Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Akhir Dari Dendam


__ADS_3

Alby duduk di samping tubuh Devi yang sekarang sedang terbaring lemah di ranjang dengan tatapan sendu. Ada rasa penyesalan di dalam dadanya begitu melihat Ganendra berhasil melukai Devi. Jika saja ia membawa Devi ke rumah sakit mungkin Ganendra tidak akan menemukan Devi dan berakhir melukainya.


Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya Alby menyesal sekarang.


Alby menghela nafasnya sejenak. Ia ingat kata terakhir Devi yang gadis itu ucapkan sebelum kehilangan kesadarannya. Devi berkata ia ingat semuanya.


Apa maksud perkataannya? Apa Devi sudah mendapatkan kembali ingatannya?


"By."


Panggilan Renata membuat Alby tersadar dari lamunannya.


"Ada seseorang yang ingin menemui Devi."


"Siapa?" tanya Alby bingung.


"Sekretaris Sean."


"Sekretaris Sean? Sejak kapan Sean memiliki seorang sekretaris?"


Renata mengangkat kedua bahunya tidak tahu karena ia sendiri juga bingung sejak kapan Sean memiliki seorang sekretaris.


"Kau sudah mau pulang?" tanya Alby.


"Belum, hanya saja aku ingin pergi ke kafe sebelah untuk beli es krim, ada apa? Aku bisa membatalkan niatku kalau kau mau."


"Bisa jaga Devi sebentar selagi aku pergi menemui sekretaris Sean? Kurasa aku tidak bisa meninggalkannya sendirian." Alby tidak mungkin meninggalkan Devi sendirian apalagi di rumah sakit ini ada Raden yang sewaktu-waktu bisa mencelakai Devi.


"Oke, pergilah. Aku akan menjaganya di sini."


Renata menyanggupi permintaan Alby. Ia pun duduk di samping Devi dan menjaganya sampai Alby kembali. Belum ada satu menit Renata duduk, seorang suster memberitahu Renata jika ada pasien yang dalam kondisi darurat. Dengan segera Renata pun segera pergi dan meninggalkan Devi sendiri.


*****


Seorang pria berpakaian serba hitam dan masker hitamnya lengkap dengan topinya tengah berjalan memasuki rumah sakit. Di dalam saku jaket hitamnya terdapat suntik yang berisi cairan racun jenis Arsenik untuk membunuh targetnya kali ini.


Tanpa ragu sedikitpun, pria tersebut segera masuk ke dalam ruang inap Devi. Ia melihat gadis itu masih tertidur nyenyak dan tampak damai.


Rupanya ia belum siuman.


Dengan langkah pelan, pria tersebut berjalan mengelilingi brankar dan berhenti tepat di samping Devi.


Ditatapnya wajah damai Devi dengan dalam lalu pandangannya lari ke arah perut Devi yang terluka. Ia akui saat ini ia memiliki perasaan pada Devi. Itulah kenapa selama ini ia tidak melakukan pembunuhan Devi dengan benar.


Untuk seperkian detik ia mulai ragu untuk menyuntikkan cairan tersebut ke tubuh sang gadis, namun ia buru-buru melenyapkan perasaan tak kasat mata tersebut dan kembali mengingat betapa kejamnya ayah Devi pada keluarganya.


Raden merogoh saku jaketnya dan mengambil suntik tersebut. Ia harus cepat sebelum seseorang memergoki aksinya.


Selama ini Raden memilih cara paling cepat untuk membunuh Devi agar gadis tersebut tidak terlalu merasakan sakit dalam waktu yang lama. Itulah mengapa ia marah saat mengetahui Ganendra membunuh Devi dengan cara melukainya sedangkan ia hanya menggunakan seekor siput yang racunnya bahkan tidak terasa sakit di tubuh namun mematikan manusia dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


Ketika Raden hendak menyuntikkan cairan dalam infus Devi, tiba-tiba saja ia merasa seseorang tengah menarik ujung jaketnya membuat Raden terperanjat kaget.


"Kak Raden," panggil Devi lemah dengan tatapan yang mengarah ke arah tangan Raden yang tengah memegang suntik.


"Ka...kau sudah bangun?" tanya Raden gugup.


Apa Devi tahu kalau aku akan menyuntikkan racun ini padanya?


"Kak Raden ingin membunuhku ya?"


Devi tahu!!


"Aku sudah ingat semuanya," lanjut Devi sembari menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Apa yang kau ingat?" tanya Raden dingin.


Raden mengurungkan niatnya dan menyimpan suntikan tersebut di saku jaketnya kembali. Raden memilih mendengarkan penjelasan dari orang yang dicintainya terlebih dahulu baru ia akan berpikir langkah apa yang harus ia ambil.


