika Raden memiliki niat untuk mencelakainya lagi apalagi keadaan perutnya yang sakit bukankah mempermudah Raden untuk membunuhnya.
Gara dan Arin saling berpandangan. Melihat raut wajah Laudya dan Raden yang tampak kesal membuat keduanya tidak nyaman.
"Tante coba ini deh ini rasanya-" Belum selesai Arin menyelesaikan kalimatnya, Laudya sudah lebih dulu bangkit meninggalkan restaurant.
Tidak jauh berbeda dengan Laudya, Raden juga langsung memutuskan untuk bangkit dari duduknya berniat meninggalkan restaurant.
"Aku pergi dulu kalian lanjut makan saja. Aku harus membelikan kompres air hangat untuk Devi," pamit Raden.
__ADS_1
Kini hanya ada Arin dan Gara yang masih tersisa. Gara menatap Arin dengan dalam sebelum sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Ngomong-ngomong semua makanan ini sudah dibayar kan?"
*****
Bukannya membawa Devi ke kamarnya, Alby malah membawa Devi menuju kamar miliknya. Bahkan Devi sendiri tidak begitu memperhatikan jika ia dibawa ke kamar Alby bukan miliknya. Tidak ada alasan khusus kenapa Alby melakukannya demikian selain karena Alby sudah menyiapkan semua kebutuhan Devi saat gadis itu mengalami datang bulan.
Ya, sejak Devi mengalami datang bulan untuk yang pertama kalinya Alby sudah sedikit tahu apa yang perlu disiapkan jika seorang gadis mengalami datang bulan. Bahkan Alby juga sengaja mencatat tanggal Devi datang bulan untuk berjaga-jaga jika Devi tidak membawa 'barang' yang dibutuhkannya. Gadis seperti Devi mana perduli tentang hal itu. Selain itu Alby melakukannya untuk memantau siklus menstruasi Devi agar ia tahu apakah ada hal yang perlu dikhawatirkan atau tidak. Jika ada yang aneh Alby akan meminta Devi untuk melakukan pemeriksaan. Alby hanya tidak ingin Devi sakit, itu saja.
Begitu tiba, Alby langsung merebahkan Devi di kasur miliknya. Begitu diturunkan, Devi langsung tidur meringkuk dengan tangan menekan perutnya kuat.
Alby segera bangkit dan membuka tas kecil yang ia bawa untuk mengambil kompres air hangat instan yang ia bawa.
Alby segera membengkokkan koin yang berada di dalamnya. Setelah terasa hangat, Alby pun berjalan mendekat ke arah Devi.
"Kompres perutmu dulu," ujar Alby lembut seraya menyerahkan kompres tersebut pada Devi.
Devi langsung menerimanya dan segera meletakkannya tepat di perutnya.
"Apa sangat sakit?" tanya Alby khawatir sembari menyentuh pundak Devi yang tidur meringkuk membelakanginya.
"Iya," lirih Devi.
"Kalau begitu kau buat tidur saja agar nyerinya berkurang," ujar Alby lembut seraya membelai lembut rambut Devi.
"Iya, sekarang om Alby kembali saja aku tidak apa-apa. Kasian tante Laudya pasti menunggu om Alby," lirih Devi dengan mata terpejam merasakan sakit.
"Aku akan menemanimu," tolak Alby lembut.
"Nanti Arin tidur di mana?"
"Di kamarnya," jawab Alby.
"Om ini kamar-" Devi langsung bangkit dan menghadap ke arah Alby.
"Iya di kamarku," ucap Alby sembari menidurkan Devi kembali. "Tidurlah, bukankah perutmu masih sakit?"
"Tapi bagaimana jika Arin mencariku? Tadi pagi Arin juga sakit perut lho om, bagaimana jika perut Arin juga sakit?"
"Jangan khawatirkan orang lain, kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri dulu. Sekarang berbaringlah dengan benar," perintah Alby.
"Tidak bisa. Lebih nyaman tidur meringkuk dan menekan perut seperti ini."
"Baiklah, kalau begitu cepat tidur," ucap Alby lembut sembari menaikkan selimut menutupi tubuh Devi sampai batas dada.
"Om," panggil Devi.
"Hm?"
"Lutut dan punggungku terasa nyeri," adu Devi.
"Tidurlah, aku akan memijatnya," ujar Alby sembari memijat pelan punggung Devi.
Devi pun memejamkan kedua matanya dan tidak lama kemudian dengkuran halus terdengar di telinga Alby. Alby memperbaiki posisi tidur Devi agar berbaring dengan nyaman, tidak lupa juga Alby menempatkan kompres perutnya tepat di perut Devi agak bawah.
