
Seperti yang Reyhan janjikan pada Rizki. Hari ini Reyhan mengundang keluarga besar Rizki untuk datang ke kediamannya. Reyhan sengaja mengundang hari ini karena bertepatan dengan pemberian nama putranya sekaligus akikahan. Rindi mengajak Cempaka bermain di halaman depan karena di dalam masih sangat sibuk. Pihak catering dan WO sedang melakukan tugasnya menata makanan dan kursi-kursi untuk para tamu. Yang lain menyiapkan bingkisan untuk anak yatim dan para tamu.
“Cempa, jangan main pasir ya?” tegur Rindi saat Cempaka hendak mengambil pasir dengan tangannya.
“Bitin yumah. Ayo” ajak Cempaka menarik tangan Rindi.
“Jangan. Cempa kan sudah cantik, bersih. Bentar lagi acaranya adek akan mulai” bujuk Rindi dan Cempaka menggeleng.
“Bitin yumah dayi tanah” rengek Cempaka tak mau menuruti ucapan kakaknya.
“Ya udah. Tapi Kakak Rindi yang bikin. Cempaka nggak boleh kotor lagi. Oke” pasrah Rindi akhirnya.
Namun yang namanya anak kecil, sudah bilang iya tapi hanya di mulut. Baru saja Rindi selesai membuatkan rumah mini dari tanah, Cempaka sudah duduk dan mengobrak-abrik dengan tangannya. Setelahnya, dengan tanpa beban, dai usapkan tangannya di baju cantik yang dia kenakan.
“Astaga Cempaka” kaget Rindi dan geleng-geleng kepala. Rendi mendatangi dua adiknya yang berbeda usia.
“Main apa Cempa?” tanya Rendi mengabaikan wajah kesal Rindi.
“Main yumah. Ayo itut Tak” ajak Cempaka masih dengan tangan yang masih asyik bermain tanah.
“Mana rumahnya?” tanya Rendi sengaja, padahal sudah tahu rumahnya lebur tak berbentuk.
“Ni. Ladi di banun ma atu” jawab Cempaka sekenanya. Rindi geleng-geleng kepala dan membiarkan adiknya bermain sesuka hati. Rindi dan Rendi saling pandang dan mengangkat bahunya acuh. Mereka memutuskan duduk di samping Cempaka untuk mengawasi gadis kecilnya main. Cempaka masih terus bermain hingga aktifitasnya terhenti karena adanya dua bus mini yang memasuki halaman rumahnya.
“Meleka ciapa?” tanya Cempaka polos.
“Kakak juga nggak tahu” jawab Rendi datar.
“Jangan gitu ih ngomong sama Cempanya” tegur Rindi pada abangnya yang kadang lembut, namun kadangkala juga dingin.
“Maaf” sesal Rendi.
Rindi mengangkat tubuh adiknya dan mengajaknya menyambut tamu yang datang. Sudah kepalang tanggung terlihat, jadi tidak sopan kalau memilih masuk ke rumah. Ternyata yang datang dengan rombongan sampai dua bus adalah keluarga besar Prasetyo.
Rindi berbinar melihat rombongan yang begitu luar biasa. Keluarga nomor satu di negaranya kini sedang bertandang ke rumahnya.
__ADS_1
“Om” teriak Rindi menghampiri Rizki begitu melihat pria yang pernah bertemu saat di rumah sakit.
“Hai Rin. Kangen ya sama Om” goda Rizki sambil menyambut uluran tangan Rindi.
“Rindi mana berani kangen sama Om. Kalau Kak Aiman boleh” tanya Rindi membuat semua keluarga Prasetyo yang mendengarnya tertawa termasuk Rizki dan Aiman.
“Tapi Kakak nggak kangen sama Rindi. Gimana dong” canda Aiman dan mendapat tanggapan cuek dari Rindi.
“Bukan masalah. Kangen atau nggak, juga nggak penting” tawa kembali menggema mendengar jawaban apa adanya dari Rindi. Meskipun mereka tertawa, namun mereka tidak mengabaikan Rendi yang menyalami mereka satu persatu. Begitu Rendi selesai, dia langsung menghampiri Rindi.
“Sini Cempa sama Abang. Tuh Kak Rindi belum sungkem sama semuanya” ajak Rendi dan Cempaka hanya menurut saja.
