Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Menyelamatkan Devi


__ADS_3

Arin curiga dengan tingkah aneh Devi yang terus mencari tahu tentang identitas orang yang ingin menuntut Alby pun segera bergegas pergi menemui Alby.


Arin berjalan ke arah pusat informasi untuk bertanya di mana keberadaan Alby.


"Maaf sus bisa bertemu dengan dokter Alby?" tanya Arin sopan.


"Dokter Alby ya? Ada perlu apa? Apakah adek sudah membuat janji temu sebelumnya dengan dokter Alby?" tanya suster tersebut yang dibalas gelengan lemah oleh Arin.


"Tapi saya ingin bertemu dokter Alby sus, ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Saya temannya Devi-adiknya dokter Alby. Lagi pula Devi juga sedang bersama dokter Alby. Tidak bisakah saya menemuinya sebentar?" ujar Arin memohon agar diberi ijin bertemu dengan Alby.


"Maaf tidak bisa dek, atau begini saja coba adek hubungi Devi untuk minta bertemu dengannya," tolak suster tersebut.


Arin mendesah kecewa. Ia pun segera duduk di bangku ruang tunggu sembari menatap tas belanjaan Devi dengan tatapan kosong. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Devi sekarang. Arin tahu Devi tidak sedang bersama Alby.


Saat memainkan ponselnya, Arin teringat jika Devi pernah menghubunginya menggunakan ponsel Alby dulu. Arin pun segera mencari kontak nomor Alby di kontaknya.


Setelah beberapa saat mencari akhirnya Arin berhasil menemukan nomor ponsel Alby.


"Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku bisa lupa kalau aku memiliki nomor om Alby?"


Arin pun segera menghubungi nomor Alby. Cukup lama tidak ada jawaban, akhirnya setelah percobaan kali ketiga Alby menjawab panggilannya.


"Halo om."


"Arin?"


"Iya om, ini Arin. Om bisa bertemu sebentar? Ini menyangkut Devi, aku sangat mengkhawatirkannya om."


"Kau di mana?"


"Di depan pusat informasi."


"Aku akan ke sana."


Tut...tut...tut...


Arin menggenggam erat ponselnya sembari menunggu kedatangan Alby. Kakinya bergerak gelisah menunggu kedatangan Alby.


Tidak berapa lama kemudian, Alby datang dan langsung duduk di samping Arin dengan raut wajah khawatir.


"Ada apa Arin? Apa Devi baik-baik saja?" tanya Alby langsung begitu ia tiba.


"Aku tidak tahu om. Tadi Devi bertanya alamat orang yang ingin menuntut om Alby pada kak Fitra, setelah itu Devi berpamitan padaku ingin menemuimu dan menitipkan barang belanjaannya padaku, tapi ternyata Devi tidak bersamamu om. Aku takut Devi menemui orang itu om," ujar Arin panik.


Alby mengumpat dalam hati. Kenapa Raden dan Fitra harus bercerita pada orang lain tentang masalah ini? Dan apalagi itu adalah Devi! Alby yakin Devi pasti sedang menemui Ganendra untuk memintanya mencabut tuntutannya.


"Aku akan mencari Devi. Terima kasih telah memberitahuku," ujar Alby bangkit dari duduknya.


Alby pun bergegas untuk pergi mencari Devi. Pada saat bersamaan, muncul Fitra dan juga Raden yang berjalan berpas-pasan dengannya.


"Kalian berdua temui aku setelah aku kembali!" perintah Alby sembari menunjuk Raden dan Fitra tanpa menghentikan langkahnya.


Raden dan Fitra yang mendengar perintah Alby pun sontak langsung bergidik ngeri. Kali ini ada masalah apalagi?


*****


Kini Alby menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tahu di mana alamat rumah Ganendra dari direktur tadi pagi. Alby harus segera tiba di sana sebelum Devi berbicara macam-macam pada Ganendra. Alby takut Ganendra menjadi marah dan berbuat hal macam-macam pada Devi apalagi emosi Ganendra tidak stabil akibat kepergian ayahnya.

__ADS_1


Alby merogoh ponselnya dan menghubungi Devi. Cukup lama Alby menghubunginya, tidak ada jawaban dari Devi dan hal itu malah membuat Alby semakin khawatir.


Alby segera menambah kecepatannya agar segera tiba di rumah Ganendra.


"Apa yang kau lakukan Dev!" desis Alby sembari matanya berpendar mencari keberadaan Devi.


Alby pun berniat menghubungi Devi kembali. Begitu panggilan terhubung, Alby yang hendak bertanya di mana keberadaan Devi pun mendadak dibuat panik begitu ia mendengar suara Devi meminta tolong.


