
Waktu terus berlalu dan lebaran juga sudah mereka rayakan. Hari ini adalah hari kedelapan lebaran. Risma bersama seluruh keluarganya masih berada di kota S sejak tiga hari yang lalu. Karena kesibukan mengunjungi keluarga di kampung mendiang suami Risma, Reyhan dan Risma sampai lupa mengajak anak-anak mengunjungi kembali Riko untuk lebaran.
“Pa, anak-anak belum ke lapas mengunjungi Tuan Riko” ingat Risma yang badannya sudah tidak lemas lagi. Terhitung satu minggu yang lalu, badan Risma mulai bisa diajak kompromi hingga bisa melakukan perjalanan udara. Dengan catatan menggunakan pesawat pribadi. Dokter masih tidak merekomendasikan Risma menaiki transportasi umum. Dikarenakan kondisi yang sebelumnya lemas dan butuh penjagaan yang ekstra. Yang diutamakan adalah kenyamanan bumil dan tentu saja kesehatannya.
“Iya. Besok kita ke kota dan mengunjungi Tuan Riko. Kita ajak anak-anak mengunjungi keluarga besar Tuan Riko juga” jawab Reyhan.
“Kita jadi kan ke rumah Tante Lusi?” tanya Risma penuh harap.
“Bunda harus banyak istirahat. Kita lihat nanti yah? Bunda sudah banyak melakukan kegiatan. Papa khawatir dengan kesehatan Bunda juga debay-nya” jawab Reyhan lembut. Dia khawatir istrinya tersinggung mengingat kondisinya sedang sensitiv.
“Iya Pa. Sebelum kita kerumah Tante Lusi, kita konsul lagi sama dokter” ucap Rismadan merebahkan kepalanya di bahu Reyhan. Dengan lembut, Reyhan mengelus kepala istrinya.
“Anak-anak belum pulang dari main di lapangan, Pa?” tanya Risma yang merasakan rumah mendiang suaminya sepi tanpa canda dan teriakan anak-anaknya.
“Belum. Mereka masih menikmati suasana kampung juga teman-teman baru. Warga disini welcome semua. Papa suka dan nyaman disini” jawab Reyhan. Risma tersenyum. Dalam hatinya membenarkan ucapan suaminya. Apalagi dia dan almarhum suaminya cukup lama tinggal di kampung ini. Momen ini juga digunakan oleh trio R untuk bermain kembali dengan teman-temannya.
“Bunda kok jadi ragu ya, Pa buat mendatangi keluarga Tante Lusi” jujur Risma.
“Memangnya kenapa?”
“Entahlah. Ada keraguan dan kekhawatiran yang Bunda nggak tahu apa maksudnya”
“Bunda jangan banyak pikiran yah? Kesehatan Bunda kan baru aja pulih. Kita lihat nanti aja ya?” Risma mengangguk. Bagaimanapun juga, kesehatan bayinya lebih penting dari pada apapun.
“Pa, keluar yuk. Bunda pengen kentucky” ajak Risma. Reyhan tersenyum dan mengangguk.
“Mau ajak anak-anak?” tanya suaminya.
“Kita samperin aja dulu. Kalau mau ikut ya nggak apa-apa. Tapi prediksi Bunda sih nggak mau. Lagi asyik kayaknya”
“Ya udah. Papa ambil dompet dulu” ucap Reyhan. Namun baru beberapa langkah, dia menoleh kembali pada istrinya.
“Bunda ada uang cash?”
“Ada kayaknya. Coba lihat di dompet Bunda dalam laci itu”
Reyhan membuka dompet istrinya dan mengambil tiga lembar uang merah bergambar presiden pertama Indonesia.
“Segini cukup?” tanya Reyhan memperlihatkan uang dia ambil.
“Cukup Pa. Ini itu di kampung. Harganya mumer, tapi rasanya nggak kalah sama yang di kota. Dijamin” jawab Risma mantap. Ya, dikampung memang harganya cenderung lebih murah bila dibanding dengan di perkotaan.
Reyhan dan Risma mengendarai mobil menuju tanah lapang. Ternyata banyak juga anak-anak yang main di sana. Reyhan membuka kacanya dan mengklakson untuk memberitanda pada anak-anaknya. Tak lama kemudian, trio R dan trio A sudah ada di hadapan Reyhan.
“Papa sama Bunda mau ke mana?” tanya Rendi.
__ADS_1
“Mau keluar beli kentucky. Bunda lagi pengen katanya. Mau ikut?” tanya Reyhan.
“Nggak deh Pa. Rendi masih suka main sama teman-teman. Kangen banget soalnya” jawab Rendi.
“Reno juga”
“Rindi juga masih mau main”
Trio R sudah memutuskan. Reyhan memandang tiga anaknya yang lain. Ketiganya saling pandang lalu tersenyum.
“Kami ikut mereka main. Dada Papa. Hati-hati bawa Bundanya” jawab Sila meskipun dia hanya duduk-duduk dan memperhatikan aktivitas yang lainnya. Namun karena ramai dan ada teman ngobrol, dia memilih tetap berada di tanah lapang.
“Ya sudah. Kalau begitu , Papa sama Bunda jalan dulu. Kalian titip apa?”
“Em, apa aja deh Pa. Nggak juga nggak apa-apa” jawab Sean dan langsung sungkem. Setelah itu dia langsung lari kembali ke lapangan. Yang lain mengikuti Sean membuat Risma dan Reyhan tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Cukup lama mereka keliling perkampungan yang biasanya ramai penjual. Namun Risma masih belum menemukan penjual kentucky yang srek di hatinya. Biasa, bumil memang sukanya yang aneh-aneh. Padahal kalau nggak hamil, sembarang penjual juga oke.
