
Farhan telah tiba di kediaman Ali dan Nilam. Sila melepas helm dan membawanya masuk. Namun sebelum masuk, Sila meminta Farhan membawa saja motornya.
“Kak, bawa saja motornya. Biar nggak perlu ngojek kalau aku butuh Kakak”
“Ya Non. Maaf Non, kalau misalnya saya pakai buat keperluan pribadi, boleh nggak?” tanya Farhan. Untung-untungan mengadu nasib buat mobilitas pribadi.
“Oh, boleh kok Kak. Asal jangan buat pacaran aja” goda Sila sekaligus memberi ijin.
“Hahaha, si Non bisa aja. Saya nggak punya pacar Non. Jadi aman, nggak bakal dipakai buat pacaran” jawab Farhan apa adanya.
“Masak sih Kak? Kan Kakak ganteng. Kok bisa nggak punya pacar?” tanya Sila tidak percaya.
“Serius Non. Belum ada yang srek aja di hati” jawab Farhan menggaruk kepalanya yangtidak gatal. Farhan melihat Sila yang manggut-manggut. Ide jahil muncul di benaknya.
“Kalau Non Sila aja yang jadi pacar Kakak, mau?” tanya Farhan menahan senyum. Bukan pertanyaan serius, tapi hanya menggoda majikannua. Sila tahu halitu dan malah menanggapi kekonyolan Farhan.
“Memangnya Kak Farhan sudah srek ama Sila?” tanya Sila mengerlingkan matanya. Farhan salah tingkah dan merutuki dirinya dalam hati.
Salah sasaran kayaknya. Senjata makan tuan ini namanya. ~ Farhan.
“Yah setidaknya mendekati. Gimana?” ucap Farhan melanjutkan langkahnya yang sudah kepalang tanggung.
“Mau banget. Jadi mulai sekarang, Kak Farhan jadi pacar Sila ya?” jawab Sila mengikuti godaan Farhan. Sila terkikik geli melihat Farhan mulai kebingungan.
“Eh Non. Tadi bercanda lho, jangan dianggap serius ya?” ucap Farhan sedikit panik.
“Kok bercanda sih Kak. Padahal aku tuh udah seneng banget lho di tembak sama Kakak. Sila tuh udah klop banget tahu” ucap Sila masih terus menggoda pengawalnya.
“Haduh, gimana ini? Benar-benar senjata makan tuan” keluh Farhan dan sukses membuat Sila melepaskan tawanya.
“Hahahaha. Makanya Kak, jangan suka nggoda Sila” ucap Sila dan langsung melenggang masukrumah. Farhan mengelus dadanya lega, namun dirinya tidak akan bisa berhenti menggoda majikan cantiknya. Entah mengapa, ada kepuasan dan kesenangan tersendiri saat menggoda Sila.
*****
Waktu terus berlalu dan ujian masuk universitas sudah semakin dekat. Sila juga sudah siap menghadapinya. Apalagi setelah Sila tahu kalau Farhan ternyata alumni dari Universitas Setia, membuat Sila menambah jadwal untuk Farhan. Sila meminta Farhan membantunya belajar membuatnya semakin siap menghadapi ujian masuk
universitas.
Selama dua hari, Sila tidak keluar rumah dan fokus pada persiapan ujian masuk universitas. Hari ini, Sila sudah menunggu Farhan di depan rumahnya. Hatinya berdegup karena hendak menjalani tes masuk secara reguler. Risma pernah menyarankan untuk ikut tes masuk beasiswa, namun Sila tidak mau. Sila tahu resiko apa yang harus dia emban ketika menjadi mahasiwa beasiswa. Dan Sila ingin menikmati masa kuliahnya dengan mengalir pelan. bukan berarti mahasiswa beasiswa tidak menikmati masa kuliahnya. Tapi masih terbebani dengan prestasi yang harus dipertahankan atau beasiswa yang jadi taruhannya.
__ADS_1
“Kenapa Non?” tanya Farhan begitu turun dari motor dan menghampiri nonanya.
“Aku gugup Kak” jujur Sila. Farhan tersenyum dan memakaikan helm di kepala Sila.
“Eh, Kak. Sila bisa sendiri” ucap Sila kikuk. Tiba-tiba saja dia merasa salah tingkah.
“Nggak apa-apa Non. Saya suka kok melakukannya” jawab Farhan tersenyum manis. Sila merona mendengar jawaban Farhan. Farhan tersenyum senang melihat wajah malu-malu nonanya.
“Imut” puji Farhan tanpa sadar dan semakin membuat Sila tersipu. Pipinya sudah seperti bunga sakura yang berguguran. Farhan sendiri merasa terkejut dan merutuki dirinya sendiri yang selalu hilang kontrol kala bersama Sila.
