
Tidak seperti hari kemarin, hari ini Alma berangkat dengan rasa percaya diri. Dengan wajah yang lebih ramah dan meninggalkan keangkuhan. Nasehat orangtuanya semalam benar-benar membuatnya sadar bahwa sikapnya selama ini adalah salah.
Dia memasuki lobi dan melihat Andina juga Isabel sudah bercanda di meja tempatnya dia bekerja seharusnya. Dengan semangat, dia menghampiri keduanya.
“Selamat pagi” sapa Alma ramah.
“Pagi, Alma” balas keduanya dengan heran.
“Tumben ramah?” tanya Andin yang sudah paham watak rekan kerjanya.
“Hem. Aku mau minta maaf sama kalian terutama kamu, Bel” ucap Alma tulus. Dia telah membuang rasa malunya. Kini dia hanya inginhidup sesuai dengan porsinya.
“Tidak apa-apa. Aku malah berterimakasih karena berkat kamu, aku bisa cuti tiga hari. Hehehe” jawab Isabel dengan guyonan agar tidak terasa canggung.
“Terimakasih sudah memaafkanku. Aku juga minta maaf padamu Ndin. Maaf belum menjadi rekan yang baik untukmu” ucap Alma karena dia sadar selama ini telah memanfaatkan kebaikan rekannya itu.
“Tidak apa-apa. Aku senang kamu sadar dan mau berubah” jawab Andin tak kalah tulus.
“Terimakasih masih mau berteman denganku. Besok aku akan kembali ke meja ini dan tidak akan pernah iri lagi padamu. Kamu kuta sekali Bel. Aku yang baru dua hari kemarin saja rasanya mau pecah” puji Alma dan juga sesi curhat bagi Alma.
“Hahaha. Begitulah tugasku. Kalau orang mengira jadi sekretaris itu enak, mereka merem. Faktanya kami bekerja seperti 24 jam” terang Isabel dan membuat Alma semakinmerasa bersalah.
“Aku tahu sekarang bagaimana menjadi kamu. Sekali lagi aku minta maaf” ucap Alma lagi.
“Aku sudah memaafkan kamu sedari kemarin kemarin. Lupakan. Tapi maaf, aku masih menikmati masa cutiku yang terakhir” seloroh Isabel dan disambut tawa ketiganya.
“Baiklah. selamat bekerja kalian. Aku akam bertempur untuk terkhir kalinya hari ini” pamit Alma semangat. Amunisinya sudah penuh karena mendapat bekal dari bapaknya juga hatinya ringan karena sudah mendapat maaf dari teman-temannya. Tinggal berurusan dengan Risma, istri bosnya.
“Semoga cepat bertemu dengan Bu Risma. Agar beban ini selesai” do’a Alma sambil menunggu lift yang sedang bergerak menuju lantai tertinggi.
Ting. Pintu lift sudah terbuka. Ternyata dia sudah tiba di lantai teratas. Saat dia memasuki ruangan, di dalam sudah ada Bagas.
“Pak Bagas pagi sekali datang? Apa beliau tidak pulang?” tanya Alma bermonolog.
Tetapi dia tidak berani mengganggu bosnya. Dia ingat kalau bosnya itu akan lembur karena pekerjaannya yang tidak ada yang beres. Kini Alma semakin menyesal karena perbuatannya berimbas pada banyak orang termasuk Bosnya.
Alma merapikan berkas uang dia bawa pulang ke meja. Dia mengambil berkas yang masih belum dia periksa kemarin sebelum jam kerja dimulai. Dia serius mempelajari apa yang dia pegang hingga tidak sadar kalau Bagas keluar dari ruangannya.
“Sudah datang?” tanya Bagas membuat Alma terlonjak.
“Eh, iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Alma lebih ramah dari pada kemarin. Bagas mengerutkan keningnya heran sembari menatap Alma penuh selidik.
“Kenapa anda menatap saya seperti itu?” tanya Alma riskan dengan tatapan bosnya. Seolah dia membuat kesalahan dan harus segera dihakimi.
