
Waktu terus berlalu, Sila-pun sudah menjadi mahasiswa di Universitas Setia setelah menerima email kelulusan dan menjalani OSPEK selama satu pekan. Sila juga sudah menempati unit di asrama Setia. Asrama Setia di desain seperti rumah kontrakan bertujuan untuk mengajarkan kemandirian pada setiap penghuni asrama. Asrama Setia terbagi menjadi dua bagian yaitu Asrama Panji untuk laki-laki, dan Asrama Dewi untuk perempuan. Setiap asrama terdiri dari lima blok dengan 30 unit per blok. Setiap blok terdiri dari tiga lantai dan tempat tidur dua tingkat setiap
unit. Artinya, setiap unit berisi maksimal dua orang. Sedangkan nama untuk setiap blok diambil dari nama bunga untuk Asrama Dewi, dan nama rasi bintang untuk Asrama Panji. Nama-nama blok di asrama dewi yaitu blok anyelir, blok aster, blok anggrek, blok bougenville, dan blok camelia. Sedangkan nama-nama blok di asrama panji yaitu blok auriga, blok lyra, blok virgo, blok taurus dan blok orion.
Sila sendiri menempati blok bougenville – 5 di lantai satu bersama dengan mahasiswa beasiswa prestasi berasal dari kota D. Gadis belia yang umurnya masih di bawah Sila karena dari SMP selalu mengambil jalur patas. Usianya masih belum genap 15 tahun. Namanya adalah Sima Mahendra.
“Kenapa nama kamu Sima Mahendra? Seperti di film bollywood aja” tanya Sila kala itu.
“Kata bapak dan emak, dulu waktu emak hamil aku, ngidam banget pengen nonton film india. Aku juga dikasih tahu film apa yang pengen emak tonton. Kalau nggak salah judul Ok Boss. Nah di situ perempuannya namanya Sima. Jadi deh aku diberi nama Sima. Kalau Mahendra, aku nggak tahu dari mana” jujur Sima dan Sila mengangguk mengerti.
“Kamu mau kasur yang mana?” tanya Sila mengalah karena merasa lebih tua dari Sima.
“Aku mau yang dia atas aja. Kan badan aku kecil, jadi gampang naik turunnya” jawab Sima setengah bercanda.
“Eh, kamu ngejek aku ya?” tanya Sila pura-pura kesal.
“Hahahaha, aku nggak bilang lho Kak. Kakak sendiri yang merasa” jawab Sima tanpa dosa.
“Awas kamu ya. Rasakan ini” ancam Sila dan dia mulai menggelitiki Sima.
“Hahahaha, ampun Kak” mohon Sima namun Sila tak mau perduli. Dia tetap menggelitik hingga keduanya tertawa bersama merasa puas.
“Ternyata kamu asyik juga ya?” ucap Sila. Sima mengangkat dagunya jumawa dan mendapat hadiah tabokan dari Sila.
“Dasar” omel Sila, namun dirinya tetap tertawa.
“Tapi ngomong-ngomong, nama kita hampir sama lho Kak. Aku Sima dan Kakak Sila. Beda di L sama M aja” Sila termenung dan mengangguk membenarkan. Dia baru menyadari kesamaan keduanya.
“Iya ya. Wah ini Bunda nggak kreatif ngasih nama tokoh baru kayak kamu. Harusnya yang beda gitu” Sima malah tertawa kala Sila menyalahkan penulis alias bunda dalam hal ini.
“Tapi aku seneng lho dikasih nama mirip Kakak. Aku tuh penggemar Kakak tahu. Nih lihat, aku selalu like, suscribe dan share video Kakak” Sima menunjukkan ponselnya pada Sila. Sila terharu dan memeluk Sima dengan sayang.
__ADS_1
“Mulai sekarang, kamu adik aku di sini. Jadi kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat minta tolong. Dan aku harap kita bisa satu kelas” ucap Sila dan Sima menangis karena idolanya memeluknya dengan sayang. Dalam hatinya dia merapalkan do’a yang sama.
“Makasih ya Kak. Aku sebenarnya nggak menyangka kalau aku bakalan satu kamar sama Kak Sila. Ini kaya mimpi yang jadi nyata” jujur Sima dengan suara serak karena tangisannya. Sila memeluk Sima semakin erat. Dia teringat Rindi yang selalu menemaninya di kamar setelah pulang sekolah.
