Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Mengunjungi Raden


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Devi meminta ijin pada Alby untuk pergi ke kota. Ada beberapa hal yang harus ia urus terkait pendaftaran mahasiswa baru di kampus pilihannya sehingga Alby mengijinkannya. Sebetulnya Alby bersikeras ingin mengantarkan Devi pergi ke kota namun Devi menolaknya dengan alasan Alby baru saja sembuh dan tidak ingin membuat Alby kelelahan. Padahal bukan itu faktanya. Devi sengaja melarang Alby mengantarnya karena ia ingin mampir ke kantor polisi untuk menemui Raden dan juga Laudya.


Alhasil Alby meminta Satya selaku sopir pribadi ibunya untuk mengantar Devi pergi ke kota karena Alby tidak mungkin membiarkan Devi berangkat sendirian apalagi bersama Asep. Alby hanya tidak ingin kejadian seperti dulu terulang kembali apalagi Asep sangat takut dan tidak berani menentang Devi.


"Sudah sampai non," ujar Satya menginterupsi Devi.


"Pak Satya nanti menungguku di mana?" tanya Devi.


"Saya tunggu non Devi di kafe depan itu ya non?"


"Kenapa tidak istirahat di apartemennya om Alby saja? Pak Satya kan pasti kelelahan perjalanan jauh."


"Tidak, saya tunggu di kafe saja tidak apa-apa," tolak Satya halus.


"Tapi mungkin saya akan lama," ujar Devi mencari alasan agar Satya tidak menunggunya di dekat kampus.


"Tidak masalah non, saya akan menunggu non Devi," balas Satya sembari tersenyum. Rupanya Satya sudah tahu akal bulus Devi.


"Mungkin sampai sore pak. Saya hanya sungkan pak Satya menunggu saya selama itu," ujar Devi mencari-cari alasan.


"Tidak perlu sungkan. Non Devi pergi saja saya tunggu di kafe sana."


"Tapi pak saya nanti-"


"Jika non Devi mencari-cari alasan lagi agar saya pergi, saya malah akan menunggu non Devi di depan kampus lho."


Devi memberenggut kesal. Kenapa Satya susah sekali dibujuk? Jika seperti ini bukankah Devi kesulitan untuk pergi ke kantor polisi diam-diam?


"Non Devi jangan salah paham. Saya seperti ini hanya karena ingin memastikan keselamatan non Devi. Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada non Devi."


"Ini pasti perintah om Alby," gerutu Devi yang masih dapat didengar oleh Satya. Satya menanggapinya hanya dengan senyuman kecilnya.


"Baiklah kalau begitu, saya masuk dulu ya pak. Nanti jika sudah selesai saya kabari," pamit Devi yang diangguki oleh Satya.


Setelahnya Devi segera bergegas masuk ke dalam kampusnya untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasinya.


*****


Setelah selesai dengan urusan kampusnya, Devi pun segera bergegas keluar kampus untuk pergi menemui Raden di kantor polisi.


Devi begitu terkejut begitu melihat Satya tengah berdiri di depan kampusnya seperti tengah memperhatikan siapa saja yang keluar kampus. Oh astaga kenapa Alby seketat ini padanya? Apa Alby tahu niatnya akan mengunjungi Raden?


"Kenapa di depan kampus?!! Bukannya tadi bilang menunggu di kafe?" kesal Devi sembari menghentak-hentakkan kakinya.


"Dev," panggil seseorang sembari menepuk pundak Devi dengan pelan.


"Astaga!"


Devi terpekik kaget begitu ada seorang laki-laki seusianya yang baru saja menepuk pundaknya.



Untuk seperkian detik Devi hanya mampu terdiam sembari menatap kagum ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki di sampingnya ini benar-benar tampak sempurna.


"Dev."


"Ah iya, ada apa ya?" tanya Devi tersadar dari kekagumannya.


Dev kau harus ingat, kau punya om Alby!!!


"Kartu identitasmu ketinggalan," ujar laki-laki tersebut seraya menyerahkan kartu identitas Devi.


"Ah terima kasih, aku tidak sadar jika ini ketinggalan," ujar Devi sungkan.


"Tidak masalah," ujar laki-laki tersebut sembari beranjak pergi mendahului Devi.


