DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 78


__ADS_3

Hari demi hari telah terlewati dengan suasana yang bahagia bagi di keluarga Kusumo. Tidak terasa sudah dua tahun berlalu sejak konser dadakan untuk memenuhi ngidam Risma kala itu. Sila sudah lulus dengan nilai yang memuaskan dan memutuskan untuk ikut kakek dan neneknya yang ingin tinggal di kota M.


“Sayang. Kamu beneran mau ninggalin Bunda dan semuanya?” tanya Risma sedih. Dirinya belum rela kalau putri sulungnya pergi jauh darinya.


“Bunda sayang. Nanti kalau Bunda melahirkan, Sila usahakan datang menengok adik Sila. Oke?” jawab Sila menghibur Risma. Ya, kini Risma kembali hamil anak kedua dari Reyhan. anak pertamanya adalah perempuan dan mereka memberi nama Cempaka Cantika Kusumo.


“Itu tiga bulan lagi Kak. Nggak bisa ya kuliah di sini aja. Kakak udah nggak mau tinggal lagi sama Bunda” bujuk Risma lagi.


“Bund. Bukannya Sila nggak mau hidup bareng Bunda lagi. Sila seneng banget tinggal bareng Bunda. Hanya saja Sila pengen suasana baru dan Sila juga latihan hidup jauh dari Bunda” Sila memberi penjelasan dengan sabar karena sudah berpengalaman saat Risma mengandung anak pertama.


“Kenapa? Kakak pengen hidup jauh dari Bunda?” tanya Risma yang sudah meneteskan air mata.


“Supaya kalau Sila menikah kelak. Sila sudah tidak bergantung lagi sama Bunda. Sila pengen jadi istri yang baik seperti Bunda. Mandiri dan pandai mengurus suami”


“Bisa belajar dari Bunda” Risma masih belum rela.


“Iya. Saat Sila di sini, Sila akan belajar dari Bunda. Bunda jangan bersedih ya” Risma menarik napas panjang dan mencoba mengerti keinginan putrinya.


“Baiklah. Bunda dukung keputusan kamu. Tapi ingat, harus tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Mengerti?” Sila mengangguk. Restu dari Risma menjadi kunci utama kepergiannya. Sila tahu kalau bundanya tidak mengijinkan, maka papanya juga tidak akan mengijinkan dirinya pergi.


“Juga jaga diri baik-baik. Jaga pergaulan dan jangan pernah pulang malam tanpa alasan apalagi cuma bersenang-senang” Risma memberi nasehat sebelum kepergian putrinya.


“Iya Bunda. Sila janji. Insya Allah” Sila memeluk Risma dan disambut hangat oleh bundanya.


“Sila pasti merindukan kehangatan Bunda” Sila menangis dalam dekapan hangat Risma.


“Bunda juga pasti akan merindukan Kakak” keduanya saling berpelukan meluapkan perasaan yang mereka rasakan.


“Bund, dimana? Dedek bangun ini” teriak Reyhan mencari keberadaan istrinya. Risma melepaskan pelukannya dan mengusap lembut pipi putrinya.


“Bersiaplah. Papa mencari Bunda. Adik kamu bangun katanya” ucap Risma lembut.


“Iya Bund. Setelah selesai packing, Sila akan menemui Bunda” janji Sila.


“Hem” Risma  mengangguk dan memberikan senyum semangat pada  putrinya. Meskipun hatinya seolah tidak rela, namun keputusan putrinya harus dia terima. Keinginan untuk mandiri harus dia hargai untuk mendewasakan putrinya. Setidaknya putrinya tidak sendirian di sana. Ada kedua mertuanya yang akan menjaga Sila nanti.

__ADS_1


Sila menghela napas panjang setelah kepergian Risma. Hatinya juga berat berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi. Apalagi dia sudah terbiasa nyaman dengan perhatian-perhatian kecil dari Bundanya. Namun hidupnya tidak bisa terus menerus bergantung pada bundanya. Dirinya harus bisa hidup bebas dari rasa bergantungnya ada bundanya. Toh bundanya sudah memberinya bekal yang cukup untuk hidup mandiri.


Semua yang dibutuhkan sudah dipacking rapi oleh Sila. Kini dia memutuskan untuk mandi sebelum menemui orang tuanya juga saudra-saudaranya. Sementara itu, Risma sedang membuatkan susu untuk putri kecilnya dibantu Rindi.


“Sayang, berikan susunya pada Papa ya? Bunda mau menyiapkan makan siang untuk kita semua” pinta Risma pada Rindi.


“Iya Bund. Sepertinya Bunda masak spesial siang ini?” tanya Rindi sambil mengocok-ngocok botolnya  agar susunya teruarai dengan sempurna.


“Iya. Sore nanti Kak Sila akan pergi ke kota M untuk kuliah disana. Jadi siang ini Bunda masak makanan kesukaan Kak Sila” jawab Risma semangat. Namun sedetik kemudian, wajahnya murung dan menunduk.


“Bunda kenapa?” tanya Rindi pelan.


