Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

"Kau dimana?!!"


Devi tersentak kaget begitu mendengar bentakan Alby dari teleponnya. Devi menatap kearah Raden dan memberi isyarat pada Raden jika Alby sangat marah sekarang. Raden pun menggenggam tangan Devi untuk memberi keberanian pada Devi agar menjawab pertanyaan Alby dengan jujur.


"Di pasar malam om," lirih Devi.


"Dengan siapa?!!"


"Kak Raden," jawab Devi pelan.


Terdengar helaan nafas Alby di seberang sana. Apa Alby akan marah besar padanya? Kalau begitu caranya bagaimana caranya Devi berani pulang sekarang?


"Ya sudah kalau kau pergi bersama Raden, tapi kau harus cepat pulang. Sekarang sudah malam, tidak baik perempuan keluyuran malam-malam bersama laki-laki," ujar Alby lembut.


"Iy...iya om."


Devi menghela nafasnya pelan sembari menoleh kearah Raden dengan penuh rasa bersalah. Malam ini seharusnya mereka pergi ke restoran mewah itu tapi sekarang harus batal karena Alby memintanya untuk pulang.


"Kak maaf aku harus pulang," lirih Devi.


"Tidak apa-apa. Ayo kuantar pulang."


"Maaf ya kak kita tidak jadi pergi ke restoran yang kakak maksud," ujar Devi menyesal.


"Tidak masalah, kita bisa datang lain kali," ujar Raden menghibur Devi.


*****


Setelah membersihkan diri, Alby segera duduk di ruang tengah menunggu Devi pulang. Sembari menunggu, Alby mengerjakan beberapa berkas yang harus ia terjemahkan dan ia sodorkan kepada direktur besok pagi.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB namun Devi belum juga pulang. Alby berniat menghubungi Devi lagi namun belum sampai ia mengambil ponselnya di atas meja, ia mendengar suara pintu terbuka.


"Om aku pulang," ujar Devi takut-takut.


Alby meneliti Devi dari ujung kaki hingga ujung rambut sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya tidak ada masalah dengan Devi.


"Baiklah, cepat pergi mandi lalu tidur," perintah Alby sembari melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Om Alby tidak marah?" tanya Devi lirih.


Jujur saja jika Alby bersikap seperti ini Devi malah semakin merasa bersalah daripada Alby yang terang-terangan memarahinya.


"Untuk apa? Aku tidak masalah kau pergi kemana asalkan jangan pergi sendirian. Lagipula Raden seorang dokter jadi aku sedikit lebih tenang jika kau pergi bersamanya, tapi bukan berarti aku mengijinkanmu pergi bersamanya seenakmu tanpa ijin dariku lho ya? Kau harus tetap ijin padaku karena untuk sekarang aku kan walimu," ujar Alby sembari berjalan menuju kamarnya.


Devi sedikit tidak paham dengan ucapan Alby. Memangnya kenapa kalau Raden seorang dokter? Memangnya Devi seorang pasien ya mangkanya Alby lega Devi pergi bersama dokter? Entahlah Devi tidak mau terlalu ambil pusing.


Kruyuk! Kruyuk!


Alby menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Devi yang tengah tersenyum lebar kearahnya.


"Akan kumasakan sesuatu untukmu. Cepat pergi mandi," ujar Alby yang dibalas senyum lebar oleh Devi.


"Terima kasih om!!" ujar Devi sembari mencium pipi Alby dan setelahnya ia berlari menuju kamarnya.


Alby yang mendapat ciuman dari Devi pun langsung berdiri mematung di tempat. Apa-apaan itu tadi??


Alby merasakan hawa panas mulai menyeruak sampai wajahnya. Kini ia merasa wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Oh astaga ini bukan efek dari ciuman Devi di pipinya kan? Mana mungkin ciuman gadis SMA di pipinya memberikan efek yang luar biasa pada tubuhnya?


Untuk menghilangkan efek tersebut, Alby pun memilih segera pergi ke dapur dan memasak makanan untuk Devi.


Setelah beberapa saat kemudian, Alby sudah selesai membuat nasi goreng lengkap dengan sayuran serta telur mata sapinya. Ia pun segera menyajikan nasi goreng tersebut di piring dan meletakkannya di meja makan.


"Dev!!" panggil Alby.

__ADS_1


"Iya, aku selesai," ujar Devi seraya berjalan mendekat kearah Alby.


"Hanya ada nasi goreng, aku belum sempat belanja bulanan," ujar Alby.


