DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
JANDA ANTIG 14


__ADS_3

Masih flashback


Dua bulan kemudian, tubuh Ria merasa ada yang aneh. Dia sering mengantuk dan porsi makannya juga meningkat. Emosinya tidak stabil dan cenderung galak dari biasanya. Ria yang lemah lembut sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah Ria yang suka marah namun juga tak mau disalahkan. William dibuat bingung dengan Ria yang tidak bisa dia ajak bicara lagi. Bawaannya sewot dan selalu mengetoknya pakai entong.


“Kamu kenapa sih Ri? Dari kemarin uring-uringan terus. PMS?” tegur William sambil menyilangkan tanganya di atas kepala menghalangi centong yang sudah dibawa Ria.


“Kamu bilang sekali lagi kalau aku rakus. Coba bilang lagi”  teriak Ria tak peduli dengan teguran William. Dia sudah terlanjur kesal karena dibilang rakus.


“Ye, memang rakus kok. Kalau nggak, kenapa kamu bisa makan nasi goreng satu bakul coba” jawab William tak mau kalah.


“Williiii” teriak Ria dan sudah menyerang Willi dengan centong andalannya. Tidak kena kepalanya, tangan pelindung pun jadi.


“Ampun Ri” teiak Willi menyerah. Tangannya sudah panas karena pukulan Ria.


“Ampun nggak” Ria masih terus memukul Willi.


“Iya, ampun yang mulia ratu Mariana Anggara” Willi memilih mengalah dari pada tangannya harus di gips akibat serangan dari mantan perawan yang sedang PMS.


“Bagus. Sebagai hukumannya, belikan aku rujak ya, tapi nggak pake jambu. Banyakain nanas sama kedondongnya. Mangganya jangan dipotong kecil-kecil. Potong aja jadi empat. Terus sambalnya dipisah. Satu lagi, nggak pakai lama” titah Ria membuat William melongo.


“Kamu serius mau itu? Nggak mau yang lain aja?” Willi mencoba nengingat apa yang diucapkan Ria. Lalu mengeluarkan handphone dan menyalakan perekam.


“Coba ulangi lagi Ri apa tadi pesananmu?”


“Astaga Willi. Kenapa kamu jadi lemot gini sih? Nih dengar baik-baik ya? Belikan rujak nggak pakai jambu. Nanas dan kedondong banyakin, mangganya dipotong gede, jangan kecil. Dan GPL. Untung masih ingat maunya. Kalau udah lupa centong ini yang bicara” kesal Ria menatap tajam Willi.


“Haduh, wanita memang maha benar. Situ yang mau ya pasti ingatlah. Dasar PMS” jawab Willi dan langsung mengeluarkan jurus yang baru saja dia pelajari dari naruto yaitu jurus seribu bayangan alias lari menghilang dengan langkah seribu. Memangnya sama? Anggap saja sama karenabagi William, asal langsung menghilang dari hadapan wanita yang sedang PMS menurut Willi, namun sayangnya dia cinta.


“Apa tadi katanya? PMS?” Ria mulai memahami arti kata yang sebenarnya sudah diulang-ulang terus oleh Willi.


“Ya Allah?” pekik Ria setelah dia mengingat sesuatu.


“Jangan-jangan” dia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ria memilih mengdatangi kalender dan meghitungsudah berapa lama dia telat.


“Hampir dua bulan aku ngak datang bulan. Kok nggak kerasa ya? Apa benar aku akhir-akhir ini jadi rakus seperti kata Willi. Dan permintaan tadi?” Ria mengerutkan keningnya dan mengingat keanehan yang dia rasakan.


“Apa tadi aku sedang ngidam?” monolog Ria. Matanya sudah berkaca-kaca dan tanpa sadar tangannya mengelus perutnya dan memang terasa berbeda.


“Eh, kok agak buncit ya sekerang? Sepertinya porsi makanku yang meningkat menimbun lemak berlebih” dia masih mencoba menghibur diri. Rasanya seperti dunianya benar-benar runtuh.

__ADS_1


“Kalau benar aku hamil, lalu bagaimana aku bisa memberi status pada anakku? Bagaimana kalau dia menanyakan siapa ayahnya? Apa yang harus aku jawab? Sedangkan aku sendiri tidak tahu siapa” Ria terduduk lemas bersandar pada dinding. Willi panik melihat Ria menangis sesunggukan dengan posisi berjongkok.


“Ri, kamu kenapa? Ini aku sudah bawa pesanan kamu. Sudah jangan nangis lagi, aku janji nggak akan bilang kalau kamu rakus lagi. Tapi aku mohon jangan nangis gini” namun Ria tetap saja menangis. William menarik Ria dalam pelukannya dan mengelus punggung Ria dengan sayang.


“Bagaimana kalau aku hamil? Aku sudah telat?” ucap Ria disela-sela tangisannya. William melepas pelukannya dan menggenggam erat jemari Ria.


“Menikahlah denganku Ri. Aku akan jadi ayah dari anakmu” Ria menggeleng mendengar ucapan William.


“Aku nggak pantas buat kamu Wil. Kamu terlalu baik buat wanita yang kotor seperti aku” tolak Ria. Bukan karena dia tak suka pada Willi, namun rasa percaya dirinya sudah hilang sejak kejadian malam itu.