"Ah tunggu dulu!" panggil Devi begitu ia teringat sesuatu.


Laki-laki tampan itu pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Devi.


"Ada apa?"


"Ehm siapa namamu?" tanya Devi cepat.


Laki-laki tersebut tampak enggan memberitahu namanya pada Devi dan hal itu juga disadari oleh Devi.


Sial! Kenapa dia dingin sekali?

__ADS_1


"Baiklah aku tidak ingin tahu siapa namamu tapi bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Devi memohon.


"Bantuan?"


"Iya, kau lihat pria berpakaian hitam di sana?" tunjuk Devi yang diangguki oleh laki-laki tersebut.


"Dia ingin menculikku. Kau lihat tidak berita di TV? Berita penculikanku sudah trending beberapa hari yang lalu lho masa kau tidak tahu?"


Laki-laki tampan tersebut tampak berpikir sejenak untuk mempercayai perkataan Devi atau tidak.


"Banyak modus perempuan sepertimu yang hanya ingin mendekatiku."


"Eh? Kenapa dia narsis sekali?" batin Devi.


"Aku tidak modus padamu. Lihatlah, ini aku kan? Fotoku terpampang jelas di media dan coba baca ini! Hari ini aku harus memberikan kesaksian di kantor polisi dan aku yakin pria itu pasti ingin menculikku agar aku tidak memberi kesaksian." Devi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah berita penculikan kepada laki-laki tersebut yang membuatnya percaya jika Devi tidak memiliki niat lain selain meminta bantuannya.


"Minta bantuan apa?"


"Bantu aku keluar dari kampus tanpa sepengetahuannya," jawab Devi bersemangat.


"Hanya itu?"


"Iya."


Laki-laki tampan itupun memakaikan helm fullface miliknya pada Devi.


"Eh kenapa memakai helm?" bingung Devi.


"Kau tidak ingin ketahuan-kan?"


"Iya."


"Kalau begitu diam saja dan menurutlah padaku."


Devi pun mengunci mulutnya rapat-rapat dan berjalan mengekor di belakang laki-laki itu. Sifatnya mirip dengan Alby!


"Namaku Lino."


Devi yang mendengar Lino memperkenalkan diri pun tersenyum kecil sembari berlari kecil menyamakan langkahnya menyusul Lino.


"Aku pikir kau tidak ingin memberitahu namamu padaku," ujar Devi.


Devi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Devi pun menoleh ke arah Satya yang masih setia menunggunya di depan mobil. Tanpa sadar Devi terus menoleh ke arah Satya dan tidak memperhatikan Lino yang sudah berhenti di depannya. Akibatnya, Devi menabrak punggung Lino yang membuat Lino mengaduh kesakitan begitu helm yang dipakai Devi membentur punggungnya.


"Argh!"


"Ah maaf aku tidak melihat," ujar Devi panik karena begitu Lino mengaduh kesakitan, pandangan Satya langsung tertuju ke arahnya.


"Mati aku pak Satya melihat ke mari!!" panik Devi.


Lino pun langsung tanggap dan memutar tubuh Devi sehingga tubuh tegap Lino berhasil menghalangi pandangan Satya pada Devi.


Lagi! Devi cukup terpesona dengan Lino namun cepat-cepat ia mengusir bayangan itu dari dalam kepalanya dan menggantinya dengan bayangan Alby.


Sial! Kenapa wanita lemah dengan ketampanan pria?!!


"Pria itu tidak melihat ke mari kan?" tanya Devi.


"Tidak. Ayo pergi."


Setelahnya, Devi pun segera keluar dari area kampus dan memesan sebuah taksi.


Begitu ia berhasil mendapatkan taksi, Devi segera mengucapkan terima kasih dan mengembalikan helm kepada Lino.


"Terima kasih banyak, aku pergi dulu," pamit Devi.


"Hm."


Lino pun berbalik dan meninggalkan Devi.


"Lino!" panggil Devi yang menghentikan langkah Lino dan membuat Lino membalikkan badannya ke arah Devi.



"Hm?"

__ADS_1


"Jangan berpikiran aneh padaku, aku tidak menyukaimu. Aku sudah memiliki pacar." Setelah mengucapkan hal itu, Devi segera masuk ke dalam taksi dan taksi tersebut melaju meninggalkan Lino yang masih kebingungan.