"Om Alby tolong aku!"


"Kau di mana?!!" balas Alby panik.


"Ak...aku tidak tahu om, tapi orang itu terus mengejarku hiks."


Alby dapat mendengar tangisan ketakutan Devi dan nafasnya yang memburu akibat ia berlari. Alby bingung 'orang itu' siapa yang dimaksud Devi? Apa orang itu adalah Ganendra?


"Dev tenanglah, sekarang kirimkan lokasimu padaku. Aku akan menolongmu."


*****


Sembari berlari, Devi berusaha mengirimkan lokasinya pada Alby. Setelah berhasil, Devi segera berlari lagi dengan kencang.


"Tunggu berhenti!!! Kau mau lari ke mana?!!!"


Devi menangis ketakutan begitu ia melihat Ganendra yang sudah begitu dekat dengannya. Dalam hati Devi, Devi tidak henti-hentinya berdoa dan memanggil nama Alby agar Alby segera datang menolongnya.


Pada saat Devi melewati belokan, tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulut Devi dan memintanya untuk menundukkan kepalanya bersembunyi di balik semak-semak belukar yang cukup tinggi.


Ehmmm emhm


"Husst ini aku," ujar Alby pelan.


Alby dapat melihat Ganendra yang tampak mengumpat marah karena ia tidak berhasil menangkap Devi. Setelahnya, Ganendra langsung putar balik dan terlihat sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.


Alby yang melihat Ganendra sudah pergi pun menatap ke arah Devi dan menenangkannya. Alby masih dapat mendengar suara isakan kecil Devi lalu pandangannya terarah pada lutut Devi yang berdarah.


"Sudah aman, ayo kita segera pergi ke mobil sebelum Ganendra menemukan kita," ajak Alby yang langsung diangguki oleh Devi.


Devi pun melepaskan pelukannya pada Alby dan bangkit berdiri. Tanpa Devi duga, Alby langsung menggendong Devi ala bridal style. Devi yang terkejut pun reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher Alby dan menatap Alby dengan tatapan terkejutnya.


"Dulu kau marah karena aku menggendong Laudya seperti ini kan? Sekarang kau tidak boleh marah lagi karena aku sudah menggendongmu seperti ini," ujar Alby dengan tatapan mata yang lurus ke depan.


Devi tidak menjawab perkataan Alby, ia hanya semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Alby. Alby tahu Devi pasti masih merasa dirinya belum aman jika mereka belum pergi dari tempat ini, oleh karena itu Alby mempercepat langkahnya dan segera menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.


Setelah tiba di mobil, Alby segera memasukkan Devi ke dalam mobil diikuti dirinya sendiri dan setelahnya Alby segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Selama beberapa menit di jalanan, keduanya hanya saling diam dengan Alby yang fokus menyetir dan Devi yang sibuk dengan pikirannya sendiri sebelum ia teringat dengan hasil rekamannya.


"Om," panggil Devi sembari merogoh ponselnya dan menatap ke arah Alby.


Devi yang melihat rahang Alby mengeras pun menghentikan niatnya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Devi mengernyit bingung begitu Alby menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Secara otomatis, Devi langsung membalikkan badannya melihat ke arah belakang. Takut jika Ganendra kembali mengejarnya.


"Ganendra sudah tidak mengejarmu lagi," ujar Alby seolah bisa membaca pikiran Devi.


Devi mendesah lega dan kembali melarikan pandangannya ke arah Alby yang kini juga tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kenapa kau pergi menemui Ganendra?" tanya Alby dingin dengan sorot mata tajam yang seperti ingin melahab Devi.


"Ma..maaf om, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membantumu," cicit Devi.


"Membantu apa??!! Kau tahu apa soal permasalahanku?! Ini masalahku Dev dan ini juga tidak ada hubungannya denganmu, kenapa kau berbuat nekat seperti ini?!! Lihat betapa berantakannya dirimu sekarang!!" tunjuk Alby pada luka di kedua lutut Devi yang berdarah dan pakaian Devi juga bercampur dengan pasir akibat terjatuh tadi.


"Bagaimana jika Ganendra berhasil menangkapmu? Apa yang akan kau lakukan?!! Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri?!!" murka Alby dengan dada naik turun menahan emosi.


Tidak seperti tadi siang yang berani menjawab perkataan Alby, kini Devi hanya diam saja tanpa berani menjawab dan hanya menundukkan kepalanya menangis. Devi akui dirinya sangat gegabah, bahkan Devi sendiri tidak dapat membayangkan apa yang terjadi padanya jika ia tertangkap oleh Ganendra.


