DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 12


__ADS_3

Reyhan tengah menemani anaknya belajar bersama dengan janda antig tentunya. Reyhan diam-diam memperhatikan Riska yang tengah serius mengajari anak-anaknya juga anak-anak Reyhan.


“Bunda” panggil Sean. Panggilan Sean pada Riska membuat atensi Reyhan berubah.


Bunda. Anak-anak sudah memanggil Riska bunda? ~ Reyhan tidak percaya.


Pandangan Reyhan tak lepas dari interaksi Riska dan Sean yang serius membahasa tugas IPS.


“Nah, kalau soal teori, papa pasti lebih tahu, coba tanya papa” ucap Riska.


“Memangnya papa tahu?” tanya Sean sangsi.


“Pasti tahu. Secara lapangan, bunda mengerti konsepnya. Tapi berdasarkan teori dan siapa pencetusnya, bunda kurang paham” jawab Riska lembut.


“Baiklah”


Sebenarnya Riska bisa saja mencari informasi dari internet. Tapi berhubung ada Reyhan, kenapa tidak dimanfaatkan keberadaan duren antig itu. Begitulah pikir Riska. Lagi pula juga perlu untuk menghemat kuota bukan? Hehehehe, jiwa emak-emak yang super hemat sudah mencuat ke permukaan.


Dengan perasaan yang tak menentu, Reyhan memberikan apa yang diinginkan Sean. Matanya berkaca-kaca, betapa menyesalnya dirinya karena telah lalai menjadi orang tua. Apa yang dia pelajari saat di bangku sekolah dan perguruan tinggi ternyata tidak hanya untuk memajukan perusahaan. Tapi juga berguna untuk membantu masa


depan anak-anaknya agar lebih baik.


Andai dari dulu aku perhatian dengan anak-anak, aku tidak akan malu pada Riska. Mereka tidak akan iri setiap kali Riska memberi perhatian pada anak-anaknya. Malang sekali nasib kalian sayang. Papa janji, mulai saat ini, papa akan luangkan waktu untuk kalian. ~ tekad Reyhan dalam hati.


Riska merasa senang karena hari ini pekerjaan belajarnya lebih ringan karena Reyhan banyak membantunya. Waktu yang biasanya dihabiskan Riska belajar dengan anak-anak hampir dua jam, sekarang hanya butuh kurang dari satu jam setengah.


“Tuan, anda bisa mulai dari malam ini untuk memberikan ucapan selamat malam dan mimpi indah pada anak-anak” ucap Riska saat anak-anak sudah mulai masuk kamar masing-masing.


“Kamu yakin?” tanya Reyhan ragu-ragu.


“Apa yang Tuan takutkan? Mereka anak-anak Tuan, bukan anak orang lain” ucap Riska dengan menekan setiap kata-katanya.


“Kenapa kamu selalu begitu jika bicara padaku?” kesal Reyhan. Karena baru Riska orang lain yang berani berkata dengan nada penuh penekanan padanya.


“Entahlah. Setiap kali saya bicara Tuan mengenai anak-anak, bawaannya pengen makan orang. Dasar papa lemah” kesal Riska memalingkan muka.


“Anak-anaknya sendiri, seperti hendak bertemu dengan presiden saja” dumel Riska yang masih bisa di dengar Reyhan. Reyhan paham dengan kekesalan Reyhan. Dia menghela napas panjang.


“Baiklah” Reyhan mulai melangkah menuju tangga. Namun langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan Riska.


“Mau saya temani?”


“Hem, boleh” jawab Reyhan dengan senyum mengembang.


Kesempatan langkah, eh langka. ~ batin Reyhan kegirangan. 


Riska mengikuti Reyhan melangkah ke kamar Sila.


“Salam dulu Tuan” Riska mengingatkan Reyhan yang terbiasa nyelonong.

__ADS_1


“Iya” jawab Reyhan datar.


“Assalamualaikum” Reyhan mengucap salam sambil mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam. Masuk pa” teriak Sila yang kebetulan belum mengunci pintunya.


Reyhan membuka berlahan dan melangkah mendekati Sila yang sedang menata buku-bukunya.


“Anak papa sedang apa?” tanya Reyhan basa-basi. Untuk pertama kalinya Reyhan mengusap lembut kepala anak gadisnya sebelum tidur.


“Sila sedang merapikan buku-buku untuk besok pa” jawab Sila tanpa melihat papanya.


“Tumben kamu sudah merapikan bukumu. Biasanya nunggu pagi dulu dan terika-teriak” ejek Reyhan. Meskipun dia jarang bahkan tidak pernah menangani anaknya sendiri, namun dia tetap hapal dengan tingkah dan polah anak-anaknya.


“Cek, papa ketinggalan jaman. Kalau Sila nggak mau merapikan, besok bunda nggak akan mau bawakan Sila bekal” jawab Sila setengah mengadu.


Pandai juga Riska memanfaatkan rasa iri anak-anak. ~ Reyhan tersenyum tertahan.


“Kamar Sila jadi rapi ya?”


“Kan sering diajak bersih-bersih sama bunda. Sekarang Sila juga sudah mulai mencuci baju sendiri” ucap Sila dengan bangga.


“Ha? Cuci baju sendiri?” kaget reyhan tak percaya. Ekpresinya sungguh lucu hingga Riska yang sedari tadi berdiri di pintu kamar Sila terkikik. Bayangkan seorang Reyhan menganga dengan mata membesar, melongo seperti orang bodoh.


