Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kediaman Pradana


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Alby, hari ini Devi sudah diperbolehkan pulang dengan catatan tiga hari lagi ia harus kembali ke rumah sakit untuk melepas jahitannya.


Sepanjang perjalanan Devi hanya diam dan mengamati lalu lalang kendaraan yang berada di samping kirinya. Tidak jarang juga ia tertidur di sepanjang perjalanan karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh dari kota.


Kini mereka tiba di jalanan yang cukup sepi dengan jalanan yang masih terbuat dari tanah dan belum di aspal. Di sekeliling jalan masih asri dan dikelilingi hamparan kebun teh luas yang tampak hijau.


"Om kita mau ke mana?" tanya Devi terbangun dari tidurnya.


"Pulang," jawab Alby singkat.


"Tapi bukankah ini sangat jauh dari sekolahku om? Bagaimana jika aku telat pergi ke sekolah?"


"Untuk sementara kita tinggal di sini dulu sampai kondisimu benar-benar pulih dan aku sudah mengajukan cuti sekolah untukmu. Jadi begitu apartemen kita sudah bisa ditinggali dan kau sudah sembuh kita akan pulang ke kota dan kau bisa bersekolah seperti biasanya," jelas Alby.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan om Alby? Bukankah sangat jauh jika om Alby harus bolak-balik ke rumah sakit?"


"Kita bicarakan nanti di rumah. Sekarang cepat kau buka jendelanya," perintah Alby.


"Kenapa?" bingung Devi namun ia menuruti perintah Alby.


Begitu kaca mobil terbuka, Devi dapat merasakan hawa sejuk mulai memasuki mobilnya. Perlahan ia sedikit menyembulkan kepalanya dan menikmati terpaan angin sejuk yang menyapu wajahnya.



"Bagaimana?" tanya Alby.


"Aku suka, di sini sangat sejuk dan segar. Tidak seperti di kota," jawab Devi tanpa melihat ke arah Alby.


"Syukurlah kalau kau menyukainya," ujar Alby senang.


Alby sengaja memilih tempat yang jauh dari kota dan masih asri seperti ini untuk membantu Devi sedikit mengatasi stress dan depresinya. Selain itu di tempat ini terdapat studio kecil miliknya yang biasa ia gunakan untuk melukis, seperti yang dikatakan oleh Raka salah satu cara untuk mengontrol emosi Devi adalah dengan melukis. Lagi pula bukankah Devi juga gemar melukis? Ia saja sampai ikut ekstrakulikuler melukis di sekolahnya.


Begitu mereka melewati sebuah jalan bercabang, Devi merasa tidak asing dengan jalan tersebut seolah ia pernah melewati jalannya.


"Om kalau kita belok ke sana, kita akan ke mana?" tanya Devi menunjuk jalan yang ia maksud.


"Ke hutan. Kau jangan sampai ke sana, di sana banyak hewan buas dan berbahaya," ujar Alby yang diangguki paham oleh Devi.


Devi dapat melihat perubahan raut wajah Alby begitu ia bertanya tentang jalan tersebut namun Devi tidak ingin ambil pusing dan kembali menikmati udara sejuk desa tersebut.


Setelah melewati jalanan yang berkelok-kelok dan penuh dengan kebun teh dan sayuran di sepanjang perjalanan, mereka pun tiba di sebuah rumah besar yang dikelilingi pegunungan dan di depannya terdapat aliran sungai yang jernih.



"Woah! Rumah siapa ini om? Bagus sekali," ujar Devi takjub.


"Rumahku. Ayo turun," jawab Alby sembari keluar dari mobil menyisakan Devi yang masih menganga tidak percaya dengan jawaban Alby.


Devi pun keluar dari mobil dan mengamati sekitarnya sedangkan Alby menurunkan koper dari bagasi mobil.


Tidak lama kemudian tiba seorang laki-laki seusia Devi yang berjalan menghampiri Alby untuk membantu Alby mengangkat koper.


"Biar saya saja yang bawa den."


Alby mengiyakan dan berjalan menghampiri Devi yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Ayo masuk dulu, ayah dan ibu sudah menunggu," ajak Alby dengan membawa boneka kesayangan Devi di tangannya.


"Ayah ibu?"


"Iya."


"Jadi ada kedua orang tua om Alby di dalam rumah?" tanya Devi terkejut.


"Tentu saja. Rumah ini sebenarnya bukan milikku tapi milik ayah ibuku. Ayo masuk, mereka sudah menunggu lama," ajak Alby menggenggam tangan Devi dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


"Aku takut," cicit Devi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan memakanmu, lagi pula kan ada aku."


Begitu masuk ke dalam rumah, Devi langsung disuguhi interior bangunan yang simple namun elegan dan tampak natural menyatu dengan alam. Sangat cocok dengan pemandangan sekitar yang menakjubkan.


Pandangan Devi terhenti begitu melihat sebuah foto keluarga yang tergantung manis di dinding ruang tamu.



"Orang tua om Alby dokter semua?" tanya Devi kagum.


"Iya. Ayah dokter bedah dan ibu dokter anestesi."


