DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 45


__ADS_3

Hari terus berganti dan rumah tangga Reyhan juga Risma tiada halangan apapun. Bahkan mereka semakin mesra. Anak-anak juga tidak ada lagi keluhan baik di rumah ataupun di sekolah. Mereka benar-benar menjadi anak yang baik.


Hari ini, Risma ingin belanja bulanan sekaligus belanja kebutuhan anak-anaknya.  Kemarin Risma sudah mencatat apa-apa saja yang setiap anak-anak butuhkan.


“Bang. Hari ini Risma mau keluar belanja bulana dan keperluan anak-anak. Abang memberi ijin kan?” tanya Risma.


“Hem. Tapi Abang nggak bisa ngantar” jawab Reyhan.


“Coba aja ada mama, pasti Risma bakal ditemani belanja” ucap Risma mengerucutkan bibirnya. Dia paling benci jika berbelanja sendiri. Apalagi dia sudah sering merasakan hal itu. Kesepian dan tidak teman ngobrol.


“Hehe. Kalau ada mama, yang ada jebol ATM Abang” seloroh Reyhan karena tahu kalau mamanya itu adalah ratu shoping.


“Ya nggak apa-apalah bang. Membahagiakan surga kita kan juga pahala” jawab Risma membela mertuanya.


“Hem. Dan kamu juga dapat pahala kalau membahagiakan surga kamu” sahut Reyhan penuh arti.


Dengan berani, Risma mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Apa selama ini Abang merasa tidak bahagia dengan Risma?” tanya Risma menatap Reyhan dalam. Reyhan mencoba menyelami manik mata istrinya.


“Abang bahagia. Jauh lebih bahagia dari kehidupan Abang yang sebelumnya” jawab Reyhan akhirnya dan merengkuh pinggang istrinya.


Cup. Reyhan mencicipi sekilas bibir manis istrinya.


“Abang mencintaimu” ucap Reyhan penuh perasaan.


“Risma juga cinta Abang” jawab Risma.


Risma langsung melepaskan tangannya dari leher suaminya karena mereka tidak berada di kamar. Mereka takut kebablasan. Apalagi suaminya yang suka menyambar tanpa tahu tempat.


“Lepas Bang” pinta Risma karena Reyhan belum juga melepaskan pinggangnya.


“Kenapa?”


“Ini di depan rumah,  Abang. Malu dilihat orang” cicit Risma.


“Sama suami sendiri. Asal jangan suami orang aja” balas Reyhan tak mau kalah.


“Abang ih,  ntar telat ngantornya” sanggah Risma mencari alasan.


“Nggak apa-apa. Kan Abang bosnya” jawab Reyhan sombong.


“Cih, sombong. Nggak suka ah Risma punya suami sombong” cibir Risma dan Reyhan langsung terbelalak.


“Apa? Kamu nggak suka sama Abang? Tadi bilangnya cinta” protes Reyhan dan melepaskan pinggang Risma seketika. Merajklah itu bayi gede. Tangannya dilipat di depan dada dan bibirnya mengerucut. Risma melirik suaminya dengan bibir dilipat ke dalam menahan tawa.


“Salah sendiri sombong. Hem, kenapa baru sekarang ya aku menyesal menikah sama Abang” tambah Risma semakin menggoda suaminya.


“Apa? Sekarang kamu juga menyesal telah menikah sama Abang?” pekik Reyhan semakin tak terima.


“Salah Abang sendiri kenapa jadi orang sombong” ledek Risma dan Reyhan semakin kesal Risma tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Akhirnya tawanya pecah membuat Reyhan sadar kalau dirinya sedangn dijahili istrinya.


“Hahahaha. Aduhh, Risma nggak kuat. Abang lucu banget sih. Gemesh deh” Risma mencubit pipi Reyhan.

__ADS_1


“Aw. Kamu ngerjain Abang yah?” geram Reyhan telah tertipu dngan ocehan unfaedah istrinya.


“Rasakan ini” Reyhan menggelitiki Risma memuat Risma semakin keras tawanya. Tentu saja dengan menari-nari karena merasa geli akibat tangan Reyhan.


“Hahahaha. Sudah Abang. Ampun”


“Hahahaha. Rasakan”


Keduanya terus bercanda tanpa sadar kalau para pekerja di rumah besar itu memperhatikan mereka.


“Tuan dan Nyonya harmonis ya? Semoga seterusnya” harap salah satu dari mereka.


“Iya. Apalagi Nyonya sangat baik. Semenjak ada Nyonya, kita tidak perlu masak sendiri. Jadi bagian dapur cukup masak satu kali”


“Iya. Walaupun sebelumnya kita tidak pernah kekurangan,  tapi bahagianya beda kalau diperhatikan seperti ini”


“Semoga tidak ada pengacau di rumah tangga mereka”


“Amiin” kompak semuanya mengucapkan do’a.


*****


Karena pagi tadi Risma minta ditemani, maka disinilah sekarang seorang Isabel, sekretaris Bagas. Dia mendapat mandat dari bos besarnya untuk menemani nyonya besar belanja bulanan.


Dengan canda dan tawa, mereka menghabiskan waktu bersama. Tentu saja semua kebutuhan dan keperluan sudah terbeli. Bahkan Risma membelikan setelan pakaian kerja untuk Isabel.


“Ini berlebihan Bu” tolak Isabel halus.


“Nggak apa-apa. Anggap saja ini hadiah karena sudah mau menemani saya belanja. Jangan kapok ya?” jawab Risma karena memang dia senang jika ada teman belanja. Karena selain tidakmerasa kesepian, dia juga bisa meminta pendapat jika ingin membeli sesuatu diluar catatan. Atau meminta pendapat jika ada dua pilihan atau lebih.