Alby memandang wajah Devi dengan senyum tipis. Semakin ia mencoba melepaskan Devi dan memilih bersama Laudya maka semakin sulit juga ia menahan rasa yang timbul di hatinya.
Ia tidak bisa mencintai Laudya. Hubungannya dengan Laudya hanya sebatas karena kesepakatan bodoh yang ia buat dulu dan sekarang Alby menyesalinya. Untuk sikapnya yang baik pada Laudya semata-mata ia lakukan untuk mengulur waktu sampai ayahnya menemukan cara untuk membuat rumah sakit miliknya berdiri sendiri sehingga jika ia ingin mengakhiri kesepakatan ini rumah sakit milik ayahnya tidak akan terkena imbasnya.
Drt...drt....
Ponsel Alby berbunyi. Alby segera bangkit berdiri dan sedikit menjauh dari Devi agar tidurnya tidak terganggu.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Alby pelan.
"Saya mendapat informasi penting tuan. Kecelakaan ibunya nona Laudya adalah kecelakaan yang disengaja. Nona Laudya sendiri yang membunuhnya karena lelah dengan sikap diktator ibunya dan pihak yang berselingkuh adalah ayahnya sendiri- Sena."
"Jadi itu bohong ya? Laudya bilang ia tidak sengaja namun kenyataannya sebaliknya. Apa kau sudah punya bukti?"
"Sudah saya kirim ke email pribadi anda tuan. Tapi ada satu informasi lagi yang penting tuan."
"Apa itu?"
"Nona Laudya bertemu dengan Bima beberapa hari yang lalu."
"Bima?"
"Iya tuan. Dia adalah pamannya Raden."
Alby terkejut.
Kenapa Laudya menemui Bima?
"Apa kau tahu kenapa Laudya menemui Bima?"
"Saya belum mengkonfirmasinya tuan."
"Cepat cari tahu dan awasi Laudya dan juga Bima!" perintah Alby tegas.
"Baik tuan."
Alby mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya apa hubungannya Laudya dengan Bima? Mereka kenal dari mana?
Tok! Tok!
Alby menoleh ke arah pintu. Dengan langkah lebar ia langsung berjalan untuk membuka pintu sebelum ketokan pintu tersebut membangunkan tidur nyenyak Devi.
"Siapa?" tanya Alby begitu ia membuka pintu. "Ternyata kau. Ada apa?" lanjut Alby sembari menatap Raden datar.
"Aku mencari Devi di kamarnya tapi ia tidak ada dan ternyata dokter Alby membawanya ke kamar anda sendiri," ujar Raden dengan raut wajah kelewat dinginnya.
"Devi sedang tidur, jangan berisik dan cepat kembali ke kamarmu." Alby berniat menutup pintu namun Raden langsung menahan pintunya membuat Alby menatap Raden dengan raut tidak senang.
"Dokter Alby tahu kan batasan antara kakak dan adik yang tidak boleh dilanggar?" tanya Raden menatap Alby.
"Contohnya?"
"Tanpa diberi tahu, dokter Alby pasti sudah cukup cerdas untuk mencerna maksud perkataan saya."
"Oh baiklah aku mengerti. Tapi kau melupakan satu hal." Alby mendekatkan bibirnya ke telinga Raden. "Aku dan Devi bukan saudara kandung, jadi apakah menurutmu kami memiliki batasan?"
Setelah mengucapkan hal itu, Alby menyunggingkan smirknya dan menyingkirkan tangan Raden yang masih setia menahan pintu kamarnya.
"Cepat pergi tidur. Tidur kurang dari delapan jam bisa menyebabkan kebodohan," ujar Alby sembari menutup pintu kamarnya meninggalkan Raden yang kini mencoba menahan amarahnya.
Raden meremas kantong kompres air hangatnya untuk menyalurkan amarahnya.
"Kurasa kita berada di posisi yang sama," ujar Laudya yang baru saja tiba.
Raden menatap Laudya tanpa minat.
"Jika kutawari sebuah kerja sama, apakah kau akan menerimanya?" tanya Laudya sembari menyungginggkan smirknya.
Tanpa menjawab pertanyaan Laudya, Raden malah mendekatkan dirinya kearah Laudya sembari menyentuh kening Laudya dengan telapak tangannya membuat Laudya mengernyitkan dahinya bingung.
"Tante Laudya pasti sedang sakit, lebih baik tante Laudya pergi tidur, kata dokter Alby tidur kurang dari delapan jam bisa menyebabkan kebodohan."
Setelah mengucapkan hal itu, Raden segera pergi sembari tertawa kecil melihat Laudya yang tampak berang mendengar perkataannya.
__ADS_1
*****