
Reyhan pulang dengan wajah kusut. Hanya tersenyum sekedarnya pada istri yang menyambutnya.
“Capek banget ya Bang?” tanya Risma melepaskan jas dan mengambil tas kerjanya.
“Nggak sih, Yang. Cuma buntu aja nih pikiran Abang” cerita Reyhan yang memang belum bisa menentukan akan diadakan acara yang bagaimana.
“Mandi dulu. Nanti Risma bantu kalau Abang mau cerita” hibur Risma. Reyhan menatap istrinya dengan lembut.
“Baiklah. Nanti Abang akan cerita. Abang juga lapar” ucap Reyhan dan dibalas senyum lembut oleh istrinya. Reyhan melangkahkan kakinya ke kamar dan membersihkan diri. Sedangkan Risma menyiapkan makan malam yang lebih cepat dari biasanya karena sang suami yang sudah kelaparan.
Beruntung Risma sudah masak dan tinggal menyajikan saja. Setelah itu Risma menyambangi kamar anak-anaknya untuk mengajak makan bersama dengan papa dan bundanya.
“Kok lebih cepat dari biasanya Bund?” tanya Seno saat Risma mengajaknya makan malam.
“Iya, karena papa sudah lapar” jawab Risma lembut.
“Hem, pasti papa lelah ya kerja seharian?” tanya Sila.
“Sudah pasti lelah. Makanya kita harus bijak dalam membelanjakan uang. Kasihan papa kerja capek, kita tinggal habisin aja” nasehat Risma sambil berjalan ke ruang makan.
“Kan uang papa banyak, Bund” kali ini Sean yang bicara.
“Sekarang memang uang papa banyak. Tapi kehidupan itu terus berputar, sayang. Ada masanya nanti kita akan kesulitan atau nggak butuh banyak uang. Maka dari itu, sebelum kebutuhan yang mendadak dan harus dipenuhi itu datang, ada baiknya kita menabung dari uang yang kita punya saat ini” nasehat Risma lagi dengan penuh kelembutan.
“Aku juga sering lihat Rindi masukin sisa uang saku ke celengan pandanya” ucap Sila yang baru tahu kebiasaan Rindi setelah tidur satu kamar.
“Kok aku nggak ada celengan sih Bund” protes Seno yang juga sering melihat Rama memasukkan uang.
“Oh, kalian juga mau celengan. Bunda mana tahu kalau kalian nggak minta?” tanya Risma dengan sabar.
“Lagian Bunda, mereka dibelikan masak kita nggak” protes Sean dengan wajah cemberut.
“Hehehe, itu kan celengan sejak belum pindah ke sini, Sayang” jelas Risma dan ketiganya mengangguk. Memang kalau dilihat-lihat, celengan mereka sudah sedikit usang karena memang sudah lama. Risma sengaja membelikan yang besar agar tidak mudah penuh, jadi bisa berlangsung lama.
“Weekend besok, kita beli celengan buat kalian” janji Risma pada ketiga anak sambungnya.
“Punya Rama juga Bund. Udah mau penuh” ucap Rama dan langsung berlari ke kamar mengambil celengannya. Tak lama kemudian, Rama kembali dengan celengan di tangannya.
__ADS_1
“Nih, Bunda lihat” ujar Rama dan menyerahkan celengannya pada Risma. Risma mengambil dan melihat dalamnya dengan memicingkan mata. Benar saja, lubang kecil memanjang di celengan itu sudah tertutup dengan uang kertas yang Rama masukkan.
“Hem. Baiklah. Ada lagi yang dibutuhkan?” tanya Risma memandang keenam anaknya.
“Nanti kita lihat ya Bund. Rendi akan catat apa saja yang Rensdi perlukan” jawab Rendi dan Risma tersenyum mendengar ucapan putra kembarnya. Sedangkan trio S hanya memandang iri pada ketiga saudara sambungnya. Risma kemudian melihat pada ketiga anak sambungnya yang sedang memandang Rama memegang celengan, lalu
beralih ke Rendi yang terlihat berpikir barang apa saja yang sekiranya diperlukan. Sedangkan Rindi juga sama seperti Rendi.
“Kalian kenapa?” tanya Risma lembut. Ketiga anaknya memandang nanar mata Bundanya. Risma terhenyak mendapati tatapan iri lagi itu dari tiga anak sambungnya.
