DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 38


__ADS_3

Risma sudah ada di ruangan suaminya. Setelah melakukan kewajiban sebagai seorang muslim, Risma memilih duduk sambil menunggu suaminya selesai menandatangi berkas yang harus sudah siap sebelum pukul setengah dua. Tidak lama menunggu Reyhan menyelesaikan tugasnya. Suaminya kini sudah duduk di sampingnya.


“Lelah Bang?” tanya Risma  sekedar basa-basi, atau lebih tepatnya memberi perhatian kecil.


“Hem, tidak kalau ada kamu di sini” ucap Reyhan mengulas senyum.


“Abang bisa aja” jawab Risma tersipu.


“Katanya ada yang mau diomongin?” tanya Risma mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh iya, abang lupa” ucap Reyhan pura-pura tidak ingat.


“Cek, alasan” cibir Risma dan Reyhan malah tergelak.


“Beneran sayang”


“Serius Abang” geram Risma karena Reyhan terus saja bercanda.


“Iya, iya. Tapi janji, jangan nethink ya?” pinta Reyhan karena tahu apa yang akan dia bahas adalah hal yang sensitif bagi istrinya.


“Soal apa?” tanya Risma mengerutkan keningnya. Mengapa juga dirinya harus berjanji.


“Apapun itu, tolong berjanjilah sayang” pinta Reyhan dengan sungguh-gungguh.


“Hem, aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan usahakan” jawab Risma dan itu cukup untuk Reyhan sebagai pedoman.


“Maaf kalau apa yang akan Abang sampaikan meluakimu. Tapi, mereka sudah di sini” ucap Reyhan akhirnnya. Ya, kemarin dia mendapat tamu tak diundang dan itu meyangkut istri barunya, Risma. Dan tanpa mendapat persetujuan dari Risma, Reyhan membuat janji akan mempertemukan mereka dengan Risma setelah makan sianghari ini.


“Mereka? siapa?” tanya Risma bingung.


“Maaf kalau Abang tidak meminta ijinmu terlebih dahulu. Tapi kemarin Abang sudah mengobrol dan mereka telah berjanji satu hal pada Abang” kening Risma berkerut.


“Janji apa?” pertanyaan itu lolos dari bibir seksinya.


“Nanti kamu juga akan tahu. Bagaimana? Mau bertemu mereka?”


Risma memandang Reyhan dalam.


“Haruskah?”tanya Risma ragu-ragu. Tiba-tiba perasaannya tidak menentu.


“Hem.Agar kamu juga lebih tenang kedepannya. Abang jamin” Reyhan menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan mentalnya.


“Hem, baiklah” putus Risma.


“Kita ke ruang meeting sekarang. Mereka sudah menunggu”


Risma hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang suami yang menggenggam terus tangannya. Hati Risma semakin berdebar kala melihat pintu ruangan meeting didepan mata. Risma menghentikan langkahnya membuat Reyhan juga ikut berhenti kala tangannya tertarik.


“Kenapa?” tanya Reyhan heran. Bukankah tadi istrinya sudah siap untuk bertemu?


“Huft” Risma menghela napas menetralkan degup jantungnya. Dengan pasti dia mengangguk dan disambut senyuman kecil oleh Reyhan.

__ADS_1


Klek. Pintu terbuka dan sudah ada sekitar empat orang yang menunggu mereka. Rismamemandang mereka satu persatu, namun tidak ada yang dia kenali.


“Siapa mereka?” tanya Risma dalam benaknya. Dia merasa kalau ini adalah pertemuan pertamanya.


“Maaf menunggu lama” ucap Reyhan basa-basi, walaupun sebenarnya dia juga tak peduli.


“Tidak apa-apa Tuan Rey. Kami senang akhirnya kami bisa bertemu dengan istri anda” jawab pria yang terlihat paling tua di ruang meeting ini. Risma hanya diam dan duduk manis di samping suaminya. Semuanya masih menjadi teka-teki bagi Rismatentang siapa mereka.


“Baiklah. Istri saya belum tahu siapa kalian karena saya tidak memberitahukannya. Saya khawatir dia tidak akan mau menemui kalian jika saya katakan yang sebenarnya” ucap Reyhan dengan kalimat yang panjang. Demi istrinya, dia rela mengeyampingkan sifat dingin yang hanya berkata satu atau dua patah kata. Mereka yang baru bertemu dua kali dengan Reyhan begitu heran dengan  perubahannya.


“Bukankah kemarin Tuan Reyhan ini sangat dingin? Kenapa sepertinya berbeda?” bisik salah satu pada temannya.


“Mungkin karena ada istrinya” jawab temannya.


“Mungkin” balasnya masih dengan berbisik.


Mereka saling pandang dan mengangguk.


“Baiklah Tuan Reyhan, Nyonya Reyhan. Kami akan memperkenalkan diri” pria yang paling tua berdiri dan sedikit menunduk sebagai tanda kehormatan. Reyhan hanya mengangguk menyilahkan.


“Kami berempat adalah perwakilan dari keluarga besar Atmaja berkunjung untuk...”


“Apa? Keluarga Atmaja?” pekik Risma membuat pria tua itu berhenti bicara.


“Bang,anak-anak Bang. Risma nggak mau kehilangan mereka” pekik Risma panik membuat Reyhan juga ikut panik.


“Hai, sayang. Lihat Abang. Sayang” Reyhan memegang bahu Risma dan menguncangkannya.


