
Rindi memberikan ponselnya pada Willim karena dia juga akan tampil. Kali ini, William yang menjadi juru kameranya.
“Selamat Malam Bunda sayang. Papa dan keenam anak Bunda siap menuruti ngidam Bunda. Persembahan lagu untuk Bunda dari Papa. Lagu ini mewakili perasaan Papa pada Bunda. Selamat menikmati” Reyhan memberikan kalimat pembuka dan memberi kode pada anak-anaknya untuk memainkan musiknya. Reyhan bersama Rindi sudah siap bernyanyi.
“Hai teman-teman online Rindi semua. Silahkan nikmati persembahan kami, FINO Band. Family Is Number One” Rindi masih sadar kalau sedang live rupanya.
Musik mulai terdengar dari piano yang dimainkan Sila, saksofon yang ditiup Reno, dan petikan gitar dari Reyhan. Beberapa detik kemudian, yang lain mengikuti hingga terdengar alunan musik yang menyenangkan. Rindi mulai bernyanyi setelah intro yang diperdengarkan oleh FINO Band.
“Cintaku. Dari Papa untuk Bunda”
Kerinduan
Yang kini kurasakan
Terjawab sudah dengan hadirmu
Membawa kehangatan
Reyhan :
Sekian lama
Kau doa yang kupintakan
Tuhan kirimkan engkau padaku
Mengisi kisah hidupku
Reyhan dan Rindi :
Dalam sepiku, kaulah candaku
Dalam gelapku, kaulah pijarku
Dalam hatiku, engkaulah cintaku
Reyhan :
Kaulah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga, peluk nan cinta
S'moga abadi, cinta 'tuk s'lamanya
Reyhan :
Sekian lama
Kau doa yang kupintakan
Tuhan kirimkan engkau padaku
__ADS_1
Mengisi kisah hidupku
Risma menangis haru mendengar lagu yang begitu tulus dari suami juga anak-anaknya. Akhirnya Risma maju dengan membawa mikrofon di tangannya. Risma mulai bernyanyi dan bersimpuh didepan suaminya yang sedang
duduk karena memegang gitar.
Dalam sepiku, kaulah candaku
Dalam gelapku, kaulah pijarku
Dalam hatiku, engkaulah cintaku
Kaulah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga, peluk nan cinta
S'moga abadi, cinta 'tuk s'lamanya
Reyhan dan Risma :
Dalam sepiku, kaulah candaku
Dalam gelapku, kaulah pijarku
Dalam hatiku, engkaulah cintaku
Kaulah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga, peluk nan cinta
S'moga abadi, cinta 'tuk s'lamanya
“Hey, sudah. Kan sudah dikabulkan ngidamnya” ucap Reyhan menepuk-nepuk punggung Risma pelan. William
hanya tertawa melihat emosi Risma yangtidak stabil. Dia sudah mengalami hal itu saat menemani Ria mengandung kembar kala itu.
“Risma bahagia. Terimakasih ya Bang. Risma sayang Abang” ucap Risma terbata-bata karena tangisannya belum
juga reda.
“Abang juga sayang Risma. Lebih malah. I love you” jawab Reyhan dengan ucapan cinta yang berbisik.
“Love you too” jawab Risma juga berbisik meskipun masih terbata.
Rindi turun dari panggung karena kode dari William. Live-nya sudah banyak menedapat komentar. Dari yang baper hingga menjadikan keluarga ini idola baru.
“Kakak yakin, live Rindi kali ini akan jadi trending” ucap Sila memberi semangat pada adiknya.
“Amiin” jawab semuanya mendengar do’a Sila.
Rindi menerima kembali ponselnya dan kembali berinteraksi dengan para penikmat channelnya. Rindi belum memberi nama untuk penikmatnya meskipun sudah beberapa bulan melakukan live. Keromantisan bunda dan papanya bukan untuk konsumsi publik kan? Jadi hanya sekedarnya saja Rindi membagikan kegiatan orang-orang tersayangnya.
__ADS_1
Risma dan Reyhan sudah menikmati makan malam bersama yang terpisah dengan seluruh anggota keluarganya. Meskipun awalnya Risma protes dengan konsep yang Reyhan buat, namun pada akhirnya luluh juga dengan bujukan suaminya itu. Dengan alasan ingin quality time berdua saja, Risma memutuskan membuat hati suaminya senang. Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karena sudah memenuhi ngidamnya. Bahkan apa yang dia terima lebih dari apa yang dia inginkan.
