
Setelah menempuh perjalanan dari kampung Erik ke kota S, Risma memilih mengistirahatkan tubuhnya. Dia merasa payah karena perjalanan yang panjang menurutnya. Pasalnya, suami tercintanya tidak mau menekan gas lebih cepat untuk menekan goncangan dalam kendaraan. Sehingga, jarak yang harusnya bisa ditempuh selama kurang dari satu jam, harus mereka tempuh dengan waktu tiga jam lebih. Meskipun perjalanannya semakin panjang, namun mereka juga melakukan istirahat berkali-kali. Semua itu hanya untuk Risma dan bayinya agar tetap dalam kondisi yang baik-baik saja.
Reyhan menuruni tangga rumah Risma yang ada di kota S. Terlihat anak-anaknya juga kelelahan. Rendi menggelar dua kasur lantai dan langsung diserbu oleh semua pasukan. Reyhan tertawa melihat kebahagiaan yang timbul dari hal yang sederhana, yaitu kebersamaan. Reyhan memilih rebahan disamping Reno yang kosong.
“Kenapa Papa nggak ikut tidur sama Bunda?” tanya Reno.
“Papa nggak mua ganggu Bunda istirahat. Lagi pula Papa nggak ngantuk. Takut Bunda keganggu sama gerak-gerik Papa” jelas Reyhan.
“Kita juga belum ngantuk Pa. Cuma capek aja dan pengen rebahan” seru Sean langsung bangun dari posisinya. Semuanya mengikuti gerakan Sean membuat Reyhan bingung dengan anak-anaknya yang kembali duduk semua.
“Kenapa kalian semua kembali duduk?”
“Nggak apa-apa. Papa mikirin apa?” tanya Rindi. Dia melihat Papanya sedang memikirkan sesuatu.
“Papa lagi mikirin permintaan Bunda kalian. Masak dia pengen Papa nyanyiin sih?” curhat Reyhan tentang permintaan istrinya beberapa menit yang lalu.
“Kapan Bunda mintanya?” tanya Sila.
“Tadi, sebelum Bunda tidur. Begini ceritanya”
Reyhan mulai bercerita tentang permintaan istrinya. Reyhan dan istrinya langsung menuju kamar setelah tiba. Keduanya langsung membersihkan diri dan Reyhan meminta istrinya agar istirahat agar tidak terlalu lelah nantinya. Namun saat Reyhan hendak keluar kamar, tangannya dicekal oleh Risma.
“Abang mau ke mana?” tanyanya merengek. Reyhan langsung peka kalau istrinya pasti menginginkan sesuatu.
“Mau keluar sebenarnya. Takut ganggu kamu istirahat. Kenapa hem?” tanya Reyhan lembut dan langsung duduk di sisi istrinya.
“Elus punggung Risma dulu ya sampai tidur. Boleh?” pinta Risma lembut.
“Tentu saja boleh. Kamu ambil posisi yang enak dulu. Miringnya yang pas, biar perut dan badannya nggak sakit” ucap Reyhan mengingatkan. Namun Risma tak kunjung melakukannya.
“Ada apa lagi?” tanya Reyhan sembari membelai rambut istrinya yang basah.
“Risma pengen dinyanyikan lagu sama Abang. Terserah mau lagu apa” rengeknya. Reyhan terbengong mendengar permintaan istrinya.
“Lagu? Nyanyi? Nina Bobo mau?” tanya Reyan menggoda istrinya. Menurutnya lagu itu pas karena memang istrina mau tidur.
__ADS_1
“Ih, Abang jahat. Masa lagu nina bobo” kesal Risma.
“Lalu? Abang kan nggak tahu mau nyanyi lagu apa” jawab Reyhan pasrah.
“Pokoknya Risma nggak mau tahu. Abang harus nyanyiin lagu buat Risma. Risma mau tidur dulu. Risma harap kalau bangun nanti, Abang udah nemu lagu apa yang mua dinyanyiin buat Risma” putus Risma tegas tanpa bisa dibantah. Reyhan hanya bisa pasrah dan berniat bangun. Namun lagi-lagi, tengannya ditahan istrinya.
“Abang mau kemana lagi?” rengeknya. Suaranya tidak lagi tegas, namun kembali manja. Reyhan menggelengkan kepala melihat perubahan sikap istrinya yang muda berubah. Hal itu kerap dia temui semenjak istrinya hamil.
“Mau cari inspirasi. Biar nanti kalau kamu bangun, lagunya udah siap” jawab Reyhan lembut. Dia berhati-hati dalam berbicara mengingat istrinya yang sangat sensitif.
“Nanti aja. Elusin dulu pinggang dan punggung Risma. Ya?” pintanya masih manja. Reyhan dengan senang hati melakukannya. Karena kelelahan dalam perjalanan, baru saja satu menit Reyhan mengelus punggung dan pinggangnya, dia sudah langsung tertidur dengan pulas.
