
Hari sudah mulai gelap dan cuaca sepertinya kurang mendukung. Hujan deras dan angin kencang menambah kesunyian di dalam ruang rawat Devi.
Devi berjalan kearah balkon untuk melihat derasnya air hujan dan kencangnya angin tanpa rasa takut.
Alby sedang pulang ke apartemen untuk mandi dan berganti pakaian, itupun Alby berhasil keluar dari ruang rawat Devi setelah ia membujuk Devi agar mau ditinggal sebentar dengan dalih akan membawa boneka Toto kesayangan Devi ke rumah sakit untuk menemaninya.
Devi mengamati pemandangan sekitar yang hanya diisi gedung-gedung yang berjajar rapi di sebelah bangunan rumah sakitnya. Gedung tersebut tidak terlalu tampak jelas karena derasnya air hujan.
Perlahan tangan Devi terulur untuk menyentuh dinginnya air hujan. Pikirannya kembali mengingat mimpi kecelakaannya. Sebenarnya apa maksud dari mimpi tersebut? Kenapa begitu melihat darah dan kecelakaan tadi siang, kepalanya terasa sakit dan mimpi buruk itu terputar kembali di ingatannya? Apa itu semua karena ia phobia darah? Tapi apa ada orang yang phobia terhadap darah bisa pingsan begitu melihat darah?
Devi pun merogoh ponselnya dan mengetikkan sesuatu di pencariannya. Selang beberapa detik muncul artikel tentang fakta phobia darah, Devi pun langsung membacanya dengan seksama.
'Jenis phobia darah terkadang dapat menyebabkan penurunan denyut jantung dan tekanan darah, sehingga sering menyebabkan penderitanya pingsan'
Devi mendesah pelan. Sepertinya ia pingsan karena phobia terhadap darah. Devi pun berjalan mundur dan menyandarkan dirinya pada dinding karena anginnya semakin kencang dan hujannya semakin deras bahkan kini rambut dan pakaian Devi sudah mulai basah terkena percikan air hujan, namun Devi sama sekali tidak berniat masuk ke dalam.
Alby yang saat itu baru saja tiba mendapati Devi tidak ada di atas brankarnya pun langsung panik. Matanya berpendar mencari keberadaan Devi lalu terhenti begitu melihat pintu balkon yang terbuka dengan sepasang sandal milik Devi yang berada di balkon.
Bugh!!
Mata Alby membulat sempurna begitu mendengar sesuatu yang jatuh dari ketinggian. Alby pun segera berlari menuju balkon dan langsung melihat ke bawah untuk memastikan suara yang ia dengar bukanlah Devi yang jatuh.
"Om?" panggil Devi bingung begitu melihat Alby seperti orang kesetanan. Nafas Alby memburu dan raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
"Ap...apa yang kau lakukan disitu?" tanya Alby dengan nafas tersengkal.
"Aku ingin melihat hujan," jawab Devi.
"Lalu kenapa kau meletakkan sandalmu disitu?!" tunjuk Alby dengan berusaha menormalkan kembali pernafasannya.
"Oh itu aku sengaja meletakkannya disana jika nanti om Alby datang, om Alby tahu aku ada disini," jelas Devi yang membuat Alby menghembuskan nafasnya pelan. Alby pun berjalan mendekat kearah Devi dan langsung memeluknya.
"Kau membuatku khawatir," jujur Alby sembari mengusap punggung Devi lembut. "Ayo kita masuk, hujannya sangat deras dan anginnya juga kencang," ajak Alby yang dituruti oleh Devi.
Setelah masuk ke dalam, Alby segera mengunci pintu balkon dan menyimpan kuncinya di dalam saku celananya. Takut jika Devi berjalan ke balkon dan berbuat sesuatu yang berbahaya.
"Sini biar kukeringkan rambutmu," ujar Alby sembari mengambil sebuah handuk dari dalam ranselnya.
Devi menurut dan segera duduk diatas brankarnya. Alby pun segera mendekat dan mulai mengeringkan rambut basah milik Devi.
"Pakaianmu juga basah. Tunggu sebentar aku akan meminta bantuan suster untuk mengganti pakaianmu," ujar Alby seraya bangkit berdiri.
