Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Makna Tersirat Alby Untuk Laudya


__ADS_3

Devi menatap wajah Alby yang tampak tertidur damai di sampingnya. Alby tampak tampan dengan beberapa anak rambut yang menutupi dahinya.


Perlahan tangan Devi tergerak untuk menyingkirkan anak rambut Alby dan menatap wajah Alby lama. Devi ingat jelas kejadian tadi malam. Kejadian saat Alby menciumnya dan berjanji tidak akan meninggalkannya.


Mengingat hal itu membuat Devi bahagia dan cekikikan sendiri meskipun ada sebagian kecil hatinya yang masih menyimpan rasa bersalah pada Alby dan keluarganya.


Untuk seperkian detik Devi menatap Alby dengan sendu.


Bolehkah ia mendapatkan Alby setelah karir Alby hancur dan rumah sakit milik ayah Alby terancam ditutup karenanya?


Tanpa Devi sadari ternyata Alby sudah terbangun dari tidurnya dan ia melirik Devi yang masih menampilkan wajah sendu sembari terus berpura-pura tidur.


Alby tahu apa yang ada di hati Devi. Gadis itu pasti merasa bersalah lagi padanya dan ayahnya. Sial! Itu pasti karena ulah Laudya.


Alby pun mempererat pelukannya pada Devi bahkan ia juga membenamkan wajahnya ke leher Devi membuat Devi sedikit terkejut namun ia tetap diam saja dan mulai ikut memeluk Alby.


Kini Devi merasa seperti memiliki bayi manja yang tidak bisa tidur tanpa pelukannya. Namun di sisi lain Devi sangat menyukainya. Ia baru mengetahui sifat manja Alby yang seperti ini karena biasanya dirinyalah yang selalu manja pada Alby.


"Kau sedang berpikir apa?" tanya Alby tanpa mengubah posisinya maupun membuka kedua matanya.


Devi yang mendengar pertanyaan Alby pun sedikit terkejut. Apa Alby tahu jika ia masih memikirkan dampak jika kesepakatan itu batal?


"Om Alby sudah bangun?" tanya Devi lirih.


"Hm."


"Sejak kapan?"


"Sejak kau menampilkan ekspresi wajah sedihmu," jawab Alby yang membuat Devi menggigit bibirnya karena ternyata Alby menyadari perubahan raut wajahnya.


"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Alby seraya membuka kedua matanya dan bangkit bersandar pada sandaran ranjang.


"Kau masih merasa bersalah karena kesepakatan itu?" tebak Alby yang diangguki oleh Devi.


Alby pun tersenyum lembut seraya membawa Devi ke dalam dekapannya.


"Kan sudah kubilang itu kesalahanku. Kesepakatan ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Laudya padamu tapi yang pasti aku tidak ingin kau merasa bersalah padaku dan ayah," tutur Alby.


"Tapi om bagaimana jika om Abi tahu jika kesepakatan ini dibuat karena om Alby ingin melindungiku dari kak Raden dan karena itu juga rumah sakit miliknya terancam ditutup?" tanya Devi merasa bersalah.


"Ayah sudah tahu," jawab Alby ringan.


"Apa?"


"Ayah sudah tahu semuanya kecuali ibu. Dan lagi untuk masalah penutupan rumah sakit tidak sesederhana yang dikatakan Laudya padamu. Butuh beberapa bukti disertai alasan yang kuat dan proses yang panjang. Jadi penutupan rumah sakit milik ayah tidak akan secepatnya dilakukan apalagi ini hanya menyangkut masalah pribadi direktur denganku."


Devi menganggukkan kepalanya mengerti. Detik berikutnya ia langsung mengalungkan lengannya pada leher Alby dari arah samping membuat Alby sedikit merendahkan tubuhnya.


"Berarti aku bolehkan bersama om Alby?" tanya Devi dengan raut wajah berbinar-binar.


Alby tertawa kecil sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau begitu om Alby mau tidak jadi pacarku?" tanya Devi lagi.


"Hm...."


Dengan was-was Devi menunggu jawaban Alby yang tampak berpikir keras.


"Tidak mau," jawab Alby yang membuat Devi melepaskan tangannya pada leher Alby sembari mengerucutkan bibirnya kecewa.

