Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Bertemu Bima


__ADS_3

Devi yang saat itu sedang asyik mengobrol dengan Alby pun menghentikan tawanya dan melambaikan tangannya ke arah Abimanyu begitu melihat kehadirannya. Rupanya urusan Abimanyu dengan direktur sudah selesai.


"Om Abi!!" panggil Devi riang sembari melambaikan tangannya ke arah Abimanyu.


"Jangan memanggilnya om atau semua orang akan tahu kalau kau bukan adikku," tegur Alby pelan. "Kau harus memanggilnya ayah."


"Ayah!" ralat Devi sembari menatap ke arah Alby yang dibalas anggukan oleh Alby.


"Wah rasanya senang sekali mendengar kamu memanggilku ayah," ujar Abimanyu seraya tertawa lebar.


"Ini karena kebohongan om Alby yang mengaku-ngaku sebagai kakakku di hadapan semua orang di rumah sakit ini," bisik Devi begitu Abimanyu sudah mendekat ke arahnya.


Abimanyu menanggapinya dengan tawa kecilnya lalu detik selanjutnya ia memasang wajah serius yang membuat Devi sedikit khawatir.


"Dev bisa tunggu di sini sebentar saja? Ada yang ingin om katakan pada Alby," ujar Abimanyu seraya tersenyum.


Meskipun sedikit curiga dengan perubahan ekspresi wajah Abimanyu yang terlihat seperti menahan emosi, namun Devi tetap menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Abimanyu dan Alby pun berjalan menjauh ke arah ruangan Alby meninggalkan Devi sendirian.


"Kalian di sini rupanya," ujar Laudya yang langsung merangkul Devi dari belakang membuat Devi tersentak kaget.


"Astaga kaget aku!!" pekik Devi begitu merasakan tangan seseorang merangkulnya tiba-tiba. Setelah mendapati jika Laudya-lah yang merangkulnya, Devi malah memutar bola matanya malas.


"Tante Laudya jangan datang dan merangkulku tiba-tiba seperti itu! Untung saja aku tidak memiliki penyakit jantung, jika aku punya aku pasti sudah mati terkena serangan jantung. Dan kehadiran tante Laudya yang tiba-tiba seperti itu membuat tante Laudya terlihat sama seperti jelangkung," tegur Devi tanpa dosa yang membuat Laudya tersinggung.


"Kau sadar tidak kalau bicaramu semakin hari semakin kurang ajar?" tanya Laudya tepat di telinga Devi membuat Devi risih dan langsung melepaskan rangkulan Laudya saat itu juga.


"Aku sadar, kalau begitu aku minta maaf. Aku permisi dulu ya tante Laudya," pamit Devi sopan dan bahkan ia membungkukkan badannya secara berlebihan yang malah membuat Laudya menggeram marah.


Tanpa basa-basi lagi Laudya langsung mencekal lengan Devi dengan kasar.


"Aww sakit tante!"


"Kuperingatkan padamu, aku tidak begitu murah hati untuk berbagi sesuatu hal yang kumiliki termasuk Alby. Jadi kuharap kau tahu batasanmu," peringat Laudya dengan nada rendah.


Bukannya takut, Devi malah menatap Laudya dengan berani.


"Jangan berbicara seperti itu tante, tante membuat sifat asli tante terlihat," balas Devi sembari melepas paksa cekalan Laudya. "Oh iya tante, sebenarnya pekerjaan tante Laudya itu apa? Kenapa tante selalu berada di rumah sakit bukannya menjalani pemotretan? Atau jangan-jangan tante Laudya sedang ada pemotretan di kamar mayat ya?"


Setelahnya Devi bergegas pergi dari hadapan Laudya dan memilih menunggu Abimanyu di parkiran saja karena Devi takut jika tiba-tiba tangan Laudya mendarat ke arahnya karena perkataannya.


Laudya menatap kepergian Devi dengan penuh amarah. Gadis SMA itu sangat pandai berbicara hingga setiap mendengar perkataannya Laudya ingin membekap mulutnya!


*****


"Ayo Dev, kita harus segera pergi," ajak Abimanyu menginterupsi Devi yang sedang berjongkok di depan mobil Alby dengan tangan yang seolah menggambar lantai.


"Lho sudah selesai?" tanya Devi bangkit dan melihat ke arah Alby.


