
Semua orang larut dalam uforia peningkatan hubungan Riska dengan Reyhan. Riska dan anak-anaknya saling berpelukan bahagia karena satu sama salin saling mendukung. Dari jarak sekitar lima meter, berdiri seorang pria dengan pakaian perwiranya. Kali ini tidak hanya Riska yang bisa melihatnya, namun ketiga anak-anaknya juga
dapat melihat sosok ayah yang dirindukannya.
“Ayah” lirih ketiganya. Erik tersenyum dan mengangguk. Riska menangis haru juga rindu menatap suaminya yang sudah tiada. Yang lain hanya melihat arah pandang 4R, namun tidak dapat melihat apapun.
Berlahan-lahan, bayangan Erik semakin menipis hingga akhirnya benar-benar hilang. Riska memeluk anak-anaknya semakin erat dan tersenyum ikhlas, namun air matanya mengalir seperti aliran sungai.
“Aku ikhlas menerima Tuan Reyhan, maksud saya Abang Reyhan menjadi suamiku dan papa dari anak-anakku” ucap Riska dalam keheningan. Suara lirihnya dapat di dengar oleh semua orang. Mereka lupa jika Riska sendiri belum menjawab pernyataan Reyhan karena terlalu senang dengan uforia persetujuan dari para kurcaci.
“Ya? Bisa kamu ulang Ris?” tanya Reyhan tak percaya.
Riska bangun setelah melepaskan pelukannya dan menghadap Reyhan dengan seulas senyum tulusnya.
“Saya Putri Kharisma Anggara atau Riska Cantika dengan hati ikhlas menerima Abang Reyhan menjadi calon suami dan calon papa dari anak-anakku”
“Terimakasih” Reyhan langsung menarik Riska dalam pelukannya.
“Mulai sekarang, kamu harus pindah ke kamar utama” ucap Reyhan tanpa menyaring kata-katanya terlebih dahulu.
Bug. Bug. Bug. Bug. Empat pukulan sukses mendarat di beberapa bagian setelah Reyhan menyelesaikan ucapannya.
“Aduh. Auu. Ish. Kenapa sih?” kesal Reyhan yang belum sadar dengan kesalahannya.
“Dasar anak nakal. Begitu dapat lampu ijo, langsung aja mau boyong anak orang ke kamar utama” kesal Nilam.
“Bukan begitu maksud Rey Ma” bela Reyhan setelah sadar apa yang baru saja dia katakan.
“Lalu apa? Halalin dulu. Minta dia pada keempat orang tuanya” omel Ali yang ingin menambah timpukan untuk anaknya.
“Papa nggak boleh ngajak bunda ke kamar utama” omel Sila yang cemburu dengan papanya. Dia orang ketiga yang menimpuk papanya.
“Langkahi dulu gue” tantang William. Reyhan nyengir karena mendapat penolakan dari semua orang. Riska menutup mulutnya menahan tawa. Reyhan menggaruk tengkuknya salah tingkah.
“Nak, jangan lupakan kami yang sangat menyayangi Risma” tegur Indra membuat Reyhan semakin malu.
“Mulai sekarang, Riska akan tinggal di sini sampai kalian sah menjadi suami istri” tegas William tak terbantahkan.
“Tidaaak” teriak trio S karena harus berpisah dengan bundanya.
“Terus, anak-anak sekolahnya bagaimana?” tanya Riska.
“Ijin saja dulu. Hanya dua hari. Lusa kalian menikah” putus Heru membuat Riska dan Reyhan menatapnya.
“Papa benar. Tidak perlu melakukan lamaran atau memikirkan seserahan. Kita usung sama-sama. Lusa, kalian menikah” tambah Resti menyetujui suaminya.
“Kalian terima beres. Kita berenam yang akan menanganinya” ucap Nilam semangat. Ali hanya tersenyum mengangguk. Indra dan Gita juga setuju.
“Mulai besok, kalian di pingit” tambah Gita membuat Reyhan menghela napas lesu. Sedangkan Riska biasa saja karena memang belum ada cinta di hatinya. Mungkin sudah ada, tapi hanya sedikit dan itu tidak cukup membuat Riska menyadarinya.
“Sekarang kalian istirahat. Besok kita menginap di villa milik kita sendiri sampai hari H. Termasuk anak-anak” tekan Nilam senang karena bisa menjahilianak dan cucu-cucunya.
“Kan yang nikah papa, kok kita juga ikut di pingit sih Ma?” protes Sean tak terima.
“Kalau begitu, nggak usah jadi nikah aja” jawab Nilam tengil tanpa dosa.
“Ck, Oma” rengek Seno. Nilam mengulum bibirnya menahan tawa.
