DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 68


__ADS_3

Waktu sahur hampir tiba. Jam dua dini hari, semuanya sudah siap. Reyhan dan keempat anak laki-lakinya juga sudah dalam perjalanan ke cafe Duo2R. Sedangkan Risma dengan dua gadisnya menunggu di cafe.


“Papa masih lama ya Bund?” tanya Rindi sambil menguap.


“Sudah dalam perjalanan katanya. Ngantuk ya bantuan Bunda?”


“Iya, Bund” jawab Rindi menggosok-gosok matanya.


“Jangan digosok, Sayang. Nanti merah” Risma memegang tangannya agar tidak meneruskan menggosok matanya.


“Dielus begini saja, pelan-pelan” Risma mengelus kelopak mata Rindi dengan lembut.


“Enakan to?”


“Iya Bund”


Risma melihat Sila yang asyik dengan ponselnya. Kadang bibirnya merengut, kadang juga tersenyum.


“Lagi apa, Kak? Kepo deh Bunda” tanya Risma.


“Hehehehe, lagi berbalas pesan di group sekolah, Bund. Rame” jawab Sila salah tingkah.


“O, kirain Bunda, Kakak sudah ada pacar” ucap Risma menggoda Sila.


“Bunda ish” kesal Sila dengan pipi yang merona.


“Hei, kenapa itu pipi. Kalau merah artinya ada ya?” goda Risma lagi.


“Bunda” rengek Sila dan memeluk Risma.


“Kenapa?” tanya Risma dengan lembut.


“Jangan marah. Masih pendekatan kok Bund” bela Sila.


“Bunda nggak marah juga nggak melarang. Mungkin Papa lebih ketat dari Bunda. Cuma pesan Bunda, harus jaga diri. Jangan sampai terbuai dengan rayuan setan yang dibalut dengan keindahan asmara” nasehat Risma.


“Maksudnya gimana Bunda?” tanya Rindi yang menyimak interaksi antara Sila dan Risma.


“Harus jaga diri dari segala kemungkinan masuknya setan menjerumuskan kita. Misalnya bergandengan tangan atau berdua-duaan di tempat yang sepi”


“Artinya nggak boleh ada sentuhan fisik kan Bund?” tanyaSila.


“Iya. Kalau dia mengajak ketemuan cuma berdua, jangan diiyain. Harus ada teman dari pihak kamu”


“Kenapa?” tanya Sila.


“Bunda ngeri lihat berita kalau ada siswi yang dijebak sama kekasihnya dll. Bunda cuma menjaga anak-anak Bunda agar terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan” jelas Risma. Sebagai orang tua, melihat banyaknya kasus pelecehan sosial di kalangan pelajar. Terlebih yang melakukan adalah teman-temannya sendiri, pacar atau mantan pacar membuatnya merasa was-was. Apalagi anak gadisnya ada dua, harus ekstra menjaganya.


“Sila akan ingat pesan Bunda. Sila akan jaga diri” ucap Sila penuh keyakinan.

__ADS_1


“Bunda percaya sama kakak. Bunda juga akan membantu Kak Sila menjaganya”


Tin tin. Reyhan membunyikan klakson sebagai tanda. Tak lama kemdian, dua mobil menyusul bersamaan dengan Karina dan Katrina keluar dari cafe bersama dengan karyawan yang membawa beberapa kresek merah.


“Sudah siap. Sebagian masukin bagasi sini, dan yang lainnya, masukin ke bagasi dua mobil itu”  ucap Risma dan langsung dilaksanakan oleh para karyawannya.


"Kalian mau ikut atau sahur di cafe?” tanya Risma setelah karyawannya kembali.


“Kami ikut saja Bu. Sahur bareng-bareng lebih enak” jawab Dina, salah satu karyawan Risma.


“Baiklah. Kalian berempat ikut mobil Papa dan Mama Permana. Soalnya mobil saya dan Kak Willi pasti penuh. Nggak apa-apa kan?” saran Risma.


“Nggak apa-apa Bu”


“Ya sudah, saya bilangin Mama dan Papa dulu” Risma berlalu dan menghampiri Heru dan Resti untuk memberitahukan kalau akan ada penumpang baru. Mereka tentu saja senang karena mobilnya tidak akan sepi. Sama ramainya dengan dua mobil yang akab berjalan beriringan bersamanya.


Semua sudah berada di tempat masing-masing. Semua mobil sudah berjalan dan menuju jalanan yang mereka sangka akan banyak tunawismanya. Akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka tuju.


“Yuk, kita turun dan kita kumpulkan semua orang yang ada di halaman situ. Halamannya kan luas. Pasti muat banyak orang” ucap Reyhan dan disetujui oleh Risma dan anak-anak.


“Kita kasih tahu yang lain” seru Sila semangat.


Setelah semua sepakat, mereka berpencar untik mengumpulkan orang-orang, entah itu tunawisma atau orang yang lewat entah untuk bekerja atau berdagang, atau hanya sekedar jalan-jalan.


“Alhamdulillah, semuanya sudah berkumpul. Kita akan sahur bersama-sama” ucap Heru membuat semuanya senang.