Devi melihat raut wajah Alby yang berbeda dari sebelumnya. Alby tampak menunduk lesu dan tatapan matanya terlihat sendu.


Apa om Alby dimarahi ayahnya? Kenapa jadi tidak bersemangat begitu?

__ADS_1


"Dev," panggil Abimanyu yang membuat Devi tersadar.


"Om aku pergi ke kantor polisi dulu ya? Nanti malam om Alby pulang tidak?" pamit Devi.


"Kau berani sendirian?" tanya Alby mengabaikan pertanyaan Devi.


"Sendirian apanya? Kan ada om Abi," jawab Devi.


"Bagaimana jika kau ketakutan melihat orang asing?" tanya Alby lesu yang membuat Devi yakin dengan pikirannya.


"Aku baik-baik saja om. Om Alby ada masalah ya? Apa om Alby baru saja dimarahi om Abi? Apa kalian berdua bertengkar?" bisik Devi pada Alby.


"Tidak. Ya sudah kalau tidak takut, pergilah. Aku harus segera kembali bekerja. Jika nanti malam aku belum memberimu kabar maka tandanya aku ada pasien dan tidak pulang ya?"


"Iya," jawab Devi.


Setelahnya Devi segera masuk ke dalam mobil diikuti langkah Alby yang mulai menjauh untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Devi menatap punggung Alby dengan sendu. Ini tidak seperti Alby yang biasanya. Lalu Devi menoleh ke samping dan mendapati rahang Abimanyu yang mengeras menahan amarah. Sepertinya memang ada suatu hal yang tidak beres dengan keduanya.


Apa ini karena direktur rumah sakit tempat om Alby bekerja?


Devi ingin sekali bertanya pada Abimanyu namun ia tidak berani. Sebagai orang luar, Devi cukup sadar diri untuk tidak ikut campur dalam permasalahan mereka.


*****


Begitu tiba di kantor polisi, Devi langsung diminta oleh salah seorang petugas untuk mengikutinya ke sebuah ruangan. Abimanyu sempat menawarkan diri untuk menemani Devi karena ia takut Devi ketakutan sendirian apa lagi ia bertemu dengan orang asing, namun Devi menolak. Devi meyakinkan Abimanyu jika ia baik-baik saja pergi sendirian.


Kini di hadapan Devi ada seorang polisi wanita yang bersiap untuk mencatat dan merekam semua kesaksian Devi. Setelah diberi interupsi, Devi pun mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi mulai saat ia datang ke rumah Ganendra hingga penyerangan itu terjadi.


"Sudah selesai?" tanya Abimanyu.


"Sudah om," jawab Devi disertai senyuman lebarnya.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Oh iya, sebelum pulang kita pergi cari restaurant dulu kamu kan belum makan siang," ujar Abimanyu.


Saat akan menjawab perkataan Abimanyu, tiba-tiba seseorang tidak sengaja menabrak bahu Devi yang membuat Devi hampir terjatuh kalau Abimanyu tidak menangkap tubuhnya.


"Aduh saya minta maaf, saya tidak sengaja menabrak putri anda," ucap pria paruh baya tersebut.


Deg!


Devi terdiam.


Devi jelas tahu siapa pria yang baru saja menabraknya itu. Dia adalah orang yang dulu pernah menculiknya untuk diambil organ dalamnya. Untuk apa pria itu datang ke kantor polisi? Dan kenapa dia tidak berada dalam penjara? Bukankah kakaknya-Sean bilang sudah memenjarakan pelakunya?


Detik berikutnya ia tersadar, pelaku pembunuhan ayahnya ada dua orang. Karena Devi mengalami amnesia, Sean hanya mengetahui jika pelaku pembunuhannya hanya ada satu orang yaitu Brama.


"Sial!" umpat Devi dalam hati.


"Dev, kamu tidak apa-apa?" tanya Abimanyu begitu melihat Devi yang mulai bergetar ketakutan.


"Dek kamu tidak apa-apa? Maaf aku tidak sengaja," ujar pria tersebut hendak mengulurkan tangannya ke arah Devi namun Devi langsung menepisnya.

__ADS_1


"Jangan sentuh saya!!!"