"Kau tahu tidak betapa khawatirnya aku begitu Arin bilang padaku jika kau pergi menemui Ganendra sendirian?" tanya Alby mulai melembutkan nada bicaranya.


"Maaf om," cicit Devi terus menangis tanpa suara.


Alby menghela nafasnya pelan untuk meredakan emosinya.


"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena tadi siang berlaku kasar dan memarahimu," ujar Alby lembut sembari memeluk tubuh Devi.


Bukannya berhenti menangis, Devi malah menangis semakin kuat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Alby. Alby mengusap punggung Devi pelan dan mencium puncak kepala Devi untuk menenangkan Devi.


"Om Alby juga baru saja memarahiku, jadi totalnya dua kali. Berarti om Alby harus minta maaf lagi," ujar Devi sesenggukan dan melepaskan pelukannya dari Alby lalu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah Alby.


"Iya aku minta maaf. Aku takut terjadi apa-apa padamu mangkanya aku tidak bisa menahan emosiku," ujar Alby.


Devi mengangguk mengerti dan mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. "Aku hanya merasa bersalah pada om Alby karena membuat masalah di sekolah padahal om Alby sedang mengalami masalah juga di rumah sakit. Tapi sungguh bukan aku yang memulainya om. Jessica yang lebih dulu memancingku dan aku sangat tersinggung jika ia membawa-bawa kematian kedua orang tuaku dan kakakku apalagi sampai menyuruhku untuk menyusul mereka," tutur Devi menjelaskan kejadian sebenarnya antara dirinya dan Jessica.


"Karena aku merasa bersalah padamu mangkanya aku ingin membantumu om. Aku ingin menemui Ganendra untuk memintanya mencabut tuntutannya dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, namun ternyata aku malah mendapat sesuatu yang sangat penting," lanjut Devi yang membuat Alby bingung.


Devi merogoh ponselnya dan memberikannya pada Alby.


"Di ponselku ada rekaman suara Ganendra yang sengaja membunuh ayahnya sendiri dengan batang penguat itu. Batang penguat itu sebetulnya tidak menancap di perutnya dengan sendirinya, tapi Ganendralah yang melakukannya."


Alby terkejut dengan penuturan Devi. Jadi ini alasan kenapa Ganendra mengejarnya. Karena Devi memiliki bukti rekaman atas kejahatan membunuh ayahnya sendiri.


"Dan tuntutan itu bukan Ganendra yang menginginkannya. Ada pria kaya yang membayar Ganendra untuk menuntut om Alby," lanjut Devi.


Alby terkejut mendengar penuturan Devi. Pria kaya siapa yang membayar Ganendra untuk menuntutnya? Alby rasa selama ini ia tidak pernah mencari masalah dengan siapapun ataupun memiliki musuh. Alby terus berpikir kemungkinan siapa yang berani melakukan hal ini padanya namun ia sama sekali belum menemukan jawabannya.


Perlahan tangan Alby terulur membelai lembut rambut Devi dan tersenyum lembut ke arahnya.


"Terima kasih karena telah membantuku. Aku akan memberitahu hal ini pada direktur, tapi lain kali kumohon jangan terlibat seperti ini lagi, ini terlalu berbahaya. Aku tidak ingin kau terluka," ujar Alby menatap mata Devi sungguh-sungguh.


"Iya om, aku janji. Maaf membuat om Alby khawatir," janji Devi.


"Iya. Sekarang kita ke rumah sakit dulu, kita obati lukamu," ujar Alby sembari mengecek luka Devi di lutut dan pipinya. Setelahnya Alby pun mulai kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


"Parah ya om?" tanya Devi pelan.


"Kau tidak melihat lukamu?" tanya Alby.


"Tidak," jawab Devi sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Aku takut mengalami dejavu lagi. Tadi saja aku terjatuh karena tiba-tiba ada bayangan terputar di kepalaku. Aku merasa pernah mengalami hal seperti ini om, dikejar oleh beberapa orang dan aku berlari ketakutan," jelas Devi membuang wajahnya ke samping dan menatap lalu lalang kendaraan di sampingnya. "Tapi aku tidak tahu mereka siapa."


Alby tidak langsung menjawab, ia mencengkeram kemudi dengan erat. Memori Devi mudah sekali muncul dengan pemicu sekecil apapun dan tentu saja ini bukan hal baik. Alby tidak ingin ingatan itu kembali dan Alby yakin begitu ingatan Devi kembali Raden pasti akan langsung gencar mencari cara untuk menghabisi Devi.


"Dev," panggil Alby pelan.


"Hm?" Devi menolehkan kepalanya kearah Alby.

__ADS_1


"Jika kularang kau bertemu dengan Raden apa kau akan menurutinya?"


*****


__ADS_2