
Sesuai janjinya, Devi sekarang menjadi giat belajar. Sepulang dari tempat tersebut Devi langsung mandi dan setelahnya ia langsung pergi belajar dengan Alby sebagai tutornya.
Alby mendesah lega, setidaknya satu masalah terselesaikan. Alby kini jadi tahu bagaimana susahnya mengasuh seorang anak. Ah tunggu dulu! Apa barusan Alby menganggap Devi sebagai anaknya? Entahlah tapi Alby rasa seperti itu.
Kini, mulai pagi ini Devi pergi ke sekolah dengan diantar oleh Alby seperti biasa namun ia berencana pulang dengan naik bus sekolah, karena Devi ingin langsung pulang ke rumah dan belajar di rumah saja supaya lebih nyaman daripada belajar di rumah sakit tempat Alby bekerja. Selain itu Devi juga merasa sungkan jika harus pergi ke rumah sakit dan belajar di ruangan Alby. Devi tidak ingin Alby mendapat masalah karena hal itu, belum lagi masalah ia pura-pura sakit kemarin pasti masih menjadi bahan perbincangan dokter dan suster disana.
"Kerjakan soal yang menurutmu mudah terlebih dahulu setelah itu baru kau kerjakan soal yang lainnya," pesan Alby saat mereka tiba di depan gerbang sekolah Devi.
"Kalau tidak ada yang mudah bagaimana om?" tanya Devi.
"Pulang saja," jawab Alby asal.
"Siap om. Aku pergi sekolah dulu ya om," pamit Devi sembari melambaikan tangannya kearah Alby.
Alby yang baru saja menyadari perkataannya pun sontak langsung menoleh kearah Devi dan menatapnya serius.
"Kau tidak akan pulang hanya karena soalnya sulit kan?" tanya Alby khawatir jika Devi akan menganggap perkataannya yang menyuruhnya pulang dengan serius.
"Tentu saja tidak. Aku ini pintar om!" ujar Devi yang membuat Alby mendesah lega. Setelahnya ia mempersilahkan Devi agar segera masuk ke dalam sekolah.
Setelah Devi sudah tidak terlihat lagi, Alby pun langsung pergi meninggalkan halaman sekolah Devi dan berangkat bekerja.
Devi pun segera melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
"Devi!!!" teriak Arin sembari berlari kearahnya diikuti Gara yang berjalan santai di belakangnya.
"Kemarin kau belajar tidak?" tanya Arin antusias.
"Tentu saja belajar. Jangan bilang kau tidak belajar!" tebak Devi.
"Aku memang tidak belajar. Tapi kenapa kau tiba-tiba jadi rajin belajar? Kau seperti kehilangan jati diri saja," ujar Arin sembari tersenyum lebar.
"Tentu saja dia belajar. Devi membaca pesanku, sedangkan kau malah memblokir nomorku!" cibir Gara.
"Karena kau cerewet sekali memintaku untuk belajar terus-menerus. Memangnya kau ini orangtuaku?!!" kesal Arin.
"Sebagai sahabat yang baik aku hanya perhatian padamu dan Devi!" balas Gara.
"Sahabat yang baik itu memberi contekan Gara," jawab Arin sembari mengerucutkan bibirnya.
"Arin bagaimana bisa kau tidak belajar sama sekali? Kau tidak takut kalau kau tidak dapat menjawab soal try out nanti?" tanya Devi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Arin.
"Tidak. Aku itu memiliki prinsip datang kerjakan, pulang lupakan, hasil abaikan. Jadi itu tidak menjadi masalah untukku," jawab Arin enteng.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk kelas dan belajar Dev. Nanti kalau Arin tidak bisa menjawab soalnya jangan dikasih tahu jawabannya. Biar dia menggunakan prinsipnya itu," ajak Gara sembari merangkul bahu Devi.
Arin yang melihat hal itu pun menatap tidak percaya ke arah keduanya yang kini berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
"Wah aku seperti orang asing sekarang. Gara, Devi tunggu aku!!!" teriak Arin sembari berlari menyusul Gara dan Devi.
*****
Setelah seharian berkutat dengan pasien-pasiennya kini Alby memiliki waktu istirahatnya. Alby melirik kearah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Pasti di Singapura sekarang pukul satu siang.
Alby pun berniat menghubungi Sean untuk menanyakan bagaimana keadaannya karena sejak kepergiannya ke Singapura, Sean belum menghubunginya sama sekali.
Tok! Tok! Tok!
Alby menoleh kearah pintu dan mempersilahkan seseorang itu untuk masuk dan ternyata adalah dr. Ryan. Dokter spesialis digestif sepertinya yang sudah menjadi partnernya sejak lama.
"Ayo kita pergi makan siang bersama," ajak Ryan.
"Kau duluan saja nanti aku menyusul. Ada hal yang perlu kulakukan," ujar Alby yang diangguki oleh Ryan.