“Ayo Kak, kita berangkat. Sila nggak mau telat masuk kelasnya. Biar bisa milih tempat” ajak Sila agar Farhan tidak terlalu lama melihat dia merasa malu.
“Iya Non. Mari”
Selama perjalanan, tidak ada obrolan antara keduanya. Sial sibuk dengan pikirannya yang nerves karena hendak ujian. Sedangkan Farhan fokus menyetir karena jalanan sedang ramai-ramainya dikarenakan hari kerja. Farhan memarkirkan motor di tempat biasanya dan menerima helm dari Sila. Tanpa mengatakan apapun, Sila langsung berjalan menuju gerbang. Namun langkahnya terhenti karena panggilan Farhan.
“Non”
“Iya?” jawab Sila menoleh ke samping tanpa membalikkan badannya. Entah mengapa, dia masih saja merasa malu kala mengingat pujian Farhan padanya.
“Semangat” seru Farhan. Sila membalikkan badannya dan tersenyum memandang Farhan.
“Semoga ujiannya lancar dan diterima menjadi mahasiswa di kampus ini”
“Amiin”
Sila kembali melanjutkan langkahnya dan mencari ruangan yang hendak digunakan untuk melaksanakan ujian. Dia memilih tempat duduk yang ditengah-tengah. Tidak di depan juga tidak di belakang. Dia langsung mempelajari kembali sambil menunggu waktu ujian dimulai.
Sementara itu, Farhan memilih menghampiri satpam yang terlihat selalu sendiri.
“Pagi Pak” sapa Farhan sopan.
“Pagi Tuan” jawab satpam itu sopan. Apalagi tahu kalau Farhan pemegang salah satu kartu sakti milik keluarga Prasetyo.
“Jangan panggil Tuan dong, Pak. Saya ini sama dengan Bapak, sama-sama pegawai” seloroh Farhan dan satpam itu tertawa membenarkan.
“Farhan” Farhan mengulurkan tangannya seraya menyebutkan namanya.
“Diman, Mas. Saya panggil mas saja kalau begitu” ucap satpam itu yang mengaku bernama Diman.
__ADS_1
“Okelah kalau begitu” timpal Farhan dan keduanya tertawa. Keduanya mengobrol basa-basi hingga tanpa terasa waktu ujian sudah selesai. Sampai-sampai keduanya tidak menyadari kalau Sila sudah datang sedari tadi.
“Ehem” deheman Sila mengagetkan keduanya dan otomatis memutus perbincangan mereka.
“Sudah Non?” Sila mengangguk. Farhan berdiri dan menghampiri Sila.
“Ini lho Pak, majikan Farhan. Namanya Non Sila” ucap Farhan memperkenalkan Sila. Farhan tidak tahu kalau Sila memandang dirinya dengan garang. Diman memberi kode pada Farhan soal pandangan Sila padanya. Farhan melihat ke arah Sila dan terkejut melihat wajah marah majikannya.
“Non Sila kenapa?” tanya Farhan hati-hati.
“Kenapa Kakak bilang kalau aku majikan? Nggak suka ah” jawab Sila sewot. Farhan baru mengerti dan tersenyum.
“Kan Non Sila memang majikan Kak Farhan” jawab Farhan apa adanya.
“Tapi Sila nggak suka. Kalau Kakak bilang begitu, rasanya kayak ada jarak antara kita” jujur Sila dengan wajah sedihnya.
“Terus maunya Non Sila gimana?” tanya Farhan dengan pasrah. Hatinya tidak tega melihat wajah sedih nonanya.
“Tawaran Kakak yang kemarin-kemarin masih berlaku nggak buat jadi pacar aja.” tanya Sila sambil mengerlingkan matanya sebelah kanan. Farhan mengerjab terkejut dan menghela napas lagi. Dirinya lagi dan lagi merasa digoda oleh nonanya.
“Kenapa Kak Farhan begitu? Sila serius lho mau jadi pacar Kakak” ucap Sila. Diman hanya tertawa melihat wajah pasrah teman barunya itu digoda majikannya.
“Sudah ya Non. Ayo kita pulang atau mau kemana lagi” ajak Farhan agar dirinya tidak terus digoda. Sila tertawa dan malah menghampiri satpam Diman.
“Makasih ya pak sudah menemani ngobrol calon pacar Sila” ucap Sila tertawa dan melenggang mengikuti Farhan setelah bertos ria dengan Diman. Diman hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya.
“Padahal keduanya terlihat cocok dan Nona Sila juga tidak tampak angkuh” ucap Diman mengagumi sosok Sila yang tidak menunjukkan sikap arogan seperti kebanyakan anak orang kaya lakukan.
“Mereka tidak tampak seperti atasn dan bawahan. mereka justru terlihat seperti kakak beradik atau sepasang kekasih” tambahnya dan terus memandang keduanya sampai tak terlihat oleh kedua matanya.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****