Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Seorang Adik?


__ADS_3

Alby menghentikan mobil hitamnya tepat di depan gerbang sekolah Devi. Sesuai perkataannya kemarin, mulai hari ini Alby lah yang akan mengantar jemput Devi setiap hari.


"Hari ini kau ada ekstrakulikuler tidak?" tanya Alby.


"Tidak," ucap Devi sembari melepas sabuk pengamannya.


"Aku akan menjemputmu," ujar Alby yang diangguki oleh Devi.


"Aku sekolah dulu ya om, dadah," pamit Devi sembari melambaikan tangannya pada Alby. Alby hanya diam sembari tersenyum tipis. Entahlah tiba-tiba saja Alby merasa seperti seorang ayah yang mengantarkan anaknya pergi ke sekolah.


Setelah mobil milik Alby tidak terlihat lagi, Devi pun segera melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya.


"Devi!!!!" teriak Arin sembari berlari menghampiri Devi dengan Gara yang berjalan santai di belakangnya.


"Kau masih hidup?" tanya Arin berlebihan bahkan Arin juga memutar-mutar tubuh Devi untuk mengecek kondisinya.


"Aku tidak akan mati semudah itu," balas Devi.


"Bukankah dia dokter yang memarahi kak Raden dan kak Fitra tempo hari ya?" tanya Arin.


"Iya. Namanya Alby. Aku memanggilnya om karena dia seusia kakakku. Dia sahabat dekat kak Sean," jawab Devi sembari kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya.


"Kak Raden? Kalian bertemu kak Raden?" tanya Gara sembari memicingkan matanya menatap Arin dan juga Devi.


"Iya, pacarnya Arin adalah temannya kak Raden," jelas Devi.


"Aku tidak bertanya tentang pacarnya Arin," ujar Gara acuh.


"Devi hanya memberitahumu. Kau pasti patah hati ya setelah tahu aku sudah punya pacar?" ejek Arin.


"Patah hati kepalamu! Aku hanya heran saja bukankah kak Raden pernah bilang dia tidak akan kembali ke Indonesia lagi?" ujar Gara.


"Memangnya kak Raden pernah bilang seperti itu?" tanya Devi penasaran. Gara pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya. Saat pesta tahun baru sebelum ia berangkat ke Amerika. Dia bilang padaku jika ia akan menetap di Amerika karena ayahnya dipindah tugaskan di sana," jelas Gara.


"Jadi apa yang membuat kak Raden kembali lagi ke Indonesia?" tanya Devi penasaran.


"Mungkin ada hati yang membuatnya kembali dan yang pasti itu bukan kau," goda Gara sembari menunuk Devi.


"Gara!!!" kesal Devi hendak menyerang Gara.


"Ah sudahlah tidak perlu dipikirkan. Sekarang ayo kita masuk kelas. Gara berikan tugas Kimiamu padaku, aku belum mengerjakannya," ujar Arin menghentikan Devi.


"Tidak mau!!" ujar Gara sembari berlari untuk menghindari amukan Arin dan juga Devi.


"Gara!!!"


*****


Sudah lebih dari tiga puluh menit Devi duduk menunggu kedatangan Alby. Alby bilang ia akan menjemputnya tapi nyatanya sampai sekarang ia belum datang. Arin dan juga Gara sudah pulang terlebih dahulu karena Devi melarang keduanya untuk menemaninya menunggu kedatangan Alby. Selain itu, Arin dan Gara juga masih belum berani jika harus bertemu dengan Alby setelah kejadian kemarin. Menurut Arin dan Gara, Alby sangat menyeramkan ketika ia marah.


Suasana sekolah sudah mulai sepi karena hampir semua siswa sudah meninggalkan sekolah dan hanya tersisa beberapa saja, itupun karena mereka ada kegiatan ektrakulikuler.


Dengan sabar, Devi menunggu kedatangan Alby. Devi berfikir mungkin Alby masih sibuk atau mungkin saat ini Alby masih berada di ruang operasi. Devi tidak marah jika itu demi menyelamatkan nyawa pasien dan bukankah itu sudah menjadi kewajiban bagi Alby?


"Dev."


Mendengar panggilan dari Alby, Devi pun langsung tersenyum senang. Ternyata Alby tidak lupa untuk menjemputnya.

__ADS_1



"Maaf, tadi ada kondisi darurat," ujar Alby.


"Tidak apa-apa om. Ayo kita pulang," riang Devi sembari berlari kecil menuju mobil Alby.


Alby menatap tingkah Devi sembari tersenyum. Tidak diragukan lagi, kini ia benar-benar seperti seorang ayah dengan seorang putri yang sangat menggemaskan. Tunggu dulu, apa baru saja Alby bilang jika Devi menggemaskan? Sudahlah, mungkin kalian salah dengar.


"Tanganmu," ujar Alby pada Devi.


Devi pun menengadahkan tangannya ke arah Alby dan Alby pun segera menyemprotkan handsanitizer ke tangan Devi agar tangan Devi steril dari kuman dan penyakit.


Selama di perjalanan, keduanya hanya saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Alby yang fokus mengemudi dan Devi yang sibuk bermain game di ponselnya.


"Om suka game?" tanya Devi tanpa mengalihkan perhatiannya dari gamenya.


"Tidak," jawab Alby.


"Sekali-kali kau harus bermain game om. Lihatlah wajah kakumu, Arin dan Gara bilang om Alby menyeramkan. Lebih baik om Alby bermain game untuk menghilangkan stress om, siapa tahu saja wajahnya om Alby menjadi sedikit menyenangkan," ujar Devi tanpa dosa.


"Jadi menurutmu aku tidak menyenangkan?" tanya Alby tersinggung.


"Sedikit," jawab Devi tetap asyik dengan gamenya.