“Apa yang aneh dari dirimu?” Bagas malah balik bertanya.
__ADS_1
“Tidak ada Pak” jawab Alma tegas.
Apa maksudnya bosnya ini? batin Alma.
Alma semakin bingung kala Bagas berlalu begitu saja setelah dia menjawab pertanyaannya. Alma memilih acuh dari pada memikirkan yang hal yang tidak pasti. Menjadi sekretaris saat ini merupakan kelahiran kembali bagi Alma. Menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tentu saja lebih menghargai orang lain.
*****
Hari berlalu dan berjalan lancar meskipun ada sedikit kendala. Maklum saja karena Alma memang bukan bidangnya. Namun itu sudah lebih baik dari pada kemarin yang hampir seharian kena semprot dua bosnya. Bahkan dia bisa menyelesaikan lebih banyak berkas dari pada kemarin. Untung saja dia mengerti saat bapaknya menjelaskan dasar-dasar proposal, laporan dan lain-lain yang berhubungan dengan pemberkasan di meja sekretaris.
“Sudah selesai masa cutinya. Kamu bisa kembali lagi menjadi sekretaris besok” ucap Alma senangsaat bertemu dengan Isabel di lobi.
“Em, memangnya kamu sudah mengajukan untuk berhenti pada Tuan Reyhan?” tanya Isabel membuat Alma panik. Dia lupa poin terkahir di surat kontrak yang dia tandatangani.
“Dan jangan lupa untuk meminta persetujuan dariku” goda Isabel yang menahan tawanya melihat wajah panik Alma.
“Aku lupa Bel. Gimana ini? Aku pikir ini yang terakhir” panik Alma. Isabel terus melipat bibirnya agar tidak kelepasan tertawa.
“Bel, bantuin dong?” pinta Alma. Melihat wajah melas Alma, Isabel jadi tidak tega. Dia menghentikan tawanya dan mengangguk.
“Ya sudah. Ayo” ajak Isabel dan mereka keluar bersama.
“Mau kemana?” tanya Isabel.
“Aku ngekos di jalan merpati” jawab Isabel jujur.
“Kalau begitu ke tampatku saja. Aku juga di jalan merpati. Kok nggak pernah ketemu ya?” tanya Alma heran.
“Sering kok. Cuma kan dulu kamu acuh. Apalagi nyinyir terus kalau sama aku” jawab Isabel tanpa maksud apa-apa.
“Hehehe, maafkan sikapku yang kemarin kemarin. Khilaf itu. Kan sekarang sudah lurus lagi” ternyata Alma orangnya humoris. Hanya saja tertutupi dengan sikap congkaknya. Untung saja dia tidak pernah tunjukkan itu pada tamu yang bertandang ke perusahaan. Hanya pada orang-orang yang tidak dia sukai saja.
“Aku sudah melupakannya. Ayo. Aku bantu buat suratnya. Kirim ke email bos dulu. Besok suranya menyusul. Yang penting sudah ada acc dari aku. Tinggal bos yang acc akhirnya” jelas Isabel. Dia sudah sering melakukan hal itu, tentu saja sangat paham bagaimana cara kerja dua bosnya itu.
“Terimakasih ya, Bel. Kamu teman keduaku setelah Andina” ucap Alma senang.
“Sama-sama. Aku juga jarang punya teman di kantor. Apalagi kerja sendir dan hanya ada dua bos yang hem, serem” cerita Isabel dan disetujui Alma. Mereka tertawa membicarakan dua bos galak tapi ganteng, sayangnya sudah sold out.
“Nggak bisa bikin skandal bos dengan sekretaris. Bos kita sudah ada pawangnya semua” celetuk Alma yang sering menonton sinema pelakor.
“Hahahaha, kamu benar” tanggap Isabel.