“Jangan nethink. Dengarkan dulu mereka sampai selesai. Abang jamin kamu tidak akan kehilangan kembar. Oke” bagai tersihir oleh ucapan suaminya, Risma mengangguk. Reyhan menghela napas lega dan dia tidak pernah melepas genggamannya.


“Maafkan kami Nyonya. Kedatangan kami bukan untuk merebut kembar dari tangan anda” pria tua itu memilih menyampaikan tujuannya terlebih dahulu sebelum wanita yang dipanggil bunda oleh keturunan Atmaja menjadi tak terkendali.


“Lalu?” tanya Risma bergetar. Reyhan memandang istrinya yang sangat terlihat ketakutannya kehilangan Rendi dan Rindi.


“Kami mewakili keluarga Atmaja memohon maaf atas kelakaun salah satu dari kami”


“Salah satu?” tanya Reyhan sinis. Lagi dan lagi, ucapan pria tua itu terhenti.


“Maksudnya?” kali ini yang paling muda yang bertanya.


“Tiga dari kalian. Bukan satu. Jangan lupakan orang tua bajingan itu juga” tekan Reyhan membuat Risma semakin tertekan. Mereka mengangguk membenarkan.


“Bang” panggil Risma, matanya sudah berkaca-kaca.


“Sayang” Reyhan terkejut melihat Risma sudah hampir menangis. Reyhan menghela napas pasrah dan memandang mereka dengan tatapan bersalah.


“Maaf, sepertinya pertemuan ini tidak bisa dilanjutkan”


“Nyonya Reyhan. Mohon berkenan sebentar saja mendengarkan kami. Kami janji tidak akan mengusik anda ataupun anak-anak yang begitu anda sayangi itu” pinta pria berjas maroon dengan tatapan memohon.


“Maaf Tuan-tuan semua. Mungkin lain kali kalau istri saya sudah siap. Saya akankabari lagi” ucap Reyhan tak ingin istrinya tertekan lebih jauh lagi.

__ADS_1


“Tapi Tuan” pria termuda menyela dan langsung bergidik saat Reyhan kembali mengeluarkan aura dinginnya.


“Saya tidak perlu mengulang lagi bukan?”


Mereka memilih mundur teratur dari pada harus menerima kemarahan seorang Reyhan. Mereka hanya bisa berharap dapat bertemu lagi dengan Risma dengan keadaan yang berbeda.


Reyhan menggandeng tangan istrinya tanpa bicara. Begitu juga dengan Risma yang hanya diam dengan tatapan penuh kekhawatiran. Reyhan mendudukkan Risma di sofa setelah tiba di ruangannya. Menatap istrinya dengan pandangan bersalah.


“Maaf sayang. Harusnya aku memberitahumu sebelumnya agar kamu tidak syok seperti ini” lirih Reyhan membuat Risma menoleh.


“Bang. Mereka datang untuk mengambil Rendi dan Rindi kan? Mereka akan mengambil anak-anakku. Bang, tolong cegah mereka. Aku beneran nggak sanggup kehilangan mereka, Bang” tangis Risma setelah menahan sesak yang begitu sangat di ruangan tadi.


Reyhan mendekap Risma dalam pelukannya. Tanpa sadar, air matanya mengalir di pipi. Ya, seorang Reyhan yang terkenal dingin sejak kepergian sang istri terdahulu, kini menangis karena Risma. Dirasakannya dekapan Risma sangat erat hingga punggungnya terasa seperti tercubit karena eratnya pegangan Risma.


“Mereka tidak akan membawa Rendi ataupun Rindi dari kamu, Sayang. Percaya sama Abang” ucap Reyhan mengecup hijab yang menutupi kepala istrinya. Berlahan tapi pasti, tangan Risma mulai mengendur membuat Reyhan sedikit lega karena punggungnya terbebas dari cakar istrinya. Ternyata, tidak hanya tangannya yang mengendor, tapi tubuhnya juga berlahan luruh dan itu dapat dirasakan oleh Reyhan.


“Sayang, hei, Sayang” panggil Reyhan melepaskan pelukannya. Dilihatnya wanita yang mengisi harinya telah memejamkan matanya. Reyhan begitu panik hingga terus menepuk pipi Risma sembari terus memanggil-manggil namanya.


“Sayang, Risma. Bangun. Sayang, Risma” teriak Reyhan namun tak juga membuahkan hasil. Dengan wajah panik dan perasaan penuh kekhawatiran, Reyhan merebahkan tubuh Risma di sofa dan memanggil Bagas untuk segera datang ke ruangannya.


*****


Haduh, Reyhan, Reyhan. Harusnya itu panggil dokter, bukan Bagas. Emangnya Bagas dokter apa?


Kan aku panik Bunda. Orang tadi sehat-sehat aja, terus tiba-tiba pingsan. Kan panik akunya.


Jangan-jangan, hamidun bini loe Rey?


Cek, bunda jahat ih. Malam pertama aja belum, masak udah hamil aja. Kapan nih MP  aku sama janda antig ini?


Udah nggak nahan ya bang Rey?


Udah lama menduda bunda. Butuh kehangatan dari istri yang sudah sah.


Sabar. Nanti akan ada partnya. Dijamin pasti kamu akan ketagihan dan makasih banget sama bunda.


Beneran yah bund?


Iya. Bunda udah siapin catatannya. Tapi nanti. Ok!


Yang mau ngintip prosesnya, silahkan tunggu di part selanjutnya, tapi nggak janji. Hehehehe.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


__ADS_2