“Ish, biasa aja pa. Kondisikan wajah papa. Tuh, bunda udah pegang perutnya” ucap Sila sambil menutup mulutnya menahan tawa. Reyhan salah tingkah melihat Riska mengulum bibirnya. Namun matanya melotot ke Riska memberikan tanda untuk diam. Mendapat peringatan dari Reyhan, Riska bukannya takut namun malah mengulum


“Sayang, mungkin selama hidupnya, papa belum pernah cuci baju sendiri” ucap Riska mengejek Reyhan. Nah, lihatkan bagaimana Riska tak pernah takut dengan Reyhan yang terkenal dingin di kantornya.


“Ck, buat apa ada pembantu kalau baju nyuci sendiri” bela Reyhan tak mau kalah.


“Biasa begitu kalau lahir sudah sultan” balas Riska juga tak mau kalah. Sila terkikik mendengar perdebatan antara papa dan bundanya.


Andai bunda dan papa bersatu. ~ angan Sila menerawang jauh.


Sedangkan dua orang itu masih terus berdebat soal mencuci baju.


“Kenapa pula kamu mengajarkan Sila mencuci baju sendiri?” tanya Reyhan seolah tak rela anaknya bersusah payah.


“Ck, Tuan Reyhan yang terhormat. Hidup itu terus berputar. Sekarang Tuan dan keluarga sedang berada di atas. Semuanya serba mudah untuk Tuan. Tidak tahu kan kedepannya”


“Kamu nyumpahi keluargaku miskin?” gertak Reyhan tak terima.


“Siapa yang menyumpahi sih. Dengarkan baik-baik dong. Kalaupun Tuan tidak miskin, siapa tahu saja jodoh Sila nanti tidak sekaya Tuan. Dan masih banyak kemungkinan yang lain. Bisa jadi jodohnya dari keluarga bangsawan dan menjunjung tinggi norma dan aturan dalam hidup berumah tangga. Saya hanya menyiapkan Sila kedepannya agar mampu bertahan dalam kondisi apapun. Bukan menjadi gadis manja yang hanya tahu bersolek dan belanja” Riska menjelaskan panjang lebar, entah Reyhan mau mengerti atau tidak. Sila bahkan sampai berkaca-kaca mendengar bagaimana perhatiannya Riska padanya.


“Sila sayang bunda” ucap Sila tiba-tiba dan memeluk Riska.


“Eh” Riska terkejut, meskipun begitu, dia tetap membalas pelukan Sila.


“Bunda juga sayang Sila. Jadi anak yang pintar, juga ngerti. Pintar aja nggak cukup kalau nggak dibarengi dengan ngerti. Artinya bijaksana dalam mengamalkan ilmu. Jangan seperti bandit berdasi dengan perut buncit yang leha-leha di atas kursi berputar. Mereka pintar, tapi nggak ngerti. Kepintaran untuk membodohi rakyat sehingga harta berapapun yang mereka miliki masih kurang. Dengan tega mereka meraup uang yang seharusnya untuk rakyat” Riska menasehati Sila dengan suara yang lembut. Sangat berbeda ketika berbicara dengan Reyhan. Selalu dengan nada yang hampir full nada.

__ADS_1


Dasar wanita aneh. Dengan Sila saja bicara sangat lembut. Denganku seperti ingin makan orang saja. ~ kesal Reyhan dalam hatinya.


“Iya bunda.  Sila akan selalu ingat nasehat bunda”


“Anak baik. Sekarang bersih-bersih, cuci tangan dan kaki. Cuci muka juga gosok gigi. Oke”


“Oke bunda”


Sila masuk ke kamar mandi dan mengerjakan apa yang Riska katakan. Reyhan masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan pengasuh dadakannya ini. Baru hari ini dia melihat bagaimana suara Riska diterima oleh Sila, putrinya yang paling susah diatur.


Reyhan mengecup kening putrinya dengan sayang.


“Selamat malam sayangnya papa. Mimpi indah”


“Terimakasih pa” jawab Sila berkaca-kaca.


“Hush, jangan menangis. Maafkan papa yang selama ini mengabaikan kalian. Papa janji, mulai hari ini, papa akan memperhatikan kalian. Anak-anak papa” Reyhan memeluk Sila dengan perasaan bersalah.


“Terimakasih bunda telah mengembalikan papa” ucap Sila dan memeluk Riska penuh rasa terimakasih.


“Sama-sama sayang. Apapun untuk putri kedua bunda” Riska mengacak-acak rambut Sila.


“Kok putri kedua sih?” Sila tak terima karena  dia yang paling besar.


“Ya kan putri pertama bunda Rindi” Riska tak mau kalah adu argumen dengan Sila.


“Nggak boleh bunda. Aku tertua, jadi aku putri pertama” Sila tak mau kalah.


“Yang merasakan tangan pertama bunda kan Rindi” Riska semakin menggoda Sila. Hatinya sudah tertawa melihat wajah kesal Sila.


“Nggak nggak nggak” Sila menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, bunda dan papa menikah saja, biar aku jadi putri pertama alias putri sulung bunda” skakmat. Riska dan Reyhan melongo mendengar ucapan Sila. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran Riska jawab Sila tersebut. Keduanya saling lirik dan salah tingkah.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


Hai hai kakak readers semua. Bunda mau minta maaf karena off terlalu lama. Bunda pulang kampung dari Sangatta, Kalimantan Timur ke Magetan, Jawa Timur. Berangkat dari Sangatta jam setengah delapan malam jum’at. Sampai di rumah jam empat sore hari jum’at. Maunya langsung istirahat, eh, malah rumah kayak kapal pecah. Jadi terpakasa bersih-bersih ala kadarnya dulu, asal bisa buat rehat. Besoknya langsung tancap gas bersih-bersih rumah biar terlihat ada penghuninya, bukan seperti rumah kosong tak berpenghuni. Bunda break dulu karena kelelahan hingga tepar. Bunda baru bisa bernapas lega hari ini, meskipun masih ada dua ronde lagi bersih-bersihnya.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2