“Eh, Bang. Berhenti. Itu, di sana ada. Masih penuh. Pasti banyak pilihannya” ucap Risma. Reyhan mengangguk mengerti. Memang sedari tadi, penjual yang mereka temui dagangannya sisa sedikit.
Reyhan menggandeng tangan istrinya untuk menyeberang bersama. Namun hingga sampai kepenjualnya, gandengan itu tidak dilepaskannya.
“Maubeli Mbak?” tanya penjualnya.
“Ada Mbak. Masih lengkap ini. Mau berapa?”
“Saya mau sayapnya sepuluh, paha sepuluh. Sama ini, cekernya dua puluh” jawaban Risma membuat penjual itu terkejut sekaligus senang. Reyhan pun juga terkejut mendengar istrinya memesan begitu banyak. Kalau di kota X, itu tidak akan membuat Reyhan terkejut karena tahu istrinya pasti membaginya dengan para pekerja di rumah. Namun mereka di kampung hanya tinggal dengan keluarga kecilnya saja. Kalau untuk para tetangga, tentu saja akan kurang.
“Ngggak kebanyakan Bund?” tanya Reyhan hati-hati.
“Nggak Pa. Lihat aja nanti” jawab Risma. Reyhan mengangguk dan tersenyum. Memang bumil itu nafsu makannya berbeda.
“Ini Mbak” penjual itu menyodorkan pesanan Risma.
“Ah iya Pak” Risma menerima bungkusan dari tangan penjual.
“Ini usus kan ya?” tunjuk Risma pada usus yang sudah dikemas rapi.
“Iya Mbak”
“Saya mau semua. Oh ya, tolong bungkuskan masing-masing empat biji sebanyak sembilan bungkus. Bisa?”
“Bisa Mbak. Tunggu ya?” jawab penjual itu semangat. Reyhan tersenyum dan sudah tahu itu untuk siapa.
“Ini mau diisi bagian apa?”
__ADS_1
“Bebas aja”
Risma memperhatikan penjual itu yang tersenyum senang sedari tadi. Risma bukan tanpa alasan memilih tempat ini. Saat dia melihat jualannya masih penuh, timul rasa kasihan dalam hatinya. Apalagi sekarang baginya, uang bukan menjadi masalah. Dia melihat suaminya yang tersenyum dan seakan memberi semangat padanya untuk
melakukan apa yang dia mau. Ada hal yang dia rasakan berbeda dari suaminya. Dulu, Reyhan selalu mempertanyakan apa yang dia lakukan. Kini, hanya mendukung dan memfasilitasi jika perlu. Karena dia sudah tahu apa yang dilakukan istrinya pasti berbau sosial dan itu adalah perbuatan yang baik.
“Ini Mbak”
“Iya” Risma melihat masih ada sisa sekitar tigapuluhan biji lagi.
“Itu sisanya bungkus aja lagi. Saya borong” ucap Risma.
“Beneran Mbak?” tanya penjual itu tidak percaya. Risma sudah membeli banyak bahkan nyaris habis. Kini semuanya mau diambil. Sungguh rejeki yang tiada terkira.
“Iya Pak. Nanggung” jawab Risma sekenanya. Reyhan menahan tawa mendengar jawaban asal istrinya. Risma sampai menyenggol bahu suaminya karena ditertawakan.
“Ini masih tigapuluh empat. Saya hitung tiga puluh saja. Yang empat bonus buat Mbaknya karena sudah memborong dagangan saya”
Sikap penjual itu membuat Reyhan semakin terbuka. Ya, dia semakin salut dengan solidaritas orang-orang yang bisa dikatakan rakyat jelata. Tidak enggan untuk berbagi. Selama ini, yang dia temui adalah orang-orang yang memikirkan keuntungan tanpa ada niatan untuk berbagi sesama. Dari sekian banyak relasi yang dia temui, tidak lebih dari 5% orang yang mau memikirkan nasib orang lain. Termasuk dirinya dulu, sebelum mengenal dan belajar dari Risma.
“Terimaksih Pak. Jadi semuanya berapa?”
“Duapuluh ditambah tigapuluh enam, ditambah lagi tigapuluh, jadi semuanya delapanpuluh enam. Uangnya empatratus tigapuluh ribu. Cekernya tadi ada empatpuluh delapan, saya hitung empat puluh empat saja. Uangnya limapuluh lima ribu. Ususnya duapuluh tujuh, saya hitung duapuluh lima saja. Uangnya tujuhpuluh lima ribu. Jadi total semuanya adalah limaratus enampuluh ribu rupiah”
“Tadi Papa cuma ambil tigaratus kan? Kurang Pa” rengek Risma manja dan sukses membuat Reyhan terkejut. Biasanya istrinya selalu menjaga sikap, namun sekarang, dia manja di depan.
“Tenang, Papa ada sedikit. Tadi takut kurang aja” jawab Reyhan menahan rasa bahagia yang membuncah. Reyhan memberikan uang tujuhratus ribu rupiah dan menerima kembaliannya. Namun hanya selembar yang yang dia ambil.
“Itu untuk Bapak saja” ucapnya ramah dan tanpa pamit, langsung menggandeng istrinya kembali ke mobil. Penjual itu masih terpaku dengan kebaikan pasutri yang baru saja memborong dagangannya. Setelah sadar dan pembelinya sudah jauh, barulah berteriak terimakasih. Reyhan yang masih mendengar hanya menjawabnya dengan
mengacungkan jempolnya.
Usus dan sisa kentucky yang diborong Risma, dia berikan pada anak-anaknya untuk dibagikan dengan semua orang yang ada di lapangan. Untuk para tetangga, Risma sendiri yang membagikan dengan ditemani Reyhan tentunya. Setelah dia bersama sang suami menikmati kentucky yang mereka beli tadi.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1