“Aku tidak peduli. Bahkan orang tuaku sedari dulu sudah minta kamu jadi mantunya” Ria tetap menggeleng.


“Tolong belikan tespek Wil, aku akan makan rujak yang kamu bawa” Ria sudah berhenti menangis dan berdiri meraih rujak yang ditinggalkan William tergeletak sembarangan karena panik. William menggeleng, setelah lamarannya ditolak, wanita yang mengira dirinya hamil itu tanpa rasa bersalah meminta tolong.


“Baiklah” lesu William. Ria memang sengaja meminta tolong William untuk menghindarinya.


Maafkan aku Will. Aku tak bisa memberikan sisa padamu. Biar nanti aku melajang seumur hidup, aku tak apa.


*****


Tiga bulan sudah usia kandungan Ria. Meskipun ditolak, baik William ataupun keluarganya tetap memperhatikan Ria seperti anak sendiri. Bahkan berkali-kali ibu William membujuk Ria agar mau memberistatus jelas pada anaknya nanti. Namun semuanya sia-sia. Ria tetap kukuh pada pendiriannya.


“Ma, aku akan serahkan anakku pada Risma da Erik. Sampai sekarang, mereka belum dikaruniai anak. Aku yakin


mereka akan menyayangi anak-anakku seperti menyayangi anak kandungnya. Terlebih lagi, aku masih bisa bertemu dengan mereka” Ria mengelus perutnya yang semakin membuncit. Setelah diperiksa, ternyata Ria mengandung anak kembar.


“Kami sudah bilang bahwa kami tidak masalah dengan masa lalumu. Apalagi kamu sudah sangat menyukaimu”


bujuk Gita.


“Maaf ma, tapi Ria nggak bisa. William berhak mendapat yang lebih baik dari Ria”


Gita menyerah membujuk Ria yang keras kepala. William datang tergopoh-gopoh dengan napas yang tersengal-sengal.


“Ada apa nak?” tanya Gita heran.


“Ri, orang tuamu kecelakaan dan sekarang sedang kritis”


“Apa?” Ria terkejut dan badannya langsung lemas. Untung saja ia sedang duduk dan ditagkap oleh Gita.

__ADS_1


“Will, panggil dokter keluarga. Suruh periksa Ria” Gita menjadi panik saat melihat Ria lemas,  namun masih dalam kondisi sadar.


“Ri, yang kuat ya sayang? Baringan dulu” Gita membaringkan Ria di sofa yang dia duduki. Dia memposisikan Ria agar nyaman dengan memberi bantal sofa di bagian kepala.


“Mama tinggal dulu ya? Mama bikinkan air hangat” Ria mengangguk lemah. Air matanya meleleh tanpa bisa dibendung. Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga tepatnya, istri dari dokter pribadi keluarga Herlambang yang datang karena istrinya adalah dokter kandungan.


“Tolong periksa Ria Dok” dokter itu mengangguk dan mulai memeriksa Ria.


“Nyonya mengalami syok, apa terjadi sesuatu?” dokter itu melihat William. William mengangguk dan mengatakan alasannya.


“Sudah saya katakan dari awal kalau kandungan nyonya lemah. Stres dan syok harusnya dihindari dulu” tegur dokter dengan lembut.


“Maaf dokter, saya panik tadi” jawab William merasa bersalah.


“Dok” panggil Ria lemah.


“Saya ingin pulang” ucapnya lirih setelah dokter memandangnya.


“Maf nyonya, dengan sangat terpaksa, saya melarang anda untuk berkendara terlebih dahulu. Anda harus istirahat total kecuali anda ingin kehilangan kedua bayi anda” tegas dokter tanpa bisa ditawar. Ria hanya bisa menangis. Perasaan sesal dan pesimis menjadikan kondisi janinya lemah. Apalagi tekanan dari keluarga William yang memintanya untuk menikah dengan William. Hal itu tidak disadari oleh William dan keluarga.


“Nanti setelah nyonya melewati masa rentan dan saya pastikan kalau kandungan nyonya sudah kuat, saya akan memberikan surat jalan” hibur dokter, Ria hanya mengangguk lemah. Mau dikata apa, itu adalah pilihan yang sulit. Jika memaksa pulang, dia mengorbankan kedua calon bayinya. Namun jika tidak pulang, dia takut ini adalah


akhir dari kedua orang tuanya. Perasaan anak pada orang tuanya sudah pasti tersambung.


“Aku akan mengantarkan kamu nanti. Aku janji” William menggenggam tanngan Ria. Ria berusaha tersenyum dan mengangguk. Hanya ada harapan agar orang tuanya mampu bertahan sampai dia diijinkan untuk melakukan perjalanan.


*****


Maafkan bunda ya baru bisa menyapa kakak2 readers semua. Bunda repot banget karena ada acara dua hari berturut-turut. Pertama, acara tujuh bulanan kakak ipar dan besoknya acara do’a bersama 100 hari kepergian almarhum mamak. Belum juga usai acara, mendapat kabar dari sepupu kalau anaknya meninggal. Jadi bunda langsung tancap gas tanpa bisa istirahat terlebih dahulu. Jadi maafkan bunda ya baru bisa update sekarang.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


__ADS_2