"Woah keren," puji Devi tanpa menghilangkan rasa kagumnya. "Tapi om, wajah ayahnya kak Alby sedikit menakutkan," bisik Devi yang membuat Alby tertawa.


"Kau tidak boleh sembarangan menilai orang saat kau sendiri belum mengenalnya. Ayo kita cari pria menyeramkan itu," ujar Alby tertawa.


Devi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu. Bagaimana bisa ia menilai seseorang hanya dari sebuah fotonya saja!


"Sep, di mana ayah dan ibu?" tanya Alby pada salah seorang penjaga rumahnya bernama Asep.


"Tuan baru saja pulang den, mungkin sekarang berada di taman belakang bersama nyonya," jawab Asep sopan, bahkan Asep juga menganggukkan kepalanya sopan ke arah Devi sebagai sapaan.


Alby dan Devi pun berjalan ke arah taman yang berada di belakang rumah. Di sana Devi melihat seorang pria yang cukup berumur tengah berdiri dan menatap ke arahnya dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. Tanpa bertanya pun Devi tahu itu adalah ayah Alby.



"Bagaimana? Menyeramkan tidak?" bisik Alby pada Devi yang membuat Devi tersenyum canggung.


"Kalian sudah datang?" tanya Abimanyu selaku ayah Alby.


"Iya yah. Di mana ibu?" tanya Alby memeluk ayahnya diikuti Devi yang sedikit membungkukkan badannya untuk menyapa.


"Ibu di sini!" ujar seorang wanita sembari melambaikan tangannya ke arah Alby.



"Wah lihat siapa ini?" tanya Ishwari senang sembari memegang kedua tangan Devi.


Alby tahu apa yang dirasakan Devi. Sebagai penderita PTSD, Devi pasti merasa sedikit takut begitu melihat orang asing yang pertama kali ia temui.


"Dev, tidak apa-apa. Ini ayah dan ibuku," ujar Alby memegang pundak Devi lembut.


Abimanyu yang menyadari hal tersebut pun meminta istrinya agar melepas genggaman tangannya pada Devi.


"Ah maaf, tante tidak bermaksud-"


"Tidak apa-apa tante." Begitu Ishwari melepaskan tangannya, Devi langsung balik menggenggam tangan Ishwari seraya tersenyum manis.


"Kamu tidak takut pada tante?" tanya Ishwari.


"Tidak, sama om juga tidak takut," jawab Devi tersenyum lebar. Devi kan bukan penderita PTSD betulan, hanya saja melihat betapa berwibawa dan berkarismanya seorang Ishwari membuat Devi sedikit sungkan dan takut.


"Ah benarkah? Bukankah kau bilang ayahku menyeramkan?" tanya Alby yang membuat Devi melotot tajam ke arahnya.


"Tidak! Om Alby ini bicara apa?! Kapan aku mengatakan hal itu?!!" protes Devi.


Abimanyu maupun Ishwari tampak sedikit terkejut begitu mendengar panggilan yang digunakan Devi pada Alby. Bukankah 'om' terlalu tua untuk Alby?


"Ayah, ibu ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. Dev kau pergi saja berkeliling sekitar rumah nanti aku akan menyusulmu. Jika ada apa-apa langsung telepon aku. Ini bawa sekalian Totomu," ujar Alby sembari menyerahkan boneka dan ponsel Devi yang ternyata sudah kembali.


Devi pun mengangguk dan pamit undur diri.


Kini hanya ada Alby dan kedua orang tuanya saja yang berada di taman belakang rumahnya. Mereka memilih duduk di sebuah kursi lengkap dengan meja kayu yang memang tersedia di sana.


"Aku ingin Devi tinggal di sini untuk sementara waktu," ujar Alby mengutarakan maksud kedatangannya.


Sebelumnya Alby sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya perihal Devi yang akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu sampai kondisi psikis Devi membaik dan kedua orang tuanya juga tidak keberatan akan hal itu. Namun ada beberapa hal yang belum Alby beritahukan kepada kedua orang tuanya dan Alby akan mengatakannya sekarang.

__ADS_1


"Ayah dan ibu tahu kan apa yang telah terjadi di apartemenku?" tanya Alby yang diangguki oleh Abimanyu maupun Ishwari.


"Ibu tahu, penyerangan itu muncul di mana-mana bahkan berita di TV juga menyiarkan penyerangan itu. Lalu bagaimana sekarang? Apakah pelakunya akan mendapat hukuman berat?" tanya Ishwari khawatir.


"Belum tahu, Devi belum bisa dimintai keterangan. Ia sangat ketakutan begitu bertemu orang asing sehingga aku meminta polisi untuk memberi Devi waktu," tutur Alby.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Ishwari. "Ibu belum bisa tenang jika pelakunya belum mendapat hukuman setimpal."


"Kita tunggu sampai Devi pulih dan tidak ketakutan lagi bertemu orang asing. Dan selama itu juga aku ingin Devi tinggal di sini dengan kalian. Aku tidak tenang jika meninggalkan Devi sendirian. Lagi pula suasana di sini sangat cocok untuk penyembuhannya," ujar Alby.