__ADS_1


"Jangan kecewa. Aku menolakmu karena aku masih berpacaran dengan Laudya. Nanti, nanti saat aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Laudya aku akan menemuimu dan memintamu menjadi pacarku," jawab Alby yang membuat Devi langsung berubah bahagia.


"Aku jadi merasa seperti orang ketiga," ujar Devi seraya tertawa hambar.


"No. Sejak awal memang hanya ada kita berdua. Kau bukan orang ketiga tapi kau orang satu-satunya untukku sampai kapanpun," ujar Alby menatap Devi serius.


Mendengar penuturan Alby membuat Devi langsung memeluk Alby dari arah samping karena saking bahagianya.


"Om Alby benar. Om Alby kan sejak awal tidak pernah menyukai tante Laudya, jadi aku bukan orang ketiga," ujar Devi seraya mengeratkan pelukannya.


"Kau benar."


Untuk beberapa menit kemudian Devi hanya tenggelam dalam pelukan Alby sedangkan Alby membelai lembut rambut Devi dengan sayang.


"Om," panggil Devi.


"Hm?"


"Kenapa om Alby tidak memberitahuku tentang kesepakatan itu? Om Alby juga tidak memberitahuku jika om Alby mendapat sanksi dari rumah sakit karena kasus ayah Ganendra. Om Alby tidak memberitahuku hal itu pasti karena berpikir aku masih anak-anak kan? Aku tahu aku masih gadis SMA om, makanya terkadang aku berpikir tante Laudya lebih pantas untuk om Alby. Tante Laudya sudah dewasa, pintar dan cantik tidak sepertiku yang anak-anak, bodoh dan tidak cantik," ujar Devi seraya menundukkan kepalanya membuat Alby tersenyum samar.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak memberitahumu bukan karena aku menganggapmu sebagai anak kecil. Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku tidak ingin membebanimu dan menyulitkanmu. Aku tidak ingin kau mengkhawatirkanku. Masalah ini bukan tentang masalah kau masih anak-anak atau bukan tapi masalah ini memang murni masalahku sendiri dan kau terlalu berharga untuk ikut menanggung masalahku," tutur Alby lembut.


"Tapi setidaknya om Alby kan bisa bercerita padaku biar bebannya sedikit berkurang," ujar Devi.


"Baiklah, mulai sekarang aku akan bercerita padamu jika aku memiliki masalah. Bagaimana?"


"Jangan hanya kalau ada masalah om! Semuanya! Aku mau om Alby menceritakan semuanya padaku entah itu kabar bahagia atau apapun itu!"


"Baiklah-baiklah semuanya," ralat Alby seraya tertawa.


"Itu baru benar," ujar Devi seraya tersenyum ke arah Alby.


"Kalau begitu kau juga harus berjanji padaku."


"Kau juga harus melakukan hal yang sama. Entah itu kabar bahagia atau kabar buruk, aku ingin kau selalu berbagi denganku. Aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendirian. Kau kan punya aku. Saat kau terjatuh akulah orang pertama yang akan membantumu berdiri," ujar Alby tulus yang membuat Devi menoleh ke arah Alby dengan kedua mata berkaca-kaca.


Alby yang melihat genangan air mata di kedua pelupuk mata Devi pun sedikit tersentak sebelum akhirnya Devi memeluknya lagi sembari menangis keras.


"Ada apa?" tanya Alby khawatir.


"Aku sangat tersentuh dengan perkataan om Alby," cicit Devi di sela tangisnya.


Alby yang mendengarnya pun tersenyum lebar sembari mengelus puncak kepala Devi dengan sayang.


Ting!


Mendengar suara notifikasi dari ponsel Alby, Devi pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Alby melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.


"Ada pesan," ujar Devi.


Alby membuka pesan yang ternyata dari Laudya.


"Siapa om?"


"Laudya," jawab Alby singkat.


"Ada apa dengan tante Laudya?"


"Laudya ingin berbicara denganku. Boleh tidak aku menemuinya?" ijin Alby.

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah om. Aku juga harus segera menemui Arin dan Gara untuk bersiap-siap pulang," jawab Devi seraya tersenyum.


"Setelah selesai bersiap-siap tunggu aku. Kau pulang bersamaku," ujar Alby yang diangguki oleh Devi.