“Nggak ada penolakan. Kalau kamu menolak pemberian saya, saya adukan pada suami saya biar kamu mendapat hukuman” akhirnya Risma menggunakan kekuasaan suaminya untuk mengancam Isabel.


“Huft, baiklah. Terimakasih Bu” ucap Isabel akhirnya.


Senang, pasti. Siapa juga yang tidak senang mendapat pakaian gratis. Tapi tetap saja merasa tidak enak  atau istilahnya sungkan. Bukan sungguh-sungguh mengharapkan ya?


Hampir tiba makan siang saat keduanya sampai di lobi perusahaan. Hanya belanjaan Isabel yang di bawa karena milik Risma tetap berada di mobil. Saat Risma dan Isabel berjalan masuk, seorang resepsionis memandang iri Isabel.


“Enaknya jadi sekretaris. Kerjaannya keluyuran mulu. Gajinya gede, keluar kantor sama bos. Eh jangan lupa sering keluar kota juga” sindir resepsionis itu seolah berbicara pada temannya.


“Hush, nggak baik begitu” tegur Andina, yang memang orangnya baik.


“Kenyataannya begitu kok”


Risma merasa gerah dengan tuduhan resepsionis itu. Risma hendak menghampiri, namun lengannya ditahan Isabel.


“Jangan Bu” cegahnya.


“Tenanglah. Aku bukan orang yang suka mengamuk seperti singa. Aku akan memberi pelajaran dengan cara yang elegan” ucap Risma sambil menyingkirkan tangan Isabel di lengannya. Sekarang Risma sudah ada di depan meja resepsionis, tentu saja bersama Isabel. Karena dia merasa kalau ini juga tanggung jawabnya.


“Eh Ibu. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Andina dengan sopan.


“Hai Din” sapa Risma ramah. Risma melirik name tag di saku rekan Andina.

__ADS_1


“Almaira” baca Risma menatap Alma penuh selidik.


“Iya Bu?” tanggap Alma sopan karena itu bagian dari prosedur penyambutan. Namun dia melirik Isabel dengan sinis.


“Kenapa kamu melirik Isabel begitu?” tanya Risma datar. Andina menyenggol lengan Alma agar sadar.


“Eh, nggak ada apa-apa Bu” jawab Alma terbata.


“Kamu iri dengan aktivitas Isabel yang nggak bermutu ini, tapi gajinya gede?” tanya Risma seolah membela Alma. Andina juga Isabel sampai terkejut. Apalagi Isabel yang mengira bahwa Risma menyukainya sebagai teman. Tapi apa yang dia dengar sekarang, aktivitas yang nggak bermutu?


“Bukan begitu Bu” jawab Alma gelagapan. Dia merasa pertanyaan istri bosnya ini menjebak.


“Saya bisa membuat kamu bertukar posisi dengan Isabel. Mau?” tanya Risma memberi penawaran.


“Ibu serius?” tanya Alma sumringah. Sedangkan Isabel menatap Risma dengan sendu. Tidak mudah bagi Isabel untuk berada di posisi saat ini. Namun dengan mudahnya, Risma hendak menukarnya dengan Alma.


“Ya. Sebentar” Risma menghubungi suaminya juga Bagas untuk segera turun. Risma juga sudah menulis pesan apa maksud dan tujuannya melakukan itu.


Alma dan Isabel deg-degan saat Risma meminta dua bigbos di perusahaan itu turun. Jangankan mereka berdua, Andina yang tidak terlibat juga ikut merasa deg-degan.


“Ada apa, Sayang?” tanya Reyhan begitu dia tiba di lobi.


“Bang, berapa perbandingan gaji resepsionis dengan sekretaris?” tanya Risma.


“Memangnya kenapa?” tanya Reyhan seolah tidak tahu maksud istrinya.


“Jawab saja Bang” pinta Risma.


“Sekitar satu banding tiga atau nggak empat” jawab Reyhan apa adanya. Memang gaji sekretaris lebih mahal dari pada resepsionis. Risma manggut-manggut. Alma sudah berbinar akan mendapat gaji tiga bahkan empat kali lipat dari gaji biasanya.


“Begini Bang. Mbak Almaira ingin menjadi sekretaris menggantikan Isabel. Bagaimana Kak Bagas?” tanya Risma mengedipkan matanya cepat untuk memberi kode.


“Hem, saya terserah Bos Reyhan saja” jawab Bagas lugas. Risma menatap Reyhan penuh harap. Sungguh dia sangat gemas dan ingin mencabik-cabik wajah bahagia Alma. Tapi itu bukan gayanya.


“Tapi Bu, saya sudah susah payah merangkak di posisi ini” protes Isabel tak terima. Bukan karena menggoda atau merayu atasannya, tapi dengan kerja keras dan terus memberikan yang terbaik.


Keributan yang diciptakan Risma membuat orang yang berlalu lalang hendak makan siang berhenti untuk menyaksikan apa yang terjadi.


Risma menepuk bahu Isabel pelan.


“Berhenti sejenak dari kepenatan aktivitas yang melelahkan kadang juga diperlukan. Percaya sama saya, semua akan baik-baik saja” hibur Risma tanpa memberi tahu tujuannya.


Hayo, apa yang menjadi tujuan Risma? Kenapa juga Isabel dan Alma harus bertujar posisi? Kadang membalas seseorang yang meremehkan kita tidak perlu dengan urat atau otot. Hanya perlu memberikan apa yang dia angankan, maka dia akan merasa dengan sendirinya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


__ADS_2