Devi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Selang beberapa menit kemudian, suster datang dan membantu Devi mengganti pakaiannya.
"Dokter Alby, Devi sudah selesai berganti pakaian."
Alby berjalan masuk ke dalam ruang rawat Devi dan segera berterima kasih pada suster yang telah membantu Devi mengganti pakaiannya.
Setelahnya Alby kembali mengeringkan rambut Devi yang basah dengan handuknya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Alby.
"Aku baik-baik saja om, hanya sedikit mengantuk."
"Malam ini jangan tidur ya?" pinta Alby.
"Memangnya kenapa? Aku mengantuk sekali lho om."
"Besok kau kan akan melakukan tes EEG dan saat tes berlangsung kau harus dalam kondisi tertidur. Jadi malam ini kau tidak boleh tidur supaya besok saat tes berlangsung kau mengantuk dan tertidur."
"Itu tes apa? Sakit tidak om?" tanya Devi takut.
"Itu tes untuk mengetahui aktivitas listrik di otakmu. Kau kan baru saja jatuh dan kepalamu membentur aspal dan sedikit terluka. Takut terjadi cedera dan kelainan pada otakmu, aku meminta Raka untuk melakukan EEG padamu," tutur Alby lembut sembari terus mengeringkan rambut Devi. Alby terpaksa sedikit berbohong pada Devi karena tujuan utamanya meminta EEG pada Raka adalah Alby ingin mengetahui lebih detail amnesia yang dialami Devi.
"Pasti sakit sekali. Aku tidak mau om," tolak Devi.
"Tidak akan sakit. Percayalah padaku," bujuk Alby.
"Apa kepalaku akan dioperasi?" tanya Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tidak. EEG berbeda dengan operasi. Dokter tidak akan membedah kepalamu, mereka hanya menempelkan elektroda saja. Bahkan EEG tidak akan menimbulkan rasa sakit sedikitpun. Kau seperti tidur biasa," jelas Alby.
Devi pun terdiam dan berfikir. Apakah ia harus melakukan tes itu hanya karena ia pingsan dan kepalanya membentur aspal?
"Jangan takut, aku akan menemanimu," hibur Alby sembari mengelus rambut Devi dengan lembut.
"Om Alby kan bekerja."
"Aku sudah meminta ijin untuk menemanimu melakukan tes EEG besok," ujar Alby.
"Baiklah, kalau begitu aku mau nonton variety show boyband kesukaanku biar tidak mengantuk," ujar Devi.
"Aku akan memutarnya untukmu," jawab Alby.
"Mana Totoku?"
"Ada di sana, akan kuambilkan."
*****
Sampai keesokan harinya, Devi benar-benar tidak tidur. Bagian bawah matanya tampak hitam seperti mata panda dan matanya terasa pedas sekali karena terus menonton televisi yang menampilkan variety show kesukaannya.
Devi menoleh ke samping dan mendapati Alby yang tengah tertidur dengan kepala yang ia sandarkan pada brankar Devi bagian samping. Alby tampak tidur sangat nyenyak, mungkin ia kelelahan karena menemani Devi begadang.
Tangan Devi pun terulur untuk membelai rambut Alby dengan lembut. Hatinya terasa menghangat jika mengingat perlakuan Alby padanya. Rasa khawatir Alby padanya membuatnya sangat bahagia. Andai saja Devi terlahir sedikit lebih cepat, mungkin sekarang Devi sudah merengek pada Sean untuk segera dijodohkan dengan Alby. Astaga kenapa akhir-akhir ini Devi selalu memikirkan tentang Alby bukannya Raden? Bukankah orang yang disukai Devi adalah Raden?
Devi pun menampar pipinya dengan sedikit keras untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Plak!
"Aww!!" pekik Devi begitu tamparannya terasa sedikit keras.
Pekikan Devi membuat Alby terbangun dari tidurnya. Devi yang melihat Alby terbangun pun merasa bersalah padanya.
"Hustt.... Om Alby tidur lagi saja," ucap Devi sembari membelai lembut kepala Alby.
