Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Perundungan


__ADS_3

Saat Devi, Arin dan juga Gara melewati sebuah lorong yang sedikit sepi, pandangan mereka tertuju pada sekelompok siswi yang memakai seragam sama sepertinya sedang menggiring seorang siswi menuju tempat yang lebih sepi.


Awalnya ketiganya acuh saja dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, namun begitu Devi melihat rupa dari siswi yang digiring tersebut Devi langsung ingat jika itu adalah gadis yang dijumpainya di bawah jembatan kemarin.


Devi pun menghentikan langkahnya yang membuat Arin dan Gara bingung sembari ikut menolehkan kepalanya kearah pandang mata Devi.


"Kau tidak berniat ingin ikut campur urusan mereka kan?" tanya Gara.


"Aku kenal siswi itu. Ayo kita ikuti mereka!" ajak Devi sembari berjalan menyusul siswi tersebut sebelum tangan Gara mencekal dan menghentikan langkahnya.


"Dia siapa? Sudahlah ayo lebih baik kita belajar saja dan jangan ikut campur urusan orang lain," tegur Gara sembari menarik tas belakang Devi.


"Lepaskan aku Gara! Aku hanya ingin tahu apa yang mereka lakukan!" ujar Devi sembari melepaskan tangan Gara dari tasnya.


"Jika kau tidak ingin ikut kami lebih baik kau tunggu di kafe anonymous dulu saja nanti kami akan menyusul," ujar Arin sembari merangkul Devi.


Mereka berdua pun pergi menyusul sekumpulan siswi tersebut. Mau tidak mau Gara pun memilih mengikuti keduanya dari belakang.


Kini Devi dapat melihat sekelompok siswi tersebut dari tempat persembunyiannya. Mereka berdua bersembunyi di sebuah bangunan tua yang tidak terpakai agar tidak ketahuan.


Mata Devi membelalak lebar begitu melihat gadis kolong jembatan tersebut dipaksa duduk bersimpuh dengan tepung dan beberapa telur mentah yang dilemparkan kearahnya.



"Jessica keluarlah!!" teriak salah seorang dari mereka sembari tertawa heboh.


"Oh my god, apa ini?" tanya siswi bernama Jessica tersebut.


"Surprise!!!!"


"Selamat ulang tahun Jess!!"


"Aku tidak ulang tahun," ucap Jessica sembari menatap malas.


"Yah...."


"Tapi kalau hadiah ulang tahunnya gadis gelandangan ini, aku rela ulang tahun setiap hari," ujar Jessica sembari melompat kegirangan.


"Benar kan? Kau mau bersenang-senang dengan hadiahmu tidak?"


"Tentu saja Clara. Aku tidak akan melewatkan hadiahku," ujar Jessica bahagia.


Gadis yang menjadi korban bully itu pun hanya tertunduk pasrah sembari menahan kedua air matanya yang siap-siap berdesakan ingin keluar.


__ADS_1


"Mereka benar-benar kelewatan," desis Gara yang membuat Devi dan Arin terkejut dengan suaranya.


"Sejak kapan kau ada disini Gara?!! Membuatku terkejut saja!" ujar Arin pada Gara.


"Sejak kalian berdua meninggalkanku sendirian, jadinya aku berinisiatif untuk menyusulnya. Lho dimana Devi?" tanya Gara begitu melihat tidak ada Devi di samping Arin.


Gara dan Arin sontak langsung terkejut begitu Devi ternyata berjalan menghampiri mereka.


"Karena kau yang berulang tahun maka akan kuberikan tepung terakhir ini padamu," ujar Clara sembari memberikan sebungkus besar tepung yang telah kadaluarsa.


"Thankyou sweety, kau sahabat terbaikku," ujar Jessica sembari menerima tepung tersebut.


"Rea kau tidak keberatan jika aku menyiram rambut indahmu dengan tepung ini kan? Kau tenang saja setelahnya rambutmu akan jauh lebih indah," lanjut Jessica yang disambut tawa oleh teman-temannya.


Baru saja Jessica hendak menyiramkan tepung tersebut kepada Rea, Devi langsung merebut tepung tersebut dan langsung menyiramkannya ke kepala Jessica. Sontak teman-teman Jessica tak terkecuali Rea langsung terkejut dan menatap tidak percaya dengan tindakan Devi.


"Apa yang kau lakukan??!!!" marah Jessica begitu kepalanya penuh dengan tepung.


"Memperindah rambutmu," jawab Devi singkat.


"Hei kau tidak memiliki telur lagi? Aku ingin memberi vitamin pada rambut Jessica yang super kering ini," ujar Devi pada teman Jessica.


"Apa-apaan kau ini?!! Siapa kau? Kenapa kau ikut campur dengan urusanku!!!" murka Jessica dengan wajah merah padam penuh amarah.


Baru kali ini ada orang yang berani bertindak kurang ajar padanya dan Jessica tidak akan bisa menerima hal itu.


"Tidak perlu tahu siapa aku," ujar Devi sembari menutup name tagnya dengan tangan kanannya.


"Kau pasti anak XII Mipa 2 kan?" tebak Clara.


