DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 6


__ADS_3

Rindi masih melanjutkan mengerjakan PR-nya. Dia melihat di rak buku, buku-bukunya sudah rapi. Tinggal yang dia bawa hari ini. Rindi melihat ada sisa sampul di laci meja. Rindi mengambil dan menyampul sendiir bukunya. Tentu saja Rindi bisa, dia sudah biasa membantu bundanya saat menyiapkan keperluan sekolah.


“Sudah selesai. Biar nanti bunda yang nulis mapelnya. Tulisan bunda lebih bagus dari pada tulisanku” Rindi berguman dalam hati. Ada kepuasan dalam hatinya saat bisa membantu tugas bundanya walau hanya pekerjaan kecil.


“Aku ke kamar Reno dan Kak Rendi. Pasti buku hari ini juga belum di sampul” Rindi bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar saudaranya dengan membawa sampul ditangannya.


“Kak, aku masuk ya?” teriak Rindi setelah mengetuk pintu.


“Masuk dek?” teriak Rendi. Ternyata Rendi dan Reno masih sama-sama mengerjakan tugas mereka.


“Ada apa?” tanya Reno melirik kakaknya.


“Kakak mau nyampul buku Reno dan Abang yang dibawa hari ini. Kasihan bunda, capek” Rindi mengangkat sampul yang dia bawa.


“Oh, oke. Tapi yang ini nanti. Masih aku pakai” Rendi berkata dengan menunjuk buku yang masih dia kerjakan.


“Oke”


Reno dan Rendi  melanjutkan tugasnya, sedangkan Rindi menyampul buku-buku saudaranya.


“Nih, sudah selesai. Yang itu biar kami rapikan” Rendi memberikan dua buku yang belum disampul.


“Oke”


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


“Ini nggak kakak tulis sekalian mapelnya?” tanya Reno menoleh pada sang kakak karena melihat buku lainnya tertulis mapel.


“Nggak. Biar bunda aja. Tulisanku nggak serapi bunda”


“Oh”


Rindi telah selesai dengan sampulnya. Dia melihat jam yang ada di kamar Rendi dan Reno. Masih pukul empat lebih sepuluh menit.


“Main yuk” ajak Rindi pada kedua saudaranya.


“Main apa?” tanya Reno.


“Main bola. Biar bisa bareng-bareng. Tapi ingatkan nanti kalau sudah setengah lima” putus Rindi.


“Memangnya kenapa?”


“Bunda minta dibanguni jam segitu”


“Oke”

__ADS_1


Saat ketiganya keluar, bersamaan dengan duo A yang turun. Seno celingak celinguk mencari Riska, namun tidak menemukannya.


“Tuan kecil Seno cari siapa?” tanya Reno penasaran.


“Bibi mana?” tanya Seno tak sabar.


“Bunda tidur Tuan kecil” jawab Rindi. Bunda meminta mereka mengerti posisi sendiri dan memanggil anak asug Riska seperti Riska memanggil mereka. Riska juga meminta pengertian ketiga anaknya untuk mau berbagi dalam segala hal dengan trio A mulai sekarang. Mereka diminta mengerti kehausan tuan dan nonanya akan perhatian dan kasih sayang. Itulah hasil pertemuantrio R dengan bundanya sepulang sekolah.


“Oh, ya udah. Biarin bibi tidur, pasti capek. Kalian mau kemana?” tanya Sean.


“Kami mau main tuan. Di halaman” jawab Rendi dan diangguki oleh adik-adiknya.


“Boleh kami ikut?” tanya Seno ragu-ragu.


“Tentu tuan. Mari” Rindi mengajak dengan ramah. Mereka akhirnya bermain bola bersama. Bukan main bola seperti yangada di pertandingan, tapi hanya saling oper satu sama lain. Tentu saja dengan peraturan, yang tidak bisa menerima operan harus menerima hukuman.


Sekarang giliran Rindi yang mengoper dan Sean yang menerima. Tendangan Rindi memang akurat, tapi kurang tenaga sehingga membuat Sean lebih mudah menerima. Rindi berganti dengan Seno. Kakak adik itu saling berhadapan dan memberikan tatapan tajam seolah sedang bertempur dalam pertandinga yang sesungguhnya. Sean telah melakukan ancang-ancang dan bersiap menendang. Seno sudah memposisikan diri seperti kiper profesional. Duk. Bola melayang dan terarah. Seno melompat sedikit tinggi dan jatuh sangat keren dengan mendekap bola di tangannya.


Prok prok prok. Rindi bertepuk tangan heboh.