“Kalau begitu nurut. Kalau papa menikah dengan bunda kan kalian nggak akan pisah sampai kapanpun”
“Iya iya” pasrah trio S dan melangkah dengan lesu. Riska tersenyum dan membimbing semua anak-anaknya untuk istirahat.padahal dia sendiri butuh istirahat yang cukup karena masih dalam masa pemulihan.
*****
Semua ***** bengek pernak pernik pernikahan sudah di urus oleh enam orang tua yang sangat antusias. Sedangkan William terus mendampingi Riska agar tidak bosan. Anak-anak ikut para nenek dan kakeknya membantu menyiapkan acara ijab qabul untuk penyatuan papa dan bundanya. Ya, acaranya hanya ijab qabul untuk sementara, namun dalam keadaan terbuka. Artinya tidak disembunyikan baik dari masyarakat ataupun media. Mereka juga tidak mengundang media, namun juga tidak melarang jika ada yang ingin meliput. Setelah sampai kota nanti, mereka baru bermusyawarah kembali untuk melakukan resepsi.
Ponsel William berdering saat dia bercengkrama dengan Riska.
“Duo K telepon” ucap William dan memperlihatkan ponselnya.
“Angkat kak” ucap Riska semangat.
“Oke”
William menggeser tombol hijau dan munculah dua wajah dua saudarinya.
Mode VC
“Riskaaaa” teriak duo K.
“Kakaaaaak” jawab Riska tak kalah heboh. William hanya terkekeh dengan ulah tiga saudarinya.
“”Kau jahat Ris? Di sana kau akan menikah, sedangkan aku di sini terjebak dengan ramainya cafemu” omel Katrina.
“Iya. Awas saja kalau sampai kamu ijab tanpa menunggu kami datang” ancam Karina gemas dengan Riska.
__ADS_1
“Hehehehe, memangnya kalian akan ke sini?” tanya Riska tanpa berdosa.
“Tentu saja” jawab keduanya kompak.
“Kapan?” tanya William. Tidak ada wajah antusias yang dia tunjukkan.
“Pokoknya tidak boleh menikahkan Riska sebelum kami datang. Kami yang akan menggandeng mempelai wanitanya” tegas Katrina dan diangguki keras oleh Karina.
“Hahahaha, baiklah kakak-kakakku yang cantik. Riska akan menunggu dua kakak cantikku”
“Ris, Kak Willi udah punya gebetan belum?” tanya Katrina.
“Entahlah. Tapiaku dengar dia minta nomor ponsel Tisa. Memang siapa Tisa? Kalian kenal?” jawab Riska sambilmelirik William yang mendengus karena Riska membocorkan niatnya.
“O, jadi lagi gebet Tisa. Ntar aku tanya sama Reyhan. Kayaknya kakak pernah dengar” jawab Karina dengan senyuman licik.
“Jangan berulah” tegur William untuk menghentikan aksi nekat kakaknya.
“Diam. Lakukan saja tugasmu. Awas kalau sampai gagal bawa adik ipar” omel Karina.
“Ck. Menyusahkan saja” kesal William.
“Bagaimana keadaan cafe?” tanya Riska mengalihkan pembicaraan.
“Cafe aman terkendali. Malah makin ramai saja. Oh ya, aku merekrut satu pegawai lagi untuk menjadi manager. Tenang saja, dia amanah kok. Ganteng pula. Iya kan Kat?” ucap Karina menggoda adiknya.
“Ehem, sepertinya ada yang mau sold out nih” goda Riska menatap Katrina.
“Ck, nggak usah di dengar. Tapi aku setuju perihal dia amanah dan” Katrina menggantung ucapannya.
“Dan?” tanya William penuh selidik.
“Dan tampan?” tanya Riska mengulang ucapan Karina.
“Dan rajin. Hehehehe” jawab Katrina bahagia karena berhasil mengerjai tiga saudaranya.
“Ck, dasar usil” omel Karina menepuk pundak adiknya.
“Hahahahaha” tawa Katrina langsung pecah saat melihat kekesalan Karina.
Obrolan terus berlanjut dengan gelak tawa dan saling meledek. Tidak akan ada yang menyangka jika hubungan Riska dengan ketiga saudara itu adalah saudara angkat. Mereka berbincang dan bercanda juga saling meledek seperti dengan saudara kandung. Jangan salah, bahkan saudara angkat bisa benar-benar menjadi saudara sesungguhnya dari pada saudara kandung. Namun alangkah baiknya apabila saudara kandung ataupun saudara
angkat, sama-sama berperan selayaknya saudara kandung. Pasti hidup lebih indah dalam kebersamaan yang tulus dan ikhlas.