“Bawa masuk Bang. Kasih Papa biar dimandiin lagi” ledek Rindi pada Cempaka yang akan susah mandi kalau merasa sudah mandi sebelumnya.
“Cempa dak mau mandi. Cempa dah mandi” teriak Cempaka tidak terima.
“ Kan sudah dibilangin jangan main tanah. Ngeyel” ledek Rindi lagi dan disaksikan keluarga Prasetyo.
“Kak Lindi dahat” amuk Cempaka di gendongan Rendi yang undur diri masuk ke dalam rumah. Rindi menjulurkan lidahnya mengejek adiknya yang sayangnya sangat imut.
“Kakek kenapa? Mau menilai Rindi atau punya niat jadiin Rindi cucu mantu?” tanya Rindi dengan polosnya. Sumpah, jika Risma tahu kelakuan asli Rindi dalam bersosialisasi. Sudah pasti telinga Rindi akan memerah entah berapa lama. Pasalnya, Rindi selalu bisa menjaga sikap dihadapan Risma karena masih sayang dengan anggota badannya.
“Kamu mau?” tanya David santai dengan pandangan yang sudah melunak.
“Lihat calonnya dulu, baru jawaban. Hehehe” cengir Rindi dan langsung meneruskan acara sungkeman yang belum selesai.
Baru saja Rindi selesai sungkeman, Reyhan datang dengan Cempaka di gendongan. Cempaka sudah berganti pakaian dan tentu saja sudah mandi kembali. Terlihat sekali bibirnya yang manyun karena kesal.
“Mandi, mandi, mandi” nyinyir Rindi dan melambai pada semuanya. Bawaan Rindi yang santai menyita perhatian semua keluarga Prasetyo.
“Maaf karena tidak menyambut keluarga besar Prasetyo” ucap Reyhan membuka percakapan.
“Bukan masalah, Mas Reyhan” jawab Rizki yang menjadi jubir dadakan.
“Mari silahkan masuk. Maaf masih berantakan” ajak Reyhan melangkah masuk dan diikuti seluruh keluarga besar Prasetyo.
__ADS_1
“Saya tidak mengira kalau anda semua akan datang secepat ini”
“Kami sengaja membawa pasukan untuk membantu sekedarnya” canda Rizki namun serius.
“Tidak perlu. Semuanya kami serahkan pada pihak WO” jawab Reyhan dengan tawa.
Mereka semua sudah ada di ruang tamu dan memilih duduk yang nyaman di lantai, lesehan.
“Wah, Om Rizki dan Kak Ai jadi bawa pasukan?” tanya Sean yang baru turun dari lantai dua.
“Kamu suka?” tanya Aiman mendekati Sean.
“Hem, suka. Banyak teman” jawab Sean dan sungkem pada Aiman dan dilanjutkan dengan yang lain. Diikuti oleh Seno, Reno dan juga Sila.
“Cantik. Siapa namanya?” tanya Mala saat gadis sulung Kusumo sungkem padanya.
“Sila Tante” jawab Sila anggun.
“Incarannya Ai itu” celetuk Rizki membuat Sila terkejut. Pun dengan seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah yang awalnya semangat menjadi layu kala mendengar ucapan tuannya. Begitu juga dengan Sila yang langsung melihat ke arah Farhan yang berjalan keluar. Ada perasaan yang hilang kala melihat pria yang selama tiga bulan ini membuntutinya menjauh dari pandangannya. Hal itu tak luput dari pandangan semua orang termasuk Rizki dan Aiman. Hana dan David menghela napas pasrah, namun senyum terbit dibibir keduanya.
“Sudah, jangan dipikirkan. Kalau Sila tidak mau dengan Aiman, bisa dengan anak tante” ucap Mala santai tanpa tahu bagaimana perasaan Sila.
“Eh” bingung Sila.
“Hahahaha, jangan panik Nak. Tante bercanda” tawa Mala menggema dan keluarganya hanya menggelengkan kepalanya. Sudah punya cucu, tapi jahil dan nakalnya tak pernah hilang. Sepertinya sudah mendarah daging dalam diri Mala. Beruntung Salman tidak mengikuti rekam jejak Mala meskipun di bawah asuhannya.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****