“Tuan kecil Seno hebat. Itu sungguh keren” puji Rindi dengan senyum mengembang. Seno yang mendapat pujian antusias dari Rindi menjadi berlagak. Dia membungkuk hormat pada Rindi seolah membungkuk pada banyak penonton.


“Terimakasih terimakasih” ucap Seno dengan gaya songongnya.


“Hueeek” Sean pura-pura mau muntah melihat tingkah narsis adiknya.


“Jangan berlagak. Kita tanding, siapa yang kalah, harus menerima hukuman dari yang menang” tantang Sean.


“Oke. Siapa takut” Seno tak gentar dengan tantangan kakaknya.


“Kalian yang jadi wasit dan saksi” entah mengapa Sean sangat menggebu-gebu, berbeda dengan Seno yang lebih santai meskipun sikapnya konyol tadi.


“Baik tuan kecil” trio R menjawab dengan serempak.


Pertandingan dimulai. Penendang pertama adalah Seno. Dengan sigap, Sean bisa menangkap bola yang ditendang Seno. Sepuluh tendangan berlalu dan skor masih sama kuatnya, 5-5.


“Bang, Rindi masuk dulu ya? Mau bangunin bunda” pamit Rindi saat melihat jam sudah setengah lima lebih sedikit.


“Iya” jawab Rendi.


“Abang mihak siapa?” tanya Reno.


“Abang bingung. Mereka sama kuatnya”


“Gimana kalau kita taruhan” ajak Reno dengan semangat.

__ADS_1


“Nggak ah. Kata bunda nggak baik taruhan. Sama aja dengan belajar judi” tolak Rendi.


“Oh, oke. Kita nurut apa kata bunda” putus Reno tak mau memaksa. Rendi tersenyum dan mengusap kepala adiknya dengan sayang. Seno melihat perlakuan Rendi pada Reno dan memandang kakaknya.


Kak Sean tak pernah begitu padaku. ~ Seno merasa iri. Entah mengapa setiap apa yang Riska lakukan atau anak-anaknya selalu bisa membuat trio S iri.


“Woi, Sen. Ini terakhir. Kalau kamu bisa nangkap, kita seri. Tapi kalau kamu nggak bisa, aku menang” teriak Sean menyadarkan Seno.


“Sip” jawab Seno dan mengacungkan jempolnya. Seno bersiap menangkap bola dan hap, bola tertangkap.


“Kita seri” teriak Seno begitu dia berhasil menangkap bolanya.


Tak lama dari itu, Riska muncul dengan keadaan yang sudah segar. Meskipun tidur sebentar, sudah cukup menghilangkan penat yang dirasakan Riska.


“Tuan kecil, sudah sore. Ayo bebersih dulu” ajak Riska melambaikan tangannya mengajak Sean dan Seno.


“Iya Bi” keduanya berlari menuju Riska.


“Sayang, bantu adek bebersih dan sholat ya?” pinta Riska pada Rendi. Dia sudah percaya pada anak-anaknya bisa melakukan tugasnya dengan baik.


“Baik bunda” jawab Rendi dan Reno bersamaan.


“Pintar. Makasih sayanng” Riska mengacak sayang rambut keduanya sebelum duo R berlalu. Sean mendengus kesal setiap kali Riska memanjakan anak-anaknya. Seno menatap penuh harap pada ketiganya. Riska melihat dua tuan kecilnya. Perasaan Riska yang memang peka mendatangi dua tuan kecilnya.


“Ayo tuan kecil” Riska mengusap lembut rambut Sean dan Seno, tidak mengacaknya karena itu tidak sopan. Meskipun mereka kecil, tapi tetap saja mereka adalah majikan Riska.


Mendapat perlakukan lembut itu, Sean dan Seno tersenyum. Sean melirik Seno yang juga tersenyum cerah.


“Ayo kita balapan. Yang sampai atas terlebih dulu menang” ajak Sean. Belum juga Riska mencegah keduanya, Seno sudah lari dengan mengambil start lebih dulu.


“Ayok” teriak Seno yang sudah berlari. Sean kesal dan mengejar Seno yang sudah di depan.


“Tuan kecil, jangan lari-lari. Pelan-pelan kalau naik, namun tidak digubris oleh Seno dan Sean. Dan benar apa yang dikhawatirkan Riska. Seno tersandung dan tubuhnya oleng.


“Tuan kecil” teriak Riska dan langsung menaiki tangga dengan dua anak tangga sekaligus.


HAP. Riska menangkap tubuh Sean dan Seno bebarengan karena Seno menimpa Sean. Beruntung Riska bergerak cepat hingga dia bisa menangkap majikannya. Seno dan Sean terbengong dalam pelukan Riska. Kesigapan Riska memang sudah terlatih saat menjadi ibu bayangkhari. Good job Riska!


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda  sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2