"Maaf aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu om," ujar Devi merasa bersalah.
"Tidak masalah. Lagipula ini sudah pagi. Aku pergi mandi dulu," pamit Alby seraya bangkit menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat kemudian, Alby sudah rapi dengan pakaian dokternya.
"Kenapa om Alby memakai pakaian itu? Katanya om Alby akan menemaniku?" tanya Devi bingung.
"Aku akan menemanimu tapi setelahnya aku harus tetap bekerja. Aku sudah meminta Laudya untuk menemanimu nanti saat aku sedang bekerja."
"Tidak mau!" tolak Devi.
"Kenapa? Laudya sudah setuju untuk menjagamu lho."
"Aku tidak mau om! Aku sendiri saja berani, tidak perlu ditemani tante Laudya," rengek Devi.
Belum sempat Alby menjawab, Raka sudah masuk terlebih dahulu ke dalam ruang rawat Devi dan hal itu membuat Devi sedikit takut.
"Hai Devi, bagaimana kabarmu? Sepertinya kakakmu benar-benar melarangmu untuk tidur ya?" sapa Raka ramah.
Devi hanya tersenyum canggung sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tidak perlu sungkan padaku. Aku teman baik kakakmu Alby, jadi kau santai saja padaku dan anggap aku kakakmu juga."
"I..iya dok," jawab Devi tergagap karena sekarang ia sedikit merasa takut untuk melakukan tes EEG tersebut. Oh ayolah kemana keberaniannya semalam? Kenapa ia jadi ketakutan bahkan hanya dengan melihat Raka yang notabene adalah dokternya?
"Ada apa?" tanya Alby lembut begitu mendengar suara Devi yang tergagap.
"Aku takut," jujur Devi.
"Tidak perlu takut, aku akan menemanimu. Percaya padaku, itu tidak akan sakit," ujar Alby menenangkan Devi.
Setelahnya, Devi pun dibawa ke ruang untuk pemeriksaan EEG. Begitu melihat banyaknya alat yang berada di dalam ruangan tersebut membuat Devi ketakutan.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu disini, jangan takut," ujar Alby menenangkan Devi. Alby pun menggenggam tangan Devi seolah ia menepati janjinya untuk tidak meninggalkan Devi sendirian.
"Aku takut om," ujar Devi sembari menangis.
"Tidak apa-apa. Ini tidak sakit," ujar Alby menenangkan Devi namun bukannya tenang, Devi malah semakin menjadi.
"Aku tidak mau!!" tolak Devi sembari bangkit berniat untuk lari namun Alby berhasil menahannya.
"Dev, dengarkan dulu! Kumohon tenanglah," ujar Alby mencoba bersabar.
"Lepaskan aku om, aku tidak mau!! Aku takut!!" teriak Devi meronta-ronta minta dilepaskan bahkan kini Raka juga ikut menenangkan Devi.
"Om aku mau pulang!!" tangis Devi sembari memukul bahu Alby.
"Iya, kita akan pulang tapi setelah kau menyelesaikan pemeriksaan ini oke?"
"Aku janji akan melakukannya dengan cepat. Ini tidak akan sakit sama sekali," ujar Raka ikut menenangkan Devi.
Entahlah tiba-tiba saja begitu ia memasuki ruangan penuh alat medis seperti itu, sekelebat bayangan ia pernah berada di tempat seperti itu kembali berputar memenuhi kepalanya. Bayangan saat ia meronta-ronta minta dilepaskan oleh seseorang yang memakai pakaian serba hitam juga turut andil membayanginya.
'Lepaskan aku!!! Tolong lepaskan aku!!!'
'Untuk apa aku melepaskanmu? Bukankah kau ingin pergi menyusul kedua orangtuamu?'
'Aku tidak mau!'
'Hei kau cepat tahan tubuh gadis kecil ini, aku ingin sekali mengambil seluruh organnya dan akan kujual! Aku pasti akan kaya raya!! Ini adalah balasan setimpal dari apa yang dilakukan Banyu padaku hahaha!'
"Lepaskan aku," lirih Devi dengan air mata yang terus saja mengalir deras menuruni pipinya.
