Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Feeling Blue


__ADS_3

Devi menatap gundukan tanah di hadapannya dengan air mata yang terus menuruni kedua pipinya. Hatinya belum ikhlas jika harus melepas kepergian kakak satu-satunya yang ia miliki sekarang. Kenapa Tuhan mengambil semua orang yang ia punya? Dulu ayah dan ibunya lalu kenapa sekarang Tuhan ikut mengambil kakaknya? Kenapa Tuhan setega ini padanya? Apa Devi tidak berhak bahagia?


Satu-persatu pelayat mulai berjalan meninggalkan makam. Kini hanya ada Devi, Alby, Renata, Gara, Arin dan juga Laudya yang masih tinggal di sana.


Perlahan tangan Devi terulur untuk menyentuh batu nisan Sean. Devi masih tidak percaya jika kakaknya telah tiada. Isakan kecil mulai terdengar lagi dari Devi membuat Alby berjongkok dan memegang bahu Devi pelan untuk menenangkannya.


"Dev tidak boleh menangis di sini ya, air matamu tidak boleh jatuh mengenai makam Sean. Kasihan kakakmu nanti," tegur Alby lembut.


Devi pun mulai mencoba menghentikan tangisnya dan menatap ke arah Alby dengan mata sembabnya.


"Aku masih ingin menangis om," cicit Devi.


Alby pun memeluk tubuh Devi dan menenggelamkannya dalam dekapan hangatnya.


"Kalau begitu menangislah di pelukanku," bisik Alby yang membuat Devi langsung menangis dengan keras.


"Tolong ikhlaskan kakakmu Dev. Biarkan Sean pergi dengan tenang," lirih Alby.


"Kakakmu sudah tidak merasakan sakit lagi, Sean sudah bahagia di sana. Kasihan Sean jika harus tetap merasakan sakit. Kau tidak ingin Sean merasakan sakit kan?" tanya Alby yang dibalas gelengan kepala oleh Devi.


"Mungkin Tuhan lebih menyayangi Sean dan tidak ingin Sean merasakan sakit untuk waktu yang lebih lama lagi. Sekarang tugasmu adalah mendoakan kakakmu, karena hanya itu yang ditunggu-tunggu oleh kakakmu," pesan Alby.


Tidak jauh berbeda dari Devi, Renata juga merasakan hal yang sama dengan Devi. Hatinya sakit sekali jika harus berpisah dengan orang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Laudya yang berada di samping Renata pun mencoba menenangkan Renata dan memberinya pelukan dari samping.


"Yang sabar ya Ta. Kau harus ikhlas dengan kepergian Sean. Kasian Sean di sana jika kau terus bersedih, Sean pasti juga ikut sedih," ujar Laudya.


Renata hanya diam tanpa membalas perkataan Laudya.


"Ayo kita pulang, sebentar lagi hujan," ajak Alby.


Renata pun menganggukkan kepalanya menyetujui Alby karena langit memang sudah mengabu dan angin dingin mulai berhembus menerpa tubuh mereka. Laudya pun menuntun Renata meninggalkan pemakaman begitu juga dengan Arin dan Gara yang turut pergi meninggalkan Alby dan Devi sendirian.


"Kita pulang ya?" ajak Alby lembut pada Devi.


"Nanti kakak sendirian," ujar Devi melepaskan pelukan Alby dan menoleh ke arah makam Sean.


"Tidak. Kakakmu kan sudah bersama ayah dan ibumu. Kakakmu tidak sendirian. Kita pulang sekarang ya? Sebentar lagi hujan."


"Om Alby benar, bukan kakak yang sendirian tapi aku. Aku sendirian sekarang, aku tidak memiliki siapa-siapa."


"Kau kan punya aku. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian sampai kapanpun. Aku janji," ujar Alby sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


Devi kembali meneteskan air matanya dengan tangan kanannya yang mulai menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alby.


"Om Alby jangan ingkar janji seperti kakak."


*****


Setelah menemani Devi sampai tertidur di kamarnya, Alby pun bangkit dari ranjang Devi berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk karena ia cuti beberapa hari untuk mengurus semua prosesi kematian Sean.


Namun begitu ia hendak melangkahkan kakinya pergi, Alby mendengar suara Devi yang sedang mengigau.


Alby pun mengurungkan niatnya dan kembali menaiki ranjang. Alby dapat melihat wajah Devi yang pucat dengan kening yang dibanjiri keringat pun langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Devi untuk mengecek suhu badannya.

__ADS_1


Alby merasakan suhu tubuh Devi panas. Sepertinya Devi demam karena kurang tidur dan kelelahan ditambah lagi karena kepergian Sean membuat daya tahan tubuhnya melemah.



"Om, kakak pergi," igau Devi dengan kedua mata yang masih tertutup.


"Om Alby jangan pergi," lanjut Devi.


Alby membelai lembut rambut Devi dan mengecupnya pelan.


"Hust.... aku tidak akan pergi. Aku akan tetap menemanimu," lirih Alby.


"Kakak....." igau Devi lagi.


"Dev tenanglah, kakak ada di sini. Kakak tidak akan meninggalkanmu." Alby mengelus pelan pipi Devi. Alby sengaja menggunakan kata 'kakak' untuk menenangkan Devi. Bukankah sejak Sean menitipkan Devi padanya ia sudah menjadi kakak untuk Devi? Jadi apa salahnya Alby menyebut dirinya sebagai kakak?