*****
DENPASAR-ARJOSARI
Tanggal 30 Oktober dek wingi (Tanggal 30 Oktober kemarin)
SMSmu isih ono Hp iki (SMSmu masih di HP ini)
Tak simpen ono njero Folder Pribadi (Ku simpan di dalam folder pribadi)
Terus tak woco saben awan saben bengi (Terus ku baca setiap siang malam)
Soko terminal Arjosari (Arjosari) (Dari terminal Arjosari)
Kowe pamit budhal nang Mbali (nang Mbali) (Kamu pamit berangkat ke Mbali)
Emboh Denpasar embuh ngendi (Pasar Sapi) (Entah Denpansar entah mana)
Emboh Kecantol cowok Australi (Entah tertarik cowok Australi)
Barang saiki kok ngajak bubar (Namun sekarang kok ngajak putus)
Opo kowe kepincut cowok Denpasar (Apa kamu tertarik cowok Denpansar)
Keputusanmu Bulat tekatmu (Keputusanmu bulat tekadmu)
Mung pandunganku padhango dalanmu (Hanya do’aku teranglah jalanmu)
Sing penting aku west tau ngrasakke (Yang penting aku sudah pernah merasakan)
Yen ngajak pisah aku mung manut wae (Kalau ngajak pisah aku cuma nurut saja)
Joko dudo Denpasar akeh tunggale (Perjaka duda Denpasar banyak jumlahnya)
Pilih ketut, opo Wayan opo Made (Pilih Ketut, apa Wayan apa Made)
Ora prawan ora Rondho (Tidak perawan tidak janda)
Aku ngerti kowe sopo (Aku tahu kamu siapa)
Ora joko ora dudo (Tidak perjaka tidak duda)
__ADS_1
Karo aku jane podho (Dengan aku sama saja)
Aku wes mbok wanti-wanti (Aku sudah kau ingatkan)
Ojo nganti aku lali (Jangan sampai aku lupa)
Tapi engkau lupa diri (Tapi engkau lupa diri)
Cintaku kau bawa pergi(Cintaku kau bawa pergi)
Timbang Mikir kowe penak turu wae (Daripada mikir kamu enak tidur saja)
Sopo ngerti aku ngipi pethuk kowe (Siapa tahu aku mimpi ketemu kamu)
Njrone ngimpi terus kowe tak jak ngene?? (Dalam mimpi lalu kamu aku ajak begini)
Yen ra gelem penak diplekotho wae….(Jika tidak mau enak dipaksa saja)
MENDUNG TANPO UDAN
Mendung tanpo udan (Awan tanpa hujan)
Ketemu lan kelangan (Bertemu dan kehilangan)
Kabeh kui sing diarani perjalanan (semua itu yang dinamakan perjalanan)
Awak dewe tau duwe bayangan (Kita pernah punya bayangan)
Besok yen wes wayah omah-omahan (Besok jika sudah berumah tangga)
Aku moco koran sarungan (Aku baca koran pakai sarung)
Kowe belonjo dasteran (Kamu belanja pakai daster)
Nanging saiki wes dadi kenangan (Tapi sekarang sudah jadi kenangan)
Aku karo koe wes pisahan(Aku dan kamu sudah pisahan)
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan (Aku kiri kamu kanan, sudah beda jalan)
Mlaku bebarengan (Jalan bersama)
Bendino sayang-sayangan (Setiap hari sayang-sayangan)
Sedih lan kebahagiaan (Sedih dan kebahagiaan)
Dilewati tahun-tahunan (Dilewati bertahun-tahun)
Padu meneng-menengan (Bertengkar diam-diaman)
Bar kui kangen-kangenan (Setelah itu kangen-kangenan)
Kadang bedo pilihan (Kadang beda pilihan)
Nganti pedot balikan (Sampau putus nyambung)
Mendung tanpo udan (Awan tanpa hujan)
Ketemu lan kelangan (Bertemu dan kehilangan)
Kabeh kui sing diarani perjalanan (semua itu yang dinamakan perjalanan)
Awak dewe tau duwe bayangan (Kita pernah punya bayangan)
Besok yen wes wayah omah-omahan (Besok jika sudah berumah tangga)
Aku moco koran sarungan (Aku baca koran pakai sarung)
Kowe belonjo dasteran (Kamu belanja pakai daster)
Nanging saiki wes dadi kenangan (Tapi sekarang sudah jadi kenangan)
Aku karo koe wes pisahan(Aku dan kamu sudah pisahan)
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan (Aku kiri kamu kanan, sudah beda jalan)
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan (Aku kiri kamu kanan, sudah beda jalan)
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****