DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 47


__ADS_3

Alma bekerja mati-matian agar tidak mendapat teguran terus dari Bagas. Namun skil yang dia miliki masih tetap di bawah Isabel yang memang sesuai dengan jurusannya. Meskipun sudah mengerahkan segala hal yang dia miliki, masih saja mendapat teguran dari Bagas.


“Ya Allah, Alma. Bikin laporan meeting saja seperti ini. Kamu tidak belajar ya kemain?” kesal Bagas karena masih saja acakadul. Ini hari kedua Alma menjadi sekretaris.


“Maaf Pak” cicit Alma takut. Dia terus menunduk tanpa berani melihat Bagas.


“Ya Tuhan. Oh Isabel. Kembalilah. Aku seperti kembali di masa dulu sebelum menikah” keluh Bagas memijit pelipisnya pusing.


“Lalu yang kamu bisa lakukan itu apa selain bikin saya darah tinggi?” omel Bagas karena pekerjaan Alma tidak ada yang beres.


“Maaf, Pak” hanya itu yang bisa dia katakan.


“Makanya, punya mulut itu dijaga. Jangan suka iri sama milik orang lain.  Sadar diri kek, mampunya naik sepeda kok minta mobil” kesal Bagas yang sudah putus asa menegur Alma. Sedangkan Alma sendiri sudah hampir menyerah dan berlari ke Isabel untuk menggantikannya. Namun apa daya, kontraknya tiga hari dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Ku menangis, merasakan, betapa beratnya menjadi sekretaris” Alma bernyanyi dengan mengubah lirik lagu dari Rossa yang biasa digunakan soundtrack sinema yang hobi mendua.


Bagas menggelengkan kepala mendengar nyanyian Alma. Karena Alma, nanti dia harus lembur lagi seperti kemarin. Dan masih harus lembur untuk besoknya.


Tak terasa waktu berlalu dan semua karyawan sudah pulang termasuk Alma. Bagas masih harus menyelesaikan berkas yang  harusnya sudah diselesaikan Alma. Dari sekian banyak berkas, Alma hanya mampu menyelesaikan dua berkas dan itupun harus Bagas revisi lagi.


Tok tok tok. Bagas mendengar pintu ruangannya ada yang mengetuk.


“Ya? Masuk?” terika Bagas. Namun dahinya berkerut, siapa yang masih ada di kantor? Bahkan Alma sudah pulang sedari tadi.


“Permisi, Pak. Saya dengar Bapak kemarin lembur. Saya ingin membantu Pak bagas” ternyata Isabel yang datang. Bagas menghela napas lelah. Senang juga sebenarnya jika ada yang membantu. Tapi dia ingat pesan Risma untum membiarkan Isabel mengistirahatkan otaknya.


“Tidak usah. Nimati saja masa cutimu tiga hari itu. Lagi pula besok hari terakhir saya dibuat pusing oleh Alma. Tiga hari lembur bukan masalah bagiku” tolak Bagas dan Isabel hanya mengangguk. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena atasannya tidak mau di bantu.


“Aku akan minta maaf pada Bu Risma kalau ketemu. Sudah mengira yang bukan-bukan. Ternyata hanya ingin membuatku beristirahat dan memberi pelajaran pada yang lain terutana Alma” ucap Isabel. Langkahnya sudah ringan semenjak dia menandatangani surat cuti itu.

__ADS_1


Lain halnya dengan Alma. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena harus mempelajari berkas yang akan dia serahkan pada Bagas dan Reyhan besok. Tidak banyak sebenarnya berkas yang dia bawa pulang. Hanya dua saja. Namun karena memang itu bukan bidangnya, membuatnya kewalahan memahami isinya.


“Ibuu, Alma lelah” teriak Alma dari kamarnya. Sang ibu yangsudah bersiap hendak tidur, langsung bangun kembali disusul oleh bapaknya.


“Ada apa itu anakmu, Bu?” tanya Bapak Alma.


“Itu juga anakmu, Pak” sahut Ibu Alam tak terima kalau hanya dikatakan anaknya saja.


“Iya iya. Ayo kita datangi” ajak Bapak.


Keduanya melangkah keluar dari kamar menuju kamar Alma.


“Kenapa Nak?” tanya Ibu di depan pintu Alma.


Alma yang mendengar suara ibunya di luar langsung membuka pintu dan memeluknya.


“Alma lelah, Ibu” isak Alma menumpahkan apa yang dia rasakan.


