Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
PTSD


__ADS_3

"PTSD?"


"Iya, PTSD. Secara klinis, PTSD digambarkan sebagai gangguan kecemasan akut yang membuat penderitanya selalu teringat pada kejadian yang menimbulkan trauma berat. Penyerangan yang dialami Devi tempo hari meninggalkan trauma besar dalam hidupnya, belum lagi trauma masa lalunya yang belum sembuh semakin menambah keparahan PTSD yang dialami Devi."


Alby menghela nafasnya pelan sembari mengusap wajahnya kasar. Kenapa Devi harus terus mengalami ini semua? Setelah amnesia kenapa harus muncul PTSD?


"Keadaan penderita PTSD dapat diperparah bila dihadapkan dengan situasi tertentu atau orang tertentu yang mengingatkan mereka pada trauma masa silam - trauma yang menyebabkan munculnya PTSD dalam hidup mereka. Pemicu serangan PTSD, yang secara langsung menghadirkan kembali ingatan buruk penderita, dapat termasuk bau-bauan, suara dan bunyi, sensasi atau bahkan tanggal kejadian," jelas Raka.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Alby sedih.


"Kali ini kau harus benar-benar menghindarkan Devi dari pemicunya karena PTSD adalah salah satu penyebab utama orang depresi hingga melakukan aksi bunuh diri. Cara terbaik untuk memberikan dukungan bagi seseorang yang menderita PTSD seperti Devi adalah dengan tidak memaksa mereka untuk sembuh secara instan. Ajak Devi bicara dari hati ke hati tanpa memaksanya menceritakan apa yang ia alami, biarkan curhatnya mengalir sendiri. Dampingi Devi untuk menghadapi ketakutannya, biarkan waktu yang pelan-pelan akan membuat Devi melupakan trauma tersebut sedikit demi sedikit. Sebagai pendukung yang baik, kesabaran untuk mendengarkan keluh kesah penderita PTSD tanpa menghakimi sangat penting," tutur Alby.


"Termasuk perubahan emosinya?"


"Betul. Ada berbagai macam jenis terapi artistik yang dapat membantu menyalurkan kemarahan, sekaligus membuang emosi negatif dan merelaksasi otak serta pikiran. Coba kau ajak Devi untuk melukis atau bermusik dengan begitu emosinya sedikit demi sedikit dapat terkontrol. Terapi ini bertujuan untuk membantu mengeluarkan emosi negatif yang terpendam oleh akibat adanya trauma, sehingga perlahan-lahan Devi dapat mengosongkan pikiran dan mulai menghapus trauma secara bertahap. Lho bukannya dulu kau seorang pelukis?" tanya Raka.


"Pelukis apanya, itu hanya hobi," ralat Alby.


Bima hanya manggut-manggut mendengar koreksi Alby.


"Tapi kenapa kau selalu konsultasi padaku tanpa membawa Devi kemari? Aku selalu mendiagnosis Devi hanya berdasarkan ceritamu saja tanpa memeriksanya. Kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Raka tidak terima.


"Bagaimana bisa aku membawanya kepadamu jika ia melihat orang asing saja ketakutan setengah mati," jawab Alby santai.


"Tapi aku kan sudah pernah bertemu dengan Devi sebelumnya. Masa ia lupa padaku dan tetap menganggapku orang asing," ujar Raka tidak habis pikir.


"Kau lupa ia lari ketakutan saat kau akan melakukan EEG padanya dulu?" ingat Alby.


"Benar juga. Tapi tetap saja konsultasi tanpa memeriksa pasien itu sesuatu yang salah! Bagaimana jika ternyata semua diagnosisku meleset? Aku kan belum memeriksa Devi langsung," protes Raka.


"Kau menyukai Devi ya?"


"Ck apa maksudmu? Devi masih terlalu anak-anak untuk pria dewasa sepertiku walaupun wajahnya bisa dibilang cukup menarik tapi aku tidak menyukainya sebagai wanita. Devi lebih cocok sebagai adikku," jawab Raka. Alby yang mendengarnya pun merasa kalimat itu sangat cocok untuknya.


"Kau benar, mana mungkin pria dewasa seperti kita menyukai anak-anak," ujar Alby tertawa. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.


"Kenapa tertawa seperti itu? Membuatku takut saja. Kau menyukai Devi ya?"


"Aku menyukai Laudya," jawab Alby datar.