Alby sebetulnya sedikit kasihan dan hendak merubah keputusannya begitu melihat Devi yang ketakutan saat akan menjalani pemeriksaan tersebut namun ia sudah kepalang basah sekarang jadi satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah miminta Devi untuk tenang agar pemeriksaan EEG tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Begitu merasa cekalan tangan Alby di pundaknya mulai mengendur, Devi pun segera berontak hendak bangkit dan turun dari brankarnya berniat melarikan diri namun Devi lupa jika di punggung tangan kirinya masih terdapat infus disana. Alhasil begitu infus tersebut tertarik, infusnya pun terlepas dan darah langsung mengucur dari punggung tangannya.
Alby yang tanggap pun langsung menekan tangan kiri Devi dengan tangan kirinya tepat di lukanya untuk menghentikan pendarahannya dan tangan kanannya langsung menutup kedua mata Devi lalu menarik Devi ke dalam pelukannya.
Alby tahu jika Devi melihat darah barang setetes saja maka ingatan tersebut akan muncul kembali dan bisa saja ingatan-ingatan yang berhubungan lainnya juga dapat kembali. No! Alby tidak ingin ingatan mengerikan itu kembali!
"Hustt tenanglah. Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu," ujar Alby lembut sembari mencium puncak kepala Devi.
Raka yang mendengarnya pun meminta penjelasan maksud Alby melalui gerakan tangannya. Alby pun memberi isyarat agar Raka menuruti Devi saja karena sepertinya ada sesuatu yang membuat Devi ketakutan. Bukankah kemarin malam Devi mau-mau saja saat diberi tahu Alby jika ia akan melakukan tes EEG? Lalu kenapa sekarang Devi malah ketakutan?
"Aku tidak mau om," cicit Devi disela tangisnya.
"Iya. Yasudah kalau tidak mau aku tidak akan memaksamu," ujar Alby menenangkan Devi. Alby pun meminta bantuan Raka agar menghentikan darah yang mengalir di punggung tangan Devi yang terluka akibat infus yang ketarik paksa olehnya tadi. Alby juga meminta Raka untuk membersihkan darah yang menempel di tangannya sampai bersih agar Devi tidak melihat adanya darah setetes pun.
Devi masih saja bergetar ketakutan dalam pelukan Alby, bahkan Devi tidak sadar dan merasakan sakit begitu Raka mengobati luka di punggung tangannya.
"Om ayo pulang," lirih Devi.
"Iya, ayo kita pulang," jawab Alby.
"Ayah, aku mau gendong," ujar Devi tiba-tiba yang membuat Alby sedikit terkejut namun setelahnya ia teringat percakapannya dengan Devi dulu saat Alby menggendong Devi yang kakinya terkilir. Alby pernah mengatakan pada Devi jika Devi sedang sedih, Devi dapat meminta Alby untuk menggendongnya dan mengajaknya jalan-jalan seperti ayahnya.
"Kalau begitu naiklah. Ayo kita pergi jalan-jalan," ujar Alby melepaskan pelukannya kemudian ia berjongkok di hadapan Devi.
*****
Halo guys ada yang penasaran nggak kenapa Loey langsung menggunakan EEG untuk mendiagnosis amnesia yang di derita Devi alih-alih melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan pemeriksaan neurologis terlebih dahulu?
Jadi gini sebenarnya tanpa melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis terlebih dahulu, Alby kan sudah tahu dari Sean jika Devi memang sudah mengalami amnesia dan jenis yang dialami Devi adalah amnesia disosiatif. Tapi Alby seperti tidak puas dengan jawaban Sean yang terkesan tidak ingin menjelaskan lebih jauh mengenai amnesia yang diderita Devi. Oleh karena itu Alby ingin memastikan hal itu sendiri melalui tes EEG tersebut.
Dan pemeriksaan fisik menyeluruh dan neurologis adalah tahap awal untuk mendiagnosis sedangkan EEG adalah untuk memperkuat hasil diagnosis tersebut.
Notes : kalau ada yang salah mohon koreksinya ya, Loey hanya mengandalkan google sebagai referensi😊
Tbc
__ADS_1