"Sejak awal ini adalah salah ayahku bukan ayah kakak. Ayah menjalankan bisnis illegal tersebut tanpa sepengetahuan keluarganya. Dan soal mengambil ginjal ibu kak Raden-"


Devi menahan kalimatnya. Nafasnya tercekat dan dadanya terasa sesak jika harus kembali mengingat kejadian tersebut.


"Soal ayah yang mengambil ginjal ibu kak Raden, aku mengetahuinya."


Raden terkejut mendengar pengakuan Devi. Jadi Devi melihat ayahnya melakukan hal biadab seperti itu?


"Lalu?"


Flashback on


Devi memberenggut kesal begitu ia tiba di rumah. Bagaimana tidak, pak Santo-sopir pribadinya mengancam akan memberitahu ayahnya jika ia berkelahi 'lagi' hari ini. Ini memang bukan pertama kalinya Devi berkelahi dengan teman sekolahnya dan ayahnya juga bilang padanya jika ia berkelahi lagi, ayahnya tidak akan mau membelikan es krim Devi lagi begitu seterusnya.


"Pokoknya pak Santo jangan memberitahu ayah!!" kesal Devi seraya turun dari mobil sembari berlari menuju ruang kerja ayahnya lebih dulu.


Ia harus menemui ayahnya lebih dulu agar pak Santo tidak bisa mengadukan perbuatannya pada ayahnya.


Namun begitu ia tiba di depan ruang kerja ayahnya, ia berhenti. Ia dapat melihat dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, di sana ada kakaknya.


Devi yang saat itu ingin bergabung bersama mereka pun mengurungkan niatnya begitu mendengar bentakan keras Sean pada ayahnya.


"Kenapa ayah tega melakukan itu?!! Mengambil ginjal dari istri orang kepercayaan ayah sendiri apakah menurut ayah itu hal benar?!!! Di mana hati ayah?!!!" murka Sean menatap tajam Banyu.


"Kau tau apa soal ayah?!! Berhentilah ikut campur urusan ayah!" balas Banyu dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Aku tahu semuanya tentang ayah! Ayah menjalankan bisnis perdagangan manusia untuk diambil organnya kan?!"


Devi langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya karena saking terkejutnya. Jadi selama ini ayahnya memiliki bisnis mengerikan seperti itu?


"Tidak akan!! Pikirmu selama ini kau menikmati fasilitas mewah ini uang dari mana?!!! Ayah hanya ingin membahagiakan anak-anak ayah!!" balas Banyu marah.


"Tapi tidak dengan merebut kebahagiaan orang lain yah!!! Jika semua fasilitas yang kudapat ini dari uang haram ayah, aku tidak mau menerimanya. Akan kukembalikan semua uang dan barang-barang yang pernah ayah belikan untukku dan Devi. Aku menyatakan keluar dari keluarga Wardhana."


Devi buru-buru pergi bersembunyi begitu Sean beranjak keluar dari ruang kerja ayahnya. Di tatapnya punggung Sean yang ternyata sedang munuju kamarnya. Devi mengikuti Sean dari belakang.


"Kakak!" panggil Devi dengan raut wajah sendu.


Sean berbalik dan langsung tersenyum manis ke arah adik perempuannya itu.


"Kau sudah pulang, lho kenapa wajahmu?" tanya Sean sembari menyentuh luka di pipi Devi. "Kau berkelahi?"


"Kakak mau ke mana?"


"Kakak mau belajar di luar negeri. Ini kartu kredit dari kakak. Gunakan ini untuk membeli semua keperluanmu, jangan pakai uang ayah."


"Kenapa?" lirih Devi.


"Tidak apa-apa. Uang ayah tinggal sedikit jadi kakak harus membantunya. Jadi gunakan kartu ini saja dan jangan menghabiskan uang ayah. Sudah ayo kita obati lukamu dulu."


Dengan menyimpan rahasia itu rapat-rapat, Devi pun mengikuti Sean dan membiarkan Sean mengobati lukanya.


Flashback off.


"Kak Sean menjadi jaksa hanya karena ingin memberi pelajaran pada ayah agar menghentikan bisnis tersebut. Kakak ingin memenjarakan ayah, namun sebelum itu terjadi ayah kak Raden sudah berhasil membunuh ayah dan ibu."


Tangan Raden mengepal erat mendengar penuturan Devi. Jadi Banyu sebenarnya mendapat perlawanan dari putranya sendiri karena bisnis itu dan belum sampai Banyu mendapatkan hukumannya, ayahnya sudah membunuhnya lebih dulu.


