
Keesokan harinya saat matahari mulai menyingsing, Devi dan teman-temannya sudah bersiap-siap di halaman depan rumah. Hari ini mereka berencana untuk pergi ke pantai yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Alby.
Devi sudah bersiap dengan kaos polos putih serta celana jeans pendeknya, tidak lupa dengan tas bentuk beruang kesukaannya sudah menyampir indah di bahunya.
"Di mana Arin?" tanya Gara yang mulai merasakan kebas di kakinya karena menunggu Arin terlalu lama.
"Mungkin masih di kamar mandi. Dia bilang perutnya terasa mulas sekali," jawab Devi.
"Tapi ini sudah terlalu lama," keluh Gara.
"Kalau begitu biar kupanggil Arin dulu," ujar Devi bangkit dari duduknya dan berlari memasuki rumah.
"Jangan lari!" tegur Raden namun Devi tidak mengindahkannya membuat Raden menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum samar.
"Susah dibilangi kan," ujar Gara seraya menepuk pundak Raden pelan.
"Iya," jawab Raden tertawa kecil.
*****
Devi segera berlari menuju kamarnya untuk memanggil Arin.
Ceklek!
"Arin!" panggil Devi membuka pintu kamarnya.
Terlihat Arin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan memegangi perutnya.
"Woah perutku mulas sekali," keluh Arin.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Devi khawatir.
"Aku baik-baik saja. Aku sudah meminum obat pemberian tante Ishwari dan semoga saja lekas membaik," ujar Arin.
"Arin apa kita batalkan saja rencana pergi ke pantainya? Perutmu kan sakit," tanya Devi.
"Tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja, ayo kita berangkat."
"Kau yakin?"
"Iya. Ayo, Gara dan kak Raden pasti sudah menunggu lama." Arin segera menarik tangan Devi untuk keluar kamar dan menemui Gara dan kak Raden di halaman rumah.
Begitu tiba di halaman rumah, mata Devi terarah ke arah garasi. Mobil Alby tidak terparkir di sana, yang ada hanya mobil milik Abimanyu dan Ishwari saja. Lalu ke mana mobil milik Alby?
Apa om Alby pergi bersama tante Laudya? Tapi ke mana? Kenapa pagi-pagi sudah tidak ada?
"Ada apa?" tanya Raden mendekati Devi yang terus saja menatap ke arah garasi rumah.
"Ah tidak kak. Ayo kita segera pergi, nanti keburu siang," ajak Devi riang seraya menggandeng tangan Raden untuk masuk ke dalam mobil.
"Perutmu betulan tidak apa-apa?" tanya Gara khawatir pada Arin.
"Tidak apa-apa. Hanya sakit perut biasa," jawab Arin meyakinkan Gara.
"Kita bisa tinggal di rumah kalau kau mau. Aku takut perutmu semakin memburuk."
"Jangan berlebihan Gara, aku tidak apa-apa," ujar Arin tersenyum lembut.
"Kalian jadian sajalah," sahut Devi membalikkan badannya menatap Arin dan Gara yang duduk di belakang.
"Kau diam sajalah," balas Gara menirukan nada bicara Devi yang membuat Devi mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sudah-sudah kita berangkat sekarang," ujar Raden menginterupsi.
*****
Alby terus melirik ke arah jam tangan mewah miliknya. Orang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya belum juga menampakkan batang hidungnya. Alby hanya diam berdiri di depan mobil miliknya sedangkan Laudya kini berada di kamar mandi untuk berganti pakaian.
Bukan! Bukan Laudya yang ditunggu kedatangannya oleh Alby tapi Devi.
Kemarin malam seusai makan malam, Alby pergi mendatangi ibunya yang tengah bersantai sendirian di kamarnya sedangkan ayahnya belum bisa pulang karena ada kondisi darurat.
Flashback on*
Tok! Tok!
Ceklek!
Alby berjalan masuk ke dalam kamar ibunya yang kini tengah menikmati secangkir teh di tangannya.
"Bu," panggil Alby.
__ADS_1
"Alby, ada apa? Kenapa belum pergi tidur?" tanya Ishwari mempersilahkan sang putra untuk duduk di sampingnya.
"Alby belum mengantuk."
"Lalu ada apa? Apa ini tentang Devi? Kau masih belum bisa menerima teman-teman Devi menginap di sini ya?" tebak Ishwari.
"Tidak, bukan seperti itu. Ada hal yang ingin kutanyakan pada ibu," jawab Alby.
"Apa?"
"Devi berpamitan pada ibu tidak ke mana besok ia akan pergi?" tanya Alby.
"Iya. Devi bilang besok ia akan berkencan dengan Raden. Memangnya kenapa?" bingung Ishwari.
