DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 10


__ADS_3

Reyhan dan Riska sudah duduk saling berhadapan. Reyhan di kursi kebesarannya, sedangkan Riska duduk di kursi yang biasa digunakan oleh karyawan saat menyetorkan laporan.


“Kak, saya tidak mau diganggu sampai urusan Riska dengan saya selesai” titah Reyhan pada Bagas melalui interkom.


“Jadi, ada apa? Ada masalah?” tanya Reyhan menatap dalam Riska. Riska menghembuskan napas pelan sebelum memulai bicara.


“Saya ingin bantuan anda. Saya kira dengan kekuasaan yang Tuan miliki, akan lebih mudah menemukan alamatnya” ucap Riska tanpa bertele-tele.


“Minta tolong? Alamat?” tanya Reyhan belum mengerti maksud Riska.


“Iya Tuan. Ada sedikit masalah tentang tugas Nona kecil. Saya ingin menyelesaikannya agar nona kecil mendapat apa yang seharusnya” ucap Riska menatap Reyhan penuh harap. Meskipuntidak berharap, seharusnya Reyhan mau karena ini menyangkut anaknya.


“Hemm, boleh saja. Asal..”


“Cek, jangan membuat kesepakatan soal bantuan ini. Yang saya lakukan adalah untuk anak anda” sarkas Riska memotong ucapa Reyhan. Bahkan Reyhan sampai mengerjap tak percaya pengasuh anaknya ini berani memotong ucapannya.


Semakin menarik saja kamu Ris. ~ Reyhan.


“Baiklah. Jadi apa yang harus saya lakukan nona pengasuh?” Riska mendengus memalingkan wajahnya dari Reyhan. Entah mengapa perkataan Reyhan seperti menyindirnya.


“Saya ingin Tuan memberikan informasi apapun tentang guru prakarya putri anda berikut dengan alamatnya. Setelahnya, biar menjadi urusan saya” Riska berkata dengan tegas. Jangan lupa tatapan tajam namun tenang yang Riska berikan. Di mata Reyhan, tatapan Riska seolah bersinar dan menarik dirinya untuk terus menatapnya.


“Berapa lama waktu yang kamu berikan?” tantang Reyhan yang memang bisa merentas seperti halnya William.


“Secepat yang Tuan bisa. Kalau bisa, hari ini saya langsung menyelesaikannya” lagi dan lagi, jawaban tegas Riska membuat Reyhan terkesima.


“Baiklah. Tunggulah” Reyhan mulai memainkan jarinya di keybord komputer yang ada di meja kerjanya. Riska memperhatikan Reyhan yang sedang fokus dengan tugasnya.


Saat sedang fokus, Tuan Reyhan tidak terlihat songong dan arogan. ~ Riska.


“Sudah” ucap Reyhan dengan senyum lebarnya. Kemudian Reyhan memberikan hasilnya yang sudah diprint kepada Riska. Riska menerimanya dan membaca terlebih dahulu. Semua riwayat tentang guru prakarya Sila tertera


dengan jelas bahkan statusnya.


“Terimakasih. Bisa saya minta tolong lagi?” kali ini Riska bertanya dengan ragu.


“Katakan” ucap Reyhan dengan nada yang sudah melunak. Tidak ada nada angkuh dan intimidasi lagi.


“Tadi Nona kecil bercerita soal perasaannya dan alasan kenapa selalu iri dengan anak-anak saya. Saya kira Tuan sangat tahu apa alasannya. Jadi bisakah Tuan memberikan perhatian kecil lagi selain kebiasaan yang sudah Tuan tiru dari kami?” pinta Riska penuh harap.


“Hem, saya usahakan. Saya juga merasa menyesal karena sedari dulu kurang memperhatikan anak-anak. Saya pikir dengan uang yang saya miliki, dan perhatian dari mama dan omanya sudah cukup” sesal Reyhan menatap Riska sendu.


“Tapi faktanya, Nona Sila tidak merasa diperhatikan oleh dua orang yang Tuansebutkan. Selain memanjakan Nona Sila dan adik-adiknya dengan materi yang Tuan berikan. Seperti itu yang saya tangkap dari ungkapan Nona Sila pada saya” Riska berkata dengan menggebu-gebu. Soal perhatian anak, memang harus segera diselesaikan.