“Nah, begitulah ceritanya anak-anak” ucap Reyhan mengakhiri ceritanya.
“Terus, sekarang ceritanya Papa lagi galau karena nggak tahu mau nyanyi lagu apa?” tebak Rindi dan Reyhan mengangguk membenarkan.
“Terus Papa pengennya mau nyanyiin Bunda lagu yang bagaimana?” tanya Sila membantu memecahkan permasalahan papanya.
“Lagu yang mewakili perasaan Papa sama Bunda. Tapi Papa nggak tahu lagu apa”
“Gini aja. Coba Papa ceritain perasaan Papa sama Bunda. Atau sepenting apa Bunda bagi Papa. Nanti kita bantu cari lagu yang pas deh” usul Sean dan sisetujui sama keempat anaknya.
“Ih, Papa malah melamun. Bagaimana kalau lagu ini. kayaknya cocok” ucap Rendi memperlihatkan sebuah lagu pada Reyhan.
“Syairnya sih cocok. Tapi Papa nggak tahu lagunya” jujur Reyhan. Sila dan Sean menepuk jidadnya melihat keloadingan papanya.
“Kan Papa bisa browsing, ngafalin lagu sama nadanya. Cari kuncinya juga bisa. Kan ada fasilitas” terang Sean panjang lebar. Reyhan tersenyum malu mendengar instruksi dari anaknya.
“Iya. Makasih ya. Mau bantu Papa lagi? Capek nggak?” tanya Reyhan setelah mendapat sebuah ide.
“Bantu apa dulu?” tanya Rendi dan Rindi bersamaan.
Reyhan mulai membisikkan sesuatu pada anak-anaknya. Hanya mereka yang tahu apa yang dibisikkan oleh Reyhan.
“Gimana? Bisa?”
__ADS_1
“Bisa dong” jawab semuanya kompak.
“Kuy, kita bergerak. Hai, mantan duo bungsu. Ayo ikut” ajak Rendi setengah menggoda dua adiknya. Reno dan Seno mengikuti kakak-kakaknya dengan muka cemberut. Apalagi Reno yang sepertinya masih setengah hati memberikan gelarnya pada calon adiknya. Reyhan terkikik melihat anak-anaknya yang kompak, namun juga saling
menggoda dan saling mensuport satu sama lain.
Jika dulunya dia dan kedua orangtuanya bingung mencari pengasuh untuk anak-anaknya. Namun kini, semua sudah terkendali dengan apik dan bahkan lebih baik. Reyhan mulai sibuk dengan ponselnya mencari lagu yang Rendi rekomendasikan. Setelah mendapatkan apa yang dimau, dia mulai mendengarkan lagunya dari beberapa versi. Mulai dari yang original hingga koplo. Lalu dia mencari kunci chord untuk berlatih sebelum bergabung dengan
anak-anaknya.
Hampir satu jam Reyhan belajar hingga hafal kunci, nada dan syairnya. Dia kembai ke kamar untuk melihat istrinya. Ternyata istrinya masih tertidur dengan pulasnya, sedangkan hari sudah mulai beranjak sore. Dengan ciuman lembut di seluruh wajah istrinya, dia membangunkannya.
“Uuuuh” lenguh Risma terganggu dengan ulah suaminya.
“Bangun, Sayang. Sudah mau sore. Mandi yuk” ajak Reyhan. Risma menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Jam berapa Bang?” tanya Risma malas.
“Sudah hampir jam empat. Mau mandi sendiri atau Abang mandiin?” goda Reyhan.
“Mandi sendiri aja. Kalau sama Abang, lama” dumel Risma membuat Reyhan tertawa. Sedangkan Risma bangun dengan malas dan menyambar handuk yang menggantung. Reyhan memilih merapikan selimut yang tadi dipakai istrinya.
“Dulu, aku mana pernah melakukan ini. Jangankan diriku, Dita saja tidak melakukannya. Semuanya serba pembantu” guman Reyhan sambil melipat selimutnya. Ya, berumah tangga dengan Risma membuatnya belajar banyak hal. Arti keluarga, arti kebersamaan dan arti pekerja baginya. Semuanya Risma ajarkan lewat prilaku dan ucapan-ucapan tanpa merasa digurui atau disinggung. Hanya pada Risma saja Reyhan mengatakan kalau cintanya pada Dita dan Risma sama besar. Namun pada semua orang, Reyhan dengan tegas mengatakan bahwa rasa cintanya lebih besar berkali-kali lipat pada Risma dari pada Dita.
*****
Hayo, kira-kira Reyhan mau menyanyikan lagu apa buat Risma? Dan apa yang Reyhan lakukan dengan anak-anaknya menuruti permintaan bumil asix ini?
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****