
Flashback On
Semua permusuhan antara keluarga Anggara dan Wardhani dimulai dari suatu bulan di musim penghujan lima tahun yang lalu. Saat itu hujan deras mengguyur kota Jakarta tanpa henti. Kilat menyambar dan guntur menggelegar tanpa jeda sedikitpun. Angin mulai berhembus kencang siap menyapu apapun yang ada di hadapannya tanpa ampun.
Para pejalan kaki sibuk lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari ganasnya badai di siang mengerikan itu. Namun berbeda dengan satu orang pria berperawakan gagah dengan badan tinggi tegapnya tengah mengendarai mobil porche warna hitamnya tampak melenggang santai membelah jalanan.
Mobil dengan harga milyaran itupun berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit dengan angkuhnya. Terlihat sang pemilik tampak turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung tersebut diiringi beberapa pria berjas hitam di belakangnya. Dia adalah Banyu Wardhana. Sang pemilik gedung pencakar langit tersebut. Wardhana Inc. Perusahaan yang bergerak di bidang elektronik, transportasi dan properti yang cukup sukses saat itu.
Banyu berjalan melewati para pekerja yang menunduk sopan ke arahnya dengan tatapan dingin tak tersentuh sampai seorang remaja perempuan berlari ke arahnya dan merentangkan tangan minta Banyu menggendongnya. Banyu berjongkok dan menyambut putri kecilnya dengan senang. Ekspresi wajahnya langsung berubah 180° begitu melihat raut wajah manja sang putri yang meminta gendong padanya.
"Devi di sini?" tanya Banyu lembut sembari mencium pipi Devi gemas.
"Iya, sama kak Sean. Ayah bawa es krim tidak?"
"Maaf ayah lupa. Nanti saat kita pulang kita mampir ke supermarket untuk beli es krim ya?" tanya Banyu sembari berjalan memasuki lift dan menekan tombol paling atas.
"Iya." Devi menganggukkan kepalanya dan memeluk leher ayahnya dengan erat.
"Kau ini sudah remaja masih minta gendong ayah, bagaimana kalau tulang ayah patah karena kau berat?" canda Banyu mencubit hidung mancung putrinya.
"Biar saja. Pokoknya aku mau gendong ayah terus." Banyu mencium gemas putrinya begitu mendengar nada manja yang menurutnya memanjakan telinganya. Ia sangat menyayangi putri kecilnya ini tanpa cela.
"Di mana kakakmu?" tanya Banyu.
"Tidak tahu."
Banyu segera menghubungi Sean untuk bertanya di mana keberadaannya dan kenapa Sean malah meninggalkan Devi yang masih berumur dua belas tahun sendirian di kantornya.
Begitu keluar dari lift, Banyu melihat seorang pria yang tengah berdiri menunggu di depan ruang kerjanya. Banyu tahu dia siapa, dia adalah Brama Anggara. Orang kepercayaannya yang mendapat tugas untuk membuka 'bisnis' baru untuknya dua tahun lalu.
"Meira," panggil Banyu pada sekretarisnya yang sedang berada di mejanya.
"Iya pak." Meira segera berjalan menghampiri Banyu dan menunduk sopan.
"Tolong bawa Devi cari Sean." perintah Banyu pada Meira.
"Aku mau ikut ayah," rengek Devi tidak mau melepaskan pelukannya pada leher Banyu.
"Ayah masih sibuk sayang. Kau ikut aunthy Meira dulu cari kakak. Ayah janji, ayah akan segera menyelesaikan pekerjaan ayah dan pergi menemuimu untuk membeli es krim," bujuk Banyu lembut.
Meskipun awalnya menolak, Devi pun pada akhirnya ikut pergi mencari kakaknya bersama Meira.
Setelah memastikan hanya ada Banyu dan Brama saja, Banyu pun segera memerintahkan Brama untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa kau datang menemuiku kemari? Bukankah sudah kubilang jangan menemuiku di sini?" tanya Banyu dingin.
Pria bernama Brama itupun tampak menundukkan kepalanya meminta maaf karena kelancangannya yang menemui bosnya di tempat kerjanya.
"Saya minta maaf pak. Saya ke mari ingin menyerahkan ini." Brama menyodorkan sebuah amplop coklat dengan tulisan pengunduran diri di atas amplop tersebut.
Banyu menatap amplop tersebut dengan marah. Diambilnya amplop berwarna coklat tersebut dan membukanya dengan kasar.
__ADS_1
"Saya minta maaf. Saya pikir saya sudah tidak bisa bekerja sama dengan anda lagi pak. 'Bisnis' ini benar-benar memberatkan saya. Saya tidak mampu-"
Sruat!!!
Banyu melemparkan amplop berisi surat tersebut tepat ke wajah Brama.
"Ah maaf tanganku licin," ujar Banyu. "Pungut dan berikan lagi padaku, aku belum membacanya."