Dirasa Devi sudah sedikit lebih tenang dan berhenti mengigau, Alby pun beranjak untuk mengambil obat penurun demam dan plester penurun demam.


Devi membuka matanya perlahan begitu Alby menempelkan plester penurun demam tersebut ke keningnya.


"Kau bangun?" tanya Alby yang dibalas anggukan lemah oleh Devi.


"Kalau begitu bangun sebentar saja ya untuk minum obat, setelah itu kau boleh tidur kembali," ujar Alby.


Devi mengangguk patuh. Alby pun membantu Devi bangkit dan bersandar pada sandaran ranjang. Setelahnya Devi meminum obat yang disodorkan Alby padanya.


"Pahit."


"Tunggu permennya habis baru lanjut tidur oke?"


Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sekarang apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya Alby.


"Kepalaku sedikit pusing dan berat om," jawab Devi jujur.


"Itu karena kau kelelahan, kurang tidur dan banyak pikiran. Coba katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alby lembut.


"Tidak ada," dusta Devi. Ingatan Devi masih terbayang-bayang dengan kakaknya dan Devi tidak ingin mengatakannya pada Alby.


"Baiklah. Jika kau ingin mengatakannya padaku katakan saja, aku akan mendengarkannya," ujar Alby sembari tersenyum. "Permennya sudah habis belum? Atau permennya dibuang saja supaya kau bisa cepat tidur?" tawar Alby.


"Belum, tinggal sedikit."


Alby membawa Devi ke dalam pelukannya dan mengelus punggungnya pelan. Perlahan mata Devi mulai terpejam karena rasa nyamannya berada di dalam dekapan Alby.


"Permennya sudah habis?" tanya Alby begitu melihat Devi memejamkan kedua matanya. Alby hanya tidak ingin Devi tertidur dengan permen yang masih berada di dalam mulutnya, takut jika Devi tersedak.


"Sudah. Aku mengunyahnya," jawab Devi tanpa membuka kedua matanya.


"Kalau begitu tidurlah," ujar Alby lembut.


"Om Alby jangan pergi," pinta Devi sembari menggenggam tangan kiri Alby.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak akan pergi," jawab Alby mengecup puncak kepala Devi.


Devi pun memejamkan kedua matanya dan tertidur dengan bersandar pada dada bidang Alby. 



(Kira-kira visualnya seperti ini ya)


Setelah memastikan Devi benar-benar tertidur, Alby mulai melepas genggaman tangan Devi dengan perlahan. Ia melirik ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan langkah pelan, Alby mulai keluar dari kamar Devi berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sekitar dua jam Alby berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya pekerjaan Alby selesai juga. Alby yang sudah mengantuk dan kelelahan itupun berniat kembali ke dalam kamar dan beristirahat. Begitu membuka pintu kamar Devi, Alby terkejut bukan main begitu ia melihat Devi tidak ada di dalam kamar.


Alby yang panik pun segera berlari menuju kamar mandi untuk melihat di sana ada Devi atau tidak.


Kosong!


Di dalam kamar mandi tidak ada Devi, Alby pun segera bergegas mencari ke seluruh penjuru ruangan namun hasilnya tetap nihil.


"Dev!!" teriak Alby memanggil nama Devi namun siempunya nama sama sekali tidak menyahut panggilan Alby.


"Devi!! Kau di mana?!!"


Alby mengusap wajahnya gusar, ini masih pukul tiga malam dan kemana gadis itu pergi? Alby sangat mengkhawatirkan Devi apalagi Devi masih sakit dan baru saja kehilangan kakaknya membuat Alby semakin berpikiran negatif.


Alby teringat sesuatu.


CCTV!!!


Alby segera merogoh ponselnya dan melihat rekaman CCTV yang terpasang di apartemennya untuk melihat ke mana Devi pergi.


Di dalam rekaman CCTV tersebut terlihat Devi yang berjalan gontai menuju lift dan menekan tombol paling atas.


Rooftop!!!


"Sial!!" umpat Alby.


Bagaimana bisa ia tidak menyadari Devi yang keluar dari apartemen padahal ia sedang berada di ruang kerjanya? Alby langsung merutuki kebodohannya sendiri.


Dengan tergesa dan panik, Alby segera berlari keluar apartemen dan memasuki lift lalu menekan tombol paling atas.


Sembari menunggu di dalam lift, Alby mencoba menghubungi ponsel Devi namun tidak diangkat. Sepertinya Devi sengaja meninggalkan ponselnya di dalam kamar.


"Sialan! Apa yang kau lakukan di rooftop Dev?!" umpat Alby tertahan.


Alby takut Devi melakukan hal nekat di atas sana apalagi kondisi psikis Devi yang belum stabil. Belum lagi trauma yang dialaminya juga turut andil mengendalikan Devi membuat Alby semakin khawatir.


Brak!!


Alby membuka pintu rooftop dengan kasar dan matanya membulat sempurna begitu melihat Devi hendak melakukan sesuatu.


"Dev!!!!" teriak Alby sembari berusaha menghentikan Devi yang hendak melompat dari atas gedung.


*****

__ADS_1


__ADS_2