"Menyukai Laudya apanya. Kau lebih dekat dan perhatian pada Devi, bahkan kau juga jarang bertemu dengan Laudya. Bagaimana bisa kau menyukai Laudya," cibir Raka. "Melihatmu dapat dengan mudah pindah departemen membuatku curiga, kau tidak membuat kesepakatan aneh-aneh dengan direktur kan?"


"Kesepakatan apa? Sudahlah aku pergi dulu. Terima kasih," pamit Alby.


"Kau tidak ingin menraktirku?" teriak Raka begitu Alby keluar dari ruangannya. Alby hanya menjawab dengan lambaian tangan tanda ia tidak mau.

__ADS_1


*****


"PTSD?!!" tanya Arin dan Gara bersamaan.


Hari ini Arin dan Gara sengaja bolos sekolah dan memilih untuk menjenguk Devi yang masih di rawat di rumah sakit.


"Apa itu PTSD?" tanya Arin tidak mengerti.


"PTSD singkatan dari Post Traumatic Stress Disorder," jawab Gara.


"Aku tidak mengerti bahasa Inggris," keluh Arin yang membuat Devi dan Gara memutar bola matanya malas.


"Gangguan stress pasca trauma," jelas Devi pada akhirnya.


Arin menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kau tahu tentang PTSD dari mana? Tidak mungkin orang dengan kapasitas otak sepertimu dapat terpikirkan PTSD begitu saja?" tanya Gara heran.


"Jangan menghinaku, tentu saja aku mendapatkannya dari internet. Kemarin saat om Alby tidur, aku mencarinya di internet lewat ponsel kak Renata yang tertinggal."


"Kau sudah menghapus riwayat pencariannya belum?" tanya Arin.


"Sudah," jawab Devi bangga.


"Tapi kau betulan tidak menderita PTSD dan ini semua hanya akal-akalanmu saja?" tanya Gara serius.


"Aku memang masih kerap mimpi buruk tentang kejadian itu dan terkadang aku juga merasa takut tapi aku tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya dan aku yakin itu bukan PTSD," jawab Devi.


"Lalu bagaimana dengan kau ketakutan begitu melihat polisi tadi pagi yang ingin memintai keteranganmu? Bukankah kau bilang tadi kau sangat ketakutan hingga om Alby meminta polisi untuk kembali lagi lain kali saat kondisimu sudah lebih baik?" tanya Gara khawatir.


"Aku hanya pura-pura saja," lirih Devi menundukkan kepalanya.


"Apa?!"


"Tunggu sebentar! Aku masih belum paham kenapa kau pura-pura menderita PTSD dan sekarang kau bilang pura-pura takut dengan polisi?" tanya Gara memijit keningnya bingung.


"Aku hanya tidak ingin dimintai keterangan polisi. Kalian tahu kan alasanku pergi ke rumah Ganendra karena ingin membujuk Ganendra untuk membatalkan tuntutan terhadap om Alby dan rumah sakit? Aku tidak mungkin mengatakan hal itu pada polisi jika alasan Ganendra menyerangku adalah karena aku mendengar siapa yang membunuh pak Rusli saat aku mengunjungi rumah Ganendra. Aku takut polisi akan menyeret kasus om Alby dalam masalah ini. Bukankah itu sama saja aku meloloskan tuntutan itu alih-alih menggagalkannya?" jawab Devi lesu.


"Tapi itu sama saja kau menyembunyikan fakta yang sebenarnya Dev. Bukankah sebelumnya om Alby juga sudah menjelaskan situasinya saat itu? Aku yakin polisi pasti akan memakluminya," ujar Gara.


"Memaklumi apanya? Yang ada polisi juga akan menangkap om Alby," timpal Arin yang disetujui oleh Devi.


"Tapi memangnya kau ingin Ganendra bebas begitu saja?" tanya Gara.


Devi terdiam. Jujur saja Devi tidak ingin membiarkan Ganendra lolos begitu saja setelah hampir membunuhnya. Namun Devi juga tidak ingin Alby juga terseret dalam kasus ini. Lagi pula jika Ganendra bebas bukannya tidak mungkin Ganendra akan melukai dirinya lagi?

__ADS_1


Jadi ia harus bagaimana sekarang?


"Tidak bisakah bukti rekaman itu saja yang menjebloskan Ganendra ke dalam penjara? Aku benar-benar tidak bisa memberi keterangan pada polisi," rengek Devi.


"Kalau hanya bukti rekaman itu saja maka hukumannya tidak akan seberapa. Tapi jika kau memberi keterangan, Ganendra akan mendapat balasan yang tepat karena membunuh ayah kandungnya sendiri," nasehat Gara.