Memori kelamnya kembali terputar di kepalanya. Memori saat ia berencana membalaskan dendam kematian ayah dan ibunya dengan mendatangi kediaman Anggara sendirian yang malah membuatnya tersudut dan berakhir disekap.


Devi ingat bagaimana ketakutannya ia saat pria itu mengikat dan menahan tubuhnya sedangkan salah seorang anak buahnya hendak mengoperasinya dalam kondisi sadar untuk diambil organ tubuhnya.


Beruntung saat itu ikatannya terlalu lemah atau malah memang pria itu sengaja tidak mengikat talinya kuat-kuat hingga Devi berhasil kabur.


Devi pikir hidupnya akan selamat begitu ia masuk ke dalam mobil dan ada seseorang yang menolongnya, namun pada kenyataannya seseorang tersebut malah menabrakkan mobilnya dengan sebuah truk besar yang membuatnya mengalami amnesia dan seseorang tersebut adalah Bima Anggara, paman Raden.


"Aku minta maaf, aku tidak sengaja," ujar Bima seraya berjalan mendekat ke arah Devi.


"Jangan mendekat!!" panik Devi seraya bersembunyi di balik punggung Abimanyu.


Abimanyu yang paham dengan kondisi Devi pun segera meminta Bima agar meninggalkan mereka saja.


"Maaf, bisakah anda meninggalkan kami? Putri saya sangat tidak nyaman dengan anda," usir Abimanyu terus terang.


"Ah maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya merasa bersalah saja karena telah menabraknya," ujar Bima dengan menekankan kata 'menabraknya' di akhir kalimatnya. "Kalau begitu saya pamit dulu."


Setelah kepergian Bima, Abimanyu segera membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Devi yang kini sudah menangis ketakutan.


"Dev, kamu tidak apa-apa?" tanya Abimanyu khawatir.


"Om," panggil Devi seraya memegang ujung kemeja Abimanyu.


"Iya? Ada apa? Katakan padaku apa yang kamu rasakan. Apa kamu mengenalnya?" ujar Abimanyu lembut.


Belum sempat Devi mengatakan apa-apa pada Abimanyu, suara salah seorang polisi mengejutkan mereka.


"Tolong segera panggil ambulance!! Tahanan nomor 34 terluka parah akibat bunuh diri!!!"


Devi dan Abimanyu sangat terkejut mendengar hal itu. Abimanyu ingin menolongnya namun ia teringat bagaimana keadaan Devi saat ini. Ia menoleh ke arah Devi dan gadis itu menatapnya dengan bekas aliran air mata yang tercetak jelas di kedua pipinya.


"Om Abi pergi saja, aku tidak apa-apa," ujar Devi seraya menghapus jejak air matanya.


Abimanyu diam bergeming namun setelah Devi benar-benar meyakinkan dirinya, Abimanyu pun segera bergegas untuk menyelamatkan tahanan yang melakukan bunuh diri tersebut.


"Saya seorang dokter, biarkan saya melihat kondisinya," ujar Abimanyu seraya menunjukkan id cardnya pada polisi wanita yang berteriak meminta pertolongan tadi. "Tapi sebelum itu saya minta tolong pada anda. Bisakah anda menjaga putri saya sebentar selagi saya memeriksa pasien? Putri saya sedang tidak baik-baik saja," lanjut Abimanyu.


"Baik pak. Rud, tolong bawa dokter Abi ke tersangka."


Devi terharu mendengar perkataan Abimanyu. Andai saja ayahnya dulu sangat baik seperti Abimanyu, Devi pasti akan merasa bahagia sekali. Ah tidak! Ayahnya memang sangat baik padanya sejak dulu dan bahkan tidak ada bedanya dengan sifat Abimanyu hanya saja ada satu perbedaan mereka yang sangat mencolok. Abimanyu bekerja menyelamatkan nyawa manusia sedangkan ayahnya membunuh nyawa manusia untuk diambil organnya.


Seakan tersadar sesuatu, Devi pun memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang petugas yang menemaninya.


"Maaf, kalau saya boleh tahu siapa ya yang bunuh diri?" tanya Devi sopan.


Petugas wanita tersebut tampak diam sebentar sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Devi.


"Tersangka Ganendra. Tersangka kasus penyeranganmu," ujar polisi wanita tersebut yang membuat Devi terkejut bukan main.


Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Bima kemari?

__ADS_1


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)


__ADS_2