"Tidak masalah om, ini saja sudah cukup. Aku makan ya om? Perutku lapar sekali," ujar Devi sembari mulai menyantap nasi goreng buatan Alby.


"Jadi kau pergi selama itu tidak diberi makan oleh pacarmu? Apa pacarmu melarat sehingga tidak bisa membelikanmu makanan?"


"Melarat apanya?! Itu semua karena om Alby yang memintaku untuk segera pulang! Padahal aku dan kak Raden hendak pergi ke restoran mewah yang baru saja dibuka. Om Alby memang pintar mengacaukan rencanaku," balas Devi tidak terima.


"Salahmu kau pergi tidak ijin padaku."


"Iya-iya itu salahku, om Alby kan tidak pernah salah," cibir Devi.


"Setelah makan cepat pergi tidur," perintah Alby sembari memainkan ponselnya.


"Tidak mau. Besok hari minggu om, aku mau menonton drama Korea kesukaanku," tolak Devi.


"Kau harus tidur. Tidur kurang dari delapan jam di malam hari menyebabkan bodoh."


"Itu mitos om. Buktinya om Alby sering begadang di malam hari tidak menjadi bodoh. Om Alby jangan menipuku."


Alby pun memilih untuk diam daripada terus menanggapi perkataan Devi. Rupanya gadis itu sekarang sudah pintar berbicara sampai Alby tidak bisa menjawabnya.


Begitu mengamati Devi makan, Alby tiba-tiba langsung teringat ciuman Devi di pipinya.


"Ehm Dev kau sering melakukan ehm itu?" tanya Alby ragu-ragu.


"Melakukan apa om?" tanya Devi polos.


"Ehm itu. Kau sering mencium orang?"


"Sering."


"Ap..apa sering?!!"


"Hei bagaimana bisa kau seperti itu?!!! Kau tidak boleh mencium orang sembarangan! Kau itu perempuan, harusnya kau bisa menjaga tingkahmu!!" omel Alby.


"Siapa yang sembarangan? Aku hanya mencium kak Sean dan om Alby saja. Tidak ada yang lain om, bahkan kak Raden pun aku juga belum pernah menciumnya," ujar Devi.


"Kau tidak boleh mencium Raden!!"


"Memangnya kenapa om? Kak Raden kan sebentar lagi akan menjadi pacarku, memangnya tidak boleh mencium pacar sendiri?"


"Tidak boleh!! Jika kau ketahuan olehku mencium Raden, maka jangan harap aku akan memberimu ijin bertemu dengannya!!"


"Om!!"


"Cepat makan lalu pergi tidur!!" perintah Alby sembari bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Devi sendirian di meja makan.


Lihat sekarang, baru saja Alby sudah mulai mengontrol emosinya dan bersikap lunak pada Devi, Devi sudah berhasil membuat Alby kembali marah-marah karena tingkahnya. Bagaimana bisa seorang perempuan mencium pria sembarangan? Bukankah seharusnya Devi sudah paham dengan maksud domba dan serigala yang ditanyakannya dulu pada Alby? Sepertinya Devi memang benar-benar masih polos dan Alby tidak akan membiarkan siapapun memanfaatkan kepolosannya. Eh tunggu dulu!! Kenapa Alby menjadi overprotektif seperti ini? Mungkin ini karena Alby menganggap Devi benar-benar sebagai adik kandungnya.


Selesai makan, Devi pun langsung bergegas menuju kamarnya. Sebelumnya Devi sudah menggosok giginya dan mencuci kaki dan tangannya sebelum pada akhirnya ia merebahkan dirinya di ranjang queen sizenya.


Lama ia berbaring dan memejamkan matanya mencoba untuk tidur, Devi masih saja tidak bisa tidur. Bayangan mimpi buruknya kembali menghantuinya. Devi takut begitu ia tertidur, mimpi buruk itu akan muncul kembali.


Devi pun mencoba untuk memejamkan matanya kembali namun ternyata hasilnya sama saja. Ia tetap tidak bisa tidur.


Dengan memeluk boneka Totonya, Devi pun memutuskan untuk pergi ke kamar Alby. Malam ini Devi ingin tidur lagi di sampingnya seperti kemarin karena entah kenapa berada di samping Alby membuat Devi nyaman dan ketakutan akan mimpi buruk itupun hilang.


Begitu keluar kamar, sayup-sayup Devi mendengar suara televisi dari ruang tengah.