"Berhenti bermain game. Kau seharusnya lebih banyak belajar dari pada bermain game. Kau kan sudah kelas tiga, sebentar lagi akan ada ujian. Kau tidak takut nilaimu jelek?"


"Om tenang saja. Seperti yang om katakan padaku jika sebenarnya aku ini pintar hanya saja kadang kepintaranku tidak kugunakan, nanti saat ujian datang aku pastikan semua kepintaranku akan aku gunakan semuanya saat itu juga," balas Devi sembari tersenyum membanggakan diri.


"Banyak alasan," cibir Alby.


Tidak berapa lama kemudian mereka akhirnya tiba di rumah sakit.


"Ke rumah sakit?"


"Iya. Ini masih jam kerjaku, aku harus bekerja sekarang. Ayo!" ajak Alby sembari menggandeng tangan Devi.


Devi pun mengekor dengan patuh saat Alby menggandengnya.


Saat memasuki rumah sakit, banyak perawat maupun petugas kesehatan lain termasuk dokter yang menyapa Alby menatap penasaran pada Devi. Karena selama ini Alby tidak pernah mengajak seorang perempuan datang ke rumah sakit bersamanya apalagi sampai menggandeng tangannya.


Pada saat melewati IGD, mata Devi tidak sengaja bertemu pandang dengan Raden. Sontak saja, Devi langsung melepaskan tangan Alby yang menggandengnya dan segera melambaikan tangannya ke arah Raden. Raden yang melihat kedatangan Devi dengan Alby pun sedikit terkejut namun ia tetap membalas lambaian Devi meskipun dalam hati ia bertanya-tanya.


"Kau ingin berkencan lagi di rumah sakit?" sindir Alby pelan.


"Tidak. Ini masih tahap pendekatan om belum jadian," ralat Devi.


Devi pun berjalan mendahului Alby dan menghampiri Raden dengan senyum semanis madu.


"Kak Raden mau pulang?" tanya Devi begitu melihat tas ransel yang tergantung di pundaknya.


"Iya Dev. Kebetulan hari ini kami diberi waktu untuk beristirahat, jadi aku mau pergi menemui ibuku. Hari ini ibuku ulang tahun," jawab Raden sembari tersenyum.


"Wah sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku ya kak," ucap Devi antusias.


"Ah iya Dev. Ehm ngomong-ngomong kau kenal dengan dokter Alby?" tanya Raden dengan suara yang sangat pelan agar tidak di dengar oleh Alby.


"Ehem!! Dev ayo pergi, kau tidak boleh menganggu waktu istirahat orang," tegur Alby sebelum Devi sempat menjawab.


Devi menatap jengkel ke arah Alby sebelum pada akhirnya ia berpamitan kepada Raden dan berjalan menyusul Alby.

__ADS_1


"Om kau merusak kebahagiaanku!" kesal Devi sembari melambaikan tangannya ke arah Raden tanpa memperhatikan jalannya.


Bugh!


"Argh!!"


Devi tidak sengaja menabrak punggung Alby yang tiba-tiba saja berhenti di depannya.


"Sakit om!" eluh Devi sembari memegang dahinya.


Alby pun mendekat sembari memeriksa dahi Devi apakah terluka atau tidak.


"Maaf," ujar Alby lembut sembari mengusap dahi Devi dengan pelan.



Devi menahan nafasnya, karena jarak Alby yang dekat seperti ini membuat Devi merasa tidak nyaman. Bukan karena apa-apa namun saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Ehem!" kode Devi agar Alby menghentikan aksinya.


"Kenapa? Kau haus?" tanya Alby yang dijawab gelengan oleh Devi. Om Alby sangat tidak peka!


"Masih sakit tidak?" tanya Alby.


"Tidak."


Alby pun kembali menggandeng tangan Devi menuju ke meja perawat. Di sana sudah ada beberapa perawat yang terlihat seperti menahan senyum. Rupanya mereka melihatnya.


Devi sedikit menyembunyikan tubuhnya di belakang Alby karena sedikit malu.


"Mia, bisa berikan data pasien infark miokard ruang 9 yang kita tangani tempo hari?"


"Ah ini dok," ujar Mia sembari memberikan sebuah berkas kepada Alby.


"Terima kasih," ucap Alby.


"Kau istirahat saja di ruang istirahatku. Nanti setelah aku selesai bekerja, aku akan menemuimu," ujar Alby. "Ini kuncinya," lanjut Alby sembari memberikan sebuah kunci pada Devi.


Devi pun mengangguk patuh sebagai jawaban.


Baru saja hendak beranjak, tiba-tiba Renata muncul dan langsung berdiri di hadapan Devi dengan tatapan menyelidik.


"Wah siapa ini? Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?" tanya Renata Alby.


"Pergilah ke ruanganmu terlebih dahulu, ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Alby.


"Tunggu dulu! Aku hanya ingin tahu siapa gadis manis ini?" tolak Renata.


Alby menghembuskan nafasnya pelan. Renata benar-benar keras kepala seperti biasanya. Alby pun memandang ke sejumlah perawat yang sedari tadi sibuk memperhatikannya. Begitu Alby menatap mereka, mereka langsung mengalihkan perhatiannya dan bersikap seolah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Dia adikku," jawab Alby pada akhirnya yang membuat Devi langsung menatap ke arah Alby.


"Om, sejak kapan aku jadi adikmu?" bisik Devi pelan.


"Adik?" ucap sebuah suara wanita lain yang berada di belakang Devi.


Devi mengamati keduanya sebelum akhirnya sebuah senyuman terbit di bibir manisnya.


"Om Alby benar-benar pemain wanita sejati," lirih Devi sembari mengacungkan jari jempolnya ke arah Alby.

__ADS_1


*****


__ADS_2