DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 44


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah penyatuan duo R. Kini Risma benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik karena Reyhan tak lagi melarangnya.


“Kata dokter, asal aku menjalankannya enjoy dan tidak tertekan, boleh kan Bang?” rayu Risma saat Reyhan tetap kukuh melarang kegiatan rumah tangga yang biasa Risma lakukan.


“Tapi aku nggak mau kamu capek, Sayang” jawab Reyhan masih berat membiarkan Risma melakukan kegiatan harian.


“Nanti kalau aku bosan, terus pikiranku tertekan bagaimana?” rayu Risma lagi.


Reyhan memandang Risma yang memasang wajah penuh harap. Bagaimanapun juga, ridlo suami adalah ridlo Allah. Meskipun ahrus dengan cara merayu, asal ijin dia kantongi, maka dia akan merasa tenang.


“Huft” Reyhan membuang napas pelan. Melihat wajah istrinya, Reyhan menjadi tidak tega. Lagi pula apa yang dikatakan Risma memang benar. Dokter tidak melarang ataumembatasi kegiatan apa yang boleh dan tidak boleh Risma lakukan. Hanya saja untuk menghindarkan pemicu traumanya kambuh, itu yang harus dihindarkan. Sampai waktu yang tidak ditentukan. Artinya sampai Risma siap untuk menghadapi ketakutannya dan melawan rasa traumanya.


“Asal kamu berjanji hanya memasak dan menyiapkan bekal buat anak-anak juga untukku” putus Reyhan akhirnya.


“Baiklah, Insya Allah. Hanya untuk mengurus Abang dan anak-anak” jawab Risma dan Reyhan mengacak rambutnya gemas.


“Abang ke bawah dulu, jangan lupa pakai hijabnya” pamit Reyhan.


Ya, Risma baru saja bertempur membangunkan anak-anak dan membantu menyiapkan keperluan untuk sekolahnya. Sedangkan suaminya, dia sudah menyiapkan semua yang diperlukan. Jadi, Risma tinggal memakaikan dasi dan jas sambil bernego soal kegiatan di rumah.


Lima menit kemudian, Risma baru turun dan didapatinya meja makan sudah full orang.


“Nggak ada bekal buat kita, Bund?” tanya anak-anak hampir bersamaan. Biasanya bekal sudah tersusun rapi di meja dapur dan siap untuk dibagikan.


“Maafkan Bunda, ya sayang. Bunda masih belum dapat ijin dari dokter untuk melakukan aktivitas. Besok janji, Insya Allah akan ada bekal seperti biasa. Dan Bunda yang akan masak seperti biasa” ucap Risma menangkan anak-anak dan melirik Reyhan, suaminya.


Reyhan mengalihkan pandangan saat mendapat lirikan dari Risma. Ya, semua karena larangannya dan baru sekitar sepuluh menit yang lalu, dia mengijnkan Risma melakukan kegiatan harian seperti biasa.


“Hem, okelah. Hari ini kita nggak bawa bekal nggak apa-apa. Tapi saku tambah kan, Pa?” kali ini Reyhan yang harus menjawab pertanyaan Rendi.


“Iya. Seperti biasa, kalau nggak ada bekal, saku bakal Papa tambah” jawab Reyhan dengan senyum. Yang lain tersenyum senang karena akan mendapat uang saku lebih banyak dari biasanya. Namun juga rindu dengan bekal buatan bundanya.


“Kami berangkat, Bund, Pa” pamit Rindi dan diikuti Rendi juga Reno.


“Hati-hati sayang” pesan Risma dan mengecup kening mereka satu persatu. Hal yang biasa Risma lakukan dan kini Reyhan juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Tunggu, aku ikut mobil  kalian aja” teriak Sean dan Seno juga ikut berdiri. Pamit pada kedua orang tua dan mendapatkan perlakuan yang sama. Sila yang masih setia memakan sarapannya tersenyum haru. Kini, dia bisa merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua.


Terimakasih Bunda sudah hadir dan mengembalikan papa kami. Terlebih lagi memberikan kami kasih sayang seorang ibu yang lama tidak kami dapatkan. ~ Sila memandang Reyhan dan Risma yang berbincang sambil menunggu Sila selesai sarapan.


“Sayang, kenapa melamun? Nggak enak makanannya?” tanya Risma melihat Sila termenung.