"Apa om Alby belum tidur?" tanya Devi pelan.

__ADS_1


Devi pun melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Alby berada dan benar saja, Devi melihat Alby yang sedang asyik menonton televisi.


"Om," panggil Devi.


"Lho kau belum tidur?" tanya Alby.


"Tidak bisa tidur. Boleh tidak aku menonton bersamamu om?" tanya Devi.


"Kemarilah."


Dengan riang, Devi pun segera berjalan kearah Alby dan duduk di sampingnya. Devi pun menyenderkan kepalanya di lengan Alby sembari tetap fokus menatap layar televisi.


"Kenapa tidak tidur?" tanya Alby.


"Tidak bisa tidur om. Om Alby sendiri kenapa tidak tidur? Nanti om Alby bisa bodoh lho kalau tidur kurang dari delapan jam."


"Jangan menyalin perkataanku," tegur Alby sembari menatap kearah Devi.


Devi hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.


"Om malam-malam begini enak tahu makan mie pedas, ceker pedas atau makanan lain yang pedas terus minumnya dengan minuman bersoda. Woah pasti sangat nikmat, oh iya jangan lupa sambil nonton film," ujar Devi bersemangat.


"Nikmat apanya? Makan makanan tinggi minyak dan lemak seperti itu mudah memicu radang lambung, perlemakan hati dan diabetes."


Mendengar jawaban Alby, Devi pun mengerucutkan bibirnya kesal namun setelahnya ia kembali memeluk lengan Alby dari samping dengan kepala yang terus menyandar di lengan Alby.


Alby menoleh kearah Devi dimana gadis itu kini mencoba memejamkan kedua matanya namun beberapa saat kemudian mata itu kembali terbuka lebar. Apa ini karena mimpi buruk yang dialaminya?


"Tidak bisa tidur?" tanya Alby yang dijawab anggukan kepala oleh Devi.


"Takut mimpi buruk," jawab Devi jujur.


Alby pun mengambil bantal sofa dan meletakkannya di pangkuannya lalu mempersilahkan Devi agar tidur di pangkuannya.


"Taruh kepalamu disini. Aku akan membelainya pelan agar kau tertidur," ujar Alby yang langsung dituruti oleh Devi.


Begitu Devi berbaring di pangkuannya, Alby pun mengelus kepala Devi dengan lembut agar gadis itu mulai mengantuk. Alby bahkan juga mengecilkan volume televisinya agar tidak mengganggu Devi tidur.


"Om," panggil Devi dengan mata terpejam.


"Hm?"


"Mimpi buruk yang kualami hanya bunga tidur biasa kan om? Bukan kejadian nyata yang pernah kualami waktu dulu?" tanya Devi yang membuat Alby terkejut.


*****


Di sisi lain, ada seorang pria yang tengah duduk santai dengan sebuah cerutu yang terselip di bibir hitamnya. Ia menunggu anak buahnya memberi informasi padanya.


Tidak berapa lama, anak buahnya pun datang membawa sebuah informasi.


"Katakan," perintah pria tersebut dengan suara tegasnya.


"Satu-satunya saksi hidup kematian Banyu sudah berhasil ditemukan," ujar anak buahnya sembari memberikan sebuah foto gadis SMA yang tengah berkelahi pada bosnya.



"Jadi gadis itu masih hidup ya? Kupikir dia sudah mati saat aku menabrakkan mobilnya ke sebuah truk besar," ujar pria tersebut sembari mengelus dagu. "Siapa pria di sampingnya?"


"Namanya Alby. Dia sahabat dekat Sean. Sean meminta Alby untuk menjaga Devi karena ia sekarang sedang menjalani perawatan kanker hati di Singapura."


"Baiklah. Kita tidak perlu tergesa-gesa lagipula Devi mengalami amnesia. Pertama kita jauhkan dulu Devi dari Alby. Kau pergi cari informasi mengenai Alby sekarang juga!!" perintah pria tersebut pada anak buahnya.


Anak buahnya pun langsung pergi dari hadapan pria tersebut untuk melakukan tugasnya.

__ADS_1


"Akan kuhabisi seluruh keluargamu Banyu. Itulah harga yang harus kau bayar karena telah menghancurkan keluarga dan bisnisku. Bahkan putramu-Sean berhasil memenjarakan kakakku. Satu kesalahan yang diperbuat Sean adalah ia berfikir jika dalang dibalik kematian orang tua dan kecelakaan adiknya hanyalah satu orang."


*****


__ADS_2