“Kalian kenapa memandang Bunda seperti itu? Maaf kalau Bunda tidak sengaja melakukan kesalahan” ucap Risma dengan wajah memelas. Ucapan Risma membuat ketiga anaknya mengalihkan atensinya memandang bunda dan ketiga saudara sambungnya.
“Sayang” Risma merangkul trio S dengan perasaan bersalah.
Apakah aku berlaku tidak adil hingga mereka kembali iri pada anak-anakku? ~ Risma.
“Maafkan kamu Bunda” lirih Sila yang tahu bahwa Bunda mereka peka. Sungguh mereka tidak bisa menyembunyikan rasa iri itu pada ketiga saudaranya yang terlihat mandiri. Mendengar anak sulungnya meminta maaf, Risma melepaskan pelukannya.
“Kenapa minta maaf, Sayang?” tanya Risma lembut.
“Sila tahu ini bukan salah Bunda. Maafkan kami yang masih merasa kurang perhatian dari Bunda” jawab Sila berusaha jujur apa yang dia rasakan.
“Maafkan Bunda yang mungkin tanpa sengaja telah berlaku tidak adil pada kalian” ucap Risma mencoba memahami maksud anak-anak sambungnya. Ketiganya menggeleng karena memang Risma tidak membeda-bedakan mereka.
“Bunda sudah adil sama kami” jawab Sean lirih. Sila dan Seno mengangguk membenarkan.
“Lalu apa yang kalian irikan dari saudara-saudara kalian?” tanya Risma bingung setelah mendengar pengakuan ketiga anaknya itu.
“Kami hanya iri karena mereka mendapat kasih sayang Bunda sedari awal” jawab Sila lirih dan Risma paham bahwa yang mereka maksud adalah hasil dari didikan Risma sebelum menjadi istrinya Reyhan.
“Huh” Risma menghela napas pelan.
“Sayang. Kita bisa mulai dari awal. Seperti Bunda mendidik mereka, maka seperti itu pula Bunda akan mendidik kalian. Apa yang Bunda berikan pada mereka, maka seperti itu pula yang akan Bunda berikan pada kalian. Jika kalian merasa Bunda tidak adil, maka tegurlah Bunda” ucap Risma dan ketiganya mengangguk.
“Jadi, mari kita mulai dari rajin menabung dari uang sendiri” ucap Risma dengan senyum lembut yang selalu disenangi semua orang.
“Tapi, kita tidak punya uang Bunda” jawab Seno polos.
__ADS_1
“Uang saku yang biasa Seno terima, itu sudah menjadi milik Seno” jawab Risma memberi pengertian.
“Jadi, Seno nggak boleh jajan?” tanyaSeno lagi dengan wajah polosnya.
“Hahahaha” Rendi dan Rindi tertawa mendengar pertanyaan Seno.
“Kenapa kalian tertawa?” sewot Sean yang juga berpikiran sama.
Rendi yang sudah lapar karena tertunda pembahasan celengan yang melenceng kemana-mana, langsung duduk di tempatnya.
“Makan dulu. Lihat Papa, piringnya sudah hampir kinclong” jawab Rendi menunjuk Reyhan dengan dagunya.
“Ck, tapi..”
“Sudah. Nanti aku kasih tahu caranya” ucap Rendi dan mereka langsung mengangguk dan duduk ditempatnya.
“Mereka benar. Sila, nanti minta tips pada Rindi dan yang lainnya juga minta tips pada saudara sekamarnya” ucap Risma dan mereka mulai makan malam yang tertunda. Berbeda dengan Reyhan yang malah sudah selesai makan
malam. Sedangkan anggota keluarga lainnya, malah baru mulai. Memang Papa antig, eh sekarang jadi Papa apa yah? Papa anak enam. Dalam bahas sansekerta, Eka artinya satu, Dwi \= dua, Tri \= tiga, Catur \= empat, Panca \= lima dan Sat \= Enam.
Bunda kasih beberapa versi.
Papa anak enam \= Papa Anam atau Papa Anem.
Papa anak six \= Papa Asix. (Bahasa Inggris)
Papa anak sat \= Papa Asat. (Bahasa Sansekerta)
Cocok mana sebutan untuk Reyhan nih? Atau ada yang punya versi lain? Silahkan komentar yah? Siapa tahu Bunda srek dan Bunda bisa comot buat kosa kata baru di novel Bunda.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****