DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 55


__ADS_3

“Hahahaha. Baiklah. jadi mati untuk kelompok satu”


Bunda lanjutin karena bunda sayang sama readers semua dan nggak mau bikin pusing. Biar Bunda aja yang pusing mikirin sambung lagu.


“Mati lampu. Aduh gelapnya. Gelap-gelapan jadinya seperti siluman” kelompok satu menjawab dengan lancar.


“Siluman. Lebih sulit dari pada mimik tadi ya. Kelompok dua, silahkan. Siluman”


“Siluman, si ketek putih” akhirnya salah seorang memecah keheningan.


“Hanoman, bukan siluman” teriak yang lain yang kebetulan tahu lagunya.


“Huhuhu” sorak semuanya sedangkan kelompok dua hanya nyengir karena memang tidak tahu lagu apa yang ada kata silumannya.


“Hahahaha” semua senang akhirnya permainan terhenti. Kelompok dua harus menelan kegagalan dan mendapat hukuman. Semua bernapas lega setelah melewati kegagalan. Bahkan ada sebagian dari mereka mendadak menjadi wartawan. Bukan microfon yang mereka pegang. Tapi buku tulis yang mereka buat melingkat sebagai mic. Inilah keseruan yang tidak akan pernah mereka jumpai di pesta yang katanya mewah itu.


“Bagaimana perasaan anda sebagai CEO perusahan Diamon’s Kusumo mengikuti lomba ini?” tanya Hari, seorang dari divisi pemasara. Meskipun bertingkah konyol, tapi dari cara mengajukan pertanyaan masih terdengar takut-takut.


“Cukup menegangkan sekaligus menyenangkan. Lebih menegangkan dari pada harus presentasi di depan klien” jawab Reyhan lugas dengan senyum tipis.


“Wah, pasti ini pengalaman pertama. Bagaimana dengan anda Tuan Ali? Bahkan tadi sampai bisa menyumbang seratus poin untuk timnya” tanya Hari beralih ke Ali.


“Sungguh amazing sekali saat bisa menjawab. Seperti mendapat lotre, bahkan lebih dari itu” jawab Ali dengan semangat seperti perasaan saat ini. ada rasa bangga saat bisa menjawab untuk timnya.


Pluk. Kepala Hari mendapat tabokan dari atasannya.


“Yang sopan” tegur Hendro, manager pemasaran atasan Hari.


“Hehehe, maaf bos” ucap Hari cengengesan dan membentuk jarinya menyerupai huruf V.


“Pakai ini” bukannya melarang, tapi malah menyerahkan botol aqua kosong yang lebih mirip mic dari pada buku yang dilingkarkan. Tak sampai situ, bahkan temannya menekuk sikunya seolah sedang merekam wawancara Hari dengan para petinggi. Bukan hanya Reyhan dan Ali yang menjadi sasaran keisengan mereka berdua. Tapi hampir seluruh petinggi termasuk para pemegang saham dan dewan direksi. Mereka sangat kooperatif seolah benar-benar diliput oleh sebuah stasiun televisi. Setelahnya, mereka tertawa bersama-sama menyadari bahwa barus saja bertingkah konyol. Sayangnya membuat hati mereka bahagia. Ya, sesederhana dan semurah itu bahagia.


Kelompok dua sudah berdiri di depan seluruhnya. Mereka mendapat hukuman karena tidak bisa melanjutkan sambung lagu.


“Sebelum snak malam, kita dengarkan kelompok dua menyumbangkan lagu sebagai hukuman karena tidak bisa menjawab tadi. Beri semangat untuk kelompok dua.


Tepuk tangan meriah mereka  berikan dan sorak-sorak mereka berikan untuk menyemangati kelompok dua.


“Nyanyi nyanyi nyanyi” teriak semuanya sambil bertepuk tangan.


Kelompok dua berunding di depan dan akhirnya kembali berbaris dan melambaikan tangannya ke atas serta mengajak semuanya melambai.


“Mari kita melambaikan tangan dan bernyanyi bersama” ajak leader kelompok dua dan semuanya mengikuti gerakan mereka tanpa tahu apa yang hendak mereka nyanyikan.