Brama pun memungut amplop dan surat tersebut. Pada saat Brama jongkok untuk memungut surat tersebut, Banyu langsung melayangkan tendangannya ke arah Brama yang membuat Brama jatuh tersungkur.
Tidak puas sampai di situ, Banyu langsung melayangkan tendangannya berkali-kali dan menginjak-injak Brama dengan kasar hingga darah mulai mengalir di hidung dan pelipisnya.
Banyu menjambak rambut rapi Brama dan menatap tajam ke arahnya.
"Bisnis ini sedari awal sudah kupasrahkan padamu. Kau juga sudah menerima uang puluhan milyar dari bisnis ini dan sekarang kau ingin berhenti? Omong kosong macam apa ini?! Kau tahu aku paling tidak suka dengan orang-orang yang tidak pernah tuntas melakukan pekerjaan mereka," desis Banyu.
Brama terdiam. Benar apa yang dikatakan Banyu. Ia telah menerima uang dari bisnis tersebut dan apakah ia mampu mengembalikan uang puluhan milyar tersebut pada Banyu? Ia dapat uang dari mana?
"Tidak perlu berpikir ingin mengembalikannya jika kau tidak punya uang. Bukankah kau memiliki seorang istri yang cantik?"
Mata Brama langsung membulat begitu ia mendengar bosnya menyebutkan istrinya. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningnya.
Dengan aura menyeramkannya, Banyu pun berjalan mendekat ke arah Brama.
"Jangan sentuh istri saya," desis Brama.
"Kenapa? Bukankah kau tidak bisa mengembalikan uang puluhan milyar itu padaku? Aku hanya akan meminta satu ginjal dan kedua matanya sebagai kompensasi darimu dengan begitu hutangmu padaku lunas."
Bukannya iba, Banyu justru tertawa jahat begitu melihat betapa tidak berdayanya seorang Brama di hadapannya.
"Dengar, kau pikir aku tidak tahu jika kau melaporkan bisnis ini pada polisi? Kau ingin menghancurkanku dengan bisnis ini kan? Mangkanya kau mengundurkan diri sebelum polisi bertindak."
Brama terkejut begitu bosnya tahu rencananya. Brama rasa ia sudah menyembunyikan hal ini dengan rapat-rapat namun kenapa informasi itu tetap bocor? Siapa sebenarnya seseorang yang memberitahu hal ini pada Banyu?
"Sa...saya hanya ingin menghentikan anda. Bisnis perdagangan organ manusia sangat illegal pak. Jika bapak terus melanjutkan bisnis ini bapak bisa terkena masalah. Lagipula bukankah bapak punya anak perempuan?"
Bugh!
"Tutup mulutmu! Kau tidak perlu mengguruiku." Banyu berjalan mendekat ke arah Brama. "Kau hanya ingin mengundurkan diri kan?" tanya Banyu yang langsung diangguki oleh Brama.
"Kau boleh keluar asalkan kau bisa mengembalikan uang puluhan milyar yang kubayarkan untukmu. Aku menggajimu tinggi tapi ternyata kau berkhianat padaku. Gara-gara kau bisnisku hampir saja tercium aparat dan tentu saja aku tidak akan pernah bisa memaafkan seorang pengkhianat."
Perlahan Banyu mengambil laptop dan memperlihatkan sebuah panggilan vidio yang membuat Brama membulatkan matanya terkejut.
Bagaimana tidak, di sana di layar laptop milik Banyu terlihat seorang wanita yang sudah tidak berdaya dengan tubuh penuh luka lebam. Mata wanita tersebut tampak sayu dengan wajah pucatnya.
"Apa yang anda lakukan!" desis Brama marah.
"Mengambil uangku kembali. Dean antar wanita itu pulang, suaminya pasti merindukannya."
Brama mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jari-jarinya memutih. Tatapan mata penuh amarahnya tidak pernah berhenti menyorot Banyu yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
__ADS_1
"Pulanglah, istrimu sudah menunggumu di rumah. Kau sudah ku bebaskan dan kuanggap hutangmu lunas. Tapi jika kau mengganggu bisnisku lagi, aku tidak akan segan-segan menembak kepalamu saat itu juga," ancam Banyu.
Flashback off
Tangan Raden mengepal kuat begitu mendengar cerita yang mengalir dari bibir pamannya. Rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam menahan amarah.
"Setelah ayahmu pulang ke rumah, ia mendapati ibumu sudah tidak berdaya dan tergeletak di depan teras rumah. Saat ayahmu menggendong ibumu berniat membawa masuk ke dalam, pakaian ibumu tersingkap dan di perutnya terdapat bekas jahitan." Bima menatap Raden sungguh-sungguh. "Banyu mengambil ginjal ibumu dan ia menjualnya untuk menebus hutang ayahmu."