“Hiks, tidak bisa Pak. Alma kena marah kalau sampai tidak paham bahan meeting besok” jawab Alma masih dengan tangisnya.


“Bahan meeting? Sejak kapan?” tanya Ibu karena dia sangat tahu apa pekerjaan anaknya. Alma hanya diam saja karena masih menimati tangisannya.


“Sejak kapan anak Ibu ikut meeting? Dan sejak kapan seorang resepsionis mempelajari bahan meeting?” tanya Ibu bingung.


Meskipun bukan orang sosialita, namun Ibu Alma tahu bahwa penerima tamu tidak mungkin bisa ikut meeting.


“Memangnya Alma pekerjaannya apa Bu?” tanya Bapak yang hanya tahu kalau anaknya kerja diperusahaan Kusumo.


“Kan tadi Ibu sudah bilang, Pak. Penerima tamu alias resepsionis” jelas Ibu gregetan. Kening Bapak berkerut dan baru nyambung tentang pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan istrinya.

__ADS_1


“Ini, salah Alma Bu, Pak” jujur Alma. Alma meminta kedua orang tuanya masuk dan duduk di ranjangnya. Dia dengan jujur menceritakan kronologisnya bagaimana bisa menjadi sekretaris dadakan hingga membuat dia hampir putus asa. Ibu dan Bapak menghela napas mendengar cerita putrinya.


“Tingkah congkak dan iri dari mana yang kamu dapatkan? Pernahkan Ibu dan Bapak mengajari kamu melirik rumput tetangga?” tanya Ibu yang menyayangkan siap anaknya.


“Maafkan Alma, Bu. Alma sadar kalau salah. Alma tidak akan mengulanginya lagi” sesal Alma.


“Baiklah. jalani saja. Toh tinggal besok kan? Jadikan ini pelajaran. Jika kamu terus melirik rumput tetangga, akan selalu terlihat lebih hijau dari pada rumput kita. Namun kita tidak tahu bagaimana rumput itu bisa menjadi lebih hijau. Bagaimana sang tuan memeliharanya hingga terlihat seperti itu. Kamu mengerti Nak?” nasehat Bapak dan Alma mengangguk.


“Apa yang kita dapatkan sudah sesuai dengan porsi kita. Jangan meminta lebih karena itu diluar jangkauan kita. Ingat Nak, rejeki itu tidak pernah tertukar” tambah Ibu dan Alam semakin menunduk. Pergaulan dengan teman-teman yang manja dan mengandalkan harta orang tua membuat Alma lupa bagaimana ajaran orang tuanya. Hingga kini, dia mendapat tamparan tak kasat mata dari istri bosnya.


“Terimakasihlah pada orang yang menyadarkanmu dan minta maaflah pada orang kamu sakiti” pinta Ibu dan Alma kembali mengangguk.


“Sudah, jangan sedih. Sini, Bapak bantu mempelajarinya” ucap Bapak menjadi angin segar bagi Alma.


“Hanya dua berkas kamu sudah nangis. Kamu tahu, sekretaris sesungguhnya, dua berkas ini hanya butuh waktu satu jam. Tidak ada waktu berlama-lama dengan satu berkas. Karena berkas yang lainnya sudah menunggu untuk diperiksa” jelas Bapak dan dibenarkan oleh Alma. Karena dia sudah mengalaminya. Namun karena Alma tidak mampu dan hanya sebagai pelajaran, maka Alam hanya diminta menyelesaian berkas semampunya.


Dengan bantuan Bapak, Alma bisa memahami sebagian besar walau tidak seluruhnya. Dia baru saja siap tidur saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Syukurnya Bapak dan Ibu menemaninya hingga selesai.


“Semoga besok lebih mudah dilalui dan selamat tinggal berkas. Aku akan kembali ke habitatku yang sesungguhnya” ucap Alma sebelum tidur. Dalam hatinya dia berjanji tidak akan memandang orang lain lagi dengan iri. Dia benar-benar kapok dengan pertukaran jabatan ini.


Iri dan dengki tidak akan pernah membuat kita merasa puas. Jika kita sudah mendapatkan apa yang kita lihat dari orang  lain. Maka akan kembali merasa iri saat melihat yang lebih lagi. Rendah hati dan sadar diri akan membawa kita pada keikhlasan dan rasa syukur. Semoga bermanfaat apa yang sudah kita terima hari ini. Dan menjadi berkah rejeki yang kita terima esok hari. Amiin.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2