“Eh, nggak kok Bund. Tapi tetap masih enakan masakan Bunda sih” jawab Sila dan mendapat usapan lembut dari Risma.


“Besok Bunda sudah boleh masak lagi. Semangat belajarnya, sayang” pesan Risma karena Sila sudah selesai sarapan.


“Terimakasih Bunda. Ayo Pa” ajak sila dan pamit pada Risma. Dia juga mendapat perlakuan yang sama dengan kelima saudaranya.


Risma mengikuti Reyhan yang menggandeng sila dengan membawa tas kerja suaminya. Sampai pintu, giliran Reyhan yang pamit.


“Abang berangkat dulu ya? I love you” bisik Reyhan karena taut didengar Sila.


“Abang ish. Love you too” balas Risma tersipu malu. Dia mengalihkan rasa malunya dengan membenahi dasi juga jas suaminya.


“Abang hati-hati ya? Risma selalu menunggu kepulangan Abang di rumah” bisik Risma dan mendapat kecupan di keningnya.


Reyhan memperhatikan anaknya yang sering melamun sedari tadi.


“Kenapa hari ini banyak termenung? Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” tanya Reyhan pada anaknya.


“Hem, hanya membandingkan hidup kami sekarang dan sebelumnya. Sama-sama ada ibu, tapi kenapa hati ini berbeda rasanya ya Pa?” jujur Sila mengungkapkan perasaannya.


“Maksud Sila bagaimana?” tanya Reyhan kurang mengerti. Untung saja dia tidak menyetir sendiri. Jadi dia bisa mendengar keluh kesah anaknya dengan fokus.


“Sila senang tadi melihat Bunda mengantar Papa sampai pintu. Rasanya seperti melihat keluarga harmonis. Keluarga idaman. Kenapa dulu mama tidak pernah melakukan seperti yang Bunda lakukan ya Pa?”


Reyhan terhenyak mendengar penuturan anaknya. Hal itu baru disadari Reyhan. ya, dia baru saja sadar bahwa sangat berbeda berumah tangga dengan Dita dulu dengan Risma sekarang. Dulu, apa-apa memang yang menyiapkan Dita. Tapi hanya sampai situ saja. Dita sudah langsung sibuk dengan dunianya sendiri.


“Papa juga merasakannya kan?” Reyhan mengangguk.


“Maafkan Papa kalau rasa cinta papa pada Bunda lebih besar daripada saat dulu papa mencintai mamamu” ucap Reyhan dengan perasaan bersalah. Sila bersingut mendekat ke papanya.

__ADS_1


“Papa nggak salah. Tapi Bunda yang luar biasa. Bahkan kami lebih sayang dengan bunda, daripada dengan mama Dita” jujur Sila. Reyhan terkejut karena bukan hanya dirinya yang mempunyai perasaan lebih. Bahkan anak-anaknya lebih menyayangi istri barunya daripada mama kandung mereka sendiri.


“Tapi kalian tetap menyayangi mama bukan? Sama seperti papa yang tetap menyimpan mama dalam hati” tanya Reyhan seraya memegang bagian dada dimana di dalamnya terletak hati.


“Tentu saja. Bunda akan marah kalau kami tidak sayang mama” jawab Sila semangat.


“Kenapa?” tanya Reyhan ingin tahu apa tanggapan anaknya.


“Karena mama yang sudah berjuang dengan nyawanya sampai kita ada di sini. Kata Bunda, tanpa adanya mama, kita nggak akan bisa bertemu dengan Bunda” jawab Sila. Reyhan tersenyum bangga pada pengetahuan yang Risma tanamkan pada anaknya.


“Jadi, Bunda tidak membiarkan anak-anak papa ini melupakan mamanya?”


“Tentu saja. Bahkan Bunda mengajarkan kita untuk mendo’akan mama agar berada di tempat yang terbaik di sisi Allah”


“Dan anak papa ini mendo’akan tidak?” goda Reyhan dan menjawil dagu Sila.


“Mendo’akan dong Pa. Kita kan juga sayang mama”  jawab Sila bangga.


“Good girl” puji Reyhan mengelus rambut Sila sayang.


“Jum’at sore, kalau tidak hujan, kita kunjungi mama. Kita kenalkan Bunda pada mama” ajak Reyhan dan disetujui oleh Sila.


Tanpa terasa, mobil sudah tiba di depan sekolah Sila. Perpisahan terjadi dan Reyhan melaju kembali menuju kantornya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2