"Omong kosong macam apa itu?"


*****


Dengan sedikit gugup Devi menunggu kedatangan Raden. Kini di hadapannya ada batas kaca antara pengunjung dengan narapidana. Devi mendesah pelan sebelum pada akhirnya kedatangan Raden membuatnya reflek berdiri dari duduknya.


"Kak Raden," lirih Devi.


Raden tersenyum lembut ke arah Devi dan duduk di hadapannya.


"Kau ke mari?" sapa Raden.


Devi menganggukkan kepalanya dan kembali duduk di kursinya.


Devi meremas jemarinya pelan. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana.


"Ada apa? Kau datang ke mari pasti ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku kan?"


Mendengar perkataan Raden membuat Devi memberanikan diri menatap manik mata Raden.


"Maaf," ujar Devi tulus.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Raden sembari tersenyum lebar.


"Aku menghancurkan hidup kak Raden. Karena menyelamatkanku dan om Alby karir dokter kak Raden hancur berantakan padahal aku tahu untuk sampai menjadi seorang dokter itu tidak mudah. Aku telah menghancurkan masa depan kak Raden, aku minta maaf," ujar Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Menghancurkan apanya? Kehancuran karir dan masa depanku tidak ada hubungannya denganmu. Itu murni kesalahan dan keputusanku sendiri. Kau tidak perlu merasa bersalah."


"Tapi kak Raden kehilangan paman."


"Iya, tapi itu bukan salahmu. Kau lupa aku sendiri yang menembaknya?"


Devi terdiam.


"Ayah telah menculik ibu kak Raden dan mengambil ginjalnya hanya karena ayah kak Raden tidak ingin melanjutkan kerja sama bisnis tersebut dengan ayah-"


"Dev."


"Ayahku telah menyebabkan ibu kak Raden meninggal-"


"Dev."


"Dan kakak, kak Sean telah membuat ayah kak Raden di penjara-"


"Dev hentikan."


"Dan sekarang aku menghancurkan-"


"DEV KUBILANG HENTIKAN!!!" "KARIR KAK RADEN!!!" teriak Raden dan Devi bersamaan.


"Aku telah membuat kak Raden di penjara. Ini semua salahku," lanjut Devi sembari menatap Raden dengan mata berlinang air mata.


Raden menitikkan air matanya dan segera menghapusnya begitu air matanya menetes mengenai pipinya.


"Jika kau terus menyalahkan dirimu seperti ini lebih baik kita tidak usah bertemu," ujar Raden.


Devi terus saja menangis sembari menutup kedua wajahnya menggunakan tangannya.


"Kumohon hentikan. Keputusanku tidak ada hubungannya denganmu. Aku harus mengatakannya berapa kali padamu?!!"


Raden menghela nafasnya panjang mulai melembutkan tatapannya pada Devi yang terus menangis.


"Dendam keluarga kita sudah berakhir dan sekarang kau berhak bahagia."


"Aku sebetulnya ingin tapi rasa bersalah terus mencekikku kak. Aku tidak bisa mengabaikan kak Raden karena bagaimanapun juga aku dan om Alby masih bisa hidup sampai sekarang karena kak Raden. Aku tidak bisa hidup di atas penderitaan orang lain."


"Mangkanya aku memintamu untuk bahagia dan jangan merasa bersalah pada keluargaku! Aku tidak menderita Dev! Sudah kubilang ini keputusanku kan? Aku melakukan itu semua untuk apa? Untuk kebahagianmu! Jadi tolong, tolong jangan membuat semua yang kulakukan menjadi sia-sia."


"Tapi tidak dengan cara-"


"Dev pulanglah, waktu berkunjung sudah habis," potong Raden sebelum Devi menyelesaikan perkataannya.


Devi mengusap air matanya dan bangkit berdiri dari duduknya. Ia menatap Raden sejenak yang kini terduduk layu.


"Bertahanlah kak sampai nanti kak Raden keluar, aku akan mengembalikan Anggara Inc. pada kak Raden. Aku pulang dulu."

__ADS_1


Raden terkejut bukan main begitu mendengar kalimat terakhir dari Devi. Belum sempat Raden menyahut perkataan Devi, Devi sudah lebih dulu pergi keluar dari ruangan.


*****


__ADS_2