Malam sudah berlalu dengan rasa bahagia disetiap hati keluarga besar ini. Risma dan Reyhan menjadi idola baru akibat dari live yang ditayangkan Rindi. Pagi ini semua bergabung kembali dalam makan pagi bersama dengan wajah yang ceria. Tidak ada beban di wajah setiap orang yang ada. Meskipun menu yang disajikan adalah sederhana karena hanya makanan yang dibeli Reyhan di pinggir jalan dekat rumah Risma. Namun rasanya sungguh memanjakan perut.
“Rindi pengen kuliah di sini dan ikut Tante Katrin dan Tante Karin ngurus cafe milik Bunda” ucap Rindi setelah
selesai sarapan.
“Kamu mau tinggal di sini? Sendiri?” tanya Risma terkejut sekaligus sedih.
“Iya Bunda. Rindi pengen mandiri dan belajar mengelola cafe milik Bunda. Lagi pula Kak Sila nggak mau meneruskan cafe milik Bunda” ucap Rindi dan Sila memelototi adiknya itu.
“Beneran Kak Sila nggak mau?” tanya Risma. Reyhan masih menjadi pendengar setia saja.
“Bukan nggak mau Bund. Sila masih belum mau fokus pada rutinitas yang monoton” jawab sila jujur. Risma hanya
menggeleng pelan.
“Padahal Papa udah siap buat bantuin Bunda buka cabang di kota X lho” cicit Risma seolah membujuk putri
sulungnya itu.
“Bunda berdo’a aja semoga anak bunda yang di dalam cewek. Kalau cowok, bakal saingan sama Papa buat jadi pewaris perusahaan yang berjibun” jawab Sila lagi membuat semua saudara laki-lakinya memutar mata malas. Meskipun apa yang dibilang saudari sulungnya itu benar.
“Hahaahah, nggak harus laki-laki juga yang jadi pewaris Papa. Perempuan juga bisa. Sekarang kan udah ada persamaan gender. Wanita sudah bisa bersaing dengan para pria” ucap Reyhan membuat Sila cemberut.
“Tapi ingat. Meskipun sekarang sudah emansipasi wanita. Namun harus ingat kodrat sebagai perempuan. Yaitu menjadi seorang istri dan ibu. Perempuan itu pondasi dari rumah tangga. Dan laki-laki yang menjadi tiangnya. Jadi rumah tangga akan tetap utuh saat pondasinya kuat dan tiangnya berdiri tegak. Bila ada yang goyah salah satunya, maka rumah tangganya juga akan goyah” tambah Risma memebri penjelasan.
“Bunda benar. Contohnya Bunda. Bunda masih bisa berbisnis dan menghasilkan uang. Namun juga bisa mengurus Papa dan kalian semua. Laki-laki juga begitu. Meskipun tugasnya mencari nafkah, tapi harus juga memprhatikan orang-orang yang di rumah” ucap Reyhan dan menunduk sedih.
“Jangan seperti Papa dulu. Maafkan Papa ya Sila, Sean, Seno” ucap Reyhan sedih.
“Iya Pa. Kami udah lupa kok. Kami senang dengan Papa yang sekarang. Makasih juga buat Bunda yang udah ngembaliin Papa pada kami” trio S memeluk Reyhan dan Risma bergantian. Trio R saling pandang dan tersenyum jahil. Saling mengkode dan mengangguk kemudian berdiri dan menubruk trio S yang sedang asyik memeluk kedua orangtuanya.
“Kita juga sayang Bunda dan Papa” teriak trio R bersamaan dengan teriakan trio S yang tertindih.
“Aduuh”
“Hentikan Sayang. Kalian bisa membuat adik kalian tertekan nanti” tegur Reyhan meskipun tubuhnya juga tertindih anak-anak.
“Eh, maaf Bunda” mereka langsung membubarkan diri diiringi dengan tawa Risma. sebenarnya tidak tertekan karena Risma sudah mengantisipasinya. Namun karena suaminya terlalu khawatir, Risma hanya diam saja melihat anak-anak yang memeluknya menghamburkan diri.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****