"Ibu tahu kan Devi pergi dengan siapa? Dengan Raden. Alby takut Raden berbuat macam-macam pada Devi. Aku ingin mengikuti mereka tanpa sepengetahuannya," terang Alby.
"Devi bilang Raden sudah berubah dan ibu lihat juga seperti itu. Ibu tidak melihat sifat antagonis pada diri Raden, bahkan Raden memperlakukan Devi dengan baik kok."
"Hanya untuk berjaga-jaga saja," tutur Alby yang membuat Ishwari sedikit curiga pada Alby. Pasti ada alasan lain!
"Kau tidak berniat mengacaukan kencan Devi dengan Raden kan?" tanya Ishwari yang dibalas senyum ambigu oleh Alby.
Setelah mendapatkan informasi yang ia mau, Alby segera bergegas turun ke kamar tamu yang ditempati oleh Laudya. Tanpa menunggu lama begitu Alby mengetok pintunya, Laudya sudah membuka pintunya.
"Besok pagi ayo kita pergi ke pantai."
Flashback off*
Tidak lama kemudian terlihat mobil hitam milik Raden tengah memasuki area parkiran. Cepat-cepat Alby segera pura-pura tidak tahu kedatangan mereka. Alby segera berdiri bersandar pada kap mobil dengan salah satu tangannya yang memainkan ponselnya. Itu adalah pose terbaik untuk membuat pertemuan mereka terasa kebetulan.
Devi yang baru saja turun dari mobil langsung tertuju pada mobil yang terparkir di sebelahnya. Devi merasa mengenali mobil tersebut.
Untuk memastikannya, Devi pun berjalan ke arah belakang mobil untuk melihat nomor kendaraan tersebut. Baru saja hendak melangkahkan kakinya, Gara sudah memanggil namanya dan menginterupsi agar tidak pergi ke mana-mana sebelum Raden selesai mengeluarkan barang-barangnya dari mobil.
Hari ini mereka ingin memutuskan untuk menginap di pinggir pantai dan Raden sudah menyiapkan semua peralatannya.
"Ayo," ajak Raden sembari menggandeng tangan Devi sedangkan Gara berjalan di samping Arin, takut jika tiba-tiba perut Arin bermasalah lagi.
Devi membulatkan matanya begitu ia melihat Alby tengah berdiri di depan mobilnya dan sedang memainkan ponselnya.
Om Alby di sini?
"Om Alby!" sapa Gara heran. "Om Alby juga ke mari?"
"Iya. Rencana kami ingin menginap di sini om," jawab Gara.
"Om kau tidak mengikutikukan?" curiga Devi.
"Harusnya itu yang ingin kutanyakan padamu. Kau tidak mengikutikukan?"
"Tidak! Untuk apa aku mengikutimu. Lagi pula aku memang ingin pergi ke sini bukan karena mengikutimu," jawab Devi.
"Aku juga ingin pergi ke sini, lagi pula aku yang lebih dulu tiba di sini kenapa jadi aku yang mengikutimu," cibir Alby.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Ayo kita segera berganti pakaian. Permisi dok, kami pergi dulu," pamit Raden.
Alby hanya diam enggan menanggapi.
Tersirat jelas aura pertempuran dari sorot mata Raden begitu kedua matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Alby.
"Alby," panggil Laudya yang baru saja tiba. "Lho mereka di sini juga?"
Alby menolehkan kepalanya menghadap Laudya dan ia sedikit tersentak begitu melihat pakaian yang digunakan Laudya.
*****
Selesai berganti pakaian, Devi dan Arin segera mencari keberadaan Gara dan juga Raden.
Begitu mereka berada di pesisir pantai, Devi melihat Alby yang sedang bersama Laudya tengah mendebatkan sesuatu. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Devi, melainkan pakaian yang digunakan Laudya.
"Woah badannya tante Laudya memang bagus sekali, tidak heran ia menjadi model," gumam Arin yang masih bisa di dengar oleh Devi.
Devi mencebikkan bibirnya kesal dan menatap ke arah Arin yang membuat Arin langsung menyadari kesalahannya.
"Maaf aku tidak bermaksud memuji tante Laudya. Sungguh," ujar Arin cepat.
"Bukan itu yang membuatku kesal."
"Lalu?"
"Om Alby melarangku memakai bikini tapi ia membiarkan tante Laudya memakainya. Om Alby bilang lemakku berada di mana-mana," rengek Devi.
"Tidak kok, lemakmu tidak kelihatan. Om Alby saja yang sok tahu."
__ADS_1
"Om Alby sudah melihatnya," bisik Devi.
"Apa maksudmu?" bingung Arin.
