DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
JOURNEY OF LOVE 1


__ADS_3

Kembali di dua tahun yang lalu saat Sila baru saja bertandang ke kota M untuk kuliah. Sila memilih tinggal di asrama dari pada tinggal bersama Oma dan Opanya. Risma terpaksa mengijinkan dengan berat hati demi masa depan putrinya. Lagi pula suaminya telah berjanji akan memberikan bodyguard untuk Sila. Tentu saja tanpa sepengetahuan putrinya.


Saat perjalanan dari bandara menuju kediaman Ali dan Nilam di kota M, Sila tampak termenung dan itu sukses menyedot perhatian Nilam dan Ali.


“Kenapa, Sayang?” tanya Nilam. Sila menghela napas berat dan menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.


“Sila masih terbayang wajah khawatir Bunda, Oma” jawab Sila lirih.


“Itu karena Bunda sayang kamu, makanya khawatir. Kenapa nggak tinggal bareng Oma sama Opa aja sih?” bujuk Nilam dan Sila menggeleng.


“Sila pengen mandiri. Benar-benar mandiri Oma. Kalau tinggal sama Opa dan Oma, yang ada Sila terus-terusan jadi anak manja” jawab Sila tetap kukuh pada pendiriannya.


“Terserah Sila aja. Oma sama Opa cuma bisa mendukung apa yang kamu mau. Tapi ingat apa orang tua pesankan. Jangan sampai mengecewakan mereka.  harus menjaga kepercayaan yang mereka berikan” nasehat Nilam pada cucu sulungnya.


“Iya Sil. Kalau kepercayaan sudah ternoda, akan sulit untuk mengembalikannya lagi” tambah Ali dan Sila mengangguk mengiyakan. Apa yang dikatakan Opa dan Omanya memang benar. Sila sudah mencatat apa yang menjadi peraturan Bunda dan Papanya di buku khususnya. Baik peraturan saat dia masih di rumah, atau peraturan


ketika dia di asrama nanti.


“Kapan Sila pindah ke asrama?” tanya Nilam.


“Belum tahu Oma. Sila mau lihat dan ambil formulir dahulu sambil tanya-tanya mencari informasi”


“Baiklah. sebentar lagi kita sampai. Siapkan barang-barang kamu. Jangan sampai ada yang tertinggal. Akan susah kalau tertinggal dalam mobil rental seperti ini” ingat Nilam dan Sila mulai menyiapkan barangnya. Tidak banyak barang  yang Sila bawa dengan tas kecilnya karena barang-barangnya banyak yang dia letakkan dalam koper.


Tak berapa lama, mobil yang mereka kendarai memasuki gerbang sebuah rumah yang minimalis. Rumah yang berukuran sedang. Tidak besar namun berlantai dua.


“Rumah Oma sama kaya rumah Bunda yang di kota S. Hanya saja sekarang kamarnya banyak udah seperti kos-kosan” kata Sila sambil tertawa. Nilam ikut tertawa karena apa yang dikatakan Sila memang benar.


“Itu karena anak Bundamu segudang. Kalau pas lagi pengen nginap di kota S biar nggak bingung tempat” sahut Ali dan semuanya setuju. Kemudian mereka tertawa bersama-sama.


“Hanya ada tiga kamar di sini. satu di lantai bawah, dan dua di lanatai atas. Terserah kamu mau pilih yang mana. Oma sama Opa mau di lantai bawah saja” ucap Nilam memberitahu Sila.

__ADS_1


“Iya Oma. Sila lihat-lihat dulu baru nanti pilih kamar. Terus yang satu lagi buat apa?” tanya Sila penasaran.


“Buat ruang kerja, ruang baca atau apalah nanti. Yang jelas buat kerja di rumah dan lainnya” jawab Ali sesuai rencana awalnya.


Sila sudah naik ke lantai dua dan melihat dua kamar yang ada. Satu ada kamar mandi, yang satu lagi tidak ada. Sudah tentu Sila memilih yang ada kamar mandinya. Susunan di lantai dua terdiri dari dua kamar dan satu kamar mandi serta satu ruang dengan ukuran kecil. Sila kembali turun ke  bawah dan memberi tahu pilihannya.


