
"Jadi kemarin kau dirawat di rumah sakit karena pingsan?" tanya Arin terkejut.
"Iya," jawab Devi sembari memakan camilan yang dibawakan Gara untuknya.
"Kenapa kau bisa pingsan?" tanya Gara.
"Sepertinya aku phobia darah. Kau tahu, begitu aku melihat korban kecelakaan itu tepat di depan mataku dan kakinya penuh darah aku langsung tidak sadarkan diri," jelas Devi.
"Phobia darahmu benar-benar buruk," komentar Gara.
"Iya. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung," ujar Devi sembari menghentikan makannya dan menatap Gara dan Arin dengan serius.
"Ada apa?" tanya Arin penasaran.
"Sebelum aku pingsan, tiba-tiba sebuah kejadian terputar di otakku. Sebelumnya aku pernah melihat kejadian tersebut di dalam mimpi sih, tapi kemarin begitu aku melihat kecelakaan itu bayangan kejadian di mimpiku terputar kembali. Seolah aku mengalami mimpi yang sama dua kali," jelas Devi.
Arin dan Gara tampak sedikit terkejut dengan cerita Devi.
"Lalu bagaimana hasil pemeriksaanmu kemarin? Otakmu ikut diperiksa tidak?" tanya Gara cepat.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku takut. Begitu masuk ke ruang pemeriksaan ada sebuah kejadian lagi terputar di otakku. Masa aku mimpi diculik dan hendak dijual organ dalamku. Itu aneh sekali bukan? Memangnya bisa ya mimpi dalam keadaan sadar dan tidak tidur?" bingung Devi.
"Aku kurang yakin sih, tapi sepertinya ada," ujar Arin.
"Siapa?" tanya Devi.
"Kau," tunjuk Arin pada Devi.
"Maksudnya selain aku Arin!!" kesal Devi.
"Bagaimana jika semua kejadian itu adalah kejadian yang dulu kau alami," ujar Gara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Devi tidak mengerti.
"Amnesia. Kau mengalami amnesia," jawab Gara sedikit terkejut dengan jawabannya sendiri.
"Benarkah? Tapi aku mengingat semuanya kok! Aku ingat kakakku adalah kak Sean, ayah dan ibuku bahkan jati diriku sendiri aku juga masih ingat kok," sanggah Devi.
"Kenapa kau tidak bertanya saja pada om Alby? dia kan dokter."
"Itu tidak mungkin Arin. Aku tidak mau om Alby tahu. Om Alby sudah kerepotan mengasuhku dan aku tidak mau menambah bebannya dengan amnesiaku," tolak Devi.
"Kak Raden? Kak Raden juga dokter kan? Kau tanya saja padanya! Lumayan sekalian pendekatan," ide Arin.
"Kau ini kasih saran yang sedikit masuk akal dong! Kak Raden masih koas, mana tahu dia penyakit seperti ini," tegur Gara pada Arin.
"Dokter koas kan juga dokter. Lagipula apa salahnya bertanya padanya," balas Arin.
"Arin benar! Sepertinya aku harus bertanya pada kak Raden sendiri, lagipula ini adalah kesempatan yang bagus untuk lebih dekat dengan kak Raden!" ujar Devi semangat.
*****
Alby menyandarkan kepalanya ke kursi kerjanya sembari memejamkan matanya sejenak. Ia sangat lelah hari ini. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Devi. Meskipun gadis itu sudah sehat tapi Alby masih mengkhawatirkannya.
Alby masih bingung bagaimana cara menghindari pemicunya dan di sisi lain ia tidak mungkin bisa mengawasi Devi 24 jam. Semakin dipikirkan semakin membuat Alby bingung.
Tok! Tok!
"Masuk."
Alby melihat kearah pintu dan di sana ada Laudya yang tersenyum kearahnya sembari membawa makanan.
"Aku membawakanmu salad buah. Ini sudah siang, kau pasti lapar," ujar Laudya sembari menyerahkan paperbag berwarna coklat pada Alby.
"Kemarin aku pergi ke mall dan tidak sengaja melihat jam tangan. Aku pikir itu sangat cocok untukmu jadi kubelikan satu," ujar Laudya.
Alby membuka salah satu paperbag dengan ukuran kecil dan terdapat jam tangan merek ternama di dalamnya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu membelikanku apa-apa. Maaf aku tidak bisa menerimanya," tolak Alby halus.
"Ayolah, kau menyakiti hatiku jika kau menolaknya. Lagipula ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah memberiku pekerjaan untuk mengajar Devi," ujar Laudya sembari tersenyum.
"Bukan kau, harusnya aku yang berterima kasih karena kau mau menerima tawaranku," balas Alby.
"Oh iya, bagaimana keadaan Devi? Apa dia baik-baik saja? Kudengar dari Raka katanya Devi ketakutan saat melakukan pemeriksaan EEG bahkan sampai berontak," tanya Laudya khawatir.
"Dia baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan Jessica?" tanya Alby mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Devi.