“Ajari saya memberikan perhatian yang sebenarnya” Reyhan meminta dan terlihat seperti kucing yang mencari perhatian tuannya di mata Riska.


“Baiklah. Tuan bisa mulai dengan mengucapkan selamat malam dan mimpi indah setiap malam. Kunjungi kamar anak Tuan satu persatu. Mulai ambil hati anak-anak Tuan. Selama ini, saya kira ulah anak-anak Tuan yang keluhkan pada saya adalah bentuk protesatau kesengajaan untuk menarik perhatian Tuan” ungkap Riska. Buktinya, setelah tiga hari ditangani Riska, anak-anak Reyhan lebih terkondisikan. Bahkan sekarang, bisa dibilang tidak pernah berulah yang diluar batas.

__ADS_1


“Mungkin kamu benar. Aku akan lakukan apa yang kamu sarankan. Apa lagi?” tanya Reyhan semangat kali ini. Penyesalannya mengalahkan niatnya untuk menarik perhatian Riska.


“Itu saja dulu. Jika hati Tuan dan anak-anak Tuan sudah terkoneksi dengan baik, saya yakin naluri anda sebagai orang tua akan membimbing apa yang akan anda lakukan selanjutnya” Riska berkata dengan lembut kali ini. Itulah keahlian Riska. Dia bisa menempatkan diri dan bagaimana bertindak juga bicara sesuai dengan situasi yang dihadapi.


“Saya pergi dulu. Terimakasih informasinya. Saya akan kabarkan hasilnya karena anda berhak tahu perkembangan anak anda” Riska berdiri dan mengatupkan tangannya untuk pamit.


“Terimakasih Ris. Saya tidak salah percayakan anak-anak pada kamu” ucap Reyhan tulus. Ucapan tulus pertama yang Riska terima selama kenal dengan Reyhan.


“Sama-sama Tuan” jawab Riska tak kalah tulus. Riska juga memberikan senyum terbaiknya. Reyhan sampai terpesona dengan senyum tulus Riska yang baru pertama kali dia terima.


“Saya permisi” pamit Riska tanpa mendengar tanggapan Reyhan.


Kamu memang wanita yang Tuhan kirimkan pada keluargaku Ris. Karena kamu, aku jadi tahu bahwa anak-anakku merasa kesepian selama ini. ~ Reyhan.


*****


Pukul empat sore, Riska dan Sila bertolak ke kediaman Ibu Renata, guru prakarya di sekolah Sila. Riska telah menyiapkan semua bahannya untuk membuat ulang kotak pensil. Dengan begitu, guru Sila tidak akan bisa membantah lagi kalau itu bukan karya Sila sendiri.


“Kamu sudah siap, Nona kecil?” tanya Riska memastikan kesiapan majikan kecilnya.


“Aku suka bibi memanggilku sayang seperti siang tadi” ucap Sila mengutarakan isi hatinya.


“Baiaklah, sayang. Apa kamu sudah siap?” tanya Riska mengulangi pertanyaannya lagi dengan mengubah nama panggilannya.


“Aku siap, Bi” jawab Sila dengan sneyum lebarnya.


“Baiklah. Ayo kita masuk. Semoga Bu Renata ada di rumah” Riska menggandeng tangan Sila dan menekan belyang ada didekat pintu masuk.


“Maaf, mencari siapa?” tanya Renata yang tidak melihat Sila di samping Riska.


“Saya datang bersama Sila” ucap Riska tanpa ada embel-embel Nona.


“Oh, hai Sila. Mari masuk. Tumben datang ke rumah ibu” Renata ternyata cukup ramah. Tidak seperti yang Riska bayangkan.


“Terimakasih bu”


Renata menyilahkan duduk Riska dan Sila. Dia meninggalkan keduanya di runga tamu untuk mengambil minuman kemasan yang memang dia sediakan untuk tamu yang datang. Simpel, begitulah pikirnya. Tak perlu menyalakan kompor dan ribet di dapur.