"Ayahmu marah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ayahmu berusaha melindungi keluarga kecilnya termasuk dirimu dengan susah payah. Ayahmu sudah melamar ke berbagai perusahaan namun tidak ada satupun yang mau menerimanya. Tentu saja itu karena Banyu. Ayahmu datang menemui paman untuk minta bantuan dan akhirnya kami membangun perusahaan kecil untuk menghidupimu dan menyekolahkanmu. Sampai suatu hari bisnis kami berkembang pesat. Tidak sebesar milik Banyu namun saat itu kami memiliki cukup pengaruh."
"Banyu tidak senang mendengarnya sehingga ia menyusun rencana untuk menghancurkan perusahaan kami dan ia berhasil. Banyu mengambil alih perusahaan kami. Anggara Inc. Memiliki koneksi dengan dunia hitam membuatnya mudah mendapat bantuan dan apapun yang ia inginkan menjadi kenyataan. Kami sangat marah dan putus asa hingga kami terpikirkan satu orang kelemahannya, yaitu Devi. Kami menculik Devi dan hendak mengambil ginjalnya juga seperti yang dilakukan ayahnya pada ibumu. Namun Devi berhasil kabur."
"Lalu puncaknya saat ibumu meninggal karena laju filtrasi glomerulus (GFR) yang menyebabkan gagal jantung."
Raden ingat saat hal itu terjadi. Saat di mana ibunya sedang kesakitan namun ia tidak bisa berbuat apa-apa sampai ibunya meninggal di hadapannya. Sejak saat itulah Raden memutuskan menjadi seorang dokter dan melihat Rusli yang meninggal di hadapannya mengingatkannya dulu pada ibunya, mangkanya ia sampai menangis dan berlutut di kaki Alby.
Dan orang yang saat ini ia panggil ibu bukanlah ibu kandungnya, melainkan bibinya-istri Bima. Karena bibinya sangat ingin memiliki seorang anak, Raden pun mengabulkannya dengan memanggilnya ibu.
"Ayahmu yang sudah mencapai batas kesabarannya pun bergegas mencari Banyu di rumahnya. Saat itu aku pergi bersamanya dan Brama bilang ia ingin membuat istrinya menjadi sama seperti ibumu. Hidup dengan satu ginjal hingga terserang penyakit GFR. Namun begitu tiba, kami tidak menemukan Marinka dan hanya ada Banyu. Ayahmu gelap mata dan langsung menembaknya tepat di kepalanya lalu kami pergi mencari Marinka dan juga langsung membunuhnya di beda tempat." Bima mengambil jeda sejenak dengan tatapan mata yang lurus menatap kosong di depannya.
"Lalu bagaimana paman berpikir jika Devi adalah saksi utama sedangkan ia tidak ada di tempat kejadian?" tanya Raden.
"Paman melihatnya dari CCTV saat paman sedang membersihkan barang bukti. Di CCTV Devi berjalan masuk ke dalam kamar ayahnya dan ia tidak keluar sampai ayahnya terbunuh. Hingga pada akhirnya kami terpaksa menyingkirkannya. Kupikir ia sudah mati dalam kecelakaan itu tapi nyatanya ia selamat dan hanya lupa ingatan."
Raden memijit pelipisnya pusing. Kebenaran macam apa ini?
"Dengar-dengar Anggara Inc. dan Wardhana Inc. akan diserahkan pada Devi saat usia Devi 25 tahun. Anggara adalah milikmu bukan Devi. Paman dan ayahmu yang membangunnya bukan Banyu. Kau harus merebutnya kembali apa yang seharusnya memang menjadi milikmu." ujar Bima menatap sungguh-sungguh ke arah Raden.
"Bunuhlah Devi, jika ia mengingat semuanya keluarga kita benar-benar akan hancur. Tokoh antagonis di sini bukan keluarga kita dan kekejaman keluarga kita disebabkan oleh Banyu sendiri-ayah Devi. Pikirkan rasa sakit dan penghinaan yang di terima ayah dan ibumu Den. Kami memintamu untuk membunuh Devi bukan tanpa alasan."
Raden terlihat sedikit gusar meskipun rahangnya masih mengeras menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Raden menatap Bima dengan mantap.
"Aku akan membunuh Devi dan merebut kembali Anggara Inc."
*****
FYI
Penyakit yang mungkin terjadi ketika tidak berhati-hati saat hidup dengan satu ginjal adalah Laju filtrasi glomerulus (GFR) yang rendah akibat penurunan fungsi penyaringan ginjal.
GFR sendiri dapat mengakibatkan gagal jantung yang berakibat fatal.
Cr. Google
Pliss kalau ada yang salah dikoreksi ya😭
*****
Gimana" ada yang bingung nggak dengan part ini?
Kalau masih bingung silahkan bertanya di kolom komentar ya:)
__ADS_1
Tbc