Setelah Ryan keluar dari ruangannya, Alby pun segera menghubungi Sean.
Dering pertama, dering kedua dan seterusnya belum terdengar sahutan dari Sean. Alby pun mendesah pelan sembari menggenggam ponselnya.
Tidak lama kemudian, ponsel Sean berdering dan tertera nama Sean disana. Dengan cepat, Alby pun segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo," sapa Alby.
"Sorry, but the patient is sleeping now. Later when he wakes up I will tell him if you call him," jawab seorang perawat disana.
"For now, we are still observing the patient and we will monitor his progress."
"Has the doctor found a way to cure it?" tanya Alby.
"Still we are discussing with our best oncology professor."
"thanks. I will wait for good news from you," ujar Alby mengakhiri panggilannya.
Mungkin sekarang harapannya adalah kedatangan Renata menemani Sean disana jadi ia bisa leluasa membahas bagaimana perkembangan Sean dari Renata.
Sean pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan berniat menyusul Ryan.
*****
Devi menatap soal di hadapannya dengan bersemangat. Devi sudah belajar dengan giat kemarin dan Devi yakin ia akan dengan mudah menjawab soal matematika yang menjadi soal kedua yang diujikan setelah bahasa Indonesia.
Begitu melihat soalnya, mata Devi langsung membulat sempurna dan mengernyitkan dahinya bingung dengan macam-macam soal di hadapannya ini.
"Soal macam apa ini? Kenapa susah sekali?" rengek Devi sembari menidurkan kepalanya di atas meja.
Devi menoleh kearah Gara yang sedang sibuk mengerjakan soalnya. Lalu pandangannya ia arahkan kearah Arin yang kini tidak jauh beda dengannya yang sama-sama menidurkan kepalanya di atas meja.
__ADS_1
"Ternyata aku belajar atau tidak pun tidak ada bedanya dengan Arin," lirih Devi kesal.
Lalu ia teringat dengan perkataan Alby kemarin. Ia tidak boleh menyerah hanya karena soalnya sulit seperti ini. Setiap soal pasti ada jawabannya kan? Devi pun menegakkan duduknya dan mencoba mengerjakan soalnya dari yang termudah terlebih dahulu seperti perintah Alby.
Hust!! Hust!!!
Devi pun menolehkan pandangannya kearah Arin dan terlihat Arin yang tersenyum manis kearahnya. Tanpa perlu ditebak lagi, Devi tahu apa maksud Arin dengan ia tersenyum manis seperti itu.
"Nomor tujuh apa jawabannya?" lirih Arin yang tempat duduknya terhalang satu meja dengan Devi.
Dengan santainya, Devi pun segera menunjukkan kertas jawabannya pada Arin dan sedetik kemudian Arin membelalakkan matanya terkejut begitu mengetahui Devi sama sepertinya. Sama-sama tidak bisa mengerjakan satu soal pun.
Karena sudah tidak ada harapan lagi dari Devi, Arin pun menoleh kearah Gara dan mencoba meminta jawabannya Gara.
"Gara! Nomor sembilan apa jawabannya?" lirih Arin.
"Gunakan prinsipmu jangan tanya aku," jawab Gara acuh.
"Gara sialan!" umpat Arin.
*****
"Woah otakku rasanya seperti mau terbakar," keluh Devi sembari keluar dari kelasnya diikuti Arin dan juga Gara di belakangnya.
"Otakku sudah kebakaran dari tadi tapi kalian sama sekali tidak mau memberiku contekan!" kesal Arin sembari mencebikkan bibirnya.
"Bagaimana? Masih mau mempertahankan prinsipmu?" ejek Gara.
Arin pun menggeleng pelan kearah Gara.
"Mangkanya lain kali belajar," ujar Devi sembari tersenyum. "Bagaimana kalau kita belajar bersama saja? Mulai saat ini aku tidak dijemput lagi oleh om Alby jadi aku bisa bebas kemanapun asalkan aku sudah sampai rumah sebelum dia pulang kerja," ujar Devi.
"Bagaimana kalau belajar di kafe Fullhouse saja? Disana nyaman dan tenang," ide Arin.
"Tidak mau. Kafe itu ramai pengunjung dan jangan bilang kau ingin kesana karena banyak sekali mahasiswa tampan yang berkunjung kesana. Tujuan kita adalah belajar bersama Rin, bukan mencari pasangan," tolak Gara yang membuat Arin mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, kita ke kafe Anonymous saja," ajak Devi.
"Baiklah ayo," ujar Gara sembari menggandeng tangan Arin agar gadis itu berhenti merajuk.
"Aku seperti obat nyamuk saja," desis Devi begitu melihat keduanya yang berjalan di depannya sembari bergandengan tangan.
"Kau ingin kugandeng juga?" tanya Gara pada Devi.
"Tidak perlu. Aku tahu jalan," tolak Devi yang membuat Gara tertawa kecil.
*****
__ADS_1