“Toh ini dunia nyata, bukan di dunia yang penuh settingan. Kerja ya kerja, status ya status. Sangat jarang bos yang masih single, apalagi muda. Itu hanya ada di nia halu” tambah Isabel yang sering menikmati novel online yang mengisahkan skandal sekretaris dengan bosnya. Rata-rata yang dia baca adalah cinlok antara CEO dengan sekretarisnya.
“Eh, jangan salah. Katanya dulu bos kita juga single? Baru menikah kan dengan Bu Risma?” tanya Alma. Jiwa bigosnya mencuat ke permukaan.
__ADS_1
“Single sih, tapi buntutnya banyak duda bernaka tiga. Duren sawit antig tahu. Duda keren sarang duit anak tiga” jelas Isabel yang ternyata juga hobi gosip kalau ada teman yang cocok.
“Hahahaha, dengar-dengar, Bu Risma juga janda, jaren antig. Janda kerena anak tiga”
Keduanya saling pandang dan tertawa. Tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba di parkiran. Karena Alma hanya naik motor, akhirnya motornya dititipkan pada satpam. Dia ikut mobil milik Isabel. Meskipun tidak mewah, tapi sudah cukup bagi Isabel sebagai sarana perjalanannya.
“Gila. Gaji kamu besar banget. Dua kali lipat dari gaji sekretaris pada umumnya” decak Alma.
“Jangan lihat gajinya. Lihat kerjanya. Aku sama seperti menjadi sekretaris dua bos tahu. Tekanannya itu lho”
“Benar juga, dulu aku iri. Setelah merasakan sendiri, nyerah dah. Kalau ada kamera, aku sudah melambaikan tanganku”
“Hahaha. Kapok kan? Nyinyir lagi gih” goda Isabel dan mendapat tabokan di lengannya.
“Hahahaha, bercanda”
Isabel terus melajukan mobilnya hingga tiba di jalan merpati.
“Rumah kamu yang mana?” tanya Isabel.
“Lurus saja. Nanti aku kasih arahan kalau mau belok”
Isabel mengangguk dan terus melajukan jalannya. Mendapat arahan dari Alma dan akhirnya tiba di halaman rumah minimalis tingkat dua. Halamnnya yang hanya cukup untuk satu mobil dan ada hamparan bunga disampingnya.
*****
Bunda mau minta maaf karena baru bisa meneruskan cerita Duren Antig VS Janda Antig. Alhamdulillah mertua Bunda sudah diberi kesembuhan dari segala kesembuhan yang ada di dunia. Semoga mertua Bunda ditempatkan di sisi Allah di tempat yang terbaik. Maaf kalau bunda berdukanya terlalu lama. setelah tujuh harian, Bunda masih bersih-bersih dan menyiapkan dagangan yang akan dibawa suami Bunda.
Setelah kepergian mertua Bunda, suami Bunda mencoba usaha baru yaitu dagang Mie Ayam keliling dengan motor. Jadi maafkan Bunda kalau novel menjadi nomor sekian karena kebutuhan Bunda nggak cukup kalau hanya dari nulis novel online. Bayangkan aja sehari dapatnya 500 perak, 600 perak. mentok di 900 perak dengan 4 novel kontrak. Mau kapan Bunda penennya coba? hehehe, maaf Bunda jadi curcol.
Tapi kembali lagi di niat awal Bunda nulis Novel online ini. Pendapatan itu bonus bagi Bunda, jadi mau dapat berapapun, Bunda nggak masalah. Bunda cuma mau nyalurin hobi yang sudah Bunda pendam sejak jaman sekolah. Jika apa yang Bunda tulis ini bisa menghibur banyak orang, ya Alhamdulillah. kalau tenyata kurang diminati, ya harus jadi semangat untuk meningkatkan kualitas lagi. Disamping itu, Bunda juga ingin menyalurkan sedikit uneg-uneg dalam novel yang tidak bisa Bunda salurkna secara langsung.
So, apapun hasilnya, yang penting tetap menulis menyalurkan hobi dan berharap bisa manfaat apa yang Bunda tulis. AMiin.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1