"Dia tidak mau berbicara padaku karena menurutnya aku terlalu membela Devi," jawab Laudya sembari tertawa. "Anak itu kadang memang harus diberi pelajaran agar tidak mengulangi perbuatannya. Padahal dulu dia tidak seperti itu, tapi tidak tahu kenapa setelah ibu meninggal sifatnya berubah 180°."
"Aku cukup prihatin mendengarnya. Tapi apa yang dilakukan Jessica memang sudah kelewatan," ujar Alby yang di setujui oleh Laudya.
"Kau benar. Aku ingin sekali menemui gadis bernama Rea yang menjadi korban perundungan Jessica. Aku ingin meminta maaf padanya," ujar Laudya sendu.
"Aku bisa mengantarmu," ucap Alby yang membuat Laudya berbinar.
"Benarkah? Lalu dimana rumahnya?!!" tanya Laudya bersemangat.
"Tidak perlu ke rumahnya. Ibunya sedang dirawat di rumah sakit ini. Ayo kuantar."
*****
Tanpa sepengetahuan Alby, Devi membuat janji temu dengan Raden. Devi ingin sekali bertanya-tanya pada Raden tentang amnesia yang dimaksudkan Gara padanya, jadilah ia menghubungi Raden untuk mengajaknya bertemu. Raden setuju tapi pertemuan mereka harus di kantin rumah sakit mengingat Raden masih seorang dokter koas yang memiliki waktu sangat terbatas hanya untuk sekedar bertemu dengan Devi.
Dan disinilah Devi berada sekarang. Devi berada di depan rumah sakit Citra Sehat, tempat Raden dan juga Alby bekerja. Karena ini juga tempat Alby bekerja, Devi harus ekstra hati-hati agar tidak bertemu dengan Alby karena kalau tidak, sudah dapat dipastikan Alby akan memarahinya lagi atau malah yang lebih buruk Alby akan menambah jam belajarnya.
Dengan bermodalkan jaket hitam milik Gara dan topi hitam milik Arin, Devi pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit.
Raden bilang padanya untuk menunggunya di kantin rumah sakit, tapi masalahnya Devi tidak tahu kantin rumah sakit berada dimana.
Devi pun berjalan menuju pusat informasi dan bertanya dimana kantin rumah sakit berada. Setelah mendapatkan informasi yang ia mau, Devi pun segera meluncur mencari keberadaan kantin rumah sakit.
Dalam perjalanan Devi tidak sengaja mendapati Alby dan Laudya yang berjalan beriringan. Dengan tanggap, Devi pun segera bersembunyi dan langsung duduk di ruang tunggu seolah ia menjadi pasien yang sedang mengantri untuk berobat.
Devi dapat melihat Alby yang tertawa kecil mendengarkan Laudya bercerita dan hal itu membuat Devi kesal.
"Maaf dek, adek juga mau periksa kandungan?" tanya salah seorang ibu-ibu hamil yang sedang berdiri di hadapan Devi.
Secara otomatis, Devi langsung mengedarkan pandangannya dan ia baru sadar ternyata ia berada di poli kandungan dan rupanya ibu hamil di hadapannya ini tidak kebagian tempat duduk.
"Ah tidak bu, silahkan duduk," ujar Devi berdiri sembari tersenyum kikuk.
"Ah tidak, ibu sudah selesai periksa. Ibu kemari karena ibu melihat adek sedang sendirian. Suami adek pasti sibuk ya? Usia berapa kehamilannya dek?"
"Ya?"
"Tidak apa-apa. Sekarang juga sudah banyak kok yang menikah muda apalagi hamil duluan, santai saja. Oh iya, kalau adek tidak berani masuk ke ruang periksa sendirian, ibu bisa kok menemani adek," ujar wanita hamil tersebut.
"Ah tidak perlu bu. Saya permisi dulu, terima kasih," pamit Devi buru-buru pergi sebelum ibu-ibu tersebut berpikir yang lebih jauh.
"Dasar anak muda jaman sekarang. Apa dia malu karena hamil duluan?" pikir ibu hamil tersebut sembari tertawa geli.
Devi berjalan dengan sembari bergidik ngeri begitu ia mengingat perkataan ibu hamil tadi. Apa-apaan itu tadi? Masa gadis SMA lugu dan imut sepertinya dikira hamil duluan?
Argh!
Langkah Devi terhenti begitu mendengar suara orang berteriak. Teriakan itu tidak kencang sih tapi Devi dapat mendengarnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Devi kenal suara itu!!
Devi pun segera mempercepat langkahnya dan ia mendapati Alby yang tengah menggendong Laudya ala bridal style. Devi yang melihatnya pun tidak dapat menahan kesal, ia langsung berjalan mendekat kearah mereka berdua.
"Om Alby!!" bentak Devi dengan dada naik turun menahan amarah.
"Kau disini? Sejak kapan? Bukannya kau tidak mau pergi ke rumah sakit lagi?" tanya Alby terkejut dengan kedatangan Devi.
"Kenapa om Alby menggendong tante Laudya?!" tunjuk Devi pada Laudya.