“Silahkan diminum. Maaf, adanya hanya minuman saja” ucap Renata basa-basi.


“Tidak apa-apa Bu, ini sudah lebih dari cukup” jawab Riska sedikit sungkan.


“Ada perlu apa Sila berkunjung ke rumah Ibu?” tanya Renata setelah Sila dan Riska selesai minum.


“Maaf Bu, kalau kedatangan kami mengganggu waktu Ibu”


“Ah, tidak apa-apa, Bu...”

__ADS_1


“Riska. Panggil saya Riska”


“Ah, iya. Tidak apa-apa Bu Riska”


“Jadi begini Bu. Saya kemari berhubungan dengan tugas yang ibu berikan untuk Sila dan yang lainnya. Sila mengatakan kalau Ibu menolak hasil kerjanya. Apa itu benar?” Riska tak lagi sungkan untuk mengungkapkan pendapatnya.


“Ah, iya Bu Riska. Saya minta maaf. Saya melihat hasil yang disodorkan Sila seperti membeli dari toko. Untuk itulah saya menolak hasil kerjanya. Saya tidak mau anak-anak didik saya bermain curang” jelas Renata menatap tak enak pada Riska.


“Apa Ibu sudah memeriksanya? Saya rasa apa yang ibu lakukan itu tidak bijaksana. Harusnya ibu selidiki dulu” tegas Riska merasa tidak terima dengan jawaban Renata.


“Maafkan saya Bu” Renata merasa tidak enak hati. Dalam hati membenarkan ucapan Riska.


“Begini saja, saya dan Sila akan contohkan dan Ibu bisa menilai sendiri hasilnya” Riska tidak hanya datang untuk protes, tapi juga membawa solusi.


“Baiklah. Maafkan saya Bu Riska”


“Tidak apa-apa. Ini bisa jadi pelajaran penting bagi kita” jawab Riska bijak.


Riska membongkar bawaannya dan mengajak Sila mulai membuat kota pensil lagi. Kali ini, Riska tidak begitu banyak membantu karena Sila sudah bisa saat membuat tugas mekarin. Renata menatap kagum pada kelihaian Sila membuat kotak pensil dan hasilnya sangat rapi.


“Ibu percaya. Maafkan Ibu ya Sila. Lain kali, Ibu akan lebih teliti lagi” ucap Renata menyesal. Sila dan Riska saling melempar senyum.


“Tidak apa-apa bu. Saya percaya kalau hasil tidak akan membohongi usaha” ucapan Riska padanya dijadikan jawaban dari permintaan maaf Renata.


“Anak baik. Saya terima tugas kamu. Akhir tahun nanti, akan ada bazar antar sekolah sekabupaten. Saya harap Sila mau bergabung dengan kami” ucap Renata penuh harap.


“Saya usahakan untuk mendapat ijin dari papanya, asal ada surat pengantar yang jelas dati sekolah” ucap Riska tak ingin gegabah mengambil keputusan. Apalagi dia belum menanyakan kesediaan Sila juga ijin dari Reyhan.


“Baiklah. Saya sangat berharap Sila bisa bergabung”


Percakapan terus berlanjut hingga Sila dan Riska pamit pulang. Satu masalah sudah Riska bereskan. Senyum Sila terus terulas karena hasil kerjanya diterima baik berkat Riska.


“Sila sayang Bibi. Bolehkan Sila memanggil Bunda seperti Rindi dan saudaranya?” pinta Sila yang merasakan kasih sayang Riska seperti seorang ibu baginya.


“Maafkan bibi sayang. Bukannya bibi tidak mau. Bibi akan suka jika Non Sila memanggil Bibi Bunda. Tapi, Bibi juga harus menjaga hati anak-anak bibi. Bagaimana kalau Non Sila minta ijin pada Rindi dan saudaranya? Maukan sayang?”


“Baiklah. Nanti aku akan bicara pada trio R. Bibi tunggu hasilnya”


Riska tersenyum. Jujur saja dia suka jika anak-anak asuhnya nyaman dengannya. Artinya, tugasnya akan semakin mudah untuk membimbing mereka dan menanamkan hal-hal yang positif kedepannya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2