*****


Alby melihat Laudya yang tengah berdiri di pesisir pantai dengan dress selutut motif bunga. Laudya tampak sesekali memainkan pasir putih pantai tersebut menggunakan kakinya hingga tanpa sengaja saat ia berbalik ia menyadari Alby sudah berdiri di belakangnya.


"Kau sudah datang?" tanya Laudya seraya tersenyum lebar.


Alby terpaksa menanggapinya dengan senyum lembutnya. Ia tidak mungkin menampilkan ekspresi tidak senangnya di hadapan Laudya secara langsung karena Alby tidak ingin Laudya tahu jika Alby telah mengetahui semua rahasia Laudya lewat mata-mata yang dikirimnya.


"Ada apa? Kenapa ke sini? Langitnya mendung, sebentar lagi hujan. Ayo kita segera kembali ke hotel sebelum hujan," ajak Alby sembari menarik tangan Laudya namun Laudya tetap diam bergeming.


"Ada apa?" tanya Alby begitu Laudya tetap berdiri di tempat.


"Sebentar saja. Aku ingin berjalan berdua di tepi pantai bersamamu," ujar Laudya sembari menarik tangan Alby agar mengikuti langkah kakinya.


"Tapi sebentar lagi hujan turun," ujar Alby sembari mengikuti langkah kaki Laudya.


"Tidak masalah, kita bisa main hujan-hujanan."


"Air hujan bisa menyebabkan berbagai macam-"


"Alby," panggil Laudya memotong perkataan Alby.


"Hm?"


"Aku hanya ingin berjalan berdua bersamamu di pinggir pantai selayaknya kita ini adalah sepasang kekasih. Kau pacarku kan?"


Alby diam enggan menjawab pertanyaan Laudya.


"Untuk hari ini saja kumohon jadilah kekasih sungguhan untukku. Aku hanya ingin berjalan berdua saja tidak lebih," tutur Laudya yang membuat Alby mau tidak mau menuruti keinginannya.


Mereka pun berjalan beriringan di sepanjang garis pantai sembari Laudya merangkul lengan Alby. Beberapa kali Laudya menunjuk ke arah laut sembari bercerita tentang pengalamannya berlibur ke pantai bersama keluarganya.


Sesekali Alby menanggapinya dan tertawa kecil mendengarnya.


Tanpa Alby sadari, Devi melihat keduanya dari kejauhan. Tampak raut wajah cemburu terpatri di wajah cantik Devi begitu melihat kedekatan Alby dan juga Laudya. Tanpa mau melihat lebih lama lagi kemesraan keduanya, Devi memilih untuk segera kembali ke hotel untuk menemui Arin dan Gara.


"Apa itu?" tanya Laudya sembari melepaskan lengan Alby dan berlari kecil ke arah air.


Laudya yang penasaran pun hendak mengambil binatang laut tersebut menggunakan tangan kosongnya yang langsung dicegah oleh Alby.


"Itu bulu babi, jangan disentuh. Dia beracun," ujar Alby menghentikan tangan Laudya yang ingin menyentuhnya.


"Ah hampir saja, terima kasih," ujar Laudya.


"Jangan menyentuh sembarangan di saat kau tidak tahu bahaya apa yang ada di hadapanmu," nasehat Alby yang entah kenapa Laudya merasakan ada makna yang tersirat di dalamnya.


"Bisa jadi dia lebih berbahaya darimu," lanjut Alby yang kini membuat Laudya tahu apa makna yang tersirat di dalam ucapan Alby.


"Dari pada menasehatiku bukankah kau lebih terlihat sedang mengancamku Alby?" tanya Laudya sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa? Kau merasa aku mengancammu? Atas dasar apa kau berpikir seperti itu padaku?" balas Alby.


Mendengar pertanyaan Alby membuat Laudya gelagapan sendiri. Mungkinkah Alby tahu ia bekerja sama dengan Bima untuk melenyapkan Devi?


"Tidak ada. Sudahlah lupakan saja, ayo kita ke sana! Aku ingin berfoto di atas batu karang itu!" ajak Laudya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Jadi kau betulan bertemu dengan Bima dan bekerja sama dengannya ya?" batin Alby sembari menyunggingkan smirknya.


*****


__ADS_2