“Sudah Opa duga kalau kamu akan memilih kamar yang itu” ucap Ali. Nilam dan Sila tersenyum. Semua orang pasti akan memilih kamar beserta kamar mandinya karena itu pasti lebih nyaman.


“Ada ruangan kecil di pojok samping kamar mandi, buat apa Opa?”  tanya Sila sedari tadi memikirkan ruang kecil di pojok lantai dua.


“Buat gudang” jawab Ali pendek. Harusnya Sila sudah menduganya. Mungkin karena tubuhnya lelah, jadi tidak bisa memikirkan hal sepele seperti itu.


*****


Waktu bergulir dan sudah dua hari Sila tinggal di kota M. Hari ini dia sudah bersiap hendak mengunjungi Universitas Setia. Dia mengendarai sepeda motor matic yang dibelikan Papanya untuk fasilitas transportasi. Awalnya hendak dibelikan mobil, namun Sila menolak dan Risma mengusulkan untuk menggunakan motor saja. Pilihan Sila jatuh pada motor matic Forza dengan harga diatas 90 juta. Karena masih baru, dia bingung di mana halaman parkirnya. Sila berhenti dan turun dari motornya. Dia menghampiri gerombolan mahasiswa yang ada di depan gerbang.


“Permisi” sapa Sila.


“Halaman parkirnya di mana ya Kak? Saya belum tahu” tanya Sila dengan sopan.


“Oh, calon MaBa?” Sila mengangguk.


“Adek lurus saja lalu belok kanan. Di sana ada gerbang ukuran dua meter. Itu jalan masuk parkir motor. Kalau ke depan lagi,  ada gerbang ukuran empat meter, itu jalan masuk untuk parkir mobil” Sila mengangguk mengerti.


“Makasih Kak” ucap Sila sopan dengan senyum dan berlalu.


Sesuai petunjuk dari mahasiswa itu, Sila menemukan halaman parkirnya. Setelah memarkir motornya, Sila melihat ada gerbang lagi berukuran sekitar satu meter. Dia juga melihat ada mahasiswa yang keluar dari sana menuju salah satu motor yang terparkir. Jadi Sila berpikir itu adalah jalan penghubung antara halaman parkir dengan kampus bagian dalam.


Setelah berjalan sesuai insting dan berada dalam kampus, Sila kembali bertanya pada mahasiswa yang dia temui.


“Maaf Kak, mau tanya” ucap Sila sopan.

__ADS_1


“Ya?” tanya mahasiswa itu dingin. Sila sampai mendongak melihat wajahnya karena terkejut mendapati tanggapan yang dingin.


“Ruang pendaftaraan atau pengambilan formulir, dimana?” tanya Sila canggung.


“Lurus ke sana dan belok kiri. Ada platnya di pintu. Cari saja” jawab pria itu dan langsung pergi dari hadapan Sila. Bahkan Sila belum mengucapkan terimakasih.


“Kak. Terimakasih” teriak Sila entah didengar atau tidak.


“Masih ada aja manusia kutub di sini. Huft” kesal Sila dan menghela napas.


Akhirnya Sila menemukan ruangannya yang  ternyata cukup jauh dari koridor yang disebutkan.


“Coba tadi memberitahu yang lebih detail. Dasar” dumel Sila setelah keluar dari ruang pengambilan formulir. Dia mencari tempat untuk mengisi formulir  yang dibawanya. Setelah selesai, dia mengembalikan pada petugasnya dan menunggu konfirmasi selanjutnya.


Karena urusannya sudah selesai, Sila memilih berkeliling untuk melihat-lihat calon kampusnya. saat berkeliling, dia melihat kantin yang terlihat sangat luas. Sial terkagum-kagum melihat luasnya kantin Universitas Setia.


“Gila. Kantinnya luas banget. Muat ratusan ini. Bukan main” guman Sila dengan decakan kagum dari mulutnya. Sila melangkah menuju salah satu kedai yang ada. Namun tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk bahunya. Sila menoleh dan terkejut mendapati seseorang yang dia kenal juga ada di sini.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI


BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2