DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 57


__ADS_3

Lomba berjalan dengan lancar. Kalau soal gombalan, sepertinya hampir semua orang memiliki bakat terpendam. Terbukti dari sekian banyak peserta, hanya ada dua orang yang gagal mengeksekusi kata menjadi gombalan. Bahkan para petinggipun ternyata juga pandai menggombal ala ABG. Setelah Gombal Kata, lomba selanjutnya adalah Ledakan Balon. Sema peserta dipasangkan laki-laki dan perempuan. Tentu saja yang membawa pasangan tak perlu mencari partner lagi. Ada empat balon yang harus diletuskan setiap pasangan. Balon berada di bagian kepala diletakkan dikening setiap pasangan yang saling berhadapan. Balon kedua berada di perut para pasangan. Dan dua balon terakhir masing-masing diapit oleh dua kaki setiap orang. Bisa bayangkan bagaimana ribetnya mempertahankan balon agar tidak jatuh dan bagaimana caranya agar balon bisa pecah.


“Siap semuanya?” teriak moderator lomba.


“Siap” teriak semuanya. Banyak yang tertawa karena sekarang, tentu saja mereka tampak lucu. Di kaki ada balon, belum yang diperut dan kening.


Bahkan Risma tak bisa menahan tawa.


“Hahaha, Abang terlihat lucu. Pasti aku juga”


“Begitulah kenyataannya. Bunda benar-benar membuat kamu dan Rosa tampak tidak cemerlang. Begitu banyak agendanya hingga make up tak penting lagi” si Reyhan mulai memprotes Bunda. Minta dijitak ini orang. Istrinya dibikin cantik, marah-marah gara-gara banyak yang lirik. Sekarang Bunda bikin kumut-kumut itu muka, protes. Udah, nikmati aja. Baik Risma ataupun Rosa udah nggak jadi perhatian.


“Yang penting kita happy. Lihat anak-anak, mereka menikmati juga” ucap Risma dan  melirik anak-anaknya yang berpasangan. Karena anak-anak masih usia belajar, jadi tidak harus berpasangan laki-laki dan perempuan. Seperti Sila berpasangan dengan Rindi. Reno dengan Seno, sedangkan Rendi dengan Sean. Begitu juga dengan anak-anak lain yang ikut lomba ini.


“Oke semuanya. Hitungan ketiga, kita mulai. Waktu maksimal satu jam. Yang tidak bisa


meledakkan balon sama sekali atau masih dua balon akan mendapat hukuman.  Ingat. Tidak boleh menggunakan tangan. Yang melanggar


kami anggap gagal” ingat moderator dan yang lain hanya menyimak karena sudah berada pada posisi siap. Semuanya fokus pada balon yang melekat pada tubuh mereka.


“Satu, dua tiga. Go”


Semua sudah mulai permainannya. Sedangkan Reyhan dan Risma masih diam saja. Reyhan menunggu sampai Risma bisa meredakan tawanya. Istrinya ini sungguh mudah tertawa meskipun tidak terlalu lucu. Reyhan hanya bisa pasrah karena cintanya sudah mentok pada wanita di depannya itu.


“Sudah ketawanya? Bisa kena hukum lho kita” ingat Reyhan dan Risma mencoba menghentikan tawanya.


“Oke. Sudah. Kita ledakkan di kaki kita masing-masing. Agar kalau kita nggak sengaja geser nggak jatuh” ucap Risma menyatakan strateginya.


“Bagus juga. Segera kita mulai” ucap Reyhan tegas. Risma mendengus kesal. Suaminya ini


kalau susah bicara serius pasti selalu tegas dan dingin. Untung Risma sudah biasa menghadapi sikap dingin suaminya. Namun terkadang bisa begitu manja dan usil.


Risma dan Reyhan mencoba meledakkan balon yang ada di kaki. Sulit hingga Risma tergelak karena bukannya meletus, tapi malah cuma penyat-penyot saja.


“Hahahaha, ini susah sekali”


Reyhan tanpa permisi menekan kepala istrinya agar semakin menekan balon yang ada di


kening.


“Abang” omel Risma namun Reyhan tak mengindahkannya. Dan dor. Baln di kening sudah meletus. Risma sampai berteriak menyebut nama Allah saat balon meletus.