__ADS_1
"Kakinya terkilir dan aku mau mengobatinya sebentar. Kau tunggu saja di ruanganku, nanti aku menyusul," ujar Alby sembari berlalu meninggalkan Devi.
Devi menatap kepergian Alby dengan marah. Sungguh ia tidak rela melihat Alby dekat-dekat dengan Laudya. Devi pun segera berlari menyusul Alby yang ternyata membawa Laudya ke dokter ortopedi.
"Om berhenti!!" teriak Devi.
Alby yang saat itu sedang membuka pintu pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Devi.
Alby dapat melihat ekspresi marah di wajah Devi. Apa terjadi sesuatu pada Devi?
"Laudya kau bisa masuk sendiri ke dalam kan?" tanya Alby yang diangguki oleh Laudya.
"Iya. Terimakasih By, maaf merepotkanmu," ujar Laudya sebelum ia akhirnya masuk ke dalam ruang dokter Reza sendirian.
"Ada apa?" tanya Alby berjalan mendekat kearah Devi. Beruntung saat itu rumah sedikit lebih sepi karena hari sudah sore sehingga mereka tidak menjadi bahan tontonan.
"Aku tidak suka om Alby menggendong tante Laudya!"
"Kaki Laudya terkilir, bagaimana bisa aku membiarkannya jalan sendiri dengan kakinya yang sakit?"
"Tapi tidak perlu menggendongnya kan?"
"Kau lupa? Waktu kakimu terkilir aku kan juga menggendongmu, karena aku tahu itu akan lebih parah jika dipaksa untuk berjalan."
"Tapi om Alby menggendongku di belakang sedangkan om Alby menggendong tante Laudya seperti pengantin baru! Aku tidak terima om!" ujar Devi yang membuat Alby terkejut begitu mendengarnya. Apa-apaan itu pengantin baru? Penggunaan kata-kata Devi benar-benar buruk.
"Pengantin baru apanya?!! Kau ini kenapa senang sekali berbicara sembarangan! Lagipula kenapa kau datang-datang langsung marah-marah? Kau sedang datang bulan?"
"Datang bulan apanya?! Aku belum pernah datang bulan! Sudahlah pokoknya aku tidak mau om Alby dekat-dekat dengan tante Laudya!!"
"Kau belum pernah?" tanya Alby sedikit terkejut.
"Belum! Ayo kita segera pulang! Ini sudah waktunya om Alby pulang!"
Devi pun menarik lengan Alby dan mengajaknya pulang.
"Tunggu sebentar, aku harus mengantar Laudya pulang."
"Kenapa harus diantar?!!"
"Kakinya kan sakit," jawab Alby.
"Kan bisa naik taksi. Pokoknya ayo kita pulang om!! Aku tidak mau om Alby dekat-dekat dengan tante Laudya!!" marah Devi yang membuat Alby mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Kenapa kau jadi marah-marah seperti ini? Kau cemburu aku dekat dengan Laudya?"
"Cemburu?" ulang Devi seakan tersadar sesuatu.
Benar! Apakah Devi cemburu melihat kedekatan Alby dengan Laudya? Tidak! Itu tidak benar! Tapi jika itu tidak benar kenapa ia merasa kesal saat melihat Alby dekat dengan Laudya? Tidak mungkin Devi mulai menyukai Alby kan? Tentu saja tidak! Devi kan hanya menganggap Alby sebagai kakaknya saja tidak lebih. Tapi entahlah yang jelas Devi tidak menyukai kedekatan Alby dengan Laudya!!
"Kau cemburu padaku?" goda Alby sembari berjalan mendekat kearah Devi.
Melihat Alby yang berjalan semakin mendekat ke arahnya pun membuat Devi secara otomatis langsung mundur ke belakang bahkan kini punggungnya sudah membentur tembok.
"O..om Alby jangan macam-macam! Jangan mendekat!" gugup Devi sembari menahan dada Alby menggunakan kedua tangannya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
Perlahan wajah Alby mendekat kearah Devi dan Devi dapat merasakan hembusan nafas Alby menerpa kulit wajahnya dan hal itu membuat Devi semakin gugup.
"Lho ternyata ini suami adek ya?" tanya ibu hamil yang dijumpai Devi tadi berhasil menghentikan aksi Alby. Alby pun langsung menegakkan tubuhnya kembali dan ia mengerutkan dahinya bingung begitu mendengar penuturan ibu hamil di hadapannya ini.
"Bu...bu-"
"Wah selamat ya, pasti bayi di dalam perut adek adalah anak pertama ya? Kalau begitu ibu pulang dulu ya, semoga persalinannya nanti lancar dan ngomong-ngomong suami adek tampan sekali," pamit ibu hamil tersebut sebelum pergi sembari tertawa cekikikan.
Alby yang mendengarnya pun menahan tawa begitu melihat ekspresi wajah Devi yang menurutnya lucu.
"Jadi kau hamil berapa bulan?" goda Alby.
"Om!!!!"
__ADS_1
*****