"Ayah tidak masalah, tapi yang ayah masalahkan sekarang kenapa kamu pindah departemen tanpa berdiskusi dengan kami? Kamu sudah susah payah agar bisa menjadi dokter bedah digestif tapi kenapa malah turun menjadi perseptor di IGD?" tanya Abimanyu bingung dengan pikiran Alby.


"Itu karena ada dokter koas yang memiliki niat membunuh Devi. Aku harus mengendalikannya dan membuatnya sibuk sesibuk mungkin agar ia tidak punya waktu untuk mencelakai Devi," jawab Alby jujur namun tetap saja Alby menutupi perihal asal mula dendam Raden pada Devi. Ia tidak mungkin membiarkan kedua orang tuanya mengetahui fakta tersebut.


"Ap..apa? Jadi itu semua karena Devi? Kamu rela turun menjadi perseptor hanya untuk Devi?" tanya Ishwari terkejut.


"Iya bu."


"Kenapa??"


"Karena itu sudah tanggung jawab Alby untuk menjaga Devi. Alby sudah berjanji pada Sean untuk melindungi adik semata wayangnya dan Alby harus menepatinya bu," jawab Alby.


Berbeda dengan Abimanyu, Ishwari tampak sedikit keberatan dengan jawaban Alby yang lagi-lagi itu semua karena melindungi Devi.


"Kamu juga tahu kan kalau melindungi Devi berarti kamu harus siap menanggung segala resikonya?" tanya Abimanyu.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Ishwari bingung.


"Devi dikelilingi orang jahat yang setiap waktu dapat mencelakainya dan karena Alby memilih melindungi Devi maka sudah resiko Alby jika ia ikut celaka," jelas Abimanyu menatap Alby dalam.


"Alby siap menerima segala resikonya," jawab Alby mantap dan tanpa pikir panjang.


"Tapi ibu yang keberatan! Ibu tidak mau kamu ikut celaka hanya karena melindungi Devi Alby!"


"Bu, ini bukan hanya Devi. Tapi ini berkaitan dengan nyawa. Bukankah ibu seorang dokter yang juga berjuang menyelamatkan nyawa seseorang? Ibu tenang saja, aku akan menjaga diri dan akan kupastikan aku akan baik-baik saja. Lagi pula bukankah ibu tadi terlihat antusias sekali dengan kedatangan Devi? Kenapa malah jadi begini?" sindir Alby.


"Ibu memang menyukainya karena ibu tidak memiliki seorang anak perempuan, tapi ibu juga tidak ingin Devi membuatmu dalam bahaya. Kamu putra satu-satunya yang ibu miliki Alby."


"Alby tahu, tapi Alby terlanjur sudah melangkah terlalu jauh dan sekarang tidak ada jalan kembali selain melanjutkan amanat yang Sean berikan padaku. Devi hidup sebatang kara dan tidak ada yang melindunginya, kedua orang tuanya meninggal lima tahun lalu dan kakaknya juga baru saja meninggal karena angiosarcoma hati. Apa ibu tega membiarkannya hidup sendirian?"


Ishwari terdiam dan tampak berpikir keras. Ia merasa iba dengan keadaan Devi tapi ia tidak ingin putra kesayangannya dalam bahaya.


"Ayah tidak masalah. Kamu sudah dewasa jadi ayah yakin kamu sudah tahu mana yang baik untukmu dan yang tidak," ujar Albimanyu seraya tersenyum.


"Terima kasih yah. Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Alby.


Ishwari menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya ia mengangguk setuju pada Alby.


"Terima kasih bu," ujar Alby senang.


"Tapi kamu harus janji pada ibu, kamu tidak boleh celaka ataupun terluka seujung jari pun," ucap Ishwari yang diangguki oleh Alby.


"Sekarang waktunya kamu mendapat hukuman," ucap Abimanyu menginterupsi.


"Apa?"


"Kamu sudah pindah departemen sembarangan! Kamu pikir ayah hanya akan diam saja?! Kamu harus mendapat hukuman biar tidak seenaknya saja, mentang-mentang itu hidupmu sendiri bukan kami," omel Abimanyu. "Cepat ganti pakaianmu lalu turun ke mari temui ayah!"


"Sayang, Alby baru saja tiba dia pasti kelelahan. Kita bicarakan hukumannya besok saja ya?" bujuk Ishwari.


"Aku tidak menerima bantahan. Cepat ganti pakaian!"


Alby menganggukkan kepalanya menuruti perintah ayahnya.


"Ibu pasti akan menyukai Devi. Dia sangat mirip dengan Icha," bisik Alby sembari mengecup pipi Ishwari sebelum akhirnya ia berlalu untuk berganti pakaian.


Ishwari diam mematung. Hatinya berkecambuk luar biasa. Kini ia tahu alasan Alby begitu kekeuh ingin melindungi Devi. Melindungi Devi adalah bentuk kompensasi Alby terhadap Icha.

__ADS_1


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)


__ADS_2