DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 71


__ADS_3

Hampir dua minggu Risma dan Reyhan tinggal di kota S. Karena kondisi Risma yang masih belum stabil, orang tua enam anak ini terpaksa berpisah dengan enam buah hatinya. Keenam anaknya harus tetap mengikuti kegiatan belajar ketika romadlon ditambah kegiatan pondok romadlon yang diadakan masing-masing sekolah.


“Aku rindu anak-anak, Bang” keluh Risma. Selama ini tak pernah berpisah begitu lama.


“Abang juga kangen sama mereka. Rumah ini sepi nggak ada teriakan dan canda mereka” timpal Reyhan yang juga rindu dengan anak-anaknya. Risma menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya. Reyhan mengelus rambut istrinya dengan sayang.


“Kamu cantik” puji Reyhan membuat pipi istrinya merah. Reyhan selalu suka dengan respon Risma yang masih seperti baru menikah saja. Padahal pernikahan ini adalah pernikahan kedua bagi mereka.


“Bang, pulang yuk?” ajak Risma.


“Kita tunggu sampai keadaan kamu lebih baik” ucap Reyhan lembut.


“Sampai kapan?” tanya Risma lemas.


“Besok kita konsultasi. Apakah sudah boleh berpergian jika menggunakan pesawat pribadi” kata Reyhan menghibur istrinya.


“Beneran ya Bang?” ucap Risma. Reyhan mengangguk. Dalam hatinya juga ingin segera bertemu dengan anak-anak. Terlebih lagi Bagas juga sudah demo dengan ketidakhadirannya di kantor. Risma semakin menyusupkan kepalanya hingga kini ada diketiak Reyhan.


“Abang wangi. Risma suka” ucap Risma membuat Reyhan terheran juga merasa geli. Pasalnya ketiaknya diendus-endus oelh Risma.


“Geli, Sayang” ucap Reyhan terkikik.


“Habisnya wangi. Risma suka sama bau ketiak Abang”


“Kita rebahan yuk. Biar puas cium ketiak Abang” ajak Reyhan dan Risma mengiyakan. Reyhan tahu kalau itu bawaan sang jabang bayi. Namun dirinya juga tersiksa dengan momen yang indah itu sebanarnya. Dia harus puasa hingga kandungan Risma berada di trisemester kedua mengingat kondisi Risma yang lemas. Sedangkan apa yang dibuat istrinya selalu sukses membuat hasratnya naik.


“Bang, Risma minta maaf ya?” ucap Risma dengan kepala sudah berada di ketiak Reyhan. Reyhan sengaja membuka bajunya agar istrinya lebih leluasa menciuminya.


“Minta maaf soal apa?” tanya Reyhan sambil menahan geli sekaligus hasratnya.


“Minta maaf karena nggak bisa nyiapin buka sama sahur buat Abang juga anak-anak”


“Bukan apa-apa, Sayang. Kan bukan kamu yang mau. Memang lagi kondisinya saja begini” Reyhan berkata dengan lembut. Dia tahu kalau istrinya sedang dalam keadaan mood yang berubah-ubah. Itulah bedanya menikah dengan perjaka dan duda. Apalagi dudanya seperti Reyhan yang sudah pernah mendampingi sang istri mengandung. Tidak kagok dan bingung menghadapi sang istri. Perbedaannya, kali ini Reyhan siap menjadi ayah dan suami yang siaga, benar-benar siaga.


Reyhan menunggu jawaban istrinya, namun tidak ada sahutan. Ditengoknya sang istri yang ternyata sudah terbang ke lain pulau. Reyhan tersenyum dan membenarkan posisi tidur istrinya. Setelahnya, dia memilih untuk mengumpulkan pakaian kotor dan menatanya agar siap di loundry.

__ADS_1


*****


Seno keluar kamar dengan lesu. Hal ini juga terjadi pada kelima saudaranya. Nilam dan Ali hanya bisa menghela napas pasrah. Meskipun cucu-cucunya tidak membuat ulah seperti sebelum ada Risma, namun untuk membuat mereka menurut ternyata masih menjadi PR bagi keduanya. Apalgi setelah ada Risma dan Reyhan mulai memperhatikan anak-anaknya kembali, Nilam dan Ali memilih bisnis tour dan jarang bersama dengan para cucunya.


“Masih nggak semangat?” tanya Nilam lembut. Dia belajar memperlakukan cucu-cucunya dari cara Risma memperlakukan anak-anak.