Sebagian dari mereka menggunakan bibirnya untuk membuat musik. Sebagian lagi menggunakan kedua tangannya. Dan yang lainnya bernyanyi bersama.


“Lihat kebunku. Penuh dengan bunga. Ada yang putih. Dan ada yang merah. Setiap hari. Kusiram semua. Mawar melati. Semuanya indah” kelompok dua bernyanyi dengan pelan seiring dengan gerakan tangan yang melambai. Kelompok lainnya yang sudah berbaur menjadi satu saling pandang dan tertawa tanpa suara. Hingga akhirnya, semuanya ikut bernyanyi sebanyak tiga kali dan usai. Tepuk tangan mereka dapatkan dan kemudian kembali berbaur. Semuanya kembali mengantri mengambil jatah snak malam sebelum mimpi indah tentunya.

__ADS_1


*****


Hari berlalu dan tiballah di awal hari kedua mereka liburan. Usai sholat subuh, semuanya diajak senam bersama dengan layar lebar di depan sebagai panduan. Jangan lupa dengan musik sebagai penyelaras gerakan dan tentu juga sebagai penyemangat. Tidak ada instruksi formal. Mereka mengambil tempat sesuka hati dan bergerak sesuka hati pula. Gerakan di layar hanya sebagai tontonan saja. Adayang mengikuti gerakannya, namun sebagian besar malah asyik berjoget karena lagu yang diputar cukup enak digunakan untuk goyang.


“Lihatlah mereka. bukannya senam dengan benar, malah joget sambil cekikikan” tunjuk Reyan pada Risma.


“Biarkanlah Bang. Mereka saat ini ingin mengekspresikan diri sebebas yang mereka mau. Sebelum ada yang melarangnya karena tuntutan pekerjaan” jawab Risma. Reyhan mengangguk membenarkan. Saat di kantor nanti, mereka tidak akan sebebas hari ini.


Senam berakhir dan dilanjutkan dengan snak pagi sebelum sarapan. Sarapan dimulai pukul delapan nanti setelah mereka membersihkan diri. Semua berjalan lancar. Tidak ada yang protes ataupun mengeluh tentang fasilitas yang sama. Sarapan juga berlangsung seru karena saling melempar candaan satu dengan yang lainnya. Benar-benar tiada sekat saat ini.


Kegiatan dilanjutkan usai sarapan. Kali ini lomba dipimpin oleh mereka yang bergabung dalam divisi pemasaran. Seperti malam kemarin, mereka memberikan sambutan ala kadarnya dan langsung memperkenalkan lomba yang akan dilaksanakan pagi ini.


“Lomba dari kami yaitu Gombal Kata. Kami telah menyiapkan banyak kata di dalam toples. Setiap peserta wajib mengambil satu dan melihat apa kata yang didapat. Dari kata itulah peserta harus menggombal pada seseorang secara bebas” juri menjelaskan peraturan lomba dengan baik.


“Bagi yang tidak bisa mengeksekusi kata dengan baik, akan ada hukuman. Yaitu mengambil kertas hukuman di toples dengan label hukuman. Peserta harus melakukana apa yang tertera di dalam kertas hukuman itu. Bisa dipahami?”


“Bisa” jawab semuanya serempak.


“Contoh, contoh, contoh” seru yang lain.


“Oke. Oke. Misalnya kata yang saya dapat adalah Pisa” pria yang bertugas menjadi moderator itu menarik tangan temannya seorang perempuan.


“Kamu tahu nggak mengapa menara Pisa itu miring?” tanyanya pada teman perempuannya.


“Nggak. Memang kenapa?” tanyanya malu-malu. Tentu saja mereka berdua akting. Bukan sungguhan.


“Karena ketarik oleh senyuman manis kamu. Ahay” jawabnya dan mendapat sorakan dari yang lainnya.


“Huhuhu”


“Siap”


“Baiklah. Teman-teman, silahkan bertugas”


Anak-anak pemasaran menyebar dengan membawa toples berkeliling agar proses pengambilan kertas semakin cepat. Tak butuh waktu lama, semua peserta sudah mengambil kertas dari toples.