“Abang ih” omel Risma karena suaminya tidak mengatakan dulu strateginya yang tiba-tiba


berubah.


“Hehehe, yang penting bisa meletus kan?” jawab Reyhan bangga.


“Hem. Boleh juga. Peluk” manja Risma dan Reyhan terkekeh. Dengan senang hati, Reyhan


memeluk Risma. Keduanya saling menekan balon yang ada di perut dengan pose saling memeluk. Butuh usaha yang ekstra untuk bisa meledakkan balon. Terlebih tekstur kulit perut yang lembut dibanding kening membuatnya semakin sulit. Bahkan balonnya sudah begitu tipis.


“Bentar Bang. Aku engap” ucap Risma dan Reyhan melonggarkan dekapannya pada istrinya.


“Ini gimana cara meledakannya? Susah banget Bang” rengek Risma yang mulai frustasi. Yang

__ADS_1


lain pun sama. Bahkan ada yang belum meledak sama sekali. Dan kebanyakan sudah


meledak satu. Dia terkekeh mendengar rengekan istrinya.


“Kita ledakkan yang di perut dulu. Setelah itu, kita pindahkan ke perut atau ke  kening. Gimana?” usul Reyhan.


“Oke. Kita mulai ya? Bentar, aku mau stok oksigen dulu” oceh Risma dan lagi-lagi membuat Reyhan  terkekeh. Apalagi melihat


Risma yang mengambil napas dalam seperti hendak meniup sesuatu yang sangat besar.


“Sudah?” tanya Reyhan dan dijawab anggukan oleh istrinya.


Keduanya kembali saling menghimpit balon dengan pose saling berpelukan. Penyet-penyetlah itu balon. Butuh tenaga ekstra untuk bisa meledakkannya dan dor, berhasil. Risma sampai bersorak saking senangnya.


“Yeee, berhasil”


“Hehehehe” Reyhan terkekeh lagi dan lagi karena ulah istrinya.


“Terus ini cara mindahinnya gimana? Kan nggak boleh pakai tangan?” Risma kembali heboh


malah membuat Reyhan terbahak. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Ada yang sneyum-senyum karena melihat bos mereka tidak seperti biasanya. Ada yang


melongo dan masih banyak ekspresi lainnya. Dan pasangan ini malah tidak sadar kalau menjadi pusat perhatian. Bahkan pasangan ini tidak sadar kalau ketiga pasang anaknya meniru strategi keduanya. Mulai dari memecahkan balon yang bagian kening dan dilanjutkan di bagian perut. Meskipun butuh waktu lebih lama dari keduanya, namun ketiganya sama-sama berhasil. Tentunya tanpa berisik, tidak seperti pasangan ini yang heboh sendiri. Sedangkan Bagas dan Rosa sudah


meletuskan semua balon. Entah cara apa yang mereka gunakan.


“Ikuti arahan aku ya Sayang” Risma mengangguk.


“Maju sayang” dengan pelan Risma maju. Karena postur tubuh Reyhan lebih tinggi, jadi


yang bisa dialihkan ke badan adalah balon yang ada di kakinya. Reyhan menarik tubuh istrinya agar lebih dekat dengan pelan agar balon yang ada di kaki Risma tidak terjatuh. Entah bagaimana caranya Reyhan melakukannya, namun balon yang ada di kakinya sudah berada di tengah di depan perut bagian bawah. Dengan mengangkat lutut, Reyhan menaikkan balon hingga berada di perut Risma seperti halnya balon kedua. Mereka kembali meledakkan balonnya dengan cara yang sama. Anak-anaknya bingung bagaimana caranya meniru. Saat melihat gerakan papanya, gerakannya sangat cepat hingga keenam anak itu saling pandang. Akhirnya keenam anaknya


“Yee, akhirnya. Kita berhasil” teriak Risma setelah bisa meledakkan semua balon yang


ada di tubuhnya dan suaminya. Tanpa malu, Risma naik ke punggung suaminya dan tertawa senang. Reyhan sudah tidak memikirkan reputasi lagi. Baginya, istri dan anaknya bahagia, itu sudah cukup.


“Ayo kita ledakkan semuanya, agar kita juga bisa digendong oleh Papa” ajak Rendi pada Sean yang iri melihat bundanya digendong papanya.


“Hooh” Sean semakin semangat dan hampir sepuluh menit, akhirnya keduanya bisa meledakkan balon yang ada di kaki keduanya.