"Kau tahu saat kutanya bagaimana ia tahu lemakku ada di mana-mana om Alby bilang saat aku dioperasi ia melihat semuanya. Aku operasi dalam keadaan telanjang," bisik Devi lagi.
"Kan memang seperti itu prosedurnya. Sudahlah jangan dipikirkan, lagi pula om Alby sengaja berbicara seperti itu karena tidak ingin kau memakai pakaian itu."
"Tapi aku ingin," rengek Devi.
"Ingin apa? Sudah jangan macam-macam. Pelajar seperti kita cocoknya pakai pakaian seperti ini bukan bikini," ucap Arin sembari menarik tangan Devi untuk mendekat ke arah Alby.
Devi dapat mendengar sedikit perdebatan mereka.
"Kamu tidak boleh berenang. Cedera di tanganmu belum sembuh," larang Alby pada Laudya.
"Tanganku sudah sembuh By bahkan perbannya juga sudah dilepas. Tanganku tidak patah, hanya cedera saja. Aku saja yang berlebihan mengatakan tanganku patah. Tapi sungguh tanganku tidak apa-apa, bukankah kamu mengajakku ke mari untuk berenang?"
Alby terdiam. Memang benar cedera di tangan Laudya tidak parah hanya saja ia takut cederanya bertambah parah jika Laudya memaksakan diri untuk berenang.
"Baiklah-baiklah aku tidak berenang. Aku hanya bermain air saja," ujar Laudya pada akhirnya.
Lalu pandangan Alby terarah pada Devi yang kini tengah bermain air bersama Arin.
"By boleh pinjamkan jaketmu?" tanya Laudya.
Tanpa bertanya, Alby langsung begitu saja menyerahkan jaket denimnya kepada Laudya dengan tatapan yang terus mengarah pada Devi.
Laudya yang mengikuti arah pandang Alby pun menjadi kesal sendiri. Kenapa Alby selalu memperhatikan Devi padahal ada dirinya yang berada di sampingnya?
"Mau ikut bermain air?" tawar Laudya yang menyadarkan Alby.
"Tidak. Aku duduk di sana saja," tolak Alby beranjak pergi.
Alby memilih duduk di pasir dan mengawasi Devi maupun Laudya saja dari pada harus ikut basah-basahan.
Tidak lama kemudian, Gara dan Raden bergabung dengannya dengan celana pendek dan kaos polos pendek mereka masing-masing.
"Dokter Alby tidak ikut main air?" tanya Raden.
"Tidak," jawab Alby singkat.
Alby menatap ke arah Raden yang kini berlari bergabung bersama Devi.
Alby menoleh ke arah samping. Di sebelahnya ada Gara yang duduk di dekatnya dengan pandangan yang mengarah pada Laudya yang sedang bermain air sendirian.
"Ck kenapa menatap Laudya seperti itu," decak Alby.
"Tante Laudya sangat cantik ya om dan tubuhnya juga bagus, tidak heran kalau om Alby menyukainya."
Plak!
"Kau ini kenapa mesum sekali!!"
"Kenapa om Alby memukulku?! Aku hanya menyampaikan pendapatku saja," protes Gara sembari mengelus kepalanya yang mendapat pukulan pelan dari Alby.
"Om Alby kenapa tidak menemani tante Laudya? Kasian dia bermain air sendirian."
"Kalau kau mau, temani saja," ujar Alby tanpa mengalihkan perhatiannya dari Devi.
"Eh bagaimana bisa seperti itu? Tante Laudya pasti sedih sekali melihat om Alby yang lebih memperhatikan Devi dari pada dirinya," ucap Gara sebelum akhirnya ia berlari menjauh dari Alby sebelum Alby memukulnya untuk yang kedua kalinya.
"Sialan bocah itu!!" umpat Alby.
*****
"Pasti seru sekali ya," ujar Laudya menginterupsi kegiatan Devi yang sedang bermain air bersama Arin dan Raden.
Devi menatap Laudya yang ikut bergabung dengannya dengan penuh kekaguman. Bikini hitam yang kontras dengan kulitnya terlihat sangat cocok di tubuhnya. Begitu Laudya membenarkan rambutnya, aura kecantikannya langsung terpancar jelas membuat siapapun pasti akan terpesona tak terkecuali Devi sendiri.
"Boleh aku bergabung? Pacarku tidak mau ikut bermain air," ujar Laudya yang membuat Devi tersadar sesuatu.
Bagaimana bisa aku malah mengagumi musuhku sendiri? Meskipun tante Laudya sangat cantik dan seksi, tapi aku juga tidak kalah cantik dengannya!
"Boleh," jawab Gara yang langsung mendapat pelototan mata dari Devi.
"Tapi sebelum itu bolehkah aku meminjam Devi? Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya," ujar Laudya seraya tersenyum misterius.
*****
__ADS_1