“Kalau sudah, silahkan dibaca dan dipikirkan gombalan apa yang akan ditampilkan. Jangan lupa untuk membidik target yah? Nggak mungkin kan mau nggombal sendiri. Dan mohon jangan ditanggapi serius gombalan ini kecuali mereka yang benar-benar pasangan. Dilarang baper bagi yang bukan pasangan. Silahkan. Lima menit dari sekarang”


Waktu lima menit harusnya cukup untuk memikirkan gombalan dari sebuah kata yang tertera di kertas itu. Dan waktu yang diberikan sudah usai. Moderator kembali meminta semuanya tenang.


“Bagaimana kalau kita awali dari Tuan Ali? Pasti akan menggobali Nyonya Nilam. Monggo”


Ali maju dengan menggandeng Nilam. Nilam tersenyum malu-malu memandang Ali yang menggandengnya. Ali menunjukkan kata yang dia dapat serta membacanya dengan keras.


“Laptop”


“Apa ya kira- kira gombalan yang akan Tuan Ali sampaikan berhubungan dengan laptop?” tanya moderator penasaran. Tak hanya moderator,  tapi seluruh peserta juga penasaran.

__ADS_1


“Mama tahu nggak perbedaan laptop dengan Mama?” tanya Ali memulai gombalannya.


“Apa coba bedanya?” tanya Nilam malu-malu.


“Huuuuu” sorakan terdengar membuat suasana semakin ramai. Benar-benar pecah pagi ini.


“Kalau laptop menemani Papa kalau kerja. Tapi kalau Mama menemani Papa seumur hidup. Eaaa”


“Ih, Papa” pukul Nilam gemas dengan suaminya.


“Hahahaha, lanjut Pak” teriak seagian mereka membuat suasana semakin meriah.


“Sudah. Tulisannya cuma laptop” jawab Ali santai dan kembali ke tempat dengan menggandeng tangan istrinya tentunya.


“Benar sekali. Ternyata Tuan Ali pandai menggombal ya kalau kepepet” ledek moderator  membuat suasana kebali pecah tawanya.


“Sekarang bagaimana kalau Tuan Bagas beserta sang istri. Balas-balasan gombalan ya? Kan darah muda” ujar moderator memprovokasi.


“Baiklah. Siapa takut. Yuk Sayang” ajak Bagas menggandeng mesra Rosa.


Bagas sudah ada ditengah bersama Rosa. Bagas membaca apa yang dia dapat dan di sambung oleh Rosa.


“Televisi”


“Lampu”


“Jadi nanti disambung ya Nyonya Rosa, gombalan dari babang Bagas untuk eneng” goda moderator disambut gelak tawa semuanya. Kapan lagi coba bisa menggoda para big bos tanpa takut kena semprot? Ya khan? Hahaha.


Rosa mengangkat jempolnya sebegai tanda mengerti dan setuju.


“Bisa dimulai Pak Bagas?” Bagas mengangguk dan mulai memandang intens Rosa, istrinya.


“Saat aku melihat televisi, yang bisa aku lihat gambar yang bergerak dan bersuara. Namun saat aku melihatmu, aku melihat bidadari yang mampu mengalihkan duniaku” ucap Bagas dan mengecup lembut punggung tangan Rosa. Rosa tersenyum malu dan terlihat binar bahagia dimatanya.


“Bidadari ini selalu menjadi lampu untuk kamu sayang. Yang akan terus menerangi kamu sampai kapanpun” jawab Rosa dan mengecup pipi Bagas. Kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya karena malu. Bagas sampai tergelak melihat tingkah istrinya yang malu-malu menggemaskan.


“Oh, so sweet banget sih Pak Bagas sama Bu Rosa. Gimana uwunya Bos Reyhan dan Nyonya bos ya?” bisik-bisik terdengar.


Gimana? Baper nggak sama pasangan Bagas dan Rosa? Kalau readers mau bikin gombalan apa hayo kalau dapat kata Televisi dan Lampu?


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2