"Tapi aku mengkhawatirkan om Alby," cicit Devi.


"Kau menyukainya?" tebak Arin yang diangguki oleh Devi.


"Dan kau pura-pura mengalami PTSD pasti bukan hanya karena tidak ingin dimintai keterangan polisi. Benar kan?" tabak Gara yang juga diangguki oleh Devi.


"Om Alby menyukai tante Laudya. Aku takut mereka berdua menjadi dekat dan pada akhirnya om Alby akan meninggalkanku. Aku tidak mau hal itu terjadi Gara. Dengan berpura-pura seperti ini aku yakin om Alby pasti akan selalu mengawasi dan menemaniku karena ia tahu penderita PTSD takut dengan orang asing, bahkan pemicu sedikit saja membuat penderita PTSD ketakutan. Banyak kasus bunuh diri juga disebabkan oleh PTSD jadi aku yakin om Alby akan lebih memperhatikan aku dibanding tante Laudya. Dan saat itu terjadi aku akan membuat om Alby jatuh cinta padaku," tutur Devi yang membuat Gara maupun Arin menatap tidak percaya ke arahnya.


"Woah aku tidak percaya rencana cemerlang seperti itu keluar dari kepalamu. Aku mendukungmu, aku akan membantumu mendapatkan om Alby," ujar Arin bersemangat.


"Jadi karena cinta ya?" Gara menatap tajam ke arah Devi. Tampak raut wajah Gara yang terlihat tidak suka dengan rencana yang diutarakan oleh Devi. "Kau tahu tidak betapa tersiksanya seseorang karena rasa khawatir? Kau tidak kasian pada om Alby yang setiap saat harus mengkhawatirkanmu? Kau ini suka sekali membuat orang lain khawatir ya? Kenapa hanya karena kau menyukainya kau sampai harus berpura-pura seperti ini? Apa benturan di kepalamu membuat otakmu benar-benar tidak berfungsi dengan baik?" marah Gara.


Gara tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Bagaimana bisa Devi terpikirkan cara seperti ini?


"Gara kenapa kau malah memarahi Devi?!! Devi baru saja operasi dan ia belum sehat! Lagi pula apa ada yang salah dengan rencana Devi? Devi hanya memperjuangkan cintanya, kenapa kau memarahinya sampai seperti itu?!" tegur Arin memarahi Gara.


"Kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan Gara. Kau tidak pernah jatuh cinta pada seseorang mangkanya kau bisa memarahiku seperti itu!" balas Devi kesal bahkan kini air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya.


"Aku pernah-" jawab Gara menggantung. "Sama sepertimu aku juga pernah merasakan jatuh cinta, hanya saja aku memilih untuk diam dan membiarkan ia menyukai laki-laki lain karena aku tahu level tertinggi dari mencintai adalah merelakan," ujar Gara beranjak pergi.


"Aku tidak mendukung rencanamu ini tapi aku tidak akan mengatakannya pada om Alby," lanjut Gara diambang pintu. Setelahnya Gara benar-benar pergi dari kamar inap Devi.


"Aku tidak tahu kalau Gara pernah jatuh cinta," ujar Arin.


Devi hanya diam saja menatap kepergian Gara. Untuk sesaat Devi mulai meragukan rencananya. Apakah yang ia lakukan adalah hal benar? Apakah merelakan Alby menyukai Laudya adalah level tertingginya untuk mencintai Alby?


Tapi Devi tidak ingin kehilangan Alby. Mungkin lebih baik Devi mencoba meneruskan rencananya kali ini. Jika pada akhirnya Alby tetap bersama Laudya, Devi akan ikhlas menerimanya. Big No!!! Devi tidak akan ikhlas melihat Alby bersama Laudya!! Devi akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Alby. Jika rencana kali ini gagal maka Devi akan membuat jutaan cara lagi untuk menakhlukkan Alby!!


"Apa seseorang yang membuat Gara jatuh cinta adalah kau?" tanya Arin yang membuat Devi kembali ke dunia nyatanya.


"Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin? Kau tidak lihat betapa marahnya Gara saat kau bilang rencanamu untuk mendapatkan om Alby? Coba kau ingat-ingat lagi, bukankah dulu Gara juga awalnya tidak mau membantumu saat kau berpura-pura sakit agar bisa menemui kak Raden? Jika Gara tidak menyukaimu kenapa ia harus repot-repot marah-marah seperti itu?"


Devi tampak diam berpikir.


Apa mungkin Gara jatuh cinta padaku?


*****

__ADS_1


__ADS_2