"Aku juga tahu, om Brama juga telah membunuh ibuku. Tapi kak, kak Sean memenjarakan ayah kakak bukan karena kasus kematian ayahku melainkan ibuku. Kak Sean tidak menuntut atas kematian ayahku karena ia tahu kejahatan apa yang telah dilakukan ayah pada ibu kakak. Bahkan kak Sean juga menutup-nutupi kasus kematian ayah kami dari polisi dan mengatakan jika ayah kami meninggal karena bunuh diri. Tapi satu nyawa dibalas dua nyawa membuat kak Sean tidak terima. Ibu kami tidak tahu permasalahan ini, ibu hanya korban. Itulah mengapa kakak memenjarakan ayah kak Raden."

__ADS_1


Raden menghela nafasnya kasar. Ia menatap Devi dengan pandangan yang sulit dibaca. Matanya berair namun sebisa mungkin Raden menahannya.


"Keluaga kami memiliki sistem babat tuntas. Siapapun yang mencari masalah dengan keluarga kami, maka mereka akan dibunuh sampai keturunannya habis tak tersisa," ujar Raden pada Devi.


Devi menatap Raden dengan mata berkaca-kaca. Orang yang disukainya kini ingin membunuhnya. Ada rasa sakit yang teramat dirasa Devi di ulu hatinya begitu menatap mata Raden.


"Kalau begitu tuntaskan tugas kakak. Bunuhlah aku dan hiduplah bahagia. Aku akan menulis surat wasiat agar orang lain termasuk om Alby mengira aku mati bunuh diri. Bisa minta tolong berikan aku kertas dan pulpen di atas meja itu kak?"


Raden diam bergeming.


"Aku hidup menderita begitu ayahku di penjara. Aku dirundung teman-temanku dan dikatai aku anak pembunuh. Apakah kau tahu?" tanya Raden dengan nada bergetar.


Devi mengangguk lemah.


"Aku minta maaf," lirih Devi.


"Kenapa kau minta maaf? Apa kau merasa bersalah?!" tanya Raden cepat.


Devi terdiam.


"Aku tidak punya teman sampai kalian datang dan mengajakku berteman."


Devi mendongakkan kepalanya ke arah Raden dan menatap Raden serius.


"Ku dengar dari Arin jika kalian berteman denganku karena kau yang mengajak mereka berteman denganku. Itu karena aku menolongmu saat kau terjatuh dari ayunan. Apa benar?"


Devi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Saat itu untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang anak kecil dan cengeng sepertimu. Aku menyukaimu tapi perasaanku terhalang dendam keluargaku. Aku diminta untuk membunuhmu padahal dalam hatiku aku ingin melindungimu. Itu benar-benar menyiksaku," tangis Raden. "Dendam keluargaku tidak akan terbalaskan sebelum kau mati."


"Ka..kalau begitu lakukan saja kak. Aku tidak apa-apa dan aku menerima semua yang telah kualami selama ini bahkan kecelakaan disengaja itu aku juga akan melupakannya karena aku tahu akar permasalahan ini dimulai oleh ayahku sendiri," ujar Devi sembari meremas kedua tangannya.


"Dendam keluarga kita harus segera diakhiri."


Raden mendekatkan wajahnya ke arah Devi. Devi menatap mata Raden dengan intens begitupun juga dengan Raden. Tangan kanan Raden membelai lembut wajah Devi.


"Tapi tidak dengan membunuhmu," lanjut Raden.


Devi mengernyitkan dahinya bingung dengan perkataan Raden.


Jika tidak membunuhku lalu dengan cara apa?


"Jadilah pacarku. Kita akhiri dendam ini dengan hubungan kita. Aku mencintaimu dan kita tidak ada hubungannya dengan pusaran dendam ini. Seharusnya dendam ini sudah berakhir sejak kematian ayahmu. Kau tenang saja ayahku bukan orang yang keras dan jahat, ia orang yang baik. Aku yakin aku bisa membujuknya. Mengenai Anggara Inc. aku tidak ada masalah dengan itu menjadi milikmu. Jadi bagaimana? Kau mau tidak jadi pacarku?"


Setelah mendengar jawaban Devi, Raden pun mencium bibir Devi dengan lembut. Devi hanya diam menerimanya dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Tanpa mereka berdua sadari, Alby yang saat itu baru saja kembali langsung terdiam dan menghentikan langkahnya begitu melihat Raden berciuman dengan Devi.


Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan yang kini di rasakan Alby. Dadanya terasa sesak begitu melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Perasaan macam apa ini?!


Alby pun segera berbalik dan kembali menutup pintu.


"Aku harus meminta Renata untuk memeriksaku, dadaku terasa sesak," ujar Alby bergegas menemui Renata.


*****


Kira-kira Alby sakit apa ya?


Oh iya, Loey pengen banget mengakhiri dendam ini dan pengen banget liat Alby sama Devi uwu-uwuan. Mangkanya gini aja kali ya akhir dari dendam keluarga Raden sama Devi? Atau malah dilanjut lagi dendamnya?


Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya;)

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2