“Papa, aku juga mau di gendong kaya Bunda. Aku juga berhasil” ucap Rendi setelah tiba di depan Reyhan.


“Oho, anak papa iri ternyata sama bunda. Sini” Reyhan berjongkok agar Rendi bisa naik ke punggungnya.


“Mau di gendong Papa atau Bunda?” tanya Risma pada Sean karena kalah berlari dengan Rendi.


“Nggak mau. Kasian Bunda nanti capek” jawab Sean dan memeluk Risma.


“Ouh, anak Bunda pengertian banget sih? Muach” Sean tertawa mendapat ciuman dari Risma.


“Mau digendong sama Om?” tanya Bagas yang memang ada di sisi Risma dan Reyhan sedari


tadi.


“Boleh. Ayo kita uforia seperti Papa dan Rendi” Bagas juga berjongkok seperti Reyhan dan Sean dengan semangat naik ke  punggung Bagas.

__ADS_1


“Ye ye ye, kita menang” sorak Sean yang kini bukan lagi di punggung Bagas, namun sudah nongkrong di atas bahu Bagas. Dengan semangat, Bagas berjoget dengan tetap menjaga keseimbangan Sean.


“Papa, aku mau seperti Sean” ucap Rendi yang ingin seperti saudaranya.


“Oke boy”


Akhirnya empat orang beda usia itu uforia bersama. Sedangkan empat saudaranya menjadi lebih semangat karena ingin diarak seperti saudaranya.


“Ayo Rin, tinggal satu lagi. Keburu disalip sama Reno dan Seno” ajak Sila memberi semangat pasangannya.


“Baik kak”


Begitulah semangat anak-anak meningkat gara-gara ulah Risma yang minta gendong suaminya. Rindi dan Sila akhirnya berhasil dan dengan senang berlari ke arah Reyhan dan Bagas. Kali ini Bagas harus mengangkat Rindi, sedangkan Reyhan membawa Sila. Semoga pinggang Papa asix nggak encok yah? Hahahaha.


Reno dan Seno saling pandang. Padahal tinggal satu lagi, tapi Seno sudah mau mewek gara-gara semua saudaranya sudah berhasil.


“Huaa, aku juga mua dipangguk” tangis Seno pecah dan Reno bingung.


“Tapi ini belum meletus, Bang” ucap Reno panik.


Risma mendatangi dua anaknya dan mensejajarkan tubuhnya.


“Seno mau dipanggul kaya Kak Rindi dan Kak Sila?” tanya Risma lembut dan Seno mengangguk. Masih ada suara isakan di sana.


“Letusin ini dulu ya? Nanti dipanggul bareng Reno sama Papa dan Om Bagas” ucap Risma dan memindahkan balon yang ada di kaki Seno ke kening keduanya. Risma tahu kalau anak-anak tidak ikut dalam peraturan lomba. Juri yang bertugas juga tidak menegur karena memang anak-anak hanya peserta seru-seruan saja.


Risma terus mendampingi kedua putra bungsunya itu hingga, dor. Balon meletus dan sontak Seno dan reno meloncat girang.


“Horeee” semua orang ikut senang melihat bagaimana perasaan anak-anak yang berhasil itu. Ulah Risma membuat anak-anak lain yang ikut mengganti balon mereka yang ada di


kaki ke kening. Juri hanya bisa menepuk jidatnya keran memang peraturannya,


anak-anak boleh ikut secara bebas tanpa ada ikatan peraturan.


“Hahahaha” Risma terbahak melihat ulah anak-anak yang sayangnya, para orang dewasa hanya bisa memandang tanpa bisa mengcopi perbuatan mereka.


Uforia terus berlanjutdan masih sama do’a bunda untuk Papa Reyhan dan Om Bagas. Semoga nggak encok saja. Amiin.


Part berikutnya mulai kita konser ya? Bunda mau buat part yang senang-senang dulu


sebelum ada masalah yang menghadang kedepannya. Rencananya, Bunda juga mau


kangen-kangenan sama keluarga besar Prasetyo. Akan ada kejutan bagi yang kangen


dengan keluarga Ayah David dan Bunda Hana. Tapi nggak tahu part ke berapa nanti. Ditunggu aja yah?


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti


novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2