“Nggak ada Bunda. Nggak seru Oma” jawab Sean lesu.


“Iya. Nggak ada yang bilang harus ini, harus itu. Nasehati ini, nasehati itu” tambah Sila.


“Nggak cukup sama omelan Oma dan Opa?” pancing Nilam.


“Omelan Oma nggak ngena. Apalagi Opa. Kalau Bunda yang bilang itu, adem di hati. Rasanya itu beda pokoknya” sanggah Sean. Nilam mendengus mendengar jawaban cucunya. Namun tidak dipungkiri, bahkan dirinya juga tersentuh kala Risma bicara dengan suara lembutnya. Namun kadang Nilam juga heran dengan Risma yang galak kala anak-anak mulai bersikap nakal. Meskipun begitu, Nilam masih bisa merasakankelembutan menantunya itu walaupun dalam keadaan yang garang.


“Kita do’akan saja semoga keadaan Bunda lebih baik dan bisa segera kembali ke rumah ini” timpal Rendi yang memang paling bijaksana diantara semuanya.


“Amiiin” kompak semuanya ikut mendo’akan.


“Kasihan ya Bunda. Puasa ini nggak bisa puasa karena ada dedek bayi didalam perutnya” ucap Reno.


“Iya. Nanti kita temani Bunda mengganti puasa seperti sebelumnya. Oke?” ucap Rindi dan diangguki Reno dan Rendi. Sedangkan trio S dan Nilam tercengang mendengarnya.


“Iya. Kami selalu begitu. Kami niat puasa sunnah, dan Bunda niat ganti puasa. Biar Bunda ada temannya dan nggak merasa puasa sendiri” jelas Rendi.


“Oh, so sweet. Kalian bikin kami iri. Nggak heran sih kalau kalian deket banget sama Bunda. Nanti kami diajak ya?” seru Sean. Sila dan Seno juga tak mau kalah. Nilam geleng-geleng kepala. Hendak bicara apapun tidak tahu. Pesona Risma memang tiada duanya. Bahkan dia juga terperosok pada pesona menantunya itu.


“Udah. Ayo kita berangkat sekolah. Minggu depan sudah pondok ramadhan kan?” ucap  Nilam. Semuanya mengangguk dan berdiri. Ada dua mobil yang akan mengantarkan mereka karena arah yang berbeda.  Nilam


mengantar trio S, dan Ali yang menemani trio R.


Sementara Bagas sedang pusing karena banyaknya pekerjaan kantor yang dai handel sementara sang tuan sedang menemani istrinya yang lemas karena hamil. Namun pusingnya mendadak hilang kala mendapat telepon dari tuannya.


“Assalamualaikum. Rey, kapan balik? THR Buat aku doubel pokoknya. Aku nggak mau tahu” omel Bagas seketika


ngegas.

__ADS_1


“Sabar Kak. Kemarin aku udah konsul dan boleh kalau pakai pesawat pribadi”


“Alhamdulillah. Mau aku kirim pesawatnya?”


“Nggak usah. Pakai punya William aja”


“Yaudah. Cepetan balik. Aku udah pusing sama pekerjaan kamu”


“Mau doubel nggak THR nya?” goda Reyhan membuat Bagas mendengus.


“Awas aja kalau nggak kamu kasih doubel. Aku rampok sampai lima kali lipat” ancam Bagas bercanda.


“Hahahaha, iya iya. Khusus buat Kak Bagas, nanti THR nya aku beri doubel dari uang pribadi aku” janji Reyhan. Senyum Bagas mengembang sempurna. Dia tahu kalau Reyhan tak mungkin memberinya THR doubel karena itu bisa saja dinamakan nepotisme. Dia sering menerima uang pribadi dari Reyhan sebagai gaji tambahan.


“Oh ya Kak. Tolong siapkan rancangan buat parcel idul fitri bagi seluruh karyawan. Sesampainya di sana, aku langsung periksa dan kalau bisa langsung ACC” pinta Reyhan.


“Parcel? Sejak kapan?” tanya Bagas heran. Dia hanya merapatkan untuk THR saja.


“Alamat rapat lagi ini” kleuh Bagas membuat Reyhan tertawa di seberang sana.


“Sialan, ngetawain lagi” kesal Bagas malah membuat Reyhan semakin terbahak.


“Entar aku ceritain. Siapkan aja. Oke”


“Siap”


Sambungan terputus dengan tugas baru bagi Bagas. Namun ada harapan juga kalau hari-hari yang menyiksa akan segera berakhir.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2