"Memangnya kenapa?" tantang Devi membiarkan name tagnya dibaca oleh Jessica dan teman-temannya.


"Kau akan menyesal berurusan dengan kami," desis Jessica penuh amarah.


"Memangnya kau siapa mau membuatku menyesal? Kau pikir aku takut denganmu?" ujar Devi berani.


Gara yang melihat kelakuan Devi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung berjalan menghampiri Rea yang masih terduduk di lantai.


"Ayo bangun," ujar Gara sembari mengulurkan tangannya pada Rea namun gadis itu tetap diam bergeming.


"Wah kau memanggil seorang laki-laki kemari? Kau pasti ingin menakutiku kan? Kau pikir karena salah satu temanmu seorang laki-laki akan membuatku takut? Tidak akan!" ujar Jessica.


Gara yang mendengar hal itu pun langsung berdiri dan berjalan mendekat kearah Jessica. Bahkan kini Gara berdiri tepat di depan Jessica yang membuat Jessica otomatis memundurkan langkahnya sedikit takut karena bagaimanapun juga Gara adalah seorang laki-laki dan tentu saja ia kalah dari segi manapun jika berhadapan dengan laki-laki.


"Jangan salah paham. Aku kemari tidak untuk menakut-nakutimu. Aku hanya mengawal kedua temanku, tapi jika kau merasa takut denganku maka itu nilai bonus untukku," ujar Gara sembari menyunggingkan smirknya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi. Tubuhku terasa gatal sekali jika berdiam diri cukup lama disini," ajak Gara pada Arin dan Devi.


"Ayo," ajak Devi sembari mengulurkan tangannya pada Rea namun langsung ditepis kasar oleh Rea.


"Kenapa kau menolongku?" tanya Rea sembari menatap tajam Devi.


Arin dan Gara yang melihatnya pun cukup terkejut. Bagaimana bisa Rea mengucapkan hal itu setelah ditolong oleh Devi?


"Apa maksudmu?" tanya Devi.


"Memangnya kau siapa? Apa aku memintamu untuk menolongku? Dengar! Aku tidak butuh bantuanmu!" hardik Rea kasar.


"Hahaha aku kasian sekali padamu Dev, lihatlah kau hanya mempermalukan dirimu sendiri," ejek Jessica yang di sambut gelak tawa oleh teman-temannya.


"Kau serius berbicara seperti itu padaku setelah aku menolongmu?" tanya Devi tajam pada Rea.


"Tentu saja. Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenalku. Jangan bersikap seolah-olah kau kenal aku dan menjadi pahlawan kesiangan untukku. Seharusnya kau tahu batasan mana urusan yang tidak boleh diikut campuri orang lain!!" jawab Rea sembari menatap Devi tepat di manik matanya.


Devi tahu kedua mata Rea sedang berkaca-kaca tapi perkataan Rea benar-benar tidak bisa diterimanya. Devi marah mendengarnya.


"Hei apa pantas kau berbicara seperti itu pada Devi? Kau ini tidak memiliki rasa terima kasih ya? Harusnya kau-"


"Untuk apa aku berterima kasih?" tanya Rea yang membuat Arin menghentikan ucapannya.


Gara yang mendengar hal itu pun hendak mengeluarkan suaranya namun terpotong begitu Devi langsung mengambil sisa tepung yang terjatuh tidak jauh darinya dan langsung menyiramkannya pada kepala Rea.


"Kalau begitu biar kubantu Jessica memperindah rambutmu lagi!" ujar Devi sembari menuangkan tepung tersebut.


"Dev hentikan!!" perintah Gara sembariĀ  menghentikan tangan Devi yang menyiram tepung tersebut kepada Rea.


"Jangan dihentikan Dev!! Gadis tidak tahu berterima kasih ini memang pantas dirundung!" ujar Arin.


"Arin!!" bentak Gara yang langsung membuat Arin merapatkan mulutnya rapat-rapat.


"Wah sepertinya terjadi konflik internal," komentar Jessica yang membuat Devi menghentikan aksinya dan berbalik menatap Jessica dengan tatapan tajamnya.


Bukannya takut, Jessica justru balik menatap Devi dengan senyum meremehkan. Devi pun meraih telur yang berada di genggaman Clara dan langsung memecahkannya ke kepala Jessica yang langsung membuat Jessica terpekik kaget dan tidak dapat berkata-kata.


Gara yang melihat hal itu pun langsung memberi kode pada Arin agar menarik tangan Devi untuk melarikan diri, sedangkan ia langsung menarik tangan Rea dan membawanya pergi meninggalkan Jessica yang saat ini sedang marah besar.


"Dev ayo kabur!!" pekik Arin sembari menarik tangan Devi.


"Arin lepaskan aku, biar kuberi pelajaran si nenek sihir Jessica!!!" tolak Devi sembari mencoba melepaskan diri dari Arin namun Arin tetap mencekal tangan Devi dan menariknya pergi.


"Argh!!!!! Sial! Awas saja kau nanti!!! Aku akan memberimu pelajaran!!!! Apa yang kalian lakukan?!!! Kenapa hanya diam saja, harusnya kalian kejar mereka!!!" murka Jessica.

__ADS_1


*****


__ADS_2