“Kita jadi adik kakak mulai sekarang. Kapan-kapan aku kenalkan dengan saudara-saudaraku” Sima mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Sila. Sila mengusap air mata Sima dengan jari-jarinya penuh kelembutan.
“Aku juga sering nonton Kak Rindi, saudari Kakak yang kembar itu. Aku juga suka sama dia” ucap Sima menggebu-gebu.
“Benarkah. Nanti kalau dia datang mengunjungiku, aku pasti kenalkan. Semoga aja Allah memberi waktu kamu dan Rindi untuk saling mengenal”
“Amiin”
*****
Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun Sima dan Sila tinggal di unit yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula. Namun keinginan mereka untuk berada dalam kelas yang sama tidak terwujud. Sila menempati kelas B, sedangkan Sima di kelas D. Hal ini dikarenakan banyaknya peminat di bidang fashion desain. Bahkan jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama. Ada tujuh kelas dengan setiap kelas maksimal 20 mahasiswa. Total peminat di bidang fashion desain yaitu 137 dari 140 tempat yang disediakan.
Kuliah sudah dimulai dan duo S juga sudah siap untuk menyambut materi pertama mereka. beruntungnya mereka memiliki jam yang sama meskipun dengan materi yang berbeda. Hanya bersilangan saja materi keduanya.
“Nggak apa-apa. Lagi pula kan kampus dekat dari asrama. Santai aja” jawab Sima membuat Sila tersenyum senang.
“Aku tunggu di gerbang depan” Sima mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan Sila yang masih memandangnya dengan helm dikepala.
“Yuk Kak. Besok boleh nggak Sila ke kampusnya bareng Sila, jalan kaki” tanya Sila pada Farhan. Farhan memandang Sila dengan serius. Mulutnya siap untuk memberi jawaban atas pertanyaan nonanya.
“Nona berani minta ijin sama Bos besar?” tanya Farhan. Sila menggeleng pelan. Farhan tersenyum dan menepuk pundak Sila.
“Yang sabar” hibur Farhan. Sila mengangguk pasrah dan naik di belakang Farhan.
“Nanti selesai jam berapa, Non?” tanya Farhan teriak, karena motor sudah berjalan.
“Setengah duabelasan Kak. Cuma dua aja materi hari ini” Farhan mengangguk dan fokus di jalanan. Karena jaraknya pendek, mereka tiba hanya dalam waktu 2 menit saja.
__ADS_1
Sila menunggu Sima di gerbang depan, sedangkan Farhan melanjutkan perjalanan untuk memarkir kendaraannya. Tidak lupa memasang alarm di ponselnya tepat di jam setengah duabelas. Ada tenggang waktu sekitar setengah jam untuk Farhan menjemput Sila ke dalam. Jika sampai pukul dua belas Sila belum juga menemui Farhan, maka Farhan harus mencari Sila ke dalam kampus. Itu adalah batas yang ditetapkan Reyhan dan Sila sudah mengetahui hal itu.
Sila dan Sima masuk ke kampus bersama dan mereka berpisah saat sudah di depan kelas Sima.
“Aku ke kelas dulu. Sampai jumpa nanti” pamit Sima dan Sila melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.
Waktu terus berlalu dan keduanya sudah selesai dan kembali bertemu. Mereka memilih kantin untuk mengobrol dan bertukar pikiran. Waktu sudah habis bagi Sila untuk mengobrol dengan Sima.
“Uh, Sebel. Sepertinya aku harus minta banyak waktu pada Papa” kesal Sila karena harus menunda pembicaraannya dengan Sima.
“Hahaaha, kamu kaya kita beda atap aja” tawa Sima dan Sila hanya menyengir membenarkan ucapan temannya.
“Habisnya kan lagi asyik, tapi udah harus absen sama Kak Farhan” jawab Sila.
“Kenapa nggak kamu ajak aja tuh si Kak Farhan ke sini?” usul Sima. Sila menjentikkan jari senang dan langsung berdiri hendak menghampiri Farhan. Namun langkahnya harus terhenti karena dihadang segerombolan pemuda.
*****
Maaf ya semuanya, Bunda baru aja pulang kampung sekalian mengantar anak bunda yang sulung ke pesantren.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI
BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****