“Hari ini Bunda akan berpisah dengan Kak Sila. Nanti, Bunda juga akan berpisah dengan Kakak juga Kak Rendi.  Bunda sedih” jujur Risma. Sila yang baru saja turun dari kamarnya menunduk sedih mendengar ucapan bundanya. Dia kembali menghela napas dan menguatkan tekad untuk tetap meraih mimpinya. Ya, mimpinya adalah ingin kuliah di Universitas Setia. Universitas elit yang tidak mengistimewakan siapapun. Di universitas ini, Sila bisa menjadi dirinya sendiri tanpa ada bayangan dari nama besar keluarganya. Karena di Universitas Setia, nama besar keluarganya tidak akan berpengaruh apapun pada mahasiswanya. Yang harus mereka lakukan belajar dengan baik dan menunjukkan pada dunia siapa dirinya, bukan siapa keluarganya.


“Kita kan cuma beda kota Bund. Bukan beda dunia. Jadi masih bisa saling mengunjungi satu sama lain” hibur Rindi dan diangguki oleh Risma.


“Kamu benar, Sayang. Ya sudah, kamu antarkan susunya dulu. Dedeknya sudah menunggu dari tadi”


“Iya Bunda”


“Pa” panggil Sila membuat Rindi yang ada di depannya terkejut karena tidak tahu kalau kakaknya ada di belakangnya.


“Astaghfirullah. Kayak jelangkung aja tiba-tiba nongol” omel Rindi yang masih memegangi dadanya karena jantungnya berpacu lebih cepat.


“Hehehehe, kamunya aja yang nggak nyadar kalau adaaku di belakang” bela Sila membuat Rindi semakin kesal. Reyhan tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.


“Ada apa, Kak?” tanya Reyhan masih memangku Cempaka dan menerima botol susu dari Rindi.


“Oma sama Opa udah datang?” tanya Sila dan Reyhan menggeleng.


“Masih di perjalanan mungkin. Katanya mau makan siang bareng sebelum kalian berangkat” jawab Reyhan sambil memegangi botol susu yang sedang disedot Cempaka.


"Oma sama Opa kayak rumahnya di mana aja. Padahal kan biasanya juga tinggal bareng kita" cibir Sila. Reyhan dan Rindi tertawa mendengar gerutuan Sila.


“Masalah sama Bunda udah beres?” tanya Reyhan membuat Rindi mengeryit. Mereka sudah melupakan kelakuan Ali dan Nilam.

__ADS_1


“Memangnya Kak Sila ada masalah apa sama Bunda?” tanay Rindi kepo.


“Biasa. Soal ijin. Tapi udah beres. Nanti kamu juga akan mengalami apa yang aku alami. Saat kamu hendak pergi ke kota S” ucap Sila dan Rindi manggut-manggut.


“Tidak terlalu sulit sebenarnya mendapat ijin dari Bunda. Hanya saja menunggu kerelaan Bunda yang susah. Istilahnya nunggu Bunda legowo itu yang sulit” ucap Rindi yang tentu saja lebih tahu bagaimana Risma bila di banding Sila.


“Kamu benar. Harus membujuk dengan ekstra pokoknya” jawab Sila yang sudah menyender di bahu Rindi.


“Nanti bakal Rindu banget kumpul-kumpul dan rame-rame bareng kayak gini” ucap Rindi dan menyenderkan kepalanya di kepala Sila yang adadi bahunya.


“Hem” jawab Sila.


“Itu juga yang mungkin membuat Bunda sudah melepaskan kepergian kalian. Namun karena rasa sayangnya pada kalian dan dipandang langkah yang kalian ambil adalah baik. Bunda bisa menekan egonya dan memberi ijin pada kalian. Itupun Papa juga harus ekstra memebri pengertian setelah pertahanan Papa runtuh oleh bujuk rayu seseorang” sela Reyhan dan melirik Sila yang memberinya tanda damai. Reyhan hanya mengangguk kemudian menggeleng dengan gadis sulungnya itu.


“Andai besok aku nggak sekolah. Aku akan ikut antar Kakak” ucap Rindi yang terbiasa satu kamar dengan Sila. Meskipun sudah remaja, namun keduanya masih belum mau pisah kamar hingga kepergian Sila hari ini. padahal baik Risma ataupun Reyhan sudah menyiapkan kamar untuk anak-anaknya. Rumahnya sudah direnovasi sedemikian rupa hingga ada banyak kamar laksana hotel di kediaman Kusumo. Semua itu mereka lakukan untuk memberi privasi pada anak-anaknya.


“Liburan nanti, kamu bisa main ke sana. Atau pas aku libur, aku akan pulang” jawab Sila dan Rindi mengangguk. Semua pasti berat berpisah dengan orang terkasihnya, apalagi salah satu anggota keluarganya.


“Kapan-kapan kita skejulkan buat liburan bareng-bareng” usul Reyhan dan keduanya mengangguk antusias. Tak lama kemudian, Risma sudah memanggil untuk makan siang.


“Panggil saudara kalianyang lain. Siang ini semuanya wajib makan bersama. Nggak ada yang boleh makan sendiri” ucap Risma tanpa bisa dibantah siapapun. Semua tahu kalau Risma ingin membuat moment bersama dengan Sila, kakak sulung mereka yang akan pergi ke kota M.


Setelah ini, fokus ceritanya akan pada anak-anak duren dan janda antig ya? Eh, bukan duren dan janda lagi. tapi pasangan mantan duren dan janda antig. Kini mereka menjadi orang tua dengan tujuh anak, hampir delapan. Banyak kan anaknya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2