Makanan mulai dibagikan, begitu juga dengan minuman. Bahkan anak-anak juga ikut  membagikan makanan juga minumannya. Namun, saat acara makan berlangsung, tiba-tiba Risma merasa pusing.


“Pusing? Bunda masuk angin kali semalaman nyiapin ini semua” ucap Sila yang ikut membantu menyiapkan makanannya.


“Nggak kok Kak, tadi Bunda masih baik-baik saja. Tiba-tiba lemes dan pusing” jawab Risma yang sudah bersandar pada Reyhan.


“Pa, kita ke mobil aja. Biar dilanjut sama yang lain. Papa sahur menemani Bunda ya?” pinta Risma. Reyhan mengangguk karena tidak tega melihat istrinya yang sudah lemas.


“Kak, sangga Bunda dulu. Papa mau pamit dan kalian, tetap bantu yang lain” ucap Reyhan sekaligus memberi perintah.


“Siap Pa” jawab semua anak-anaknya.


Reyhan pamit dan tentu saja para orang tua merasa khawatir dengan keadaan Risma. Namun, Reyhan menjelaskan dan berusaha membendung kekhawatiran para orang tua. Berbeda dengan William, begitu Reyhan bicara, dia langsung berdiri dan menghampiri Risma. Katrina dan Karina sampai geleng-geleng kepala melihat betapa protektifnya William pada Risma.


“Gimana bisa move on kalau gitu” ledek Karina dan ditertawakan Katrina.


“Biarin aja. Kan udah setuju buat mengenal gadis yang mama pilih” ucap Katrina masih dengan tawanya. William diam dan mengabaikan dua saudarinya meskipun mendengar apa yang mereka ucapkan.


“Ris, kamu nggak apa-apa?” tanya William dan mengambil alih tubuh Risma dari sandarannya ke Sila.


“Kamu lanjutkan makannya dan kegiatan lainnya. Bunda biar sama Om” ucap William.


“Baik Om”

__ADS_1


Reyhan kembali dan mendapati istrinya sudah dalam pelukan William. Reyhan semakin khawatir karena Risma terlihat pucat dan semakin lemas.


“Kita ke rumah sakit aja ya, Yang” ajak Reyhan dengan wajah khawatirnya.


“Iya Ris. Sebaiknya kamu ke rumah sakit. Muka kamu udah pucat banget” tambah William.


“Nggak usah Bang, Kak. Risma ke mobil aja” jawab Risma dengan suara yang lemah.


“Will, aku sama Risma mau ke mobil dulu. Titip anak-anak ya?” ucap Reyhan dan mengambil alih tubuh Risma.


“Tenang saja. Kalau bisa bujuk dia lagi agar mau ke rumah sakit” pesan William. Reyhan hanya mengangguk.


Risma hanya diam dalam gendongan suaminya. Entah pergi ke mana semua kekuatannya. Bahkan untuk bicara saja, Risma merasa tidak kuat. Dengan susah payah, Reyhan bisa membuka pintu mobil dan menyandarkan Risma di sana.


“Bang” panggil Risma lirih.


“Iya Sayang?” jawab Reyhan dan mengelus pipi Risma yang pucat dengan sayang.


“Abang sahur aja dulu. Risma mau tidur sebentar. Siapa tahu nanti hilang lemesnya” ucap Risma dengan sisa tenaganya.


“Kamu yakin nggak apa-apa?” Risma mengangguk lemah. Dengan perasaan yang masih khawatir, Reyhan mulai memakan makanannya. Reyhan melirik Risma yang sudah memejamkan matanya. Meskipun nasi yang dimakannya rasanya hambar, namun Reyhan tetap memakannya. Dia butuh tenaga untuk puasa juga menjaga istri dan anak-anaknya.


Reyhan sudah menyelesaikan makannya dan membuang bungkusnya ke tempat sampah. Kemudian dia kembali ke mobil untuk melihat kondisi Risma.


“Sayang” elus Reyhan pada dahi istrinya.


“Nyenyak sekali. Biasanya terusik sedikit saja sudah bangun” ucapnya lagi.


Reyhan terus membelai pipi Risma, namun tetap saja Risma tak terusik. Reyhan mencoba membangunkan karena istrinya belum makan apa-apa.


“Sayang, makan dulu yuk” Reyhan sedikit menggoyangkan bahu istrinya. Namun tidak ada tanggapan atautanda-tanda istrinya akan bangun.


“Sayang. Hei, sayang. Bangun” ulang Reyhan, namun tetap tidak ada respon. Reyhan mulai panik.


“Sayang, sayang” Reyhan menggoyang sedikit lebih keras, tetap saja Risma tak bergerak.


“Astaga, apa jangan-jangan dia pingsan. Ya Allah” pekik Reyhan panik. Dia langsung memasngkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya dan berlari ke kursi kemudi. Tanpa menitip pesan atau pamit, Reyhan meninggalkan lokasi dan menuju rumah sakit terdekat. Saking paniknya, dia melupakan anak